
Hal ini sontak membuat Arina membelalakkan matanya, pasalnya ini ruangan sudah tidak terbentuk banyak pecahan beling termasuk minuman keras yang sengaja memang dilemparkan atau bagaimana dan perempuan itu melamun.
“Lo lamban sekali ya! Mau cari gara-gara lagi?” seutas senyuman terukir di sudut bibir Arshal.
Arshal lalu menarik lagi tangan kali ini dan mendorong tubuh Arina dengan keras ke dalam ruangan, yang terdapat banyak pecahan botol kaca yang ia ketahui itu bekas minum.
“Kalau nggak, mau gue lempar ini?” Tanyanya dengan mengangkat tinggi-tinggi botol kaca yang masih utuh minuman kerasnya, itu pasti sakit karena mengandung banyak alkoholnya termasuk jika terkena pecahan itu.
“Tapi terlambat, terlanjur gue kesal.” Tepat sekali, lelaki itu dengan kejamnya melemparkan botolnya ke atas dan perempuan itu segera menjauh sebelum terkena pecahan kacanya yang akan mengenai wajahnya, bukan berarti wajahnya jelek tapi ia mewanti-wanti jika ini akan membuatnya harus mengocek uang kembali mertuanya hanya karena ulah putra mereka.
Perempuan itu langsung menghindar dan menghela napas ketika pecahan kaca itu tidak langsung mengotori lantai granit yang ada di ruangan ini.
“Mass?” sedikit nada tinggi lebih pasnya dia syok dan tidak menyangkal apa yang dilakukan suaminya itu di luar dugaan sesungguhnya.
“Hm, udah ya? Ini dibereskan yang bersih!” dengan mukanya yang julid tanpa mengharuskan dirinya berpusat kepada Arina yang terlihat berjengkit dan jantungnya berdebar hebat, ia memegang dadanya yang naik turun terasa sesak melihat bagaimana hancurnya ruangan ini.
“Minuman ini dipikir-pikir, belinya pakai uang terus dibuang. Apa nggak salah?” monolog Arina yang menatap nanar ke bawah, membuatnya ingin memulung minuman itu yang harganya sebanding dengan dirinya makan satu bulan di sini.
__ADS_1
Apa nggak terlalu sayang? Jika menurut Arina ini bukan hal yang perlu dibesarkan lagi sebab suaminya itu tidak punya akal sehat dan sudah gila, sesuka itu dan semaunya. Sehabis dirinya merenungkan, relung hatinya terasa terenyuh, tersentil ketika ia mengingat minuman ini dengan sengaja diperjualbelikan dan diminum.
Perempuan itu menggelengkan kepala, tidak akan mengembalikan suatu kebenarannya.
“Gue mulai dari sini dulu deu,” ucapnya sambil melangkah berjalan menuju ke tempat yang berkumpulnya alat yang digunakan untuk bersih-bersih.
Sebenarnya kepalanya terasa sakit karena tarikan yang disebabkan oleh tangan Arshal yang seenaknya saja.
“Kalau gue berani aja udah kapok tuh orang, tapi sayang nyali gue sedikit.” Ucapnya dengan mengambil sapu serta alat lainnya untuk membersihkan serpihan kaca.
Setelah beberapa saat membersihkan, memulainya dengan menyapu dan mengumpulkan beberapa pecahan kaca. Ia berhati-hati untuk tidak terlalu menganggap sepele hal ini, apalagi ia takut jika diawasi oleh Arshal yang akan siap mengawasi sebab lelaki itu tidak memiliki pekerjaan, perlu digaris bawahi memang.
Arina geram dan sesekali ingin dia membantah saja sudah berpuluhan ancaman yang sudah menjadi pertimbangan bagi Arina yang membuat perempuan itu tidak memiliki nyali.
“Ekhm, gue masih pantau.” Ucapnya dari arah pintu dengan begitu suara tersebut mengagetkan perempuan itu yang sedang fokus ke pekerjaannya tanpa memandang di luar pintu, ada siapa?
Arina jadi salah fokus sendiri, melihat tatapan lelaki itu tidak berhenti sampai di situ saja, lelaki itu melangkah dan mengecek satu persatu sebelum itu ia menatap intens ke arah Arina.
__ADS_1
“Sudah?”
“E-eh iya,” jawab Arina dengan gugup dan menghindari kontak mata antara mereka.
“Tapi, sebelumnya belum keliatan bersih juga masih mau mengepel ini.” Ujar perempuan itu sebagai tambahan, membawa seember air serta alat pel-pelan untuk dirinya mengepel lantai yang entah kapan terakhir dibersihkan, memang sengaja sebab Arshal tidak mau ruang privasinya terlalu diikutsertakan dengan orang yang bekerja di rumah ini.
Makanya ia sudah tidak pusing-pusing lagi, harus membersihkannya sebab sekarang sudah memiliki perempuan yang bisa layak ia jadikan ‘babunya' termasuk dalam melayani hasratnya dan tidak perlu menggunakan perempuan-perempuan malam yang sudah longgar, sudah berbekas dan inginnya dia cuman satu bukan gonta-ganti.
Ia dikatakan laki-laki setia berarti walaupun kasar, bejat semuanya melekat di dalam dirinya tetap saja Arshal menghargai kedudukan wanita itu yang sudah menjadi istrinya, melepas status dari gadis menjadi perempuan milik orang lain untuk selamanya, mungkin!
"Ya, gue maklumi karena lo yang lelet jadi perempuan yang nggak sat set." paket komplit sudah, mulutnya sudah mengeluarkan kata-kata pedas dan selanjutnya mungkin ia akan menyiapkan mental sepanjang sungai amaazon.
"Iya," jawab Arina adanya.
Jujur sekarang sedang dilanda gelisah, dalam pikirannya ia memikirkan bagaimana sang anak yang ketika menangis nanti kedua orang tua itu malah dibuat kerepotan dan kelimpungan untuk menenangkan cucunya, **anak dari Arshal dan Arina.
Gibran**.
__ADS_1
***Oke ini lagi alur mundur dulu ya,bagaimana sosok Arshal dulu yang kejam sama istrinya. ini lagi manis-manisnya belom masok ke konfliknya 🤣...
Oke see you next bab***...