
"Gimana?"
"Sudah ketemu tuan," jawab salah satunya dan membuat Angga menatap anak buahnya tak percaya.
Angga pun menatap sekelilingnya, orang yang ia cari bermenitan itu tengah berjalan di samping seorang laki-laki yang tampak menemaninya.
Sontak saja lelaki setengah abad itu terseok-seok langkahnya menghampiri putri tercintanya, putri satu-satunya yang ia sayangi sampai sehidup sematinya.
"Syifa," panggilannya dengan merentangkan tangannya seraya memeluk putrinya dan orang yang dipanggil papahnya itu menerbitkan sebuah senyuman hangat.
"Pah,"
Akhirnya mereka berdua pelukan, rasa haru menyeru di dada mereka bersama dan membuat beberapa orang menjadi terharu.
Syifa, panggilan untuk putrinya yang tercantik ini. Sampai beribu-ribu tahun, papahnya akan menjaga sebelum lelaki yang akan menggantikan posisi Angga sebagai papah kandung dari Syifa.
"Gib," panggil Angga menengok ke belakangnya. Orang yang sudah menolong putrinya kali ini, benar-benar salut Angga.
Beberapa kali menepuk pundak Gibran yang amat kaku itu, sehingga Angga tak bisa mengatakan apa-apa.
"Iya pah, assalamu'alaikum..." Gibran sebagai orang yang pertama kali menemukan dirinya dan Angga patut berbangga dengan anak ini, karena telah menolongnya jadi imbal baliknya tak ada yang bisa mengalahkan.
Sebab satu abad pun tak akan tergantikan makanya Angga ingin sekali Gibran memanggil dirinya sebagai orang tuanya.
Mau dipanggil apapun boleh yang penting ia bisa membantu hidup Gibran.
"Wa'alaikumsalam," senyumnya terpatri dan menerima jabatan tangan dari Gibran.
"Ini Syifa? Mana," Syifa orang yang dicari maksudnya putrinya itu pun langsung menghampiri Angga.
Angga menengok ke arah belakang Gibran, di sana putrinya sedang menunggu.
"Pah," Putrinya memeluk papahnya dan merasakan pelukan itu amat hangat.
Berbeda yang dia rasakan dengan mamahnya, mamah?
Tak ada kasih sayang dari dalam seorang ibu kandung yang dengan sengaja membuang dirinya ke panti asuhan dan sekarang mengemis untuk kembali dengan Syifa.
Perempuan itu merasa tak pantas lagi untuk mendapatkan kasih sayang dari seorang mamah.
Walau sudah melahirkan tetap saja membekas dalam hati Syifa.
Balik ke Gibran, dirinya tersenyum tipis melihat kedekatan Syifa dengan papahnya sendiri sementara dirinya tak ada namanya Arshal yang mau memeluk dirinya.
Pantas kah dia di tengah-tengah kedua orang itu, ingin rasanya dia mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya tak melulu dari ibunya saja.
Tapi, seharusnya dia boleh bersyukur karena masih didampingi oleh seorang ibu yang tetap menyemangati dirinya tiap hari.
Walau tersakiti hati ibunya, terluka.
Lelaki itu tersenyum penuh arti, sebenarnya dirinya harus bangga dengan Arina sebagai seorang ibu yang memilih dengan dirinya yang tak becus sebagai seorang putra.
Bisa mana kalanya dia menerima keadaan yang sesungguhnya.
Ia menghela napas pelan, merasa kedua orang itu menatap dirinya. Ia merasa bingung, dimana letak kesalahannya sampai diherankan oleh kedua orang itu.
"Heh jangan kebanyakan ngelamun Gib, nggak bagus." katanya sambil mengingatkan.
__ADS_1
Syifa, perempuan itu yang mengatakan. Tiba-tiba saja jantung Gibran berdetak lebih kencang dari biasanya.
Ia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kenapa, nak?" tanya Angga memegang pundak Gibran.
Mereka merangkul, sementara yang di belakang putrinya itu menggantikan posisinya.
Ingin saja melihat Gibran, lelaki itu leluasa dengan papahnya.
"Nggak ada pah, kepikiran aja sama ibu. Kebanyakan dosa sama ibu,"
Mereka bertiga berjalan ke arah keluar dan banyak orang-orang yang melintasi mereka tapi tak ngeuh dengan keberadaan mereka yang berarti dalam negeri ini.
Mereka bergegas untuk segera menghampiri letak mobil di parkir kan.
Sudah dipastikan dirubung oleh banyak wartawan yang menginginkan akses Angga untuk bisa diwawancara.
Namun, sudah ada banyak pengawal Angga yang siap menghadapi banyaknya orang yang ingin bertanya.
Akhirnya tiga orang itu pun masuk ke dalam mobil yang dikendarai pertama tadi oleh ditumpangi Syifa. Berangkat dari rumah menuju sini nggak gampang, banyak segala cara yang dilewati oleh Syifa.
Dengan mereka bertiga di dalam mobil, pertama hening lama-lama jadi lah Angga yang mengajak ngobrol Gibran.
"Bagaimana dengan ibu mu?" Angga membuka suara, menanyakan ibunya yang dari kemarin ingin menjenguk saja sudah ada pekerjaan yang menunda dirinya untuk menjenguk ibunya Gibran.
"Masih belum diperbolehkan pulang pah, karena ya masih hari kedua jadi mau gimana lagi." balas Gibran seadanya.
"Maaf kalau papah belum sempat menjenguk ibu kamu selama ini,"
"Iya pah, jangan sungkan sama ibu! Nanti aku bicarain sama ibu,"
"Pah?"
"Apa, nak? Papah tadi bilangnya gimana coba? Mau papah ulangi lagi?" Angga seolah mempunyai omongan tadi sebelum menyatakan jika ingin ke rumah sakit.
Mungkin ini bukan draft pertama yang menjadi tujuan awal.
"Iya, tapi pah nggak nanti merepotkan. Kalau ada pekerjaan, harap Gibran sih diselesaikan dulu daripada nanti mengganggu." balasnya tidak enak hati, karena selama ini sudah menyulitkan keluarga mereka seenggaknya bisa berterimakasih lah sama mereka.
Gibran diam-diam sejak tadi pandangannya mengarah ke Syifa yang sedang menatap handphone.
Matanya tak fokus ke pandangan jalanan yang ada di depan melainkan orang yang sudah pertama kali ia incar.
Jaga pandangan, ia pun menundukkan kepalanya.
"Nggak kok, malah papah pingin kenalan aja sama ibu kamu siapa tahu kenal." ucap Angga sedikit memaksa untuk tetap pergi ke rumah sakit.
Gibran mengangguk, "Jika nggak merepotkan ya nggak papa, pah."
"Iya,"
Sementara Syifa di dalam hatinya amat dongkol sekarang, sudah tahu perjanjian awal ingin mengajak dirinya ke mall kok sekarang beda lagi wacananya.
Syifa mengepalkan tangannya dalam diam, ia sudah tidak sabar rasanya ingin membuka suara tapi melihat dari kaca depan papahnya mengode untuk tidak marah-marah di sini.
Nggak malu tuh.
__ADS_1
Kebiasaan memang jika sudah marah-marah nggak marah itu rasanya tanpa garam dicampur di air kuah.
"Pak belok ke rumah sakit ya."
"Baik tuan,"
Mereka bertiga diam kembali sampai benar-benar tiba di rumah sakit di mana ibunya Gibran dirawat.
"Kamu kok memilih rumah sakit ini, nak? Bukannya di rumah sakit yang--
"Biarkan saja sih pah, orang papah aja nggak bantu kok bisa-bisanya senewen aja." semprot anaknya yang sudah tak bisa terkontrol emosinya.
Angga tahu ini anaknya bakal begini, tapi bisa dia nasehati di kala nanti di rumah jika ada waktu.
Angga memilih untuk mengabaikan dan menatap Gibran tampak sudah keluar dari mobil.
"Jaga lisan kamu!" dengkus Angga dengan tatapan tajam dan sengit.
"Nggak bisa soalnya papah itu berkhianat!"
"Nak, tolonglah! Kamu itu sebagai perempuan hormati lisan kamu yang sebenarnya." mohon papah dengan menatap penuh arti.
"Sana keluar, orang males diajak ke sini. Jadi nggak moad tuh!" Perempuan itu menegakkan posisi tubuhnya yang sedang membungkuk.
Dia mencari keberadaan cas-casan karena handphonenya bentar lagi lowbat jadi baiknya ia mengisi baterai dulu.
"Hm, bukannya papah nggak nepati janji tapi baiknya dapet pahala dulu menjenguk orang sakit nak." ucapnya selembut sutra memberikan tahu anaknya sungguh mempunyai stok kesabaran tinggi.
"Cepat!" Papahnya sudah mendorong pintu mobil itu untuk keluar dan menatap putrinya yang amat tenang di tempat duduk samping kemudi.
"Pah, males lah..." tuturnya sambil beralasan entah apa ini.
Menolak lagi baiknya keluar daripada di dalam mobil yang bakal panas karena orang-orang yang ada mendampingi Angga tadi ia suruh untuk masuk ke dalam.
"Panas nanti di sini!" Kekeuh papahnya dan Syifa menatap malas papahnya.
"Huh, papah...."
Akhirnya Angga turun tangan sendiri, ia memutari mobil untuk menurunkan anaknya tepat sekali memaksa putrinya turun dari mobil.
Karena jika nanti ditinggal bakal marah lagi, menyuruh orang tua tinggal satu ini turun dan menolong dirinya yang sudah di ujung tanduk napasnya.
Hari senin sampai kamis pernapsannya nggak berhenti suaranya.
Angga menatap tajam dan seakan ingin merekam mangsa, keputusan Syifa sekarang diujung dan akhirnya dia pelan-pelan keluar dari mobil.
Kendaraan roda empat itu tak jadi tempat yang nyaman baginya, melainkan tempat yang baunya super bikin phobia Syifa kembali.
Papahnya ini sungguh menyebalkan.
---
gimana para ncing ๐
Apa kabar, sehat semuanya ya
Woke-woke tiap hari bakal up ya bakal di sempetin๐๐
__ADS_1
wkwk ๐ญ
jadi lah diri sendiri โค