
Arshal sedari tadi memandangi perempuan berhijab dusty pink itu yang menyikap, entah mengapa sedari tadi ia di sini ada perasaan yang mungkin tiba-tiba muncul untuk memberhentikan pekerjaan perempuan itu, tak lain Arina-istri.
Eh tidak, mungkin lain waktu ia akan mengakuinya.
Arina hanya bisa menghela napas pelan, sejak ia bersih-bersih sampai ruangan ini kinclong itu lakik belum keluar juga apa tidak bosan, diam saja. Mbok ya sekali tanya dirinya, butuh minum tidak. Tapi, demi apapun Arina ingin sekali dia minum. Sudah beberapa jam ia di sini, diawasi bagaikan babu yang mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dirinya yang bisa mengerjakannya, maksudnya lelaki yang duduk itu.
Selagi masih bisa dikerjakan ngapain nyuruh orang lain, lagi.
Tapi ia sadar jika suaminya kerjaannya emang begini, Arina harus memiliki kesabaran tingkat emosi bin jiwa tinggi.
Perempuan itu sudah selesai merampungkan ruangan ini, “Sudah?”
“Iya, terus mana lagi yang mau dikerjakan?” ia bertanya sebelum itu laki-laki marah, emosi menyuruhnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah lagi.
Seenak jidat kadang, lagi tidur ditarik pula kerudungnya sampai kadang kejedot pintu.
Kalau ia bisa keluar dari rumah ini mungkin dirinya sudah melakukan tindakan pidana ke pada suaminya, atas kasus KDRT dengan istrinya.
Jika itu dibolehkan, iya.
Karena Arina setiap hari dikurung bagaikan burung di dalam sangkar, tidak bisa bebas selagi suaminya itu bersamanya jika pergi tapi itu semua tidak pernah terjadi, karena laki-laki itu tidak mau yang namanya mengajak Arina untuk keluar.
Katanya tidak sudi memiliki istri,
Hah?
Kadang rada pikun sedikit ya, emang mau menjomblo abadi sampai akhir hayatnya?
“Hm, kalau mau ngerjain. Kerjaan rumah juga masih banyak, boleh diselesaikan siang ini ‘kan?” tanya Arshal yang menampilkan senyum smirknya. Ia melihat pergelangan tangannya terdapat jam tangan yang melingkar di sana, melihat ini sudah pukul sepuluh dan suaminya?
Menyuruh dirinya untuk selesai dalam siang ini.
“Oh iya satu lagi, buatkan makanan dan belanja ke pasar bersama satpam rumah, buat nanti acara makan bersama di sini.” Ucapnya dengan tidak berperikemanusiaan menendang ember yang berisi air tadi, sehingga airnya meleber kemana-mana dan muncrat mengenai wajah Arina.
Wajah Arina merah padam menahan amarah yang sedari tadi bergejolak, seenaknya saja suaminya itu.
Apa tidak mikir.
Dia itu siang ini akan berangkat bekerja menjaga toko, apalagi bosnya tadi sudah memesan jika putrinya tidak bisa datang untuk menemani dirinya menjaga toko dikarenakan ke luar kota mereka.
Dan ini? Suaminya malah menyuruhnya, ia melebarkan matanya juga.
Tidak terima, dengan mengepalkan tangan kuat ke gagang pel itu.
__ADS_1
“Kemana hati kamu, mas?” tanya Arina geram walau takut sebenarnya hatinya ingin mengungkapkan.
“Kenapa?” tanyanya tidak bersalah.
“Tinggal dibersihkan, apa susahnya? Kamu kan emang Babu di rumah ini, bukan istri saya!” ujarnya dengan nyelekit dan tidak terasa Arina meneteskan air mata, air matanya turun bebas ke pipinya.
Ia sakit mendengarkan perkataan suaminya itu, capek sebenarnya dikerjai tapi mau gimana lagi ini sudah menjadi makanan setiap hari selama ia menikah dengan Arshal dengan kurun waktu delapan belas tahun kurang lebih semacam ini lah makanan tiap harinya.
Arshal menghela napas.
“Setiap hari saya muak melihat kamu cuman nangis terus, apa nggak drama di rumah tangga ini makin menjadi kalau kamunya nangis terus. Gimana nggak marah saya coba?” ia sekali lagi lelah berbicara panjang dan ia beranjak berdiri pergi meninggalkan Arina yang tampak mencerna perkataan suaminya, memang jika dirinya patut diberikan penghargaan dengan nominasi perempuan cengeng. Kerjaannya nangis terus, mungkin jika memang ada lomba tersebut segeralah mendaftar.
Tapi sayang tidak ada.
Arina menelan salivanya berat, tenggorokannya terasa kering dan meronta-ronta untuk mengisi air di dalam tubuhnya. Wajahnya saja sudah tidak bisa digambarkan lagi, baju yang basah dan kerudung yang tidak berbentuk lagi, tangan yang sudah mengkeriput karena sudah selesai pekerjaannya malah menambah lagi.
“Iya benar, jika memang aku bikin kamu marah. Tapi setidaknya hargai dimana aku berada sekarang, mas.” Ingin sekali membicarakan itu kepada suaminya, tapi dia? Tidak berani, yang ada hanya berbicara di belakangnya. Memang bodoh dirinya, yang mau dipekerjakan oleh suaminya ini.
Seiring berjalannya waktu memang tidak terasa tapi sulit untuk diutarakan, ibarat kata Arina itu seorang yang memang menurut kepada suaminya, layaknya anjing yang dibuang oleh majikannya.
Ia tertawa hambar.
Membayangkan itu memang terasa amat pilu, Arina melihat keadaan sekitar.
Ya, dengan ancaman bagaikan kaset yang rusak setiap saat memenuhi pikiran Arshal tapi memang ujung-ujungnya itu warisan akan jatuh ke tangan yang harusnya tepat diberi oleh kakeknya.
Tangannya terulur untuk mengusap tetesan air matanya, “Sudah! Hari ini izin dulu untuk tidak bekerja sama bos,” ujarnya sambil membereskan. Lama kelamaan ia juga jenuh di sini, mau dibersihkan sekinclong apapun, nantinya akan dipakai lagi begini.
“Ke pasar? Iya, kesempatan juga kalau mau izin sekalian ke toko dulu.”
Perempuan itu lalu meletakkan peralatannya di belakang dan merapikannya, setelah itu ia berlalu pergi masuk ke dalam rumah dan mengedarkan matanya, mengelilingi di setiap sudut rumah.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali, apa mungkin suaminya keluar.
Tidak memikirkan panjang-panjang, Arina kembali ke stelan awal. Dia memakai baju yang menutupi baju awalnya, yang pendek dan menatap dirinya dari pantulan kaca.
Ia tersenyum tipis, lantaran matanya terlihat sembab dan pipinya yang berwarna semu merah.
Sebab kulitnya yang bercampur kuning langsat yang beradu dengan putih susu.
Ya seimbang kalau bahasanya.
“Hm, terus ini duitnya gimana? Masa iya harus pinjem lagi sama ce Entin,” ucapnya sambil termenung sejenak, mmemikirkan.
__ADS_1
Ia juga sebenarnya lagi memikirkan bagaimana jika ia berhutang lagi malah semakin membengkak itu hutang, sebab itu cece kalau ngutangin ada bunganya dan Arina mengambil saja, tanpa pikir panjang akibatnya.
Ia lalu berjalan keluar dari kamar dan melihat ada siluet bayangan Arshal yang sedang berbincang dengan seseorang dari seberang telepon.
Perempuan itu sambil menatap Arshal dan menunggu di belakangnya.
Setelah beberapa menit menunggu, suaminya itu tidak ada pergerakan dan lama kelamaan ia berdecak sebal melihat suaminya yang tidak peka dengan kehadirannya.
Ya ini lah orang yang dianggap kehadirannya, walau sudah terbiasa seperti itu tapi tetap saja ini mengulur waktunya untuk berbelanja belum lagi siap matang makanannya nanti.
“Ini kapan selesainya?” gumamnya sambil menerka-nerka suaminya itu, entah kenapa ia selalu berpikir jika suaminya itu dimanfaatkan oleh teman-temannya karena suatu yang tidak jelas dan masuk akal.
Nah, itu lah mengapa Arina tidak suka jika teman-temannya itu berkumpul di rumah ini. Ia memilih untuk ke belakang, tanpa bertegur sapa ataupun mengobrol.
“Mas...” panggil Arina dengan berjalan mendekat dan suaminya itu tidak menoleh.
Tetap saja Arina bertekad, mau gimana pula ia harus mengejar waktu.
“Mas Arshal,”
Arina menyadarkan dengan menepuk bahu suaminya dan Arshal yang merasakan hal itu dengan kasar menghempaskan keras tangan Arina. Laki-laki itu lantas mematikan secara sepihak sebelum dirinya bertindak.
Dan tangannya melayang keras mendarat di pipi Arina, tak terasa Arina ditampar oleh suaminya sendiri dan sudut bibir perempuan itu? Terasa mengalir seperti air, darah.
Arina menatap suaminya buram, tangannya menyikap darahnya itu dan memegang lukanya, sedikit keluar ringisan.
Setelah hal itu terjadi, tidak tanggung-tanggung tangan Arshal kembali membuat ulah untuk istrinya.
Arshal menarik jilbab Arina dengan kasar dan perempuan itu mengikuti langkah Arshal dengan terseok-seok karena kakinya tidak mampu menyamai langkah Arshal yang panjang itu.
Ket
*cece itu panggilannya perempuan yang berdarah china sama indo.
**Ya sudah bye-bye buat kalian... wkwk ngga ada kata maaf apa bagaimana,menyatakan dengan konfirmasi.
konfrez lah😭
Iya iya nih, author di sini. Dinsu lebih tepatnya ingin menyamankan di zona nyaman, alah ngebacot mulu lu. Emang sih, kebanyakan di zona nyaman jadinya udah terlalu nyaman:)
Wkwk udah sana baca mulu dah...
Besok akan up secara berkala rutin ya, satu hari satu eps😭
__ADS_1
Oke bye, makasih buat kalian yang udah baca**:)