Luka Darimu

Luka Darimu
35. Sejuta kata


__ADS_3

**Hallo...


apa kabar?


kangen nggak?


iya sini absen dulu❤**


***


Arina—perempuan itu kini sudah terbangun dari tidurnya. Ia menatap kanan kiri nya tidak ada seorang pun yang mendampinginya di sini, ia menghela napas pelan.


Papahnya entah kemana, ia sudah tidak lagi memusingkan mungkin dugaannya papahnya ada di luar cari makanan atau sarapan di kantin, biasanya seperti itu. Ia melihat ke atas meja yang ada nampan beserta barang-barang yang di atas nampan itu, ia lalu menyikap selimutnya dan bangun dari posisinya yang awal tidur terlentang.


Dengan meraih tiang infus dan kakinya diturunkan dari ranjang tempat dia istirahat.


Perempuan itu memilih untuk sarapan kali ini, kan sayang kalau tidak dimakan pada akhirnya papahnya membuang uang demi secuprit makanan yang ada di nampan itu.


Ia melangkah pelan-pelan menuju ke kursi yang tersedia di tempatnya.


“Assalamu’alaikum,” salam seseorang yang masuk ke dalam ruangannya dengan membuka pintunya.


Dengan celingak-celinguk karena tatapan pertamanya terfokuskan kepada ranjang yang ditempati putrinya tertidur nyaman dan nyenyak. Tidak ada siapa-siapa dan ia mendorong pintunya tertutup kembali dari dalam.


Ia lalu mengedarkan pandangannya, tatapannya bertemu dengan putrinya yang sedang membuka sarapannya dan ia menyunggingkan senyumnya.


Lantaran sudah tenang dengan putrinya yang menetap bukan keluar dari ruangan, ia juga tidak percaya jika putrinya akan keluar sendiri tanpa ada pengawasan sedikitpun darinya. Ia awalnya ragu, tapi melihat seseorang yang tengah duduk membuatnya tersenyum.


“Wa'alaikumsalam,” jawab terlambat Arina yang memang tidak mendengar, tapi sebelumnya dia mendengar hanya ***.


Dan ia melanjutkan dengan lirih.


Perempuan itu membalas senyuman hangat dan dengan wajah pucatnya terpatri wajah cantiknya yang berbalut hijab itu, meski begitu tetap papahnya Arina menyukai tampilan anaknya. Ya, walau masih sakit.


“Eh pah, sudah makan?” tanya Arina yang menawarkan.


“Sudah, makan saja dulu nak!” perintahnya lembut dan Arina menganggukkan kepala.


“Papah nggak mau kamu sakit lagi, kalau nanti makanan kamu habis dilahap papah.” Godanya melihat putrinya yang senang menawarkan.

__ADS_1


Arina menghela napas panjang, “Iya bukan gitu, pah. Tapi, kan setidaknya menawarkan sebelum diiyakan atau diminta.” Jawabnya yang mencampur aduk makanannya, makanan lembek itu seperti biasa Arina tidak menyukai tapi mau tidak mau dia harus memakannya, menghargai bagaimana mencari uang untuk membiayai perawatannya di rumah sakit ini.


***


Sementara Arshal—laki-laki itu sedang berjalan kaki menuju taman, mencari udara segar meski dengan perutnya yang belum terisi sama sekali dan cacing-cacing yang sudah meminta dirinya untuk mengisi perutnya.


Yang ada dia melakukan dengan meminum air galon satu gelas dan sekarang malah cacing itu kembali muncul, membuatnya gelisah tidak tenang karena keringat yang di dahinya menetes setiap dia melangkah. Dan ia merasakan keringat dingin yang ada di punggungnya terasa sampai ke dada, dadanya sedikit sesak.


Ia mendudukkan dirinya di kursi yang ada di taman tepatnya menghadap ke air mancur yang dikelilingi kolam berbentuk lingkaran itu diisi ikan koi beserta kawan-kawannya.


Ia menghembuskan napas kasar dan menghirup udara rakus, rasanya masih sesak namun ia bisa menghalau rasa sesaknya.


Ia temenung dan memikirkan nasibnya ke depan, apa iya dia jadi orang gembel jika kehidupannya bakal seperti ini ke depan.


Kan ya tidak mungkin dia akan berdiam diri tanpa ada kegiatan usaha untuk mencari pekerjaan supaya mendapatkan uang dan menghidupi kehidupannya.


Ia dengan menyangga dagunya menggunakan tangan kirinya dan menatap semua yang ada di taman ini, rasanya begitu sejuk tapi tidak mengobati rasa lapernya dan sisa sakit hatinya, dongkol saja.


Ingin membalas semuanya, namun dirinya mengingat posisi awalnya.


“Eh iya Gib, emangnya bisa?” terdengar samar namun pasti, telinga Arshal tidak salah lagi. Kepalanya ia tengokkan ke belakang, di mana ada dua orang yang membelakangi dirinya dengan berjenis kelamin yang berbeda.


Yang satunya dari belakang laki-laki yang berpostur seperti Gibran tapi ia tidak bisa percaya jika itu benar-benar Gibran, takutnya dia salah orang tapi Arshal menyipitkan matanya dan benar kawan.


Itu Gibran, satu keajaiban datang untuk dirinya. Ia akan mendatangi Gibran dengan berpura-pura kelaperan dan lemas supaya diberikan makanan, tapi jika begitu tampangnya bakal mengemis dihadapan putranya.


Oke ia masih memiliki urat malu untuk itu tapi ia akan membahas permasalahan di mana alamat ibunya, istrinya. Ia akan bertemu dengan ibu Gibran membahas tentang ia ingin meminta supaya memaafkan apa kesalahan dirinya kepada ibunya Gibran, Arina.


Tapi, ia tidak bisa.


Ia memiliki malu dan ia memiliki ego yang besar, untuk melakukan itu akan sulit baginya.


Namun ia akan mencobanya sebelum terlambat ia akan mati kelaparan dan kekeringan.


Sebelum itu ia akan mencegah supaya tidak meninggal dalam keadaan dirinya miskin, tidak memiliki apa-apa yang ada menyusahkan orang lain untuk mengubur dirinya di liang lahat tanpa adanya harta kekayaan.


Terlihat ide cemerlang mendadak muncul, dia pun akhirnya melangkah dengan tertatih-tatih walau dia merasakan sakit yang tidak seberapa menurutnya namun bisa dibilang kelaperan karena tidak punya uang.


Ia menuju ke arah Gibran dan seorang perempuan yang tengah duduk di sampingnya, bisa dikatakan itu perempuan dari gayanya sudah menunjukkan dia seseorang yang berada, bersyukur Arshal memiliki putra yang amat berguna untuk kehidupannya dan menjamin kehidupan ke depannya untuk tidak melarat.

__ADS_1


Arshal menerbitkan senyumnya di kala Gibran tengah membantu gadis itu dengan tangannya, tanpa ada ikatan mahrom atau tidaknya.


Pria itu dengan mendekati mereka ada gangguan sedikit sekarang yang mengganjal, tapi ia mencoba untuk melakukan ritual yaitu menghirup udara yang ada tapi tidak seperti ini rasanya. Sakit sekali, dadanya amat sesak dan melihat ke depan rasanya burem dan kunang-kunang.


Arshal, bruk!


Pria itu terjatuh dengan tidak elitnya jatuh di atas berbatuan yang tajam sehingga kepalanya terkantuk batuan tajam itu, tidak terasa karena pria itu sudah melayang karena pingsan. Sudah tidak mengetahui apa yang terjadi, dapat diberitahu sekarang Gibran yang tengah mengobrol itu reflek menoleh mencari sumber suara yang menyebabkan seseorang pingsan, pandangannya sekarang seorang pingsan itu dengan kepala yang ada di atas bebatuan.


Lelaki beranjak dewasa itu meringis, ia memegang kepalanya ada rasa ikatan batin antara orang yang pingsan di atas bebatuan itu membuatnya segera berlari tanpa mengidahkan pertanyaan yang dilemparkan oleh Syifa—adek angkatnya tepatnya dia mengakui seorang Syifa itu adek angkatnya sebab papah Angga menjadikan Gibran sebagai kakak dari Syifa. Membuat Gibran ya percaya begitu saja, tanpa ada rasa ikatan yang benar-benar dipercaya sebagai teman sehidupnya.


Lagian laki-laki itu lagi membutuhkan pendidikan lagi untuk meraih cita-cita nya supaya bisa mengemban ilmu di negara yang ia impikan.


Yaitu universitas yang ada di Kairo tepatnya ia akan mengemban ilmu untuk mendapatkan gelar-gelarnya bisa menghafalkan ayat-ayat suci Al-Quran terutama dan bisa berdakwah dengan menyebarkan agama Islam, mengajak para agama yang tidak memiliki Tuhan atau apa. Bisa bergabung diajak membaca syahadat sepenuh hatinya dan semuanya dipercayakan oleh IMAN.


Karena iman ada tiga hal yang harus dilakukan. Dipercayai lewat hati, diucapkan dengan lisan, dilakukan dengan perbuatan.


Itulah yang dinamakan agama Islam dengan adanya IMAN bisa membuat dirinya jatuh cinta dengan ISLAM.


Balik ke Gibran sekarang, laki-laki itu berlari dengan tergopoh-gopoh membantu seorang yang terjatuh pingsan itu, ia jadi iba melihatnya apalagi dengan darah yang mengucur deras di kepalanya hingga tertanda bercak darah yang mengalir di atas bebatuan itu.


Gibran terduduk menyangga lututnya dan tidak sepenuhnya duduk, ia menatap seorang yang pingsan ini terlihat dirinya pernah dan tidak asing dengan postur tubuh orang ini.


Dugaannya tidak pernah salah lagi membalikkan tubuh pria yang pingsan itu, Arshal—ayahnya.


Tubuh pria itu merasa ingin limbung, lemas.


Tidak terasa dia mengalirkan air mata bening yang keluar merembes ke pipinya dan ia tidak kuat, lemah masalah tentang ayahnya ataupun ibunya. Jika keduanya mengalami hal seperti ini, membuat Gibran merasa dia yang salah. Menjaga kedua orang tuanya tidak becus dan ia mengerang dengan nada suara tinggi, sehingga orang-orang yang ada di sekitarnya hanya melihat menonton tanpa ada niatan untuk membantu mengangkat tubuh ayahnya.


Lelaki itu memukul pelan dadanya yang amat sakit, melihat ayahnya mengeluarkan darah segar dan terlalu banyak dari dahinya beserta otak belakangnya. Ia merasa gagal menjadi anak, ia menarik tepi bajunya.


Gagal.


Tubuh ayahnya yang dingin dan lelaki itu pada akhirnya mengangkat tubuh ayahnya, meski agak berat tapi ia mempercayai dirinya untuk membantu ayahnya walau pria yang ia tolong ini tidak menganggap dia sebagai putranya.


Tapi setidaknya dia tidak seperti itu, ia akan tetap sama. Namun perlakuannya berbeda, melihat ayahnya yang semena-mena ia akan membalasnya setimpal walau kadang kasian dan ibunya_Arina dia menyayangi sepenuh hatinya meski calon adeknya hadir di perutnya.


Oke penuh sejuta kata untuk Gibran melewati berbagai kehidupannya yang dari jungkir balik, senang, bahagia, sedih, merasa kesepian tapi itu dibayarkan oleh apa yang ia raih selama ini.


***

__ADS_1


**Jika ada pertanyaan atau mau menambah teman bisa DM IG ya!


@dinndafitriani**


__ADS_2