
Sewajarnya saja jika membahas warisan, tapi bagi Arshal hal yang sudah tidak perlu dibahas kembali karena memang sudah tidak dipentingkan lagi.
Tok.
Tok.
Mereka yang ada di ruang keluarga saling tatap menatap dalam artian yang sama, siapa?
Lantas yang ditakutkan datang pada akhirnya.
Ketika dibuka pintu itu melebar, mereka membelalakkan matanya lantaran semua yang sudah diucapkan apakah terdengar di telinga orang yang sudah tidak pas datang.
Sorot wajah mereka saja sudah ketakutan, jelas terpencar dari bulatan mata mereka yang mengalihkan tatapannya.
“Loh Gibran,” ucap Arshal yang mengembangkan senyumnya, menyapa putranya yang sudah tidak bertemu lama.
Suatu keberkahan mungkin kali ini, putranya bisa datang lantas menjemput dirinya.
Gibran menyambutnya kembali, ia sambil tersenyum canggung kepada ayahnya. Ia tidak biasa dengan lingkungan seperti ini, yang membuatnya harus pura-pura untuk menjadi orang yang bahagia sementara keluarga ini tidak pernah yang namanya jauh dari laut permasalahan yang sudah tenggelam pun masih dijadikan topik yang hangat untuk bisa dikupas.
Kan kadang-kadang lelaki yang mau beranjak umur sembilan belas tahun itu sempat ingin bertanya, tapi Gibran tidak habis pikir dengan semuanya yang termasuk keluarga dari ayahnya.
Orangnya jenius tapi tidak dengan perlakuannya yang seolah-olah menjadi bodoh.
__ADS_1
Astagfirullahalazim.
“Ayah kok bisa di sini?” tanya putranya yang basa-basi, walau Gibran tidak pintar membahas obrolan setidaknya ia bisa memulai obrolan.
“Oh tadi ayah sekalian mampir,” jawabnya dengan bibir bergetar sambil curi-curi pandang di belakang Gibran dan ketika Gibran ingin duduk di kursi sambil menyalami neneknya serta kakeknya itu malah dua orang itu cepat-cepat beranjak segera pergi sebelum diinterogasi oleh cucunya sendiri yang sudah menyidang habis orang tuanya yang tak lain yaitu ayah Gibran sendiri.
“Loh?” tanda tanya bagi Gibran yang kaget dengan perubahan mereka sementara Arshal hanya menipiskan senyumnya, menepuk pundak putranya.
“Mereka berdua lagi ada urusan mungkin,” jawab ayahnya dan Gibran mendongakkan kepala, dengan tatapan lurus bertubrukan dengan manik mata Arshal.
Tidak sengaja Arshal mengedipkan matanya agar tidak terfokus dengan bola mata indah yang diciptakan Tuhan untuk Gibran, sungguh ingin mengucapkan subhanallah sungguh ciptaan yang sempurna.
Tapi sesempurna apapun itu, makhluk hidup jika tunduk pada Tuhannya maka akan terbayar sudah kesempurnaan itu.
Tanpa disadari di balik tembok, dua orang paruh baya itu sedang meratapi nasib dan nasi sudah menjadi bubur, karena mereka berdua seolah mau membongkar rahasia keluarganya dan tidak pernah terlintas jika ingin melanjutkan dengan satu syaratnya jiwanya harus muda lagi seperti dulu, tapi tidak bisa karena umur dan rasanya sudah tidak seperti awal, jiwa waras sehat dan masih muda banyak gerak, enak.
Kalau gini, udah banyak gerak yang ada osteoporosis dan bisa-bisa gegar otak maupun banyak lagi penyakit yang sudah memakan usianya.
Gibran menghela napas gusar, “Seperti yang Gibran rasakan jika mereka itu bukan ada urusan melainkan mengintip dan tidak berani muncul ke hadapan cucunya sendiri,” senyumnya smirk dan menekankan setiap kata-kata nya sehingga membuat mereka yang ada di balik tembok itu hanya menggigit bibir mereka.
Sayang sekali jika Gibran tujuannya ke sini hanya ingin menyindir lantaran orang yang disindir pun tidak mau menghadapi dirinya.
"Hm, sudah lah nak. Mending kita berangkat dulu ke restoran," timpal Arshal yang menyarankan karena memang sedari awal Gibran tujuannya datang ke sini hanya ingin menjemput ayahnya yang katanya sudah muak dengan warisan dan ahli waris yang akan menerima semua harta milik orang tuanya itu.
__ADS_1
Jelas.
Jika dirinya yang berhak, sudah dipastikan jika ia itu harus memiliki hak sepenuhnya atas harta yang dimiliki oleh orang tuanya, selagi masih hidup mengapa tidak digariskan seperti itu saja.
Kan ya rada aneh.
"Iya udah, yok!"
"Oke, mah... pah, kita pulang dulu ya," pamit Arshal yang mengambil benda persegi panjang itu di atas meja lalu memasukkannya ke dalam jaket kulitnya yang berwarna coklat tua itu.
**Oke
oke bye wan bye tu...
jadilah apa?
motorcyelee
apaan sehh❤☺
wkwk, menghibur diriku sendiri. support system by buat you🙏❤
oke makasih yaa sudah baca🙏**
__ADS_1