Luka Darimu

Luka Darimu
33. Terbaring lemah


__ADS_3

Arina sekarang terbaring lemah di atas brankar atau ranjang rumah sakit itu dengan ditunggu oleh seorang laki-laki yang terlihat sibuk dengan layar laptopnya menampilkan grafik beserta huruf kecil yang harus di zoom.


Ia menatap layar itu dengan teliti agar tidak terlewati beberapa jangkah takutnya nanti nggak lega hasilnya. Tidak memuaskan, ia sambil menunggu putrinya bangun dan tidak sempat untuk mengabari atau apa kepada istrinya lantaran istrinya sibuk dengan photo shootnya yang ada di Amsterdam sana.


Sebab lelaki itu pulang ke sini ya alasannya ya ini, istrinya sudah terbang ke Belanda untuk meng-handle pekerjaannya karena dirinya mendapatkan joob di sana. Namun, lelaki itu sebenernya mempermasalahkannya sebab jauh-jauh ke sana hanya karena client bodoh itu yang memberikan tawaran harga seenaknya.


Kalau dia yang jadi modeling mungkin ia akan menolak hal itu, mau menolak rezeki tidak baik tapi asalkan dia dibayar dengan sesuai pekerjaannya.


Kalau tidak, ya agak ragu buat nerima.


“Sssh,” suara itu seperti desisan yang keluar dan walau lirih tapi telinga pria itu layaknya masih berfungsi dengan baik.


Pria itu lalu menutup laptopnya dan melihat tangan jemari lentik putrinya bergerak, ia kemudian beranjak berdiri untuk menghampiri putrinya jika membutuhkan sesuatu karena dari penjelasan dokter hanya pasien membutuhkan cairan untuk mengembalikan kondisinya tapi bisa juga dengan membahayakan keadaan si calon jabang bayi anaknya itu di dalam kandungan.


Kasian.


“Hei, nak...” panggil pria itu dengan pelan mendekati mulutnya di telinga Arina agar terdengar, pria itu masih bisa tersenyum bahagia lantaran Arina tidak terlalu muluk buat kembali ke kondisi sebelumnya.


Arina menghindari tatapan itu, ia tidak mau lagi bertubrukan dengan tatapan itu yang akan menghajarnya.


“Hm,” jawabnya singkat dengan pandangan kosong.


Tatapan papahnya tak luput dari aktivitas Arina yang diam saja ketika sudah terbangun dari tidurnya yaitu bius yang disuntikkan dokter melalui infus dan bisa tidur dengan tenang tanpa ada gangguan.


Apalagi dengan kondisi dirinya yang hamil, membuat papahnya mewaspadai dari kejadian-kejadian yang akan menimpa putrinya.


“Butuh sesuatu?” tanya papahnya mengusap surai rambut Arina yang tergerai panjang indah, walau orangnya berbaring tidak jadi ciri khas lagi buat Arina jika perempuan itu memiliki rambut yang panjang serta lurus namun tidak ada siapapun yang melihat kecuali ayah dan suaminya, maupun keluarganya yang dari adek sampai kakaknya. Meski Arina itu anak terakhir ia tidak lagi satu-satunya anak bungsu dari keluarga orang tuanya, tapi secara garis keturunan Arina itu adalah bungsunya keluarga itu jadi mau tidak mau keputusan berhak ada di tangan Arina jika akan pembagian hal waris.


Arina membiarkan papahnya panjang lebar mau menanyai dirinya, ia akan tidak menjawab dan itupun jika mau menjawab harus mengumpulkan niat beribu kali.


Perempuan itu memutar bola matanya malas dengan menatap langit-langit yang ada di ruangan ini.


“Nak,” panggil papahnya yang lama kelamaan kesal juga dicuekin tidak diperhatikan.

__ADS_1


Karena sudah mengalihkan dunia pekerjaannya demi fokus ke putrinya, dia rela disuruh-suruh oleh istrinya untuk pulang ke tanah air dan meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk itu di sana, bukannya tidak ikhlas namun di sini ia tidak diperdulikan keberadaannya sama saja dunianya sepi tanpa berkas-berkas kantor yang selalu menemaninya untuk mencari pundi-pundi dolar dan memenuhi kebutuhan keluarganya yang tidak akan habis sampai beberapa keturunan nanti.


Perempuan itu menyangga kepalanya dengan tangannya yang ada di bawah pipi dan ia posisinya berbaring ke samping.


Menatap jendela yang terbuka itu dengan langsung ke arah taman yang sebagai pemandangan pertama kalinya.


Membuat Arina merasa tergiur dengan taman yang ada di rumah sakit itu.


Ia lalu mengerjapkan mata polos, “Pah...”


“Hm, iya...”


Papahnya kemudian yang tadi sempat di posisi sama itu pun memutari ranjang tempat istirahat untuk putrinya terbaring itu dengan infus yang menempel di tangan kirinya.


“Kenapa?” sambungnya dengan menatap putrinya.


Putrinya itu seperti menginginkan sesuatu membuatnya menganggukkan kepala.


“Ngga papa emangnya?” meski berat hati menyetujui pada akhirnya dirinya tidak ingin egois karena memilih pendapatnya sendiri.


Lalu lelaki itu keluar dulu, berjalan dengan langkah lebarnya menuju ke luar untuk mencarikan kursi roda untungnya tanpa dijelaskan memang papahnya itu the best buat dirinya, sudah lewat dari tatapannya saja papahnya dikode mengerti.


Tanpa harus ia meminta diangguki setuju.


Namun seketika wajah Arina berubah gelisah, ia memegang perutnya yang terasa sakit mendadak karena dirinya sejak tadi sebelumnya bangun ingin kencing tapi ya gimana dia mau bicara saja ngomongnya sulit kepada papahnya.


Ia menatap harap di pintu, supaya papahnya tidak lama-lama mengambil kursi roda ataupun papahnya bisa memerintah anak buahnya.


Ia ingin memanggil tapi tidak, dirinya harus turun dari ranjang sendiri daripada menyulitkan papahnya tapi ini benar-benar rasanya sudah di pucuk ujung kuncup pun tiba.


Tanpa diomongkan papahnya datang dengan langkah terburu-buru membuatnya akan tersandung kaki kursi roda, tepatnya di roda.


Ia menjaga keseimbangan dan Arina mau menertawakan rasanya, lucu saja tapi ia kebelet kencing jadinya tidak bisa ia tahan lagi dan perempuan itu kemudian menyibakkan selimutnya yang menyelimuti tubuhnya.

__ADS_1


“Pah, kencing!”


“Hah?” tanya papahnya yang ngang-ngong itu, tatapannya bingung dan reflek papahnya membantu untuk memegangi tiang infus, membawanya di kamar mandi dengan Arina yang sudah turun dari ranjang.


Enggan untuk bertanya lagi, papahnya lalu mengantarkan dirinya ke kamar mandi dan tiangnya didorong menuju ke kamar mandi.


Pria itu memang sangat idaman sekali bagi para perempuan, yang takut dengan istrinya dan sayang kepada anaknya tapi tidak untuk putranya yang sekarang menjadi Rektor di suatu universitas dengan cucunya yang dari pihak anak laki-laki nya, Sama-sama biadabnya tidak berperikemanusiaan soalnya.


Dia itu sudah tua namun tidak dengan tenaganya yang masih kuat untuk ke mana-mana hanya suatu pekerjaan.


Kini Arina masuk ke dalam kamar mandi, sementara papahnya menunggu di luar supaya putrinya tidak terjadi apa-apa di dalam.


Tapi beberapa menit berjalan, satu yang mengundang perhatian dari laki-laki itu. Mengapa putrinya tidak berbicara atau apa berkata, sedikit muncul spontan dia berkata.


“Sudah atau belum?” tanya papahnya dari luar dengan Arina yang ada di dalam kamar mandi tapi nyatanya tidak ada sahutan dari kamar mandi, jadi sekarang lelaki itu bergerak khawatir dan risau dengan keadaan Arina yang ada di dalam.


Hanya suara kran yang mengisi suara kamar mandi, tanpa basa-basi laki-laki itu ingin mendobrak pintu kamar mandi namun ia mendengarkan suara hembusan napas dari pintu dan membukanya lebar.


Arina lalu menatap intens papahnya yang ingin maju selangah di pintu.


“Mau apa?”


Papah gelagapan sendiri, merubah mimik ekspresi wajahnya menjadi tersenyum.


“Nggak ada, kamu nggak papa ‘kan?” tanyanya sambil mengalihkan dan Arina mengernyitkan dahinya, dengan begitu menggeleng.


Tiang itu ia bawa menggunakan tangan kanannya, lalu papahnya mengambil alih untuk membawa tiangnya, menuntun pelan-pelan putrinya untuk duduk di kursi roda yang sudah ada dibawa oleh anak buah yang diperintah papahnya.


“Jadi kan?”


“Iya, pah. Cari udara, nggak sumpek di sini mulu.”


“Ya sudah, yuk!” ajak papahnya dengan mendudukkan pelan-pelan putrinya dan mengganti letak cairan infus itu di letakkan di kursi roda dari tiang infus.

__ADS_1


Lelaki itu lantas selesai mempersiapkan semuanya, melangkah keluar dari ruangan Arina dirawat. Walau ruang ini VIP putrinya ini tetaplah ada rasa bosannya dan tidak ada pernah kata untuk tidak bosan di sangkar emas seperti di kamar atau tempat ternyamannya, tapi Arina perempuan yang berbeda. Sekali bosan bakal gonta-ganti semuanya, tapi satu yang tidak ganti keluarga.


__ADS_2