
Gibran membelikan baju baru untuk ibunya yang sekarang sedang dirawat di rumah sakit karena kekurangan cairan jadi menjaga bayi yang ada di kandungannya itu. Sebenarnya sih kasian sama ibunya aja sih bukan calon adeknya.
Sambil membawakan bubur dari kantin, dimana dia mempunyai uang pasti jawabannya ia dikasih oleh seseorang yang sudah mempercayai dirinya dan ia tadi ketemu di ruang dokter spesialis.
"Bu," panggil dirinya dengan meletakkan semangkuk bubur itu di atas meja yang terletak di samping bedhospital.
"Iya nak," jawab ibunya menoleh ke arah Gibran.
"Ini ada baju buat ibu, tadi papa beliin sekalian buat ibu...," ucap spontan Gibran yang di mana itu membongkar siapa orang yang selama ini membantu Gibran.
Ibunya menyandarkan diri di bed itu dan menatap lamat putranya.
"Siapa tadi? Papa," tanya ibunya dan Gibran menundukkan kepalanya.
Ia tidak bisa jika begini, haruskah memutar balikkan fakta yang terjadi bila dia dibantu oleh seorang lelaki yang tulus membantunya.
Selama ini ia menyembunyikan itu dan Arina menghela napas pelan.
Arina meraih tangan Gibran, yang tampak lentik jari-jarinya sampai beberapa perempuan mungkin terlihat derajatnya turun bila disampingkan oleh Gibran sendiri.
"Kamu sama siapa sekarang ini, nak?" tanya ibunya dengan memerhatikan setiap inci wajah putranya.
Lantas Gibran menggeleng, "tidak ada siapa-siapa bu. Cuman, tadi agak mengada saja. Biar ibu seneng," bohong Gibran tengah menurunkan kepalanya dan artinya Gibran tak mampu buat mengucapkan itu.
"Lalu kamu dapet uang dari mana?"
Mampus sekarang pertanyaannya akan meluas, ia tidak bisa jika begini terlalu memendam namun papanya selalu berbicara. Jangan sampai ibumu tahu, papa itu cuman orang lain yang dititipkan oleh Tuhan buat menjaga kamu.
Itu berkat dirinya menolong orang dan orang itu menjadikan dirinya anaknya sendiri, karena orang itu belum menikah katanya ada seseorang perempuan yang dicari hingga saat ini belum dijumpai.
"Anu nggak ada, itu apa aku kerja di toko bu...," jawab Gibran dengan gagap dan ibunya memicingkan matanya.
"Nggak salah nak?"
"Iya, emangnya kenapa bu?" tanyanya dengan mata mengalihkan, ia tak mau bertatapan langsung dengan ibunya ini.
Secara kontak langsung lebih pedih.
Ibu menggeleng, "Nggak ada apa-apa..."
"Oh ya sudah, ini dipakai saja timbang nanti sakit hati." ucap Gibran diselingi kekehan untuk menutupi rasa takutnya.
Ruangan ini kembali seperti semula, sepi dan hening. Ibu dan anak itu kembali melakukan aktivitas masing-masing, ibunya sekarang sudah memejamkan matanya dan istirahat siang jadinya dia mempunyai sedikit waktu untuk membicarakan hal tadi kepada orang yang selama ini membantunya.
Ia menghela napas kasar, mengendap-endap seperti maling dan menatap ibunya yang tidur itu.
Memastikan saja, nanti takut jika ibunya mengetahui hal ini pasti bakal marah dengannya.
Gibran menatap handphonenya yang sejak tadi berdering, ia mendesis pelan ketika ada tertera nama teman kerjanya ini.
Pasti mau membicarakan antara kerja sama dengan orang-orang yang terkenal itu, lantas kenapa lelaki berumur dua puluh satu itu tak menerima tawaran kontrak kerja samanya.
Padahal tawaran kontraknya lebih menggiurkan dan harganya gila-gilaan lagi di tawarnya.
Ia keluar dari ruang rawat ibunya karena tidak mau mengganggu waktu istirahat Arina.
Gibran menjawab, menekan tombol iKON hijau itu dan menempelkan layar smartphone itu di telinganya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Iya assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam ada apa?"
"Hm, Gibran... Lo ada di mana sekarang?"
"Ada di rumah sakit, intinya aja!"
"Heh lu kagak papa 'kan? Kok pakai segala ke rumah sakit? Siapa yang sakit? Gue ke sana ya? Sharelock sekarang!" Terasa dari nada temannya itu terburu-buru dan ia menghela napas.
Ingin rasanya memukul kepala temannya itu menggunakan ketok palu yang digunakan hakim itu.
Biar sekalian sadar gitu loh.
"Gue kagak apa--
"Anjir ini anak!" umpat nya ketika melihat dan mendengar suara putus sambungan dari telepon mereka berdua.
Kini dengan cepat Gibran menghubungi kembali temannya itu.
Iya dia mau saja temannya ke sini, tapi takutnya Gibran merepotkan temannya.
Ini juga tidak terlalu penting yang akan dibahas.
Pasalnya dia mau ngomong saja sudah diputus oleh anak itu.
Gibran berdecak ketika anak itu mengangkat sambungannya kembali.
"What'sup bro?"
"Anjir ngalahin presiden joe Biden wae lu, gue aja kalah..." Gibran tertawa ngakak karena omongan temannya ini, orang temannya saja Jawa kasar kok jadi keinggresan gini.
Ketancap lingges mungkin.
Ia tidak mau memperpanjang waktu lagi sebab tak ada gunanya mengulur waktu untuk membahas kontrak, minimal yang ada duit ia akan menerima tapi entah mengapa kemarin dia menolak mentah-mentah.
Sekarang ia menyesal, Gibran akan menanyakan soal kontraknya apakah masih berlaku atau tidak.
"Masalah apa?"
Masih saja ini temannya lemot otaknya, minta digiling jadi otak-otak manusia yang lemah ya begini.
"Lo dasar otak keong, sini gue bisikin tentang kontrak bagaimana? Itu masih berlaku nggak?" tanyanya ngegas sambil mengusap wajahnya kasar amat saking frustasinya, tidak sengaja dia melemparkan sampah yang ada di kursi tunggu itu.
Ia mengedarkan pandangannya ketika sampah itu mengenai kaki orang sama orangnya tak memerhatikan, ia menghela napas dan sekali lagi bikin kaget saja.
"Oh kontrak? Anu itu perusahaan kayaknya bangkrut dah, karena nggak bisa bayar artisnya." Alasan yang tidak masuk akal jika diterima oleh akal Gibran, ia mengernyit dan berdehem.
"Kontraknya nggak jadi? Ya allhamdulilah dong," Senyumnya lebar dan menatap pintu ruang ibunya sedikit terbuka itu ia tutup.
"Matamu allhamdulilah! Itu udah kita masuk tahap pengecekan lho," ucap teman Gibran itu yang mengamuk sepertinya.
***
Sementara seorang lelaki berbadan sedikit tirus itu berjalan ke rumah cat berwarna hijau sage itu, dirinya ingin pulang ke rumah.
Menyampaikan bagaimana isi hatinya yang gundah gulana karena tak ada uang, pikirannya hanya uang jadi baiknya ke rumah orang tuanya.
Orang tua gunanya buat apa, kalau dia sendiri saja anak tunggal jadi warisan bakal jatuh di tangannya.
__ADS_1
Berharapnya begitu.
Arshal dengan tatapan datar dan tak sopannya dia masuk ke dalam tanpa salam.
Sampai di mana dua orang itu sederhananya makan siang bersama.
"Loh Ar?"
Ayahnya melongok ketika ibu memberitahu dan ayah menatap atas sampai bawah karena lelaki paruh baya itu sedang memegang handphone sambil berandai-andai.
"Ar," panggil ayah dengan bergetar.
Kaget sekali dua orang itu, salah satunya ayah Arshal terutama. Dia membuka kacamatanya dan menatap anak lelakinya ini ke sini.
Ia pun langsung menghampiri dan memeluk hangat anak tunggalnya ini.
"Kamu ke sini?"
"Iya pah, mah... Papah sehat?" ia memeluk papahnya sambil tersenyum simpul.
Niat hati dia nggak bakal mau menanyakan, tapi demi segepok uang ia akan melakukan ini-itu.
Satu hari ini saja.
Lantas Arshal mencium kedua tangan orang tua itu dan orang tuanya menyambut hangat kembalinya Arshal.
"Kamu tidak bawa istri mu kan?" dari nada bicaranya saja sudah dipastikan mamah serta papahnya masih berharap dengan Arshal untuk tidak menikah dengan Arina, perempuan yang menyusahkan itu.
Tapi mereka berdua sekarang sudah menerima yang pasti.
"Arina lagi di rumah pah, mah." bohong Arshal memberi seringai miring dan papahnya mengangguk.
"Ya sudah kamu sudah makan nak?" Memastikan anaknya nggak kelaparan jadi ia menawarkan.
"Oh belum pah," balas Arshal dan papahnya pun menyeret tangan lelaki itu untuk duduk di tempatnya.
Papah mengode mamah untuk menyiapkan makanan untuk anak intan payungnya ini, sungguh menggemaskan sekali bukan kedua orang itu beraksi.
Arshal saja sampai terkekeh.
Terlalu tololl apa bagaimana.
Berdosa sekali anda! Seharusnya anda menghargai orang tua yang dengan capeknya mengurus anda tapi Anda tidak menghormatinya.
Sama saja akhirat mu nanti tak sama dengan duniamu.
"Iya mah, apa..." kelitnya dengan menggaruk lehernya yang tak gatal dan menatap binar ke mamahnya.
"Iya ada apa?"
Situasi yang cukup pas untuk membicarakan tentang ekonomi, dia menghirup napas dalam.
---
**Haiii...
Gimana para ncing?
apa kabar?
__ADS_1
sehat ya ncing, sampe beberapa bulan nggak up...
wkwk, lanjot di sini wae sulit kok melupakan aplikasi pertama jadi nyaman di siniðŸ˜**