
“Semuanya mungkin instan, tapi tidak bisa secara adil dan hukumnya pak. Jika warisan tersebut yang berhak hanya anak keturunan bapak, bukan orang yang ya memang penting dalam hidup anak bapak. Tapi, setidaknya saya rela jika hukum tetap berjalan. Anak bapak tetap memiliki hak atas warisan tersebut,” ucap pengacara itu tegas dan berwibawa, walau memakai kacamata jiwa kemudaannya masih terasa, Arshal saja dari tadi melihat lelaki itu yang menjadi pengacara papahnya saja terkagum-kagum.
Ingin memuji ketampanan seorang pengacara, ia malah diuji kesabarannya sama mamahnya yang sedari tadi menatapnya intens.
Ia kan jadi takut sendiri melihat mamahnya itu berubah seratus persen mungkin.
Karena hak warisan sudah diproses dan ditangani oleh pengacara papahnya, ia ingin melihat juga dan menyaksikan sampai mana papahnya bertindak untuk tetap menjadikan cucunya serta menantunya sebagai ahli waris.
“Iya tapi seharusnya bisa dong, pak!” bantah mamahnya yang menatap tajam pengacara papahnya, mendengarnya mungkin memang harusnya Arshal yang menolak seperti ini tapi pengacara papahnya seolah ada di pihaknya. Ia diam saja, tanpa ingin berkomentar.
Ia salah apa?
Sejak tadi yang dibicarakan dan diminta oleh pengacara papahnya itu, apa iya dia mati jiwanya dan sementara dirinya itu masih sehat bugar dianggap meninggal oleh orang tuanya, apa nggak kurang ajar jadi orang tua.
Alasan mereka memang simpel, tapi tidak semudah itu mengurus surat ganti nama atas semua yang dimiliki oleh orang tuanya jatuh ke tangan menantunya.
Semudah itu?
Pengacara itu memang jujur apa adanya tanpa ada settingan di layar belakang yang sudah disusun serapih mungkin, memang pengacara yang disewa oleh papahnya salah jalur dan papahnya sudah memilih ini ya mau gimana pun pindah pengacara hasilnya tetap sama.
Karena satu pekerjaan, ini pengacara sudah handal di dalam bidang hukum mau mengurus pidana apapun selalu berhasil mengurusnya asalkan duit yang ia hasilkan membuahkan keringat selama yang ia capai untuk keberhasilan client nya.
“Gimana, tuan?” tanya lagi pengacara tersebut, mudahnya pengacara itu masih jomblo fisabilillah katanya kalau jomblo lebih enak dan leluasa ke mana-mana. Arshal mendengar cerita itu sontak tertawa, karena mau gimana lagi pengacara itu sudah menganggap Arshal itu sebagai kakak dari dirinya.
Yang sudah mengingat apapun jasanya kepada dirinya.
Sebagai imbal balik, setiap saat pengacara itu satu minggu sekali selalu mengadakan janji pertemuan dengan keluarga Arshal yang sudah dianggap sebagai keluarga kandungnya sendiri, sebab pengacara itu sukses atas bantuan orang tua Arshal juga.
“Bukannya begitu, tuan. Seharusnya mau gimana pun kak Arshal tetap lah keturunan kalian yang harusnya juga dapet bagian dari permasalahan ini,” ucap pengacara itu yang diam-diam sedari tadi sangat jengkel dengan muka Arshal yang tidak membantu dirinya malah seakan dirinya yang menjadi tumbal pertahanan dia.
“Tapi, pak—
“Iya, ini gimana jadinya?” ia sedikit ngegas, menaikkan nada suaranya menjadi emosi.
__ADS_1
Ia menatap semua orang di sini seperti tidak ada gunanya ia memberitahukan pasal-pasal yang berbunyi untuk menjelaskan secara detail kepada mereka, tak ada yang nyangkut. Mungkin keluar masuk telinga kiri keluar kanan jadi mau gimana pun itu mereka sudah dinasehati berkali-kali tetap saja keras batu..
“Sudah lah, ini saya sudah tidak sanggup. Satu saja rasanya mau pecah di kepala.” Keluhnya yang tidak bisa bebas, padahal seharian ini harus menemui beberapa clientnya yang menghadapi masalah besar tentunya. Bayarannya juga tidak main-main, fantastis jadi ia berharap untuk kali ini.
Ia akan mengalihkan dunia perwarisan ini ke masalah yang lain, daripada ini satu titik belum nemu titik terangnya. Bukannya apa-apa kan waktu nggak bisa diulang lagi, apalagi rezeki itu belum tentu ada yang mengasih pekerjaan yang tidak sesuai budgetnya yang tidak besar.
Ada kata yang menyatakan jika barang itu budgetnya besar maka semakin naik harganya dan mahal lagi. Itu lah yang ada di dalam diri pengacara itu yang sudah bersiap-siap membereskan seluruh berkas-berkasnya di dalam tas yang ia bawa.
“Kamu mau kemana, pak?” tanya papah Arshal yang menyilangkan kakinya itu dengan menatap pengacara kepercayaannya.
“Saya ada pekerjaan lain, bukan hanya ini saja yang saya urus.” Terang pengacara itu dengan mukanya yang datar itu dan Arshal yang sejak tadi menyimak tanpa omong itu ingin memberikan penghargaan khususnya pada pengacara kepercayaan papahnya itu, seharusnya ada di pihak papahnya. Mengapa ada selalu di garda depan dirinya, yang seharusnya membayar pengacaranya itu papahnya sebagai client dirinya, mengapa seolah dirinya yang menjadi client pengacara papahnya itu.
Syukur syukur papahnya tidak jadi mengalihkan nama atas dasar Arshal sudah meninggal dunia dan bersekongkol kepada pengacara lain, menusuk belakang pengacara yang sudah dipercayakan itu tapi mau gimana itu tetap bisa, ada selubung paling dalam.
Dari raut wajah mereka saja sudah tidak bisa digambarkan lagi emosinya seperti apa, hati mereka mungkin sekarang campur aduk antara ingin membantah pengacara itu tapi pengacara itu ada di pihaknya.
Mungkin sebentar lagi dia yang akan disidang dan diciduk.
Jadi ondel-ondel terakhirnya.
***
Sementara dengan Arina sekarang, perempuan itu sedang mengalami syndrom kejepit pintu sedari tadi pulang dari perusahaan papahnya ke rumah papahnya menjadi macan garong yang tidak bisa disentuh oleh siapapun.
Dirinya saja mengabaikan panggilan dari papahnya yang menututi dirinya dari belakang dan sampai papahnya saja tidak bisa mengimbangi langkah cepat Arina yang sudah terburu marah.
Mungkin karena papahnya yang meninggalkan Arina ke mall sendiri dan dalam waktu tidak singkat, mana bisa Arina sendiri tanpa dibawakan apa-apa dan apalagi papahnya sendiri tidak membawakan uang belanja untuk Arina.
Karena itu lah Arina sudah marah dan tidak bisa lagi ditanyakan.
Tiba di ruang keluarga dua kunyil-kunyil itu menubruk kaki Arina dan hampir saja kepala mereka Arina injak akibatnya ia melihat ada yang gundul-gundul, satunya memegangi rambut keritingnya-perempuan.
Dan satu laki gundul menawan, ketika mau diinjak rasanya sudah ia rasakan tidak enak dan melihat bawah keduanya lagi menggelinding layaknya bola bulat yang tidak bisa lagi digambarkan hati Arina melihat itu.
__ADS_1
Rasanya mau teriak sekencengnya biar rasa marahnya itu selesai dalam sekejap.
Dengan mata berbinar kedua kunyil-kunyil itu berdiri dan memeluk kedua kaki Arina dibagi dua, tanpa ber lama-lama justru membuat Arina menundukkan pandangannya ke bawah. Kaget dengan kehangatan yang dirasakan oleh Arina, hati Arina tersentil karena mereka sudah menawarkan senyumnya untuk menghibur dirinya.
Mungkin memang batin anak kecil itu melekat jadinya tahu kondisi yang dirasakan oleh orang terdekatnya, terutama dewasa.
“Nakkk—
Ketika memanggil Arina malah mendapatkan kegiatan yang harus diabadikan menurutnya, dalam sehidup sehari setahun tetap lah ini menjadi pemandangan yang luar biasa sampai lelaki tua itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat mereka bertiga seperti itu.
Sudah tidak lagi menjadi pemandangan yang luar biasa ketika Arina menghempaskan tubuh mereka untuk lepas dari kakinya karena risih dilihat-lihat dan dirasakan karena di belakang ia merasa papahnya ada di sekitar sini dikiranya sudah menerima apa adanya mereka.
Padahal, sejujurnya Arina ingin mengamuk karena papahnya itu seenak jidat mengambil keputusan dan sebagai perempuan setelah pengganti mamahnya yang sibuk cari cuan buat sangu di akhirat dan ujung-ujungnya duit itu tidak dibawa.
Karena yang menjadi bajunya nanti yang cuman kain putih bersih beserta amalannya yang akan menjadi temannya, kenapa mamahnya selalu sibuk mencari uang-uang dan tanpa memikirkan papahnya yang di sini tidak terurus walau ia sudah membantu tetap saja papahnya memang tidak membutuhkan nafkah batin antara kegiatan suami istri?
Kan kasian batang papahnya yang tidak bisa bergerak selama beberapa bulan belakangan ini tapi ia sungguh tidak percaya jika papahnya terawat di luar negeri sana, sebab mamahnya tidak memikirkan bagaimana nasib papahnya.
Kehidupan mereka seperti tidak layak dijadikan suami istri.
Ia sempat mengadu kepada kakaknya, mengobrol tentang papah serta mamahnya namun tidak dianggap omongan dirinya dan hanya yang ada tersimpan abadi di dalam hati Arina.
Arina.
Perempuan sejuta lukisan senyumnya, di balik senyum itu ada hati yang merahasiakan apapun itu persoalannya.
**Oke oke?
Gimana?
Nanti kalau kurang ngefeel bisa kok komen ya❤
makasih pay pay🙏**
__ADS_1