
Papah serta mamah Arshal datang, sebelumnya memang yang mencegah Arshal untuk tidak melakukan tindak kekerasan tadi adalah mamahnya sendiri yang menatap putranya marah, masih dengan amarah yang memuncak kini mereka semua seperti sedang di sidang di pengadilan, sangat amat berat untuk dinyatakan kejujurannya.
“Apa maksud kamu? Mamah nggak habis pikir, kamu yang bloon apa gimana, udah gitu istri cantik terus bisa apa-apa. Kamu itu bodoh apa gimana sih?” Keterlaluan mamahnya sampai menginjak-injak harga dirinya, mau bagaimanapun dia itu adalah anak semata wayangnya dan putra satu-satunya untuk mereka.
Tapi juga menurut mereka, mana ada orang tua yang menaruh harapan besar namun digagalkan oleh anak satu-satunya yang seharusnya membalas jasa mereka dengan begitu akan membuat hati mereka nyaman dan tenang untuk melanjutkan kehidupan mereka selanjutnya.
“Pah, mending ini anak diceburin aja sana ke kolam amazon daripada bikin mamah pusing. Udah dari dulu, mamah menyayangkan jika kamu itu anak mamah.” Kecewa, seorang perempuan mana yang kecewa disakiti berkali-kali akan dimaafkan. Menurut mamah Arshal, tidak ada seorang perempuan yang di dunia ini akan memaafkan seseorang dengan cepat. Tapi, pada nyatanya hanya ibu yang bisa menerima maaf seorang anaknya.
Papah hanya diam tidak ikut campur pusing buat melakukan hukuman atau mengulti anaknya, laki-laki itu sama saja. Batin mamah Arshal yang sejak tadi kesal serta wajahnya saja sudah memerah layaknya ingin menampar wajah si suami.
“Pah!!!” mamah pun menjewer telinga papah, sudah tidak lagi menyembunyikan rasa kesalnya.
“Apaan sih mah?”
“Mamah kecewa sama papah, kalau papah nggak akan segera bertindak.” Ucapnya sesal dan melemaskan tubuhnya untuk menyenderkan bahunya di sofa.
“Hm, benar kata mamah mu. Papah kecewa jika kamu sudah melewati batas bagaimana kamu seorang suami, Arshal.” Ucap papahnya yang memulai nada serius.
“IYA MAMAH SETUJU! APALAGI ARINA JUGA SAMA-SAMA CEWE, APA KAMU NGGAK BUTUH SEORANG PEREMPUAN DI DUNIA KAMU?” lagi dan lagi mamahnya mengeluarkan suara keras dan lantang, tidak ingin mengecewakan hati mamahnya. Arshal ingin baru mau angkat bicara malah dipotong oleh mamahnya yang sudah melanjutkan lagi.
“INI LAKI-LAKI SEMUA SAMA AJA!”
Papah yang di samping mamah pun menutupi telinganya karena mamah mengeluarkan jurus kebarbaranya, dimana memang perempuan itu sudah dicap sedari dulu nakal dan tomboy plus lagi suka jahil sama temennya.
Papah tidak ingin bicara jika memotong pembicaraan, bisa saja ia tidak mendapatkan gelar lagi menjadi ‘hot daddy' melainkan bapak meleyot karena ditinggal istrinya.
“Mah papah nggak sama, beda!” papah membutuhkan pembelaan secara garis besar ia juga tidak mau disamakan dengan bibitnya itu yang entah titisan apa dulu sampai segitunya punya anak, yang membuat orang tuanya repot sampai bikin pusing tujuh turunan dan belokan.
“DIAM! Orang papah itu yang menanam bibitnya masa nggak mau ngakuin segala. Cih,” mamah berdecih pelan dan papah hanya meringis dalam hati, hatinya yang mongiel itu tersakiti.
__ADS_1
Tidak bisa diselamatkan lagi mungkin jika dibawa ke dokter.
Arina hanya dalam hati membatin sedari tadi, bombastis side eye suaminya saja sudah tidak tertolong lagi mengarah kepadanya.
Apa tidak copot itu mata?
Sedari tadi Arina pun hanya mengalihkan pandangannya untuk tidak bertemu kepada keluarga yang sedikit aneh ini.
Ini bukannya terbalik ya biasanya mamah itu hanya diam membalikkan fakta dan selalu membela di garda ke depan, start garis finish pokoknya didukung tapi nyatanya berbanding balik ini.
Apakah mereka tidak mengharapkan kehadiran Arshal di tengah-tengah mereka sehingga mereka tidak menginginkan anak yang mungkin jauh dari ekspetasi mereka, yang dulu bisa mengharapkan dan harapan itu tidak bisa dilanjutkan oleh putra mereka. Tercetus ide seperti jika Arina bisa bertanya mungkin di benaknya tidak terpenuhi pikiran yang mungkin muncul suatu pemikiran baru, bukan negatif thingking ya tapi berpikir positif untuk bertanya, lain kali!
Bisa disimpan.
“Nak, sudah. Mamah sudah muak juga liat papah itu sejak ke sini sampai mamah udah mau mati begini, papah tetap saja diam.” Ucapnya mengadu kepada Arina yang ada di sampingnya, tangan Arina terangkat mengelus setiap buku-buku jari mamah mertuanya itu, meski sudah ia anggap sebagai ibu kedua setelah mamahnya sendiri.
“Nggak gitu juga konsepnya mah, papah di sini diam bukan berarti nggak bertindak.” Papah membela dirinya sendiri, ia juga tidak mau diinjak-injak harga dirinya oleh seorang perempuan yang akan menemaninya hingga tua nanti.
“Hm, iya mungkin jika menurut papah alangkah baiknya kamu minta maaf sama istri kamu! Papah nggak mau ya nanti dipandang jelek sama papahnya Arina yang udah mempercayai kamu untuk menjadi menantunya, seharusnya kan kamu harus bahagiakan Arina dong! Masa iya istri dilempar piring, mana lucu Arshal?” papahnya menggelengkan kepalanya, namun tidak dengan mamah yang mengoreksi kata-kata yang diucapkan oleh suaminya itu.
Tidak salahkah yang malu dirinya bukan anaknya sendiri. Mau ditaruh mana muka mamah Arshal yang sekarang ada di samping menantu perempuannya ini.
“PAPAH! KOK MAKIN BIKIN MAMAH GREGETAN YA!” berang mamah yang semakin meningkat emosinya.
Sementara ada di dua orang itu masalahnya, tapi mengapa mereka yang ribut bukannya saat itu. Itu sudah menjadi urusan rumah tangga mereka, mengapa harus di bahasa secara ramai-ramai.
Arina jadi tidak enak hati, apalagi ia ingin menyuruh suaminya saja sungkan mengingat perlakuannya yang beberapa menit, lempar piring itu yang jika tidak dicegah bisa jadi sekarang muka atau rupa wajah Arina tidak seperti perempuan lagi, seperti orang yang kehilangan rupa wajahnya sendiri.
Yaitu banyak luka yang bersarang di wajahnya, apalagi itu area yang memang menjadi bahan pertama kali dilihat oleh mata.
__ADS_1
“Hm, ya gimana sih mah! Apa apa salah, ini juga mau nasehati anak mamah. Mamah udah keburu nyerobot mulu dari tadi. Mah, malu juga tuh sama menantu mamah, bukannya diem dulu.” Protes papah dan Arshal tadinya ingin menengahi, tapi keburu dianya yang asik dengan dunianya sendiri. Berbagai macam lemparan cetak penalti, bagai macam dia ingin menguasai.
Sudah ia dukung seratus persen.
“Udah mah, pah. Ini urusan kita, mau bagaimanapun kita yang malu sama papah dan mamah, udah nyusahin.”
Ia ingin terus terang, risih sejak awal menyusahkan mereka. Apalagi mereka sudah berharap banyak dengan Arshal dan Arina untuk saling percaya, tidak menerima bukti kenyataan jika putranya menyakiti Arina. Tapi, memang betul mereka tidak ingin perpisahan itu terjadi. Entah itu latar belakang mereka yang sepertinya berbeda.
Dari pihak mamah dan papah Arshal yang jelas menyatakan dengan jujur, apa adanya.
Arina—perempuan itu memutar bola matanya malas, melihat suaminya tidak dapat menimpali perkataannya barusan. Biar bisa dia itu juga menang gitu, nggak muluk-muluk di situ saja permasalahannya.
“Iya mah, pah. Percayakan sama kami, tadi itu kita nggak sengaja main film gitu bareng.” Nah sekarang ia mendengar kata-kata manis yang mulai dirangkai, jika tahu papah mamahnya Arshal akan membuang Arshal ke jalanan jika ucapan itu tidak benar buktinya.
“Bohong kamu itu! Udah ketahuan masih aja ngelakuin begitu, apa perlu kamu dicoret dari KK?” tanya mamah yang tanpa sadar memang dia sudah keluar dari KK dan sudah membangun keluarga kecil sendiri.
Mengapa harus repot-repot dikeluarkan.
Apa perlu memasukkan ke kartu keluarga mamahnya lagi, kan nggak lucu sudah menikah masa iya banget harus satu kartu keluarga dengan bapak dan ibunya, meski begitu mungkin akan jadi bahan guyonan di kelurahan.
Ini orang tua sudah pikun, masa masanya udah mau istirahat malah disuruh memikir lagi.
Jadi berdosa yang muda.
**Hai Hai...
apa kabar?
oh iya jangan lupa like sama komen ya.
__ADS_1
moga moga cepet tamat😁**