
Arshal matanya berkilat sungguh dia emosi sebenarnya, karena papahnya ditanya sampai mengeluarkan cairan hitam pun papahnya membisu.
"Lantas kalau papah menampar aku berarti aku bukan anak kandung papah, ya?" kekeh Arshal waktu dia ada di ruangan papahnya yang menguasai dia untuk emosi.
Dengan gampangnya Arshal terpancing emosi dan Arshal dibawa ke bawah untuk tidak bisa menemui papahnya yang sedang sekarat sekarang.
Sebab di kala ingin mengucapkan, papahnya sudah berhenti napasnya dan tersengal-sengal yang berarti papahnya mengalami penyakit jantung.
Ya wasyukurillah kalau papahnya begitu, emang sukanya menganggap hal yang serius untuk bercandaan.
"Kenapa nggak aku aja yang dibuang terus jadi orang kaya yang enak tanpa harus memikirkan beban ku itu," ucapnya sambil memutarkan tubuhnya menghadap ke dinding.
Kepalanya ia tempelkan ke dinding, "pusing kali ya..."
Ia memijat keningnya yang terasa pening karena merasakan papahnya yang tidak bisa merubah keputusannya, benar-benar Arshal yang berbeda sekarang.
Ia tidak akan mendapatkan uang bulanan dan dalam Perjanjian itu dia tidak berhak mendapatkan bulanan jadi ia harus bekerja.
Apalagi papahnya tak menawarkan kontrak kerja sama buat Arshal mulai dari nol nggak papa yang penting dia dapet uang dan jatah bulanan, rasanya kayak apa dia nggak dapet makan dan pentingnya uang dalam ekonomi.
Uang itu segala sumber kehidupan makanya dia tidak bisa.
"Kalau gitu aku harus cari kerja dan jadi gelandangan, yang akan membuang uang untuk mencari kerja dan membutuhkan tenaga, uang dan transportasi." ucap Arshal mengetuk-ngetuk kursi yang dia duduki ini.
"Kenapa nggak aku terima dari dulu, gampangnya kalau melakukan kesalahan jadi nggak akan ribet amat dan dibantu oleh orang kepercayaannya papah," Ia menyesal jika begini dan Arshal bisa saja menawarkan lagi tapi papahnya sudah menutup kesempatan kerjanya.
Padahal kalau Arshal jadi CEO di perusahaan papahnya yang jelas tiap bulan gajinya nggak nanggung dan tiap kali mau beli barang pasti keturutan.
"Oke, maaf kalau begitu. Aku jadi apa? Apa aku ngomong aja sama mamah mesti dibantu?" ia bertanya di dalam hati apalagi mamahnya kan yang nggak ngizinin dia yang bekerja.
Di sini yang berperan seolah dipojokan pasti Arshal, selagi mamahnya benar benar adanya mamah akan membelanya. Oke, sekarang melancarkan aksinya.
Arshal benar-benar dilanda pusing kali ini. Meski begitu, ia harus pulang dan memasak, apalagi dia tidak punya simpanan lagi untuk hari ini.
Oke, Arshal bisa saja meminta sama mamahnya dan ia berusaha untuk bisa menyembunyikan semua dramanya. Selagi papahnya masih tutup mulut, mamahnya nggak akan terhasut oleh papahnya sendiri.
Sekarang Arshal bangkit dari duduknya, ia tidak betah lama-lama untuk duduk dan ia berjalan keluar dari perusahaan yang sudah berkembang ini.
Perusahaan yang dulu kecil sekarang sudah besar dan bisa dibanggakan sejarahnya memang amat panjang, tapi papahnya berusaha mengikuti trading internasional jadi berhasil untuk menggapai itu, tidak mudah dan papahnya mimpi apa sampai bisa terkenal di dunia.
__ADS_1
Walau Asia tapi mungkin seluruh dunia mengenal bapak kandungnya ini.
Beralih sekarang ke Arshal yang jalan menuju ke jalan raya, untuk mencegat taksi yang biasanya lewat di sekitar gang perusahaannya tadi.
Arshal duduk di halte dekat di sana sambil menunggu taksi yang lewat, sebetulnya Arshal kalau mau memesan lewat aplikasi biar cepet tidak.
Arshal menunggui sampai menunjukkan muka kumelnya di orang-orang dan orang-orang yang jalan tak peduli dengan penampilan yang penting tidak mengganggu jalanan di sini.
"Kok belum ada yang lewat ya, dari aku di sini sampai jadi ikan asin." Merasa dia itu dibuang di sini, jadinya terdampar.
Buktinya halte itu terkena sinar matahari yang ada di tengah-tengah jadinya siap nggak siap harus menerima konsekuensi nya.
"Taksinya nggak butuh uang kali ya?" setiap kali bis Jakarta yang lewat dia menyesal dua kalinya.
Haruskah Arshal memberhentikan bis yang lewat dan menaikkinya namun bis itu tidak akan bisa menerima penumpang seperti Arshal.
Karena sudah penuh dengan orang-orang yang sudah memesan dan bila mau pun menyelip satu di bis.
"Oke sekarang harus pinjem handphone..." Ia menoleh ke dan ke mari tidak ada siapapun yang berjalan dihadapannya.
Lagi butuh ya begini lah mepet, kerjaannya nongkrong tetap dikasih duit sama papahnya selama ini jadi nggak ribet-ribet sekali.
Seterah yang penting sekarang bisa pulang dari tadi mondar-mandir, cemas aja kalau bisnya diberhentiin Arshal takutnya nanti di dalam sudah ditagih uangnya dan bisa saja ia ditendang lagi keluar dari bis.
***
Frustasi yang ada, Gibran mencari ibunya sampai dia marah-marah di kosan itu dan beberapa barang menjadi bagian dari kemarahannya, hatinya yang mendadak emosi.
Kabur salah satu jalannya buat ngereog tapi ini benar-benar membuat dirinya harus mengeluarkan tenaga yang banyak besarnya.
Gibran dibuat kaget sama ibunya sendiri, jelas-jelas wong ibunya hamil kok malah keluar kluyuran nggak jelas.
Dia harus bergegas untuk pergi mencari keberadaan ibunya, ia resah dan mengacak rambutnya yang sudah acak-acakan dari luar kosan.
"Bu, bu ... jangan bikin aku khawatir satu hari aja kenapa sih?" ia mengeluh lantas menyambar jaket yang dia letakkan di atas meja.
Entah tadi melemparkan langsung pas gitu tempatnya.
Gibran akan memastikan untuk mencari seseorang buat menjaga ibunya agar tidak keluar seenak jidat tanpa izin lebih dulu sama putranya yang tampan ini.
__ADS_1
Sudah lelah rasanya menghadapi segala tingkah laku yang dikeluarkan oleh ibunya.
Ia pun membuka pintunya.
Sampai di depan kosan ternyata ibunya sudah membawa kantong kresek berwarna dan dengan senyum mengembang, padahal anaknya ada di depan pintu.
Pada saat dekat dengan gerbang, membuka gerbangnya eh malah ada tatapan tajam yang mengawasinya sejak tadi.
Arina tak kaget lagi, soalnya ada di depan motor Gibran jadi putranya itu sudah pulang tandanya.
"Assalamu'alaikum," ucap ibunya melepaskan sandalnya lalu meletakkan di rak.
"Wa'alaikumsalam," jawab Gibran tanpa ingin menanyai ibunya lagi. Ia sebenarnya risau dengan keadaan ibunya bukan keadaan bayi yang ada di perut ibunya.
Orang anak sialan gitu dibilang baik-baik, toh waktunya keluar harusnya bayi yang ada di perut ibunya itu membantu sedikit beban yang ada di luar.
Seenggaknya menahan ibunya untuk tidak pergi sendiri, memang pingin ia tendang jauh itu bayi kalau udah keluar tapi adanya menyusahkan.
Ia itu harusnya putra tunggal dari pasangan A tapi dasarnya sudah tidak diberikan kesempatan buat menjadi putra tunggal ya jadinya anak sulung ini yang bersiap ikhlas membantu orang tuanya.
"Kamu udah pulang? Ini ada nasi goreng yang ibu beli di luar tadi, makan lah!" seru ibunya menurunkan tasnya dan menaruh nasi goreng bungkus di atas meja.
Mau tidak dimakan nggak paa, yang penting menawarkan kepada putranya dulu.
"Iya nanti, dari mana aja bu? Kok keluar sendiri," Walau awal sudah ada niatan untuk membujuk anaknya namun nasi goreng itu sudah ia tawarkan tapi tidak jadi sekarang.
"Kalau keluar tanpa aku mending jangan keluar!! Nanti kalau ada apa-apa gimana?" Sambungnya dengan sarkas dan Arina menyimak.
Jika ini berbanding balik, anaknya memarahi ibunya sendiri.
Tapi ini benar demi kebaikan ibunya yang harusnya di kosan malah kluyuran.
--
**Oke...
Hallo ncing apa kabar ncing?
Iya sehat ya semuanya, makasih buat partisipasinya ncing...
__ADS_1
see youu🙏👍**