
Arina menghembuskan napas pelan, lagi dan lagi ia dilakukan layaknya orang yang tidak berguna, dikurung di dalam gudang yang berdebu dan barang-barang yang ia jumpai sudah usang, tidak berwarna seperti awalnya.
“Apa iya harus berhenti sampai sini? Terus kalau papah nanya, kenapa? Aku harus jawab apa.” tanyanya sambil melamun, duduk nelangsa meratapi nasibnya yang mungkin akan mati dibunuh oleh suaminya.
“Masih mending aku dibunuh daripada harus pula hidup dengan deritaan yang mungkin nggak akan pernah berhenti sampai akhir hayat aku.” Ucapnya canggung terasa begitu berat jika sudah memasuki gudang ini, mengapa?
Ya, ini tempat sudah menjadi tempat terbiasa nongkrong Arina tiap hari, mungkin jika orang tua Arina tahu. Pasti marah, tapi mulut Arina tidak berani mengungkapkan secara jujur bersamaan itu pula orang tua Arshal yang sering menasehati Arshal juga untuk tidak terlalu keras oleh Arina. orang tua Arshal tahu jika kekerasan anaknya termasuk berlebihan dan tidak melebihi batas kewajaran saja, mereka sudah menganggap Arshal seperti orang gila.
Orang tua Arshal makanya mempercayai Gibran untuk merubah sikap ayahnya, tapi sekejap kemudian Gibran sudah kecewa dengan ayahnya yang suka main tangan dengan ibunya dan tidak pernah yang namanya bisa mengontrol emosinya, pernah Gibran mengajak ayahnya itu ke psikiater untuk diobati.
Tapi ayahnya selalu bilang, saya nggak sakit kenapa harus dibawa ke dokter?
Nah, itu yang dibingungkan oleh Gibran.
Sebab Gibran-putranya itu selalu bercerita berwawasan terbuka untuk kepada ibunya agar saling mempercayai saja.
Namun, kebebasan itu hanya waktu sekejap saja. Gibran?
Putranya itu sudah tidak lagi bisa hidup di sampingnya lagi karena sibuk dengan pekerjaannya dan ditambah ia menimba ilmu di perguruan tinggi untuk tidak membebani orang tuanya, ia belajar sambil bekerja dan dibantu oleh kartu juga yang bisa meringankan Gibran, tak ayal jika ia juga masuk dengan prestasi juga yang ia raih.
Prestasi itu menunjukkan jika memang dirinya layak untuk diterima di perguruan tinggi itu, namun yang membuat heran Arina yang dimasuki perguruan tinggi tersebut kepala universitasnya saja kakaknya sendiri, kakak Arina tapi perempuan itu malah memilih diam, bungkam karena melihat bagaimana dia ketika harus dipanggil ke Universitas untuk menghadiri sebuah acara formal.
Dan perempuan itu lagi dan lagi harus kasian dengan hidupnya, tapi ia percaya jika kakaknya tidak akan menanyakan apa yang terjadi dan ia percaya jika keponakannya itu bisa.
Untung saja ia berhasil lewat jalur prestasi jika tidak perempuan itu akan ditanyai, bagaimana bisa anaknya ke terima dengan jalur kurang mampu.
Apa selama ini hidupnya tidak mampu, dan pasti akan menjadi satu pemikiran di benaknya.
__ADS_1
“Hm, sudahlah. Biarkan, mungkin—
Seketika Arina terkejut karena suara dobrakan pintu yang berhasil mengalihkan dunianya dan mengedarkan pandangannya ketika suaminya itu dengan langkah sempoyongan dan menggaruk tubuhnya, meliuk-liuk seperti orang gila penuh dengan nafsu.
Apalagi tatapan sayunya yang membuat Arina melotot tajam melihat suaminya tidak layak mungkin keadaan sudah seperti orang kesetanan ingin dipuaskan nafsunya.
“Ikut saya!” dengan ucapannya yang bergetar dan perempuan itu ketika diseret pun tidak percaya.
Tangannya disentuh oleh tangan suaminya yang terasa panas dan Arina yang mengerti itu pun memberontak kasar, ia tidak mau jika ini terjadi karena kecelakaan lagi, ia tidak mau.
Sudah satu kali saja terulang, hari ini ia tidak ingin terjadi kembali. Dengan kasar Arina mengigit tangan Arshal dan berusaha untuk lari dari sini sebelum tertangkap oleh laki-laki yang bak jiwa binatang itu.
Bukannya apa-apa emang perlakuannya nggak kira-kira dan perempuan itu ketika berlari dengan napas terengah-engah malah ketangkep juga sama laki-laki itu karena sebelumnya laki-laki itu sudah memiliki insting ketika Arina berbalik badan.
“Mau kemana?” tanya laki-laki itu dengan mata sayunya walau meski badannya terasa panas dan ingin dipuaskan tetap saja laki-laki itu tidak bisa jika bersangkutan untuk mencelupkan ke orang lain, yang sah-sah saja.
Iya ga bahaya ta? Ya nggak soalnya udah sah.
***
Saat itu lah yang membuat Arina paham dengan apa yang membuat Gibran marah, sekarang perempuan itu gagal untuk menjadi ibu dan ia sudah tidak lagi ingin berdekatan dengan Arshal tapi laki-laki itu tetap saja menguji kesabarannya.
Sudah satu bulan ia lewati dengan kejadian yang membuatnya harus buncit sembilan bulan lagi, ia menatap ke depan kosong layaknya seperti untuk menatap kehidupan ke depannya saja tidak minat apalagi ia sudah tertangkap basah oleh putranya sendiri ketika ia mengecek dengan test-pack yang sudah di tangannya, berujung putranya tidak menginjakkan kaki di rumah ini lagi.
Ia juga didiami oleh Gibran, saat ditanya pun putranya hanya menganggap angin berlalu dan pergi layaknya tidak ada kabar.
“Ck, masih mikirin anak kamu itu? Nggak bakal balik, udah bikinin kopi dulu! Daripada ngelamun nggak jelas, itu cucian udah numpuk!” ucap laki-laki itu dengan penampilan acak-acakan jauh dari kata rapi, dengan singlet dan celana kolor yang mungkin udah kayak bapak-bapak, jadi melihatnya sudah tidak selera.
__ADS_1
“Uang udah habis, kopi sama gula nggak ada. Habis semua,” ucap Arina tanpa memandang minat kepada Arshal yang ingin baru duduk di atas kursi yang sama dengan Arina. Berhadapan lebih tepatnya dan berhasil membuat darah Arshal mendidih.
Ia menggebrak meja dengan kencang, sehingga timbul suara retakan. Mungkin kayu itu tidak bisa menahan seberapa kerasnya Arshal menggebrak meja.
“Kau itu jadi istri tidak berguna sama sekali ya! Pekerjaanmu itu apa sih? Cuman tidur aja! Udah saya mau keluar, lama kelamaan bisa muak tinggal seatap sama kamu.” Ucap Arshal dengan melangkah pergi untuk berganti baju.
“Ya udah kalau muak mending CERAI! Daripada kamu ngomong nggak ada kenyataannya!” dengan keras dan lantang ia berbicara, ia sudah tidak tahan lagi untuk menentang dan ingin sekali dia keluar dari belenggu masalah rumah tangganya yang seolah sudah ditata rapi sama Arshal.
Arshal memejamkan matanya, rahangnya sudah mengetahui dan benjolan di tenggorokannya naik turun. Ia mengeraskan kepalan tangannya, sudah bosan hidup sepertinya ini perempuan. Gumamnya.
“Apa katamu tadi? ULANGI SATU KALI LAGI!!!”
Dengan cepat dan gesit Arshal menghampiri Arina, ia sudah geram tidak tertahan lagi.
Ia mengambil piring yang berada di atas meja itu, “Mau?” dengan senyuman misteriusnya dan meraup dagu Arina dengan mengapitnya dan mengarahkan kepada tatapan yang mematikan itu.
Dagunya terasa begitu sakit dan ia ingin sekali meraup rakus udara sekitar, pasokan napasnya kian menipis dan linangan air mata yang semakin deras. Ia terisak dan tidak bisa melakukan apa-apa selain hanya berdoa memandang wajah yang bukan lagi memiliki keuntungan bagi Arina. Hanya kesialan yang ada.
“Ini!” piring itu diangkat tinggi-tinggi dan ketika piring itu ingin dijatuhkan, dengan cepat ada seseorang yang melindungi perempuan itu dan mata Arina memejam rapat-rapat, ia tidak ingin lagi mengatakan itu. Seperti menyesal kata lainnya, tapi bentar.
Seperti ada yang menahan tubuhnya sekarang, terasa berdesir.
“APA YANG KAMU LAKUKAN ARSHAL?” tanya seseorang dengan nada tinggi dan keras muncul dihadapan mereka sekarang.
**Oke oke...
Ya udah silakan baca!
__ADS_1
Apa kabar?
Baik Dinsu**.