
**HALO APA KABAR?
SELAMAT MEMBACA*
**
Arshal berguling-guling ke sana ke mari lantaran ia frustasi karena tidak ada pekerjaan sama sekali, rasanya bosan dan gabut yang menyelimuti nya sekarang.
Arshal mengeratkan pelukannya ke guling yang selalu menyalurkan rasa kegabutannya dan tidak terasa dia duduk dari sebelumnya dengan posisi terbaring.
Bersamaan itu pula ia memukulkan guling dengan kasar berkali-kali di atas ranjang saking emosi dan depresi gara-gara dirinya sudah tidak punya stok tabungan uang lagi, masa dia mau memikirkan cara buat nyuri atau apa yang ada dia bawa-bawa nama papahnya dan yang ada dirinya ikut tercoreng namanya buat papahnya.
Papahnya mesti malu dan tidak ada lagi kepikiran untuk seperti itu dulu, ia akan mencari keberadaan putranya—Gibran bersama Arina untuk meminta maaf, mengulang apa yang tidak akan dilakukan lagi namun menuju sumber kebahagiaan kan jika sudah nanti senang bakalan itu warisan akan jatuh lagi ke tangan Arshal.
Lelaki itu tertawa keras memenuhi ruangan kamarnya.
Bisa Gila dia cuman gara-gara itu warisan jatuh di tangan Gibran yang bukan jelas-jelas dirinya masih hidup dan sehat, baiknya kan ya dia yang memegang warisan itu.
Masalah warisan tetap saja menghantui kehidupannya, tapi lelaki itu tidak menyerah begitu saja.
Ia bisa mengambil paksa ataupun menegoisasi kepada dua orang itu, selebihnya ia akan menggunakan cara kasar jika tidak dengan cara halusnya.
“Akhhh...” frustasinya dengan helaan napas panjang.
“Pingin kaya terus jalan-jalan keliling dunia nggak harus ndekem di sangkar emas ini, eh salah sangkar manuk ini.” Dengkusnya kesal dan melemparkan guling itu ke tengah-tengah posisinya, dengan melayangkan tubuhnya, tidur lagi posisinya.
Ia tampak diam berpikir kritis, “Tidak ada lagi yang bisa ngalahin seorang Arshal untuk merebut warisan itu.”
Buku tangannya memutih, mengepal kuat dan ia pukul kan ke samping, tepatnya dia memukul di kasur ranjang itu.
Kemudian dia mengangkat wajahnya, tidak terasa dia setengah jam bergulung-gulung melihat jam yang ada di atas nakas itu. Jam digital menunjukkan pukul 8 malam.
Kruyuk.
Bunyi dari perutnya, ia lelah sekarang.
Terlihat kentara sekali dari wajahnya jika ia sudah lelah berakhir kembali tertidur karena sudah tidak ada lagi stok makanan dan terakhir dia makan tadi pagi, itu pun hanya menggunakan mie instan satu bungkus tanpa nasi ataupun lauk lainnya.
Nasib melanggar ketentuan yang ditentukan malah jadinya begini. Kalau dia menurut ya nggak bakalan jadi gelandangan tanpa terurus gini, ia itu tamak kekayaan bukan tamak akan hal perempuan.
Tidak ada yang mempermasalahkan soal perempuan, tapi perempuan percayalah bahwa perempuan itu hanya akan menghamburkan uang.
Rumit jika sudah membuang uang dengan barang yang tidak berguna sama sekali ataupun menyusahkan lakinya saja. Berpatokan seperti itu untuk Arshal, karena seribu satu jika laki-laki tidak membutuhkan pendamping hidupnya.
__ADS_1
Tapi setidaknya berikan dia waktu.
Makanya ia akan menikmati hidupnya dengan caranya yang sendiri, pelit dan nikmati buat kehidupannya itulah yang dia impikan dan cita-citakan.
“Laper, asyuuu... masa iya gue mau cari rumput buat makan, kayak kambeng wae gue.” Ujarnya dengan melompat dari kasur, dia sudah tidak tahan lagi mumpung belum malam sekali dia akan keluar meminta pekerjaan atau apa yang penting dapat makanan utuh atau sisa ia akan menerimanya, yang penting buat mengganjal perutnya yang sebentar lagi akan berbunyi kembali.
Rasa lemas, letih, lesu dan gampangan emosi sudah cocok melekat di hatinya. Membuat orang yang gampang dekat dirinya jika sudah ditanggapi ya sudah Arshal tidak akan menemaninya melainkan mencelupkan kepala itu orang tanpa sepengetahuan orang tua dari orang yang akan dia siksa yaitu mencelupkan kepalanya dari atas ke bawah dengan air comberan dan bisa meminum itu air comberan daripada nganggur di buang-buang, kan sayang.
Ya begitulah kisah cinta orang pelit sama orang tuanya yang royal, tapi tidak dengan Arina yang enggan untuk menggunakan gaya mewahnya dan glamor nya. Ya seperti orang biasa, sederhana tapi ya tidak ketinggalan zaman.
“Gue harus gimana?” tatapannya lurus dan melas, rasanya dia pingin ngemis ataupun ya melakukan hal lain supaya berguna sedikit. Tapi dia pikir jika nanti capek sendiri buat cari pekerjaan dan yang ada cuman buang-buang bensin yang tersisa.
Dianya yang rugi, nggak dapet pekerjaan dan nggak dapet makan.
Dirinya mengeluh, nah semuanya ya berakibat darinya.
Ia termenung di depan sambil melihat jalanan yang terlihat sepi meski begitu banyak orang yang berjalan dengan kakinya berlalu lalang keluar karena malam minggu, jadi mereka sudah terbiasa untuk main keluar di malam hari dengan berjalan kaki.
Dia benci dengan posisi seperti ini, apakah iya dirinya akan datang ke rumah orang tuanya dan memiliki muka lagi tanpa malu untuk berhadapan dengan orang tuanya.
Ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong dan nelangsa.
Membuatnya mengusap kasar seluruh wajahnya sehingga komedo sekali langsung hempas dengan tangannya.
***
Sebab keduanya berjenis kelamin yang berbeda, kan ya nggak tahu kalau nanti terjadi apa-apa.
Tapi ini cuman orang tua dan anak.
Papah dan anak itu sedang molor sampai tidak terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Ini sebenarnya masih pukul setengah tujuh pagi, tapi mungkin atas perintah dari sosok laki-laki yang menyandang gelar papah itu menyuruh anak buahnya untuk meminta sarapan lebih awal ketimbang pasien lainnya, kan putrinya sedang hamil dan ia mengharuskan untuk sarapan tepat waktu lebih dulu.
Baru sekarang ada suara langkah sepatu pantofel yang menggema di lantai itu, laki-laki itu lalu mengerjapkan matanya pelan-pelan dan tangannya terangkat mengusap matanya yang sulit untuk dibuka.
“Selamat pagi, tuan.” Sapa seseorang yang masuk dengan nampan yang berisi sarapan dari putrinya dan laki-laki itu matanya langsung terbuka sempurna mendengarkan sapaan yang keluar dari mulut seseorang.
Papahnya Arina itu lantas melirik ke arah seseorang yang sudah berdiri dengan nampak ketakutan beserta keringatnya yang mencoba untuk menetes di setiap tubuhnya, takut saja jika ia ditendang ataupun dengan perlakuan kasar karena sudah melanggar peraturan yang dibuat.
Sudah melanggar tentu harus diberikan hukuman setimpal, apalagi ini belum mendapatkan izin dari tuannya kok bisa-bisanya dia melangkah gontai masuk ke dalam ruangan tuan dan nonanya yang lagi tidur pulas.
“Hm, pagi.” Jawabnya singkat dengan mata yang masih menutup, sebenarnya belum terbuka sempurna saja sudah disebut orang yang berkata ngantuk alias sipit nggak bisa terbuka secara bulat tapi jika pandangan bisa menajam karena ya posisi marah.
__ADS_1
Tapi kesipitan orang marah itu sulit untuk ditajamkam yang ada cuman beberapa centi, tapi berbeda dengan putrinya yang memiliki bola mata yang cantik dan bulat seperti ciri-ciri dari istrinya.
Yah untung saja putrinya itu memiliki ciri yang sama dan jika kangen ada putrinya yang selalu memiliki apa yang dimiliki oleh istrinya.
“Taruh di situ saja!” tunjuknya dengan dagunya dan seorang yang membawa nampan itu melaksanakan perintahnya, tidak menyia-nyiakan dirinya untuk menghirup udara segar bebas di luar. Segera ia melakukan perintah sebelum suara yang meneriakkinya dan semuanya dikeluarkan.
Yang ada dia tertekan dan menerima bukti kenyataan jika dirinya sudah melanggar, dengan cepat pengawal itu meletakkan nampan di atas meja.
“Saya permisi dulu, tuan.” Ucapnya gagap dan menundukkan kepalanya di bawah.
Mata pria itu lalu menengok, “Sebentar!” serunya dengan menyibakkan selimut yang sebatas dadanya itu dan ia melirik ke arah putrinya yang tertidur nyenyak.
“Ya, tuan?” berkata sambil pelan-pelan memandang tuannya ke arah dirinya.
“Saya minta kalian nanti buat mencari keberadaan putra saya, entah itu di mana asalkan ketemu dalam waktu beberapa jam dan saya minta hari ini buat janji sama dia untuk bertemu beserta cucu saya, Gibran dan Arfa!” ucapnya dengan nada suara tegas sama agak suara bangun tidur, serak.
“Baik, tuan! Tidak ada permintaan lagi?” tawar pengawal tersebut dengan menatap badan tuannya yang berpenampilan dengan baju tidurnya namun tidak dengan wajahnya yang terlihat tampan walau usianya sudah menginjak usia lima puluh lima tahun, ia sampai isyekur kadang sama tuannya ini.
Tuannya menggeleng singkat, lalu pengawal itu keluar dan kembali ke papahnya Arina sekarang tersenyum tipis melihat mulut Arina tampak bergerak-gerak, seperti membayangkan memakan makanan.
Mungkin efek dirinya lagi hamil jadi ya ngiler begitu, ada satu pulau yang ia buat di bantal yang ia gunakan dan papahnya Arina terkekeh pelan.
Melihat putrinya yang sudah menikah dan memiliki anak kembali ngiler dan tidak terasa ini sudah pukul tujuh pagi, dirinya melangkah dekat untuk membangunkan putrinya, inisiatifnya tapi dia jadi tidak tega melihat putrinya yang tidur pulas.
“Tidurnya jangan lama-lama!” bisiknya dengan tangannya mengelus setiap inci tubuh putrinya walau tidak dengan bagian yang membuat dirinya harus menjaga keterbatasannya sebagai ayah dari Arina.
Ia tersenyum dengan memegang perut putrinya yang sebentar lagi akan membuncit bulat seperti bakpao, lagi dan lagi sudah berusia waktunya buat menimang cucu eh malah dia hamil lagi, ya beginilah kuasa Tuhan yang tidak ada yang dapat membandingkan.
***
**Iya gimana 🤍
Absen sini dulu ya❤
Hadir apa nggak ini?
Yoklah ramein! ya jika mau tanya tentang novel ini bisa DM apa nggak lihat-lihat video short yang tiap hari up bisa dilihat.
Follow ya!
Lihat Akun Di KoLOM KOMENTAR!
BYE-BYE SEKIAN**
__ADS_1