
Arina mengusap dagunya, berasa ada yang ngomongin dia di belakang sampai telinganya sejak tadi berdengung terus. Ia menggedikkan bahunya. Berpura-pura tidak peduli sebaiknya.
Ia sudah bolak-balik seperti ini merasa ada yang menghibahkan dirinya tanpa memikirkan nasibnya toh, sekarang ia sampai negative thinking dengan orang-orang yang di sekitar samping kanan-kirinya dan ia hanya mengamati tanpa harus menuduh siapa dulu yang melakukan.
Tapi seenggaknya bisa diajak berpikir dan setelah ia menoleh kanan-kirinya melalui ekor matanya, tidak menemukan siapapun itu orangnya dan sekitar orang yang duduk kebanyakan fokus ke obrolan pentingnya bukan seperti Arina yang tidak jadi artis saja sok songongnya istighfar.
Dosa.
Terlalu tinggi buat ngehalau.
Gapai susah.
“Hm, udah lah mungkin firasat ku doang yang begini.” Ucapnya yang mengaduk-aduk minuman coffe itu, ia hamil sedikit agak bar-bar segala pakai minta minum kopi ini anak bukannya apa-apa, ditakutkan Arina itu dengan kandungannya yang masih dibilang usia beliau bukan usia tua masa hamil di pertengahan perjalanan begini, masa iya mau rungkat kan ya nggak ngerti juga.
Tapi itu terserah yang maha Kuasa menanyai ruh yang ada di dalam perut Arina, siap atau tidaknya hidup di dunia bukannya apa-apa Arina jika sudah memang dulu mengikuti perjanjian buat hidup sekian, ia akan mengingatnya namun itu kehendak Allah.
Seketika ia merubah posisi duduknya sambil menunggu putranya yang datang ke sini, ia ingin bertemu dengan putranya di kaffe ini lagi karena tempatnya tidak terlalu jauh jadinya ia merasa kasian jika putranya harus jauh-jauh datang ke rumah kakeknya dengan jarak tempuh sekitar dari kost maupun kampus itu jaraknya memakan waktu sekitar empat puluh lima menit.
Dan ia merasa dirinya yang lagi butuh, maka sebab itu lah ia menemui putranya.
“Ini, Gibran kemana ya?” tanyanya sambil melihat samping kiri maupun kanannya, tidak ada pandangannya lepas dari situ dan setelah beberapa lama menunggu.
Ia mengeluarkan kata-kata kekesalannya setelah menunggu, tidak juga membuahkan hasil.
Ia menggeleng perlahan, lantas mengetikkan sesuatu pesan yang akan dikirim melalui aplikasi hijau.
“Ini centang dua, tapi terakhir dilihat jam satu lewat dua menit.” Berarti tidak terlalu lama putranya itu sedang membuka roomchat namun setelah itu mungkin tidak ada muncul notifikasi alhasil offline kembali.
Ia berdecak pelan, tidak mau orang-orang yang di sekitarnya memandang gila maupun sinis dan takutnya lagi ia malah diajak bergabung ke orang-orang yang suka meminta saweran, pamer pantat kek pantat wajan.
Masih mending pantat wajan bohay kek gimana, bentukannya emang cocok namun kebalikannya dengan manusia-manusia jahanam yang suka memamerkan pantatnya secara GRATIS tidak dipungut biaya sama sekali.
Kan ya rada nggak enak ta?
“Ini Gibran mana sih?” matanya sejak tadi tidak ia lepas begitu saja untuk menatap arah pintu keluar maupun masuk, karena memang sudah dimodifikasi untuk pintu masuk maupun keluar dijadikan satu bukannya apa-apa, biar enak gitu kalau nggak salah dulu ada kejadian di sekitar beberapa silam tahun yang lalu, hanya diketahui oleh beberapa orang yang masuk ke dalam kejadian itu.
“Udah lama nunggu mana, satu jam di sini.” Siapa yang tidak marah jika sudah terlalu lama menunggu ujung-ujungnya tidak memberikan pesan apapun, jika memang lagi sibuk.
Dengan wajah tampang kesalnya, ia bangkit berdiri dari tempat duduknya. Sudah saking asyik menunggu, badmood jadi lah orang yang ditunggu datang dengan nafas tidak beraturan dan penampilan yang sudah jauh diperkirakan.
__ADS_1
Bajunya lusuh seperti tidak terurus, semoga saja ibunya tidak marah karena ia tadi memang benar-benar mendesak keadaannya harus singgah terlebih dahulu ke kampus mengantarkan berkas untuk Arfa yang katanya embel-embel pakai segala ketinggalan.
Kan jadinya terlambat dia, oke ia sejak saat ini dihadapan ibunya akan bersimpuh jika memang ibunya marah besar kepadanya.
Arina menatap malas, membolakan matanya karena putranya baru datang dan ia sudah lama menunggu. Kakinya terangkat untuk segera beranjak pergi, ia sudah kesal dan campur aduk mau marah tapi emang salah siapa sebenarnya?
Bukan salah dirinya, patut dia marah.
Lagi pula anaknya yang harus membuatnya menunggu.
“Jangan pergi!” Larang Gibran yang membeo. Arina langkahnya terhenti dengan teriakan lelaki—putranya itu yang terlihat mengejarnya dengan kaki panjangnya.
Ia membalikkan tubuhnya menghadap sang anak yang sangat memancarkan senyuman hangat dan perempuan itu melebarkan tangannya guna memberi ruang putranya untuk memeluk dirinya.
Walau saking percaya diri, takutnya kecewa pada akhirnya Gibran memaklumi.
Ia lalu membalas pelukan hangat itu.
Gibran sangat berbeda dengan di luar yang jomblo fisabilillah padahal juga ia butuh sandaran sebenarnya, sangat gengsi jika ia membutuhkan seperti ini.
“Ibu, apa kabar?”
Lelaki itu lantas menggandeng tangan ibunya untuk duduk ke bangku semula.
“Baik, nggak ada apa-apa kan sama kamu?” tanya ibunya yang menatap atas sampai bawah, terlihat sorot wajahnya yang sudah dimakan usia itu masih saja menampilkan kekhawatirannya kepada putranya.
Mau bagaimanapun Gibran putra semata wayangnya.
“Nggak apa-apa, kan ada ibu yang selalu menyemangati Gibran.” Jawabnya sambil memberikan senyum jahil kepada ibunya-perempuan yang telah melahirkannya.
Mata Arina membelalak lantaran ada seseorang yang menghampiri mereka, kebetulan matanya mengarah kepada orang yang tidak ia tunggu kehadirannya melangkah ke arah mereka duduk.
Arina lalu menatap anaknya.
“Kamu bawa siapa?” tanya Arina dengan tatapan intimidasi.
Mulai serius bawaannya, Gibran tersenyum tipis mendengar nada suara ibunya berubah.
“Ayah,” singkatnya dan kebetulan orangnya ada di belakang Gibran.
__ADS_1
“Gibran,” panggil seseorang di belakang lelaki itu, suara itu tak asing dan Gibran menganggukkan kepala, lalu ia berdiri untuk menggantikan posisi. Ayahnya biarkan di bangku dekat dengan ibunya, yang ia inginkan itu sekarang.
Bisa di tengah-tengah keluarga kecil yang dibangun oleh ayahnya hampir koyak dan ayahnya ingin sekali mengembalikan seperti semula, kenyataan itu mungkin hanya satu persen karena lelaki ingin beranjak dewasa itu paham dengan kondisi ibunya.
Lelaki itu pindah di depan mereka tepatnya berseberangan dengan meja.
Tatapannya tidak berhenti di situ saja, ia lantas memanggil pelayan yang memang sedang berjalan ke arah situ.
“Mau pesan apa?” biar tidak canggung, Gibran memulainya.
Arina hanya diam, tangannya di bawah meja terkepal erat. Tidak mudah bagi seseorang yang melupakan kejadian-kejadian yang ia alami selama membangun rumah tangga kurang lebih dua puluh tahun berdiri layaknya koyak begitu saja dalam waktu sekejap.
“Pesan minum saja, seterah Gibran.” Jawab ayahnya dan tatapan Arshal mengarah kepada Arina yang menaikkan sudut bibirnya.
Menarik.
Batin Arshal.
Gibran menganggukkan kepalanya dan berbicara kepada pelayannya, setelah itu Gibran mengarah kepada ibunya yang sejak tadi diam saja.
Tatapan ibunya sulit diartikan, “Bu!” sentak Gibran yang melihat wajah ibunya yang mudah tersulut emosi.
“Ya, samakan saja.” Jawab ibunya tanpa ingin berlama-lama, melihat ada orang lain di tengah-tengah mereka.
Yang tak lain pelayan yang sedang mengamati dan melayani pembelinya yang akan memesan yang ada di restoran ini.
“Oke, ditunggu!” ucap pelayannya yang segera pergi dari tempat semulanya dan punggung pelayan itu berangsur menghilang dari pandangan Gibran.
Malu sebenarnya membicarakan dengan kepala dingin jika ada di sini, sebaiknya memang diselesaikan di area privat.
Ataupun satu-satu jalan di rumah mereka.
“Gib, ibu mau pulang aja daripada di sini membosankan.” Dari kata-kata yang dikeluarkan ibunya terdengar ketus dan kesal melihat wajah suaminya itu seperti akan mengejeknya.
Mungkin putranya kini ada di pihaknya.
**Hallo?
apa kabarnya?
__ADS_1
oh iya ini novel kapan ya bakal tamat? insya Allah tamat nanti jika udah waktunya ❤ oke ini lanjut lagi, maaf udah hilang dari peradaban dan lagi ngumpulin niat gimana caranya nggak males, eh kelanjutannya malah nyaman dengan ini itu sekarang tapi ya udah sekarang bakal akan lanjut lagi kok❤**