Luka Darimu

Luka Darimu
47. Ibu kan tanya


__ADS_3

Arina berdehem pelan, ia menghembuskan napas sejenak melihat putranya yang tetap menatap layar handphone tanpa memandang dirinya. Padahal dirinya itu di sini lho, nggak dipedulikan sama sekali.


“Nak, sudahlah! Pekerjaan kamu bisa diselesaikan pelan-pelan asalkan kamu berniat untuk menyelesaikan, pasti bisa! Ibu akan dukung terus ke kamu.” Ucap Arina dengan membuyarkan ke fokusan Gibran tepatnya.


Lalu lelaki itu mengangkat kepalanya, melihat mata Arina yang bertatapan langsung dengannya, ia menjadi salah tingkah sendiri. Mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Ck, jugaan ini ibu kamu, Gib.” Ucap Arina yang mengetahui anaknya sudah salah tingkah sendiri. Melihatnya gemas sekali ingin mencubit maupun menjadikan cincang-cincangan agar lebih dinikmati rasanya.


Sungguh tega jika sedari tadi tidak digubris oleh putranya, namun Gibran sudah lelah dinasihati. Ia lebih memilih cari aman terlebih dahulu.


“Hm, iya bu...”


Kening Arina terangkat ketika Gibran sepertinya mulai mengajaknya berbicara dengan topiknya, tidak sedari tadi dia saja yang berbicara.


“Ayah katanya mau bertemu sama ibu nanti di waktu senggang kalau ibu mau.” Ucap Gibran ke intinya, secara dirinya tidak ingin berpanjangan.


“Gibran, kamu beneran?” tanya ibunya yang penasaran, tidak biasanya itu Arshal mau bertemu dengannya dan Gibran menjawab dengan anggukan kepala.


Ia tangannya memegang sendok sambil mengamati makanannya yang ada di hadapannya, tak lain dessert makanan sebagai penutup dari akhir kegiatan makan.


Tapi jika menurut lelaki itu terserah, orang dia yang membayar makanannya nanti juga dan apa masalahnya ke orang lain.


Gitu susah pula kadang di rosting orang itu.


Enak hidup tanpa berpikir panjang mengenai masalah orang lain, orang masalah sendiri saja kadang belum terselesaikan.


Ting!


Suara garpu yang ia letakkan, sudah selesai akhirnya. Ia bisa lega karena lelaki itu tidak memesan makanan apa-apa jadinya ya tinggal pulang mengerjakan pekerjaannya daripada ia menyelami obrolan yang terlalu dalam oleh ibunya.


Perempuan itu, Arina bingung dengan sikap gerak-gerik putranya yang bersiap-siap.


“Mau kemana kamu?” tanya Arina.


Gibran terhenti kegiatannya, “Pulang.” Jawab santai lelaki itu yang mulai beranjak dewasa tapi tidak paham dengan keadaannya.


Terlihat Arina mengangkat sudut bibirnya, “Kalau mau pulang, jangan lupa nanti kunjungi kost ibu dulu!” perintah Arina dan Gibran pun menghentikan aktivitasnya.


“Maksudnya?”


“Lah kamu di sini yang ada cuman ngomongin gitu doang, apa nggak ibu marah. Datang terus ya rasanya bikin panas-panas semromong gini, nggak enak tahu Gibran!” hardik Arina yang geram dengan sikap anaknya yang semakin menjadi.


Tentu dia marah, karena efek hormon hamil biasanya meningkat dan apalagi ia seperti ini, dikerjai anaknya.


Disuruh ke sini terus cuman mengobrol beberapa kata, bisa dihitung menggunakan jari alangkah indahnya, keluar dari mulut yang pasti.

__ADS_1


Ceramah singkat nan padat selesainya hingga berpuluhan hari, pastinya tidak selesai begitu saja.


Gibran diam tidak berkomentar, ia menyadari jika ini sikapnya yang memang berubah total dari biasanya.


Ia juga tahu keadaan ibunya yang hamil, mengandung kecebong yang menjadi seorang bayi yang akan dikeluarkan setelah sembilan bulan kekenyangan.


Apa mungkin efek dari tugasnya yang belum selesai dari kemungkinan waktu yang sudah ditentukan jauh-jauh hari.


“Kamu nggak mikirin perasaan ibu, nak?” tanya ibunya—Arina yang terkekeh kecil dan Gibran menatap manik ibunya yang lama kelamaan meneteskan sumber air mata, seiring detik kemudian air mata itu jatuh mengalir di pipinya hingga suara dikeluarkan.


“Bukannya—


“Sudah! Kamu saja yang jadi anak nggak ngerti perasaan ibunya! Sebagai anak tu ya harus berbakti!” sanggah cepat Arina yang sudah dongkol hatinya, di ulu hati mungkin rasanya sudah menahan dan giginya saja sudah bergemelatuk di dalam.


“Iya, iya... Gibran minta maaf,” lalu Gibran bersimpuh duduk di bawah dan tepatnya di kaki ibunya.


“Mau apa ibu?”


Lantas Arina terkejut dengan perlakuan Gibran yang berlebihan itu.


Dengan begitu perempuan itu mengangkat tubuh putranya dan Gibran sama-sama bingung, heran.


“Iya, jangan gini pula! Kamu itu udah jadi mahasiswa mau dikutuk jadi batu?” tanya Arina yang mulai menghapus setiap air mata yang keluar dibantu jari-jari yang dulunya kecil sekarang memanjang mengalahkan jarinya sendiri.


Kan zaman sekarang nggak jauh dari kata kotor dan selalu dikaitkan dengan keluarga.


“Nak...” panggil Arina dengan suara teduhnya.


“Iy-ya,” gugupnya dengan melepas tangan ibunya pelan-pelan dari tangannya, takut ada yang melihat. Jadi pemantau CCTV berjalan biasanya.


Cowok dengan tinggi setara seratus delapan puluh centi meter itu menatap ibunya yang sudah mengandungnya sembilan bulan, kekenyangan sembilan bulan dan ini hal sama terulang lagi. Perkiraan dia berjalan sekitar lima bulan dan langkah empat bulan lagi rasanya tidak terlalu lama lagi, ia harus menerima apa adanya yang diberikan oleh yang maha Esa atas kebahagiannya sendiri. Tapi, rasanya cowok itu tidak akan mau menerima hal kebahagiaan tersebut.


“Ayah ngomong apa?” tanya ibunya dengan mata mengintimidasi anaknya dan Gibran yang seakan ditakuti-takuti dia seperti orang linglung yang nggak tahu apa-apa.


Komuknya seperti orang bingung.


Hah?


Tak jauh dari kata itu.


“Emangnya apa yang dikatakan oleh ayah? Kan aku cuman berbicara mengenai ayah mau bertemu ibu di waktu senggang, jika memang ada ya Gibran akan katakan sama ayah. Kalau ibu secara langsung mau ngomong juga tidak apa-apa, siapa yang mau ngelarang.” Rekor terbaru untuk Gibran bisa berbicara panjang tanpa memikirkan kata-kata terlebih dahulu dan cowok itu meletakkan tasnya di atas meja, berisi laptop serta keperluan yang ja bawa untuk menambah ide-ide yang mau dikembangkan di dalam PPT.


Bisa dijelaskan secara rincinya saja, padat serta jelas tidak terlalu lama untuk memakan waktu presentasi.

__ADS_1


“Tapi, sepertinya kamu tidak itu saja yang didengerin. Ada yang lain kan? Nggak mungkin ayah cuman ngomong, mau ketemu ibu di waktu senggang. Pasti ada alasan lain yang memang dirahasiakan sama kalian berdua,” dengan mata menaruh curiga terhadap putranya membuat Gibran salah tingkah sendiri, tertawa lantaran ibunya yang tidak percaya dengan dirinya.


Tapi, iya benar juga. Percaya dirinya selamanya akan menimbulkan kemusyrikan.


Kan jadinya temennya setan.


Dengan mata yang berkaca-kaca karena dia tidak tahan dengan tawanya jadi ia tidak bisa menahan ketawanya untuk tidak terlepas begitu saja sampai beberapa orang yang lewat memperhatikan dirinya. Seolah menjadi sorotan, biasa aktor terganteng untuk beberapa detik kemudian.


Setelah itu pensiun dari aktor.


“Bu tapi aku emang nggak ada apa-apa, malah aku sama ayah itu ngobrol singkat itu saja, tidak lama-lama. Mungkin ya cuman masalah kehidupan pribadi doang, udah gitu aja.” Jawab Gibran apa adanya tidak membuat-buat tapi di mata ibunya itu selalu salah jawabannya, bukan itu yang ia tunggu melainkan konfirmasi kehidupan dirinya yang terawat atau malah tidak terawat sampai mengajak ia untuk bertemu.


Apakah dirinya itu sebagai perempuan terlalu keham terhadap laki-laki yang sudah tertawa suami dari pernikahan, seharusnya sudah terikat penuh di perjanjian nikah.


Tapi apa daya makhluk hidup, tak rela untuk sampai situ.


Mencari, mencari dan mengejar!


Lantas Arina?


Perempuan itu sudah tidak ingin lagi memiliki niatan mencari pasangan sejati yang bisa diajak berumah tangga, karena setiap laki-laki belum tentu menerima kehidupan perempuannya yang berbeda dengan orang tuanya.


Arina lantas memalingkan tatapannya ke arah lain, “Ibu kan cuman tanya.”


“Iya ibu, tapi ibu sendiri mau memojokkan diri ku yang tidak tahu apa-apa.” Miris sekali, rasanya ingin memeluk seorang cowok yang selalu dipandang bawah oleh ibunya sendiri, biasa anak laki itu anak kesayangan ibunya.


Anak manja.


Intan payung, seperti kartun dua botak kembar yang setiap hari tayang di televisi.


“Hm, maaf.” Tutur ibunya dengan halus.


Dan Gibran membuka mulutnya membentuk O dan ia terkejut saja ibunya bisa ternyata meminta maaf, bukannya terbalik?


Tak salah lagi, ia jadi anak durhaka jika begini.


Nasib punya ibu sukanya nggak mau percaya sama anaknya dulu baru lah jika sudah percaya berujung ke penyesalan.


--


**Oke?


ya Terima kasih see you jumpa esok☺🙏

__ADS_1


Bye jan lupa like dan komen❤**


__ADS_2