Luka Darimu

Luka Darimu
13. Kejutan dari opa


__ADS_3

Beberapa saat Gibran di rumah opa dan omanya, teringat dengan ibunya yang ada di rumah. Pasti ibunya menunggu dirinya, apalagi ini sudah terlalu siang.


Dengan matahari yang di tengah-tengah posisinya.


"Opa, aku mau ke kampus dulu ya. Ada urusan bentar, apalagi ibu di rumah sendiri." Ia mengatakan di saat mereka lagi berkumpul dan oma sedang menjahit beberapa barang yang dibelikan oleh opanya.


"Loh bentar!" Oma samar mendengar tadi, ada kata sendiri.


Berarti.


Pikiran oma tak sampai situ, ia pasti akan berpikir tidak terlalu jauh sampai disitu.


"Iya bentar aja! Kapan-kapan nanti ke sini ya?" izin Gibran kepada opanya dan menggerakkan tangan opanya sebagai permohonan.


"Opaa..." rengek Gibran kepada opanya sebab opa tak menanggapi dan opa menatap Gibran sebagai cucu seharusnya ada di sini lebih baiknya.


Namun, Gibran si anak pemaksa jadi mau gimana pun harus diikhlaskan.


"Iya, tapi opa ada kejutan buat kamu..." ucap opanya dan Gibran menaikkan sudut alisnya salah satu.


"Apa? Kok kejutan segala," protes Gibran yang nggak tahu diri sebagai cucu, minta apa ya harus diturutin.


Tapi lupa apa yang dia minta sama opanya sendiri, semoga saja ya tak selamanya pikun.


"Kok aneh ya?"


"Jangan berpikiran macam-macam! Kamu yang minta, opa turutin."


"Tapi satu, kamu harus sempurna!" lanjut opanya dengan mengecup kening Gibran dan Gibran terkejut saja ada ucapan yang nggak mengena di hati.


Ia harus sempurna, bukannya selama ini di mata opanya itu dia sempurna dan selalu membanggakan walau ia ujungnya mengulang beberapa semester.


Tapi, ia harus berjuang demi masa depannya untuk tidak akan gagal lagi.


"Opa, kok sempurna. Bukannya anak baik sama sholeh ya?" ia ingin memancing kondisi di mana kakek satu ini diperlihatkan kesulitan. Tapi, otak opanya saja sudah terlihat jenius.


Bisa memimpin beberapa perusahaan menjadi besar dan bisa hidupnya nggak akan merosot jatuh ke bawah.


"Itu masalah terakhir kali Gib, yang penting bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sebelum bagasfora kamu kejar, baiknya ada tetap di hati dulu. Skripsi kamu, pikirkan untuk ke depannya." nasihat dari opanya dan Gibran merasakan kehangatan di sini,, bagaimana bisa opa menggantikan posisi seorang ayah karena anaknya sendiri yang tidak mengakui cucunya yang tampan ini.


"Iya, tapi mana sekarang hadiahnya?" tetap saja Gibran meminta untuk dilihatkan kejutannya.


Tak mau ketinggalan, oma membuntuti dari belakang bersama mereka dan Gibran yang melangkah mengikuti langkah opanya kalah dia, ini kakek masih gercep emang jalannya.


Sampai dia kuwalahan mengikuti langkahnya sendiri.


Dan di mana mereka tiba di ruang yang ditunjukkan oleh opanya.


Di sana ada tirai hitam yang membentuk seperti hadiah dan ia tampak terkejut ketika tirai hitam itu dibuka.


Setelah dibuka, Gibran senang. Dia tersenyum lebar, lantas kepalanya menoleh ke arah opanya yang memegang sebuah kunci.

__ADS_1


Kunci, kunci mobil dan salah satu impian sekali memiliki mobil yang ia pernah diucapkan, sekarang menjadi kenyataan.


Padahal dahulu dia cuman bercanda saja namun opanya ini terlalu baik, hingga membelikan barang yang paling dicintai Gibran.


"Opa..." Gibran mendekati opanya dan melebarkan tangannya, lantas memeluk erat lelaki paruh baya itu.


"Opa the best pokoknya!" Gibran berteriak dan lelaki itu memegang pundak cucunya.


"Iya, nanti jangan sampai ayah kamu tahu." Dari mata dan mulut opa terlihat bergetar dan melihat kanan kiri agar tidak terdengar oleh siapapun.


"Oke, tapi pokoknya opa the best."


Ia mengecup kedua pipi kakeknya sendiri dan tangan opanya dia pegang. Merebut kunci mobil dari tangan opanya, opa diam tanpa ingin berantem kepada cucunya.


Yang ada encoknya kambuh.


Karena mengejar anak ini yang super aktif.


"Boleh mencoba?"


"Nggak ada buat mencoba, opa udah siapin sopir buat kamu dan bisa jaga kamu tiap hari sama ibu kamu..." ujar opanya.


Tampak dari sorot wajah Gibran memberengut tak terima saja penawaran lebihnya.


Karena itu sama saja merepotkan opanya lagi, ini saja sudah lebih cukup.


"Tapi opa?"


Opa dengan seringaiannya melihat mata Gibran yang bingung, ia tidak bisa mengikhlaskan itu kunci mobil yang dipegang kembali di tangan opanya.


"Jangan lah!"


Opa tersenyum tipis, lantas memanggil satu sopir yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari.


Di sana ada lelaki yang muda, terlihat rambutnya hitam klimis dan bajunya yang terlalu formal serta muka serius sekali.


"Ini?" ia bertanya tak percaya saja, biasanya kalau sopir itu gendut perutnya jadi sedikit mengenakkan Gibran.


Memanfaatkan keadaan, tapi kalau begini mana bisa. Ia angkat tangan, lebih muda kalanya bisa mematahkan semangat Gibran tidak bisa berbuat apa-apa.


"Maaf tuan, perkenalkan saya Jov dan saya dikenal oleh tuan sendiri melalui beberapa tes..."


"Tidak tanya saya, yang penting bisa bekerja sama dengan baik..." kata Gibran ketus dan ia terasa tidak nyaman saja terhadap pandangan Jov kepadanya.


"Terus sekarang udah boleh ke kampus pakai ini?" tanya Gibran.


Opanya menggeleng, "Tidak ada... Ini buat besok, jadi kamu akan diantarkan Jov tapi pakai mobil opa yang lain. Boleh memilih kamu di garasi bawah,"


Sekarang dia suruh memilih, pasti dia tidak bisa memilih hanya bisa melihat mana aja yang nyaman mungkin bila dikatakan nyaman pasti dia tidak ingin kepanasan dan bisa tidur nyenyak di dalam mobil.


"Jov, kamu antarkan cucu saya! Jangan sampai dia lecet," peringatan bagi Jov dan Jov membungkukkan badan sebagai tanda hormatnya.

__ADS_1


Jov mengundurkan diri untuk turun ke bawah sementara Gibran memandang aneh kepada lelaki itu.


Seperti ada jiwa-jiwa guy nya dan ia tidak suka seperti itu.


Mustahil bagi Gibran menolak.


Ya sudah ia mengikuti di mana Jov sekarang berada, opanya tak ikut. Opa lebih baik mengerjakan pekerjaannya yang tertunda gara-gara kedatangan bocah tengil tak pas waktunya libur.


Gibran jengah ketika Jov yang mengikuti kemana pun perginya Gibran.


"Gue kagak suka diintilin ya!" kerasnya dan Jov tetap saja tidak peduli, nyatanya selama dia di sini tak ikut memilih mobilnya.


"Gue mau ini aja, dari pada lo ngintil mulu bocah..."


"Maafkan saya tuan,"


"Terlalu formal mending bahasa mu rubah dulu kalau mau kerja sama aku. Betah terus ya? Pokoknya sampai tua,"


"Iya tuan," Mulai berbicara tapi amat lah sedikit, ia harus mempunyai stok kesabaran yang tinggi.


***


Sementara itu Arina sudah tiba di toko dan membawa tas sampir di samping, ia membayar angkotnya. Sesudah bis Arina harus lagi jadi penumpang angkot.


Sungguh luar biasa perjuangannya, di sana ada bosnya yang sejak tadi menunggu mungkin sudah lama jadi ia harus beralasan bagaimana.


"Aduh, mudah-mudahan selamat ya wak..." Mengelus perutnya yang masih rata tertutup oleh kain kerudungnya dan bosnya menatap tajam ke arah Arina.


Dia tidak ingin apapun kali ini terjadi, jika dipecat ia harus mengikhlaskan meski berat.


Ia melangkah dengan senyum lebar dan menatap di mana bosnya berada.


"***--


"Kamu sudah dipecat dari sini..." ucap bosnya yang tegas dan lugas.


Arina sudah menduga, awalnya dari rumah perasaannya tidak enak dan dia harus menerima apa adanya hari ini.


Arina menatap seseorang perempuan yang tak lain, anak dari bosnya sendiri. Menundukkan kepala dan tak mampu buat memandang temannya sendiri.


Arina mendekati temannya, lalu mengangkat bahu temannya untuk menatapnya.


Sungguh dekat kali ini.


---


Yok lah baca hingga tamat ya.


jangan lupa buat follow IG din ya @dindafitriani0911


See you next bab ya.

__ADS_1


bababaiii...


__ADS_2