
Beberapa barang sudah di packing lebih dulu, Gibran membantu ibunya agar tidak terbebani oleh beberapa baju yang sedikit itu.
Memang cuman beberapa karena Gibran sudah membawa pulang tadinya dan dicuci.
"Bu, pulang? Emang nggak papa," heran aja sebenarnya, ibunya ini sebenarnya belum benar-benar pulih dan kemarin sempat mengobrol dengan papah Angga, boleh saja karena papah Angga akan bertanggung jawab bila ada apa-apa soalnya Arina sudah mendesak Angga untuk tidak mendekati asalkan ia dibolehkan pulang di rumah.
Ibunya lantas menatap putra sulungnya itu, "Kamu kok meragukan ibu begini."
Gibran menggeleng, bukan berarti meragukan soalnya kasian juga jika ibunya harus pulang dengan keadaan yang masih belum fit.
"Ya udah, iya." ucap Gibran mengiyakan tanpa harus memikirkan ke depan, bila ada apa-apa katanya suruh telepon papah Angga.
"Nak, nanti kamu beli nasi padang di perempatan jalan itu. Ibu pengen aja makan nasi padang,"
"Iya, Gibran belikan." jawab Gibran yang nadanya berat, ibunya menghela napas kasar.
"Kamu kalau nggak ikhlas, mending nggak usah." ucapnya diselingi nada agak nggak moad.
Gibran menatap ibunya yang tampak kesulitan menggunakan kerudung segitiga itu dan ia melangkah menghampiri Arina.
"Butuh bantuan nggak, bu?" tawar Gibran supaya memudahkan Arina untuk memakainya tanpa harus marah-marah kepada putranya sendiri.
"Iya,"
"Nak, kamu ikhlas nggak beliin?"
Lagi dan lagi ibunya bertanya, Arina tampak menatap manik putranya yang menyipit.
"Emang aku nggak ikhlas keliatannya?"
"Iya," jawab ibunya yang tersenyum lebar dan menjawil pipi Gibran.
Lucu sekali anaknya ini.
Anak itu walau dia nggak ikhlas tetap dibelikan, takutnya orang tua satu ini tahu hatinya sebenarnya tak ingin melakukan niatnya.
Namun, ujar pemaksaan jadi harus diperintahkan.
"Oke, mana lagi yang belum siap?" tanya Gibran yang melongok ke sana-sini, mengecek keberadaan barang-barang yang tertinggal. Takut saja jika ada yang tertinggal, bisa rugi.
Sudah membayar, eh malah ada barang yang tertinggal.
"Sudah, yuk pulang!" ajak ibunya yang nampak menerbitkan senyumnya di kala melihat tangannya tidak ada selang infus yang selalu menempel di tangan kirinya.
Risih memang, sungguh.
"Iya, sebentar!"
__ADS_1
Gibran mengeluarkan jaketnya dari tas dan memakaikannya ke tubuh ibunya agar tidak kedinginan pada saat perjalanan.
"Makasih nak,"
"Iya bu, jangan sampai dilepas! Jika tiba di rumah, boleh." Gibran sebagai putra bukan mau apa-apa, kasian tubuh ibunya yang tampak tirus seperti tidak dikasih makan selama beberapa minggu.
"Hm," ibunya menjawab deheman dan Gibran menatap layar notif di handphone.
"Sudah ada di depan taksinya bu,"
Aromanya sudah terlihat Arina menggandeng putranya agar tidak hilang jejak nantinya, seribu cara memang ada jalan lintasnya namun jika seseorang yang menunjukkan jalan tapi salah bener-bener itu kan Arina bakal pusing sendiri.
Setelah menggandeng, mereka keluar bersama-sama sampai dipanggil beberapa pasien yang di luar dengan pasangan yang tidak cocok karena perempuannya sudah terlihat tua dan Gibran yang pasti mempunyai badan kekar nampak tegas jalannya.
Pasti diagungkan.
"Jangan dianggap bu!" bisik Gibran yang separuhnya tinggi ibunya, ibunya cocok buat dipeluk emang.
"Iya nggak guna jugaan,"
Ia kemudian membawa ibunya sambil membawa tas yang berisi pakaian ibunya serta alat-alat makan yang lupa ia bawa pulang kemarin.
Sampai di depan lift, seseorang memanggil nama Gibran.
"Gibran sebentar!" Seseorang dari belakang dengan napas senin kamis itu terengah-engah menetralkan napasnya.
"Ada apa?" tanya Gibran tanpa tampang baiknya, melainkan tidak berdosa sekali dia hanya bisa menanyakan tentang ini.
Teman satu penjurusan jadi kenal dikit walau tidak banyak. Buktinya, mereka masih saling mengenal jika tidak banyak maka mereka tak akan salah satunya menyapa.
"Hm, siapa yang sakit? Lo?" Tanyanya tanpa memandang seseorang perempuan yang ada di sampingnya.
Padahal nampak jelas orangnya tapi tak mengenali siapa itu.
"Ibu gue,"
"Mana?" Orangnya tampak mencari dan Gibran menengadah tangannya, menunjukkan ke arah ibunya.
"Oh ini, mirip ternyata." Menahan tawanya untuk tidak menggelegar, Arina menertawakan anak satu ini.
"Maaf tante," ia menyalami tangan Arina dan Arina menyentuh tangannya serasa berbeda sekali, treatment mungkin ya sampai halus pisan ini tangan.
"Kamu temennya Gibran?"
"Iya tante, Gibran itu bukan temen aja sih. Cuman saya itu lebih ke sahabat," membenarkan ucapan Arina agar tidak salah paham dan Arina mengangguk.
Tampak percaya, padahal kenyataan tak begitu dan Gibran memainkan bibirnya.
__ADS_1
Bibirnya serasa gatal ingin mengomentari namun tidak ada alasan lagi sebab ibunya percaya begitu saja.
Gibran diam, bukan berarti tak menyimak.
"Hm ya, gue pulang dulu ya. Lo nunggu siapa di sini?" sela Gibran karena itu teman Gibran tak membawa dampingan berarti di sini ia sendiri, ia menggelengkan kepalanya.
"Gue ngecek kepala, terasa sakit sama agak mikirin hutang tadinya." gelak temannya garing sekali seperti gorengan bude Sumiati.
Khasnya begitu dan mereka pun tergelak.
"Ya udah lah, gue pulang dulu ya. Kasian ini ibu nggak pulang nanti tambah buat gue beban lagi." ucap ceplos Gibran tanpa menyaring kata-katanya terlebih dahulu, temannya itu terkejut sampai menbentuk o lagi itu mulut.
"Eh nggak gitu juga kali, itu ibu kamu. Kebetulan aja kamu memang dilanda begini." Nasihat dari temannya dan Gibran tak peduli lagi, ia pun menggandeng masuk ke dalam lift supaya tak menunggu lama itu sopir taksi.
"Iya, hati-hati." ucap temannya dengan melambaikan tangan sebagai perpisahan.
Sebab sudah mampir kemana-mana jadi agak lama.
***
Setelah pulang dari rumah sakit, Arina diperintahkan untuk makan dulu sebelum istirahat dengan obat yang mengalir di setiap anggota tubuhnya.
"Makan yang enak dulu ya bu, aku mau ke kamar mandi. Mau cuci itu baju, biar nggak numpuk." Gibran pun meminta izin keluar dari kamar dan melakukan pekerjaannya karena benar-benar cuciannya sangat banyak.
Menambah ekstra tenaga.
Ia pun keluar dari kamar setelah ibunya mengangguk tanpa harus mengganggu ibunya sedang makan.
"Iya ini, kenapa jadi banyak gini perasaan." Ia heran beberapa pakaian apa terselip lalu ibunya mencampur aduk jadi satu itu baju.
Dan Arina yang ada di dalam kamar, menikmati rasa nasi padang itu karena sudah lama tidak mencicipi rasanya.
Dengan es teh yang ada di nasi padang itu benar-benar khas, tapi jangan sampai es teh dicampur dengan makanan.
Yaitu nasi.
Sungguh rasanya ingin ngakak tapi takut berdosa dengan dirinya sendiri.
"Ya ini enak banget," Merasakan sambel dari nasi padang jadi campur satu.
"Gibran itu nggak salah,"
Sanjung-sanjung terus itu putra sampai Gibran saja mau kepentok ujung mesin cuci dan ia mengangkat ember yang berisi air penuh berasal dari air kran.
---
Hello ncingā¤
__ADS_1
Sehat semuanya udah ngantuk berat ini tapi dari kalian pokoknya, terluveš„°
Iya makasih buat yang sudah mampir ā¤