
Mungkin bagi banyak orang, bahwa menjalani pernikahan selama dua puluh tahun kurang lebih. Arina bisa menjalani kehidupan dengan semulus yang orang-orang kata?
Tidak, banyak rintangan yang ia hadapi terutama mengatur masalah kehidupan putranya yang tidak bisa menjalani kehidupan layaknya orang sederhana. Namun, kini sudah layaknya Gibran menjadi putra tertampannya, yang bisa mengubah sikapnya ketika ia bertemu dengan kakeknya yang galak baik itu. Karena kakeknya memilih Gibran untuk tinggal di rumahnya, maka Gibran sudah dapat dipastikan mengurusnya dengan baik.
Kakek dan nenek dari pihak Arina (papah dan mamahnya), sebab itulah Arina percaya jika papahnya bisa mengurusnya dan saat itu lah Gibran menjadi orang yang bijaksana dan sederhana.
Kakeknya selalu menasihati jika perlu didengarkan baik bagi Gibran sendiri.
Kan kasian orang tuanya, jadi Arina bisa dikatakan dia orang yang bisa menyimpan lukanya belasan tahun lamanya.
Gibran anak itu bisa tumbuh dengan baik.
(Oke alur mundur)
Arina mengingat hal itu tidak mudah baginya bisa melupakan suaminya seorang yang tidak bisa menjadikannya layaknya perempuan yang bersinggah di hatinya melainkan hanya teman-temannya saja yang ia pikirkan.
Hari itu, mana kalau perempuan cantik berambut panjang dengan menyisir rambutnya yang rontok, dengan helaian beberapa dan air mata yang mengalir deras di pipinya. Ia menatap dirinya dari pantulan cermin. Apakah dirinya bisa bahagia menjalalani kehidupannya dengan harapannya yang bisa dibilang ia ingin menikah itu hanya dari keinginan orang tuanya yang memintanya segera menikah dengan begitu ia menyesal, apakah bisa ia mengulangi lagi.
Ia terisak pelan, “Apa iya harus pulang ke rumah papah terus aku harus bilang sama papahnya mas Arshal, gimana.” Ragu untuk bisa pulang ke rumah karena ia sudah memiliki ekor yang berarti ia tidak bisa meninggalkan rumah ini hanya gara-gara masalah rumah tangganya yang sulit untuk dipertahankan itu.
Tapi mau bagaimana pun dirinya sudah terrlalu makan hati di sini sebab kata-kata pedas yang keluar dari mulut Arshal yang tidak bisa dijaga sama sekali.
Di sini mereka perannya hanya anak yang menumpang hidup di rumah ornag tuanya apalagi Arshal sebagai anak tunggal mereka yang bukan berarti rumah ini juga akan diwariskan oleh anaknya. Namun, itu seolah harapan yang nggak akan diciptakan sama sekali di sini..
Sungguh rasanya ingin segera angkat kaki mengurus hak asuh Gibran selaku anak kandung mereka yang selalu ia yakini jika hak asuh anak selalu jatuh ke ibunya sebab anak tidak ingin jauh dari ibunya, jika menurut pandangan Arina yang belum bisa mengurus putranya yang masih kecil itu, suka berlarian ke sana ke mari. Umurnya masih seumuran dua tahun, berarti tiga tahun sudah pernikahan mereka berjalan.
Tidak terasa, baginya hanya sekejap sejenak merasakan bagaimana jadi seorang gadis yang bisa menjadi harapan terakhir bagi orang tua Arina, yang bukan berarti perempuan harus mewujudkannya bagaimanapun caranya walau kadang teramat gondok di hati.
Happy Anniversary mereka bentar lagi!
Arina tersenyum getir menatap bagaimana kehidupan rumah tangga mereka selanjutnya jika seperti ini kisahnya, apakah iya dirinya san ggup untuk mempertahankan, aplagi pertahanan itu sulit sebenarnya untuk waktu yang lama, dngn puluhan tahun lamanya saja belum tentu akan selurus jalannya, bisa kek jalanan lampung yang dengan kisahnya joglangan sewu yang lagi viral dibahas di media sosial maupun elektronik.
“Arina keluaar kamu!” suruh lelaki itu dengan berteriak kencang dan kebetulan lelaki itu menganggur tidak punya pekerjaan, perempuan itu selalu mengobrak-abrik hatinya untuk tergerak tapi tetap saja tidak punya malu sama keluarganya termasuk Arina yang malu sendiri dengan orang tuanya sendiri, yang tidak bisa memberitahu.
Braakkk!
__ADS_1
Suara pintu terdorong kuat hingga membalikkan tubuhnya kepada seseorang yang melakukan hal itu.
Dan Arina menatap datar ke arah suaminya yang sekarang setelah membanting pintu.
Suaminya terkekeh manis, walau begitu sukanya suaminya itu mengerjainya.
Ia tidak akan mudah tertipu lagi dengan senyumannya yang mengandung arti itu.
“Buatkan mie sekarang!” ucapnya sambil melemparkan bungkus mie yang masih berisi itu ke wajah Arina, tepatnya melayang dan untung dengan cepat perempuan itu menangkapnya sebelum mendarat sempurna di wajahnya yang sudah ia rawat, mengapa harus dirusak.
Dan Arina hanya datar, tanpa membalas. Ia tidak berani berkomentar, tapi jika ia tidak bicara bukan berarti benar!
“Lo bisu?” tanyanya nyelekit, ketika ia melewati pria itu yang bersedekap dada.
Arina hanya membalas dengan celengan kepala lemah, ini juga karena lo! Kalau nggak gini juga gue nggak akan begini! Ucapnya dalam hati sambil membatin.
Seolah telepati apa yang dirasakan, Arshal menyambung saja.
“Lo mau ngomong apa?” tanya lelaki itu sambil menatap dengan tatapan mengintimidasi.
“Iya,” setelah itu perempuan itu menghilang dari pandangan Arshal, ia merenung. Sepeninggal Arina, lelaki itu mendudukkan tubuhnya di sofa yang terletak tak jauh dari posisi awal Arshal. Lebih tepatnya ada di kamar mereka.
Kamar?
Iya, karena mereka satu kamar tidak berbeda dan itu sudah menjadi keputusan orang tua Arshal yang mutlak jadinya mau bagaimana pula lelaki itu menolak tetap saja ancaman-ancaman yang keluar dari lelaki tua bau tanah itu terngiang-ngiang. Membuatnya sulit untuk menerima, namun pada kenyataannya lelaki itu yang disebut anak kandungnya sendiri malah melukai menantunya dan sama saja mereka gagal dalam mendidik anak mereka satu-satu nya.
Tidak heran, tapi itu anak kandung-anak semata wayang mereka menganggap hal biasa dan meremehkan.
Balik ke Arshal.
“Mengapa aku baik tadi?” tanyanya dengan lirih.
“Oke nanti mulai lagi,” ucapnya sambil mengeluarkan sesuatu dalam kantung celananya dan sebungkus rokok bersama pematik apinya untuk menyalakan benda panjang itu.
“Gue kerjaan begini enak, nganggur berasa kek Sultan nggak kerja gue.” Ucapnya berasa berbangga diri sebelum mengaca di kaca yang besar.
__ADS_1
Tangannya terasa gatal ketika sudah menunggu, tidak terasa sepuluh menit sudah ia menunggu di kursi tinggal ini.
Membuatnya hanya mendengkus kasar dan raut wajahnya sudah terasa gatal untuk memarahi perempuan itu yang lelet dalam membuat makanan, perutnya saja sudah terasa dimintai jatah untuk makan siang kali ini.
Tubuh pria itu akhirnya beranjak berdiri, rasanya mulutnya sudah tidak tahan dengan omelan yang akan siap memberantas.
Tepatnya memarahi.
Arshal menatap datar ketika sudah tiba di dapur, perempuan yang sudah ia tunggu kehadirannya membawakan mie yang dia lemparkan tadi. Tak diduga perempuan itu malah tertidur dengan posisi menelungkupkan kepalanya di sela-sela tangannya sebagai bantalnya.
Arshal tertawa pelan melihat perempuan itu yang enak-enakan dengan bunga tidurnya.
Enak sekali, sementara dia? Sejak tadi menunggu, dengan tidak lama tangan Arshal menyeret kepala Arina yang berbalut kerudung segi tiga itu dan menariknya kencang hingga rambutnya ikut tertarik, sementara dengan Arina yang terkejut merasakan apa yang ia rasa.
Sebab orang yang tertidur itu akan kaget jika ada seseorang yang mengagetinya tiba-tiba dan pacu jantungnya seolah berpacu cepat.
Arina memindahkan tangan Arshal yang menyeret rambutnya itu dengan kuat, beserta buku-buku jarinya dan kukunya, menggunakan kekuatan itu untuk tidak tertindas sekali lagi.
“Mas!!!” ia berteriak tak tertahan, rasa sakit menjelma di kulit kepalanya terangsang karena memang lelaki itu tidak tanggung-tanggung ketika menariknya dengan kuat sehingga hal itu membuat Arina meringis dan tidak terasa, lagi dan lagi Arshal membuatnya menangis.
Arina terisak pelan, rasanya di hati ingin membalas tapi apa daya dirinya yang tidak memiliki kekuatan. Sebab perempuan selalu ada di bawah, bisa kapanpun ditindas oleh seorang laki-laki. Hanya pasrah dan jawabannya kepingin pulang ke rumah orang tua kalau bisa, karena orang tuanya saja tidak pernah namanya main tangan seolah menyakiti hati seorang anak yang dititipkan oleh Tuhan untuk dijaga, tapi apa ini?
Seorang laki-laki yang tiba-tiba datang, tidak tahu dari kecil eh besarnya dititipin sama orang tua malah disakiti. Mengingat itu membuat Arina ingin melawan.
“Lo bikin mie apa mau jadi ikan asin sebenarnya?”
Setelah mengucapkan itu membuat Arshal menarik kerudung itu dengan wajah jijiknya dan membawa Arina ke luar dari rumah ini.
“Lo bersihkan tempat ini sekarang juga!” seenaknya laki-laki itu menyeretnya ke tempat biasa teman-teman Arshal beserta Arshal berkumpul, tepatnya ini adalah ruang privat mereka tapi hanya Arina, Arshal dan teman-temannya yang tahu dengan orang tua Arshal yang membuatkan ruangan ini untuk putra mereka.
**Hai?
Oke?
Ini yah buat malam ini, lagi mau ngetik❤
__ADS_1
Komennya ya, biar semangat 🤍**