
Kini keberadaan Arshal sedang ada di rumah sakit, Gibran sebagai seorang putra layaknya dia harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa. Ia akan memberitahu kepada kakeknya—papah dari Arshal yang semestinya tahu dengan keadaan putranya sendiri apalagi Arshal sekarang tidak memiliki apa-apa selain rumah beserta motor, tidak ada uang sepeserpun untuk dirinya hidup dan orang tua dari Arshal tidak mungkin memanjakan tiap bulannya, dengan adanya uang transferan yang tiap bulan cair.
Kan nggak jadi merubah pola pikir putranya untuk berubah tapi mau bagaimana pula mereka masih menjadi orang tua dari Arshal.
“Gimana Syifa? Kamu mau pulang aku antar, atau pulang dijemput oleh pengawal kamu itu yang sudah ada di depan.” Tanya Gibran yang sedari tadi prustasi menawarkan Syifa sama saja menawarkan orang yang tidak tepat, membuat perempuan itu tetap nyeliwer saja jawabannya. Mengalihkan jawaban, yang katanya dia akan menemani dirinya sampai ayahnya benar-benar bangun dari pingsannya.
Ya tidak mungkin secara bagi Gibran sama saja itu dia akan berlamaan di sini, karena Gibran tahu batasannya menjadi seorang laki-laki yang membawa seorang perempuan tanpa ada sangkut pautnya dengan keluarga mesti dicurigai orang banyak yang selalu berlalu lalang lewat bagaimanapun itu orangnya sampai hafal betul..
Perempuan itu lantas berat hati menghela napas pelan, “Kenapa sih Gib. Aku kan di sini cuman nemenin kamu, kalau mau apa-apa tinggal bilang sama aku, kamu sih banyak diemnya mana bisa aku tenang buat pulang ke rumah tanpa menjelaskan dulu keadaan Gibran ke papah.” Jawabnya yang melenceng dari perkataan Gibran tadi.
Lelaki itu menggusak kasar rambutnya sampai rontok beberapa helai rambut, tapi tidak diketahui oleh Syifa lantaran mata Syifa tertuju banyaknya pasien yang dibawa menuju ke UGD untuk ditangani, ya kini mereka sedang ada di ruang depan rawat inap. Posisinya memang dekat dengan UGD jadinya bisa melihat jelas bagaimana kejadian yang telah lewat.
Arshal bukan termasuk yang pertama pasien yang ditangani, sebab banyaknya pasien yang sudah ditangani meminta untuk merujuk ke rumah sakit yang besar dan lengkap dari segi fasilitas. Memang di sini kurang memadai dengan adanya jumlah dokter bersama peralatannya yang sedikit, maka dari itu yang sudah dirawat di sini kemungkinan terjadinya ya dirawat jalan.
“Syifff!!!” ucapnya dengan nada datar dan tatapannya menusuk serta tajam, Syifa yang diperingatkan justru memandang ke arah lain tanpa takut dengan nada tinggi Gibran yang seakan meletup sekarang juga.
Ingin rasanya lelaki itu memaki Syifa tapi dia ingat dengan situasi dan peristiwa yang akan terjadi ke depannya, yang tidak tahu dengan apa yang terjadi.
“Bagaimana?” Tiba-tiba datang lah seorang perempuan dengan tas yang ia tenteng bersamaan dikejar dengan langkah lebar suaminya. Ya, dia adalah mamahnya Arshal—yang bekerja sama dengan perusahaan papahnya Syifa—Angga.
Sebab yang menawarkan atas perintah itu ya cuman Gibran yang bisa.
Dia sekali minta ya langsung jadi.
Gibran menggelengkan kepalanya, melihat neneknya yang berlari-lari atau bisa dikata neneknya itu tergesa-gesa jalannya sampai napasnya saja terlihat kentara dari pernapasan.
Melihat rautnya yang jelas sudah tua dan usianya tidak muda lagi, ia sempat heran kenapa dua orang itu tetap sehat bugar tanpa ada riwayat penyakit.
Ia saja masih muda suka ngeluh kecapean terus pusing, kadang pula lambungnya minta dicubit kan jadinya muda agak kek tersindir pula.
Masa kalah saing sama yang sudah tua umurnya.
Gibran menghela napas, “Napasmu lho nek kek udah senin Kamis saja!” cibir Gibran kepada perempuan tua itu tanpa sadar mendapatkan tatapan datar dari neneknya.
__ADS_1
“Heh cucu kurang ajar, nenek kayak gini ya khawatir sama kamu aja! Bukan sama ayah kamu yang tidak tahu diri itu,” sarkasnya dengan tatapan tajam dan lelaki itu tidak menghiraukan ucapan neneknya melainkan fokus terhadap tatapan kakeknya yang lelah dengan istrinya, sudah dikejar semakin kau jauh seperti lagu saja kisahnya.
Gibran tertawa dalam hati, memang cucu rada miring otaknya. Tidak bisa dijelaskan lagi.
Pria itu lantas tertawa lantaran muka lelah plus capek kakeknya dan ia tidak tahan lagi, membuat dua orang itu saling memandang dan tidak bisa diartikan dari tatapannya.
“Kenapa kamu?”
“Ng–gak, emang tidak boleh ya kalau ketawa dikit?” tanya dia sambil melanjutkan tawanya yang masih lucu saja di mata Gibran melihat dua orang tua itu yang sudah umurnya harusnya istirahat di rumah eh malah kelayapan harus kemari segala, kan bisa calling apa tidak vidd-call gitu.
Ini mah tidak dikira.
Gibran lantas berjalan dengan memegang perutnya yang terasa keram, gara-gara kebanyakan ketawa.
Jadi gitu, kualat dia sama kedua orang tua itu.
Namun setidaknya dia ada rasa menghormati dengan orang tua walau bercanda ia tahu batasannya.
Pria itu lantas masuk diikuti dua orang tua itu dengan mata yang mengelilingi setiap sudut ruangan, ternyata tidak salah lagi ini cucu memesan ruangan ya yang bayarnya agak mahal, menguras kocek sedikit tapi tidak apa-apa demi cucu harus mengeluarkan duit nggak seberapa masa perhitungan.
Gibran mengerjapkan mata beberapa kali, merasakan kelakuan mereka layaknya seorang anak kecil sedikit agak pusing dia. Memijit pelan dahinya yang rasanya cenat-cenut.
Dia diam dan memerhatikan dokter yang sudah dipanggil dirinya ketika ia ingin menanyakan hal keadaan tentang ayahnya, ternyata dokter itu belum memeriksa dan sekarang lagi ditindak lanjuti karena tadi yang melakukan pemasangan infus ataupun kondisi, suster yang memeriksa.
Sampai Gibran meloloskan kata ringisan karena ia melihat bagaimana pemasangan selang infus beserta jarumnya yang diutak-atik susternya.
Dokter itu selesai memeriksa ayahnya dan menatap semua orang yang ada di ruangan ini, tidak termasuk suster yang mendampingi hanya mencatat di kertas yang selalu dibawa untuk membawakan resep obatnya, resep itu akan diperkenankan untuk dibawa ke apotek biar bisa ditukar dengan obat.
Bentuk nyata.
Gibran lalu seolah meminta penjelasan dari tatapannya, dokter itu tersenyum tipis untuk menghindari mukanya yang judes harus dihindari di mana kala dokter jika menangani pasien jika mukanya jutek apa nggak dingin, perlu nggak dikasih apresiasi ya nggak jawabannya, perlu di garis bawahi.
Kata orang-orang.
__ADS_1
Nanti bisa nggak laku, milihnya pada ke dokter yang ramah plus baik, menjelaskan secara detail itu cepet pahamnya.
“Iya, hanya tadi mau hampir kehabisan darah namun bisa dikondisikan dengan mas yang bisa membawa ayahnya ke sini dengan cepat, untungnya begitu jika tidak segera melakukan donor darah ke tubuh ayah mas.” Jelasnya dokter dengan menganggukkan kepala–mengode untuk susternya.
Lalu dua orang itu tampak mengamati tanpa ingin bertanya sebabnya Gibran menengok ke belakang, dua orang itu pura-pura memalingkan pandangannya ke arah lain dengan gaya yang tidak bisa dikondisikan. Kakeknya megang handphone terbalik, sementara neneknya lagi mengelus-elus kursi soffa.
Apakah mau tayamum itu, nek?
Batin Gibran sembari bertanya-tanya dan ia melihat dokter itu sedang membenarkan infusnya beserta beberapa peralatan yang ia bawa.
“Iya dok, saya mau tanya ini efek biusnya sampai kapan, ya dok?” tanya Gibran kepada dokternya, yang bernametag Alfa dan tersampir di jas dokternya itu yang berwarna putih bersih.
“Beberapa menit lagi ayah mas akan sadar, tapi jika ada apa-apa bisa pencet tombol ini masnya!” tunjuk dokter itu memberitahu dan Gibran menganggukkan kepala mengerti karena dia bolak-balik ke rumah sakit ya hanya karena beberapa keperluan, melihat banyaknya pasien ia bisa belajar dari sana, sehat itu lebih mahal harganya daripada yang sakit maka dari itu lelaki itu sedang menjaga dari segala kesehatannya.
Kedua orang tua itu sambil memperhatikan dengan telinganya bukan tatapannya yang fokus ke smartphone yang sudah di tangan masing-masing dan Gibran menyilangkan kedua tangannya, ia sudah capek melihat tingkah laku berdua orang ini dan dokter itu segera pergi setelah melaksanakan tugasnya untuk memeriksa pasien dan berpindah ke ruangan yang lain.
Lelaki itu mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangannya, “Kenapa jadi aku ya yang peduli sama ayah, bukannya kalian berdua itu yang seharusnya memiliki seorang putra yang harusnya tanggung jawab kalian, kok kalian yang malah cuekkin ayah Gibran!” Gibran merasakan sesuatu yang tidak beres dengan keduanya makanya dia ceplos begitu asal saja mengatakan.
Asalkan mereka peduli, Gibran masih untung tapi ini jelas berbeda dari dulu yang khawatir sekali dari gurat wajah mereka yang ditampilkan namun ini berbeda dari reaksi mereka, apa iya mereka sudah tua tapi tidak lagi memiliki peran masing-masing sebagai orang tua yang sudah dialihkan kepada istri-Nya sama anak-Nya!
Hahaha, terlalu lucu memang.
Padahal jika bisa disampaikan secara jelas, ridho suami itu masih bergantung pada ridhonya orang tua. Makanya sebab itu tidak boleh membantahnya.
---
Hai?
**apa kabar?
jangan lupa kalau mau kenalan diperkenankan buat mampir ke IG apa nggak bisa masuk ke GC buat ramein lagi GCnya yang nanti Din taruh di bio IG.
Bisa dicek!
__ADS_1
Yoklah!
@dinndafitriani**