Luka Darimu

Luka Darimu
41. Yang Bener?


__ADS_3

Gibran mengakui ia harusnya tidak ada di posisi ini sekarang, karena kakek bersama neneknya izin untuk kembali ke ruangan ayahnya—Arshal.


Ia di sini merasa jadi canggung dan sadar hal dirinya akan ditatap oleh dua orang itu, tak terlepas dari itu kakeknya hanya tersenyum tipis.


“Iya ‘kan dia juga papahmu Gibran...” Kakek—laki-laki tua itu menangkap dari bola mata Gibran kayak orang bingung jadinya memilih untuk mendekatkan putranya dengan cucunya.


“Iya, nak sini!” Papahnya Arfa menepuk pelatih kursi yang ia duduki dan Gibran menganggukkan kepala.


“Iya,” walaupun jauh-jauh hari sebelum hari ini, ia sudah bertemu tapi ia masih sedikit kaget saja dan Gibran bersyukur saja sama mereka yang sudah memberikan ruang waktunya untuk dirinya merenungi apa yang ada, memang tidak salah lagi sebab mereka tidak pernah bertemu dengan Gibran.


Lelaki itu sekarang berpindah tempat, di tengah-tengah dari mereka berdua.


Dan ia juga heran, mengapa mereka tidak menyadari jika ada salah satu orang yang mereka cari itu ada di Universitas yang dimilikki oleh papahnya itu.


“Kak Arfa...”


Arfa sekaligus anak dari papahnya itu terkejut yang awalnya dia melamun, ia berusaha untuk tetap menyunggingkan senyumnya meski di dalam hati itu berat kayak harus dipaksakan, ya dia itu jarang sekali untuk halnya tersenyum apalagi ramah kayak orang-orang, tidak ada dalam prinsip hidupnya selama bertahun-tahun ia hidup di dunia ini.


Pasalnya tersenyum itu mahal dalam kamus hidupnya.


“Apa?” tanya Arfa menanggapi panggilan dari Gibran.


Gibran menganggukkan kepala untuk mengidentifikasi Arfa bersamanya.


Arfa yang tidak tahu apa-apa mengenai bahasa tubuh Gibran bingung, menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal itu.


“Keluar,” ucap Gibran dan alhasil Arfa menganggukkan kepala, ia sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Gibran.


“Ya, pah ... kek, kita keluar dulu ya?” izin Gibran kepada dua orang itu yang terpaut jauh umurnya dengan mereka dan mereka berdua yang sudah berumur itu menyetujui dengan menganggukkan kepala.


“Jangan lama-lama!” saran papah Arshal dengan nada datarnya tanpa ada lembut-lembutnya sama sekali, mungkin ya kurang setuju dengan Gibran yang mendadak mengajak putranya keluar. Padahal sebenarnya itu dia papah Arshal ingin memeluk ponakannya itu, layaknya seorang putra ya bagaimanapun tetap dia menganggapnya putra keduanya.


Arfa bersama Gibran sekarang ada di luar dengan yang terakhir Arfa yang berjalan, mengintil Gibran dari belakang, ia menarik pintu untuk ditutup pelan-pelan takutnya mengganggu ibunya.


Arfa lalu menatap tajam ke Gibran yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya, eh ternyata dan ternyata anak itu ada di sampingnya membuat Arfa hilang kesabarannya juga.

__ADS_1


“Kamu ini!”


“Ngga usah emosi, oh iya kok ke sini? Gue mau tanya lo—


“Jangan pakai bahasa lo dan gue!” serunya tajam mengingatkan agar Gibran lebih sopan dengan dirinya yang berstatus sebagai kakak sepupunya, ya walau gimanapun mereka tak terpaut jauh tapi Gibran harusnya memanggil dirinya kakak.


Gibran menatap takut ke arah bola mata berwarna cokelat kekuningan itu berubah dengan sedikit ada kilatan merah-merah padam.


Ini orang memang bikin penasaran bagi Gibran tapi Gibran seolah tidak peduli, ia malah mengidahkan pandangannya ke arah lain untuk tidak bertemu dengan tatapan itu lagi.


Rasanya trauma dia.


“Iya,”


Arfa hanya diam tak bergeming, ia tidak berniat untuk membalas.


“Tujuan kamu apa?” tanya Arfa menilik tatapan Gibran yang hanya mengalihkan ke arah lain.


Arfa yang rasanya emosi bercampur ia itu memiliki kesabaran setipis tisu tidak akan pernah ia memiliki stok untuk kesabaran yang tinggi, lalu laki-laki itu tangannya meraih memegang jari jemari Gibran dan menyeret Gibran yang tidak pas dengan posisinya, Gibran tidak siap untuk ditarik malah nyungsep yang ada tapi para penjenguk memikir jika mereka itu bermain layaknya orang zaman dulu, mainannya seret menyeret tapi rasanya memang sebetulnya harus diulangi lagi biar masa kecilnya bahagia kembali tanpa harus disia-siakan untuk hidupnya.


Gibran itu berdesis di sepanjang perjalanan, ia itu sebenarnya bercampur aduk kesal ingin menggigit tangan kakak sepupunya itu tapi tidak semudah itu anak yang memiliki status peran utama penerus warisan utama di keluarga ibunya Gibran.


Karena lelaki itu tidak senang dengan bau-bau warisan yang ada ia memiliki tanggung jawab besar untuk menyepakati perjanjiannya, apalagi dia juga ada dicantumkan untuk ahli waris setelah Arfa tapi juga Gibran memiliki hak untuk warisan apa yang ada ditulis di kertas berisi dokumen memiliki harga yang nilai jual tinggi. Tidak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan emas itu, karena kesempatan tak datang untuk kedua kalinya.


Apalagi Arfa itu sudah kayanya ya begono lah, udah dari lahir dia mendapatkan harta yang bisa mencukupi kebutuhan dirinya sementara dia tidak cukup untuk membuktikan bagaimana perjuangan sang ibu luntang-lantung mencari pekerjaan hanya demi setetes air susu hamil beserta makanan yang bergizi untuk menambah berat badannya, apalagi saat itu memang di kondisi sangat sulit untuk di ekonomi.


“Gue gimana pun tetap kakak kamu bukan apa-apa, gue sepupu lo!” tatap nya dingin sambil menepuk paha Gibran keras.


Gibran mencebikkan mulutnya, “Iya gue tahu!”


“Rubah bahasa lo! Di mana pun itu adek harus memiliki sopan santun untuk kakaknya,” ujarnya datar nan pakai nada.


Ia merubah posisi duduknya dan melirik Arfa yang sedang benar-benar ingin ia kuliti hidup-hidup, serba salah ngomong sama raden Mas Arfa kedudukannya amat lah tinggi.


Tak terasa ia mengangkat tangannya untuk hormat dan Arfa di dalam hati terkikik geli melihat kelakuan adek sepupunya ini.

__ADS_1


“Ada apa? Dan jelaskan secara rinci saja!” tanya Arfa dan menyuruh Gibran to the point tidak terlalu mengulang-ulang ucapan yang menurutnya kurang penting, ia mudah mencerna namun tidak untuk dia yang mengulangi ucapannya.


Prinsipnya itu ‘kenapa harus dulang?’.


Serba salah sudah.


“Oh iya gue mau bahas mengenai warisan,” bongkar Gibran.


Mata lelaki itu membola, apakah ini cucu bener? Rada otaknya miring ke sebelah kiri, jadinya rada mikirnya terlalu jauh.


“Yang bener?” tanya Arfa memastikan dan Gibran menganggukkan kepala saja tanpa menanyakan apa yang dimaksud Arfa itu apa.


“Iya gimana?”


“Bukannya apa-apa sih Gib, lo tahu sendiri kakek saja belum meninggal... Sudah kamu tagih dengan warisan?” ia tidak percaya saja oleh Gibran lantaran dia sudah benar-benar kelewatan batas sebagai cucu, sebab ada yang mewadahi segara garis turunan cucu itu tidak termasuk jika memang anak kandung dari si kakek belum meninggal.


Lelaki berumur belum genap dua puluh tahun itu mengerutkan dahi tidak mengerti apa yang dibahas oleh Arfa ini bukannya dia itu di sini meminta pendapat atas apa yang selama ini memang benar-benar tidak merasa pantas untuknya kenapa kok bisa dikasih dirinya, ada yang lebih berhak untuk menerimanya.


“Eh, gue nggak ngomongin kakek lo ogeb! Ngerti kagak si lo itu membahas masalah warisan gue yang ada di kakek dari ayah gue itu dikasih sepenuhnya, kepercayaannya sama gue weeh! Secara kan nggak adil ogeb, ya kan?” tanya Gibran sambil memandang lurus ke depan dan Arfa menyunggingkan senyumnya.


Arfa diam-diam laki-laki itu sedang mengambil handohonenya lalu ia mencari aplikasi goggle.


Ia mencari undang-undang yang mengatur pihak pewaris yang bukan anaknya melainkan cucunya yang sebagai anak dari anak kandungnya sendiri.


“Mungkin ada cara lain untuk kakek lo menitipkan barang berharganya bisa dikelola baik sama lo sendiri.” Jawab Arfa yang simpel tanpa panjang lebar dan mata Gibran memutar malas.


Ini anak kalau menjelaskan tidakkah disingkat-singkat bisa saja basa-basi dulu atau bagaimana, apalagi mukanya plus cocok sama tukang cilok yang lagi nunggu kompornya habis.


“Tidak ada kah jawaban lain? Singkat padat dan amat mudah sayang dipahami.” Gerutunya sambil menyindir hati Arfa, sedih jika ia berkata dari hati kecilnya.


Gibran menatap manik mata Arfa yang menatapnya, sama-sama tatap menatap. Bola mata abu-abu yang dimiliki oleh Arfa merubah menjadi menghitam.


Gibran seketika terkejut, “Kak Arfa...” panggil Gibran yang sedang memahami kondisinya gimana dengan hubungan Arfa bersama papahnya yang sedikit tidak sejati bagaimana hubungan semestinya.


---

__ADS_1


**Maaf ya kalau nggak up selama ini, sudah berapa hari nggak kehitung. oke dijelaskan bahwa Din emang beneran mau fokus ke sekolah dua minggu lalu jadi ya mau gimana lagi, apalagi bentaran mau PTS juga yah nggak tahu nanti:)


Oke makasih yaa sudah baca😚**


__ADS_2