
Bagaimana dengan Gibran yang sekarang posisinya ada dihadapan ibunya tengah mengintai dirinya sambil bersedekap dada.
Menatap lamat putra sulungnya lama.
“Kenapa kamu pulang malam?” tanya Arina sambil mendudukkan dirinya di kursi dengan berpakaian gamis dan kerudung yang rapi, melihat perutnya yang sekarang mungkin akan buncit membesar pasti tak salah lagi dia memakai pakaian yang agak longgar.
“Apa masalah kamu, biar ibu tanya sekarang kok pulang malam mesti nggak jauh-jauh dari sebuah permasalahan ‘kan? Ibu tanya baik-baik sekarang, jawab Gib! Perempuan yang ada dihadapan kamu ini menanyai sebagai orang tua khawatir jika anaknya memiliki masalah, ibu akan memberikan solusinya jika kamu membutuhkannya. Ibu akan menjadi pundak kamu untuk cerita, ayok! Cerita.”
Gibran menundukkan kepalanya, hatinya berdesir kuat lantaran ia harus sekali lagi menolak egonya untuk bisa bersama ibunya ini.
“Maaf...” tuturnya lembut.
Arina menggeleng ribut, “Ibu nggak butuh jawaban kamu seperti itu! Ibu cuman tanya, kenapa? Ada masalah, tidak?” tanyanya menahan emosinya.
“Kenapa?”
Sekali lagi Arina ingin tahu, dari sebagai orang tua yang sudah menikah dua puluh tahun bersama Arshal memiliki putra yang kini dihadapannya itu suatu hal tidak mudah baginya namun ia bisa melewatinya dengan dukungan dari orang tua maupun do'a yang selalu dia minta kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Walau mau dijabah atau tidak, ia selalu menghadap ke Yang Maha Kuasa untuk curhat.
Gibran lantas menaikkan pelan-pelan kepalanya untuk menatap ke ibunya yang kini menatapnya pula.
Tak terasa kini matanya sudah memanas lantaran melihat ibunya yang tampak dengan wajah mengerutkan keningnya.
Ia berucap.
“Maaf sekali lagi, ibu aku mau ibu keluar dari sini! Maaf, maaf...” Lantas putra sulungnya menjawab dengan begitu Arina menatap tidak percaya, rahangnya jatuh begitu saja mendengar apa yang dijawab oleh putranya ini.
Seperti petir di siang bolong.
Kaget mendengar apa yang keluar dari mulut putranya.
Tes.
Satu tetesan air mata yang berharga itu terlihat jatuh meleler keluar dari kelopak matanya, terjun bebas di pipinya.
Sakit.
Sebagai putra yang seharusnya menyayangi dan mencintai ibunya sendiri setelah ayahnya, kenapa dirinya sebaliknya?
Gibran merasa ia tidak pantas mengucapkan hal itu, ia berpikir dengan meminum akan melupakan kenangan yang diberikan oleh orang tuanya kepadanya, nyatanya salah besar!
Efeknya akan berdampak buruk, dirinya akan mengusir orang yang sudah melahirkan dirinya ke dunia ini.
Durhaka!
__ADS_1
Tentu yang akan terucap di mulut orang-orang yang memandang Gibran.
Putranya beringsut untuk mendekati dan menurunkan tubuhnya dengan cepat, mendudukkan dirinya di hadapan kakinya yang lemas mendengar hal itu.
Lantas tatapannya turun ke putranya yang ingin mencium kakinya.
Arina tak terasa meneteskan air mata kali ini, ia sudah tidak bisa membendung air matanya yang sudah memanas di area kelopak matanya.
“Hm, iya. Ibu harus pergi?” tanya Arina tersenyum tipis sambil meneteskan air mata yang berujung tidak berguna.
“Iya ibu pergi dari sini, tapi ibu titip pesan sama kamu. Jadi anak yang sukses dan mandiri, jangan bergantung sama orang lain! Sama sholat lima waktunya jangan ditinggalkan, curhat sama Allah ya kalau apa-apa! Sakit hubungi ibu, biar nanti ibu ke sini. Ibu nggak akan memberikan jarak yang jauh, lantaran ibu memiliki hak untuk mengurus kamu dan jika kamu ingin ibu pergi. Ibu akan pergi dari sini, ubahlah sikapmu untuk menjadi calon generasi yang baik lagi. Agar calon penerus kamu tidak mengikuti jejak kamu, nantinya.” Jelas Arina panjang lebar walau dadanya sesak kalau menjelaskan tapi ia sebisa mungkin mampu menasehati putra sulungnya.
Arina mensejajarkan tubuhnya dan memegang pundak Gibran.
“Sini, peluk dulu!” serunya menyunggingkan senyumnya, walau itu senyum palsu ia tetap bisa menyembunyikan kesedihan.
Gibran mendongakkan kepalanya di atas, melihat manik mata ibunya yang tampak berair.
“Maaf, bu. Aku nggak bisa jadi putra yang baik buat ibu,” ucapnya dengan menangis dan kali pertama Gibran bisa meneteskan air mata untuk seorang perempuan yang ia cintai.
Tangan jemarinya itu memegang pipi ibunya dan mengelap sisa air mata yang keluar.
Ia berdosa sungguh, kali ini menyesal. Dirinya benar-benar ingin menarik ucapannya tapi sudah terlanjur. Karena ia ingin melindungi ibunya dari masalah yang ia terima dari orang misterius itu.
Takut, takut ibunya terluka.
Mending dirinya yang terluka dan bisa melihat senyuman ibunya itu kembali.
“Jangan lagi meminum ataupun merokok!” setelah mengucapkan itu Arina bangkit berdiri untuk segera mengemas tas yang diisi oleh pakaiannya, segera beranjak angkat kaki dari kost Gibran ini.
“Iya,” jawab Gibran tanpa memandang punggung Arina yang memasuki kamar, untuk mengambil keperluannya.
Emang tidak masuk akal, namun ada alasan lain yang akan diterima dan mikirnya melalui logika.
Tapi seiring lambat waktu, semuanya akan dijelaskan oleh putranya. Ia akan lebih bijaksana menyikapi keputusan putranya untuk yang terbaik kali ini.
Putranya bisa melangkah sejauh ini, ia harus memutuskan segera untuk menemukan tempat tinggal ataupun bisa layak dihuni untuk dirinya.
Arina selesai berkemas, menatap foto pernikahannya yang selalu ia bawa dan diselipkan di atas buku yang menjadi keluh kesahnya selama ini.
Tersenyum tipis.
“Mas, sekarang anak kita udah dewasa tapi aku butuh kamu juga menjadi pengganti sosok ayah untuk kehidupan putra-putri kita selanjutnya.” Ucap Arina dengan memegang fotonya dan setelah tenang, plong hatinya lantas meletakkan foto itu ke dalam tas.
Ia tidak mau harus tertinggal barangnya, takut jika Gibran membaca dan bisa menyimpulkan bahwa kehidupan sebelum Gibran dilahirkan ataupun kecil banyak masalah yang menimpa mereka.
__ADS_1
Sudah dilalui ber puluhan tahun, hebat!
Nggak? Dirinya belum pantas disebut ibu lagi, sebab ia belum melahirkan calon anaknya ini ke dunia. Setelah itu ia benar-benar akan melepaskan semuanya, ia ingin kehidupan selanjutnya anaknya akan terawat dengan baik dan akan diteruskan oleh Arshal.
Arina melangkah keluar dari kamar, di mana di sana Gibran tampak duduk di atas lantai tadi sambil termenung.
Perempuan berjilbab biru itu pun mendekati, melangkah lebih dekat ke Gibran.
Tangannya menepuk pundak Gibran.
“Ibu, pergi ya? Jaga baik-baik diri kamu selama ibu nggak ada di samping kamu, jangan manja!” ucap ibunya.
Gibran tangannya nampak mencegah di kaki Arina, bergelanyut dengan tangisan yang akhirnya pecah sekali lagi.
“Bu, maaf. Ini demi kebaikan ibu sama calon adek aku walau nggak diharapkan. Gibran akan baik, tapi ibu sesekali ketemu ya tiap minggu.” Ucap Gibran memohon kepada Arina dengan menyatukan tangannya.
Arina menghela napas pelan dan tersenyum lebar.
“Apa sih, nggak papa. Ini ibu kamu, toh kamu berhak. Seorang putra itu cinta pertamanya ke ibunya, jadi biarin rasa sayang kamu ini bener-bener bakal hilang udah lupain ibu di luar. Ikhlaskan ibu untuk pergi,” ujar Arina menyemangati putranya.
Walau sakit, Arina menahan itu agar tidak jatuh lagi air matanya sebab ia akan tidak rela untuk mengikhlaskan putranya agar tetap ada di sini.
“Sudah, ya? Jangan nangis lagi!” permintaan dirinya dengan lembut dan ia mendekap tubuh putranya untuk terakhir kali ini.
“Jadi kamu jangan lepaskan kepercayaan pak Angga buat kamu untuk menjadi putranya, pengganti ayah kamu! Harus bangga kamu, jangan sia-siakan itu saja! Ibu akan tetap di sini tapi tidak jauh lagi, kita tidak akan bersama.” Ujar Arina melanjutkan dengan sesak di hati walau begitu Arina bisa menyemangati esok harinya untuk bisa lepas dari keluarganya yang sudah berantakan entah kemana ini.
Mungkin memang bukan ditakdirkan untuk membangun keluarga kecil kali, miris.
Arina tersenyum getir, ia pun mengusap-usap anak rambut di samping dan merapikannya.
“Ya sudah, ibu pergi ya? Kamu baik di sini, ibu tetap baik di mana pun itu.” Arina bangkit berdiri namun tangan Gibran mencekal pergelangan perempuan itu dicegah untuk tidak pergi terlebih dahulu.
“Maaf, ini demi kebaikan ibu sama Gibran. Maaf,” ucap Gibran yang tetap mendekap hangat, tak terasa jilbab yang dikenakan oleh Arina mungkin sekarang basah dan Arina sudah tak tahu lagi keadaan putranya yang belum bisa legowo kepergian dari ibunya.
Padahal, jelas dirinya yang meminta untuk pergi. Namun, Arina tidak berani untuk mengulik dalamnya.
“Iya, kamu ini kayak siapa aja! Udah lah, anggap santai. Mereka itu yang mau ikut campur dengan keluarga bahagia yang udah ibu bangun ber puluhan tahun eh pada akhirnya ya mau gimana lagi, mungkin Tuhan kasih jalan buat nggak bersama lagi. Tapi, lauhul mahfudz yang sudah menentukan jika memang ayah Arshal jodoh bunda. Ayah Arshal nggak akan kemana, soalnya lauhul mahfudz itu sudah tertulis dari zaman ibu belum lahir sudah ditanyakan dan dicatat, begitulah. Lauhul mahfudz seperti Qaddarrullah yang nggak bisa dirubah lagi. Makanya sebab itu ibu kepingin kamu lebih baik dari ayah kamu! Oke?” Arina melihat Gibran yang tak merespon itu bingung, sebab tangan Gibran mendingin dan ia meraba hidungnya.
Tak ada pernapasan, biasanya...
Penuh tanda tanya, akhirnya Arina menegapkan badan Gibran dan benar dugaannya jika Gibran kebanyakan menangis jadi pingsan sekarang keadaannya.
Nah, belum ditinggal sudah tergeletak menyender di tubuh ibunya.
Tidak berguna sekali.
__ADS_1
Sudahlah mungkin memang agar ada pendekatan yang lebih jauh tapi emang konsepnya entah gimana ini. Arina lantas membohongi tubuh Gibran walau dirinya perempuan yang masih berisi itu tangguh, ia sedang duduk mendirikan orang pingsan itu berat.
Beban.