Luka Darimu

Luka Darimu
17. Arshal menerima


__ADS_3

Arina manggut-manggut kecil, ia seolah seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh induknya. Padahal, posisinya di sini terbalik.


Tapi, pemikiran Gibran. Putranya lebih dewasa dari pada dia yang sudah menikah mau mempunyai dua anak.


Beruntung bukan Arina.


Gibran menghembuskan napas kasar, jika tidak dituruti Arina ini bakal begini. Salah satunya ibunya ini keluar sendiri tanpa persetujuan Gibran terlebih dahulu.


"Sekarang, mana nasi gorengnya?" Nadanya sudah balik lagi, Gibran sudah baik dan lembut itu duduk di samping ibunya yang tampak tirus.


Tirus tapi bisa dikata ibunya ini tampak sekali mudanya masihan.


Padahal, jarak umur ibunya dengan Gibran itu jauh sekitar dua puluh satuan kurang lebih.


Jadi ibunya ini menikah saat umur dua puluh dan lahir di duapuluh satu kan ya jauh.


Tapi, anehnya ibunya ini terlalu tampak muda dan bercahaya lagi dari sorot wajahnya yang selalu tersenyum ketika diapa-apain.


Sangatlah tidak sama dengan Gibran yang terkenal ramah juga di lingkungan kampus namun sekali dia dapat masalah di kampus, bakal jadi reog dan repotnya ngambeknya satu kampus bakal kehilangan kehangatan Gibran.


Tipe Gibran masalahnya sulit dicari, jadinya dia itu terkenal dengan ramah dan tampannya di seantero kampus di kampusnya itu.


Arina, perempuan yang sudah melahirkan dirinya itu terlihat membuka bungkus nasi gorengnya dan memperlihatkan nasi goreng yang full dengan topingnya.


"Ini nasi goreng sesuai kesukaan kamu, takutnya kalau ibu yang masak kamu nggak mau makan jadi ibu beli saja." ucap ibunya.


Gibran menggelengkan kepala, menghela napas pelan.


"Bu, ibu kan ibu aku jadi mau gimana masakan ibu itu selalu the best favoritnya di keluarga." puji Gibran dengan raut wajah berseri-seri dan Arina membalas senyum hangat.


Ia mencium dahi Gibran, sebagai tanda terima kasihnya.


Ia ingin Gibran yang hangat dan baik, bisa menerima calon adeknya ini.


Tapi, Gibran sudah mengatakan. Dia tidak akan bisa menerima kehadiran adeknya jika keluar di dunia ini. Dan meninggalkan kehadiran ibunya beserta adeknya di sini, ia akan memilih pergi.


Sesekali Gibran memandangi mata ibunya yang sebentar lagi mata ibunya tak bisa membendung air matanya lagi.


Tes.


"Bu, jangan gitu lah!" Gibran tak enak dengan ibunya, ia tidak bersalah jadi merasa bersalah kalau begini.


Gibran mengelap air mata ibunya yang satu tetes keluar rasanya sakit di hati Gibran, walau itu sekejap namun Gibran akan tetap menyayangi ibunya bagaikan ia akan memperatukan ibunya.


Ia akan memprioritaskan ibunya dalam keadaan apapun itu.


Karena ayahnya yang baj*ngan itu tidak akan pernah memiliki rasa hati untuk memperatukan ibunya sendiri.


Sungguh bikin istighfar dengan kelakuan ayahnya.

__ADS_1


Makanya Gibran segera mengambil alih hak pribadinya, secara ia akan tetap berada di pihak ibunya bila ayahnya ingin menggugat ibunya.


Pada kenyataannya sampai sekarang ayahnya tidak pernah mengabari Gibran tentang menggugat ibunya sendiri, maka dari itu Gibran tak akan menanyai itu lagi.


Soalnya akan menambah masalah ayahnya saja dan menggugat yang pasti tidak akan bisa lancar semulus apa yang orang-orang bilang.


Jadinya harus dipersiapkan matang-matang menuju ke pengadilan agama negeri.


Beralih ke Gibran yang menerima piring yang diambilkan oleh wanita cantik itu yaitu ibunya sendiri.


"Makasih udah beliin Gibran nasi goreng,"


"Iya udah, makan sekarang!"


Gibran mengangguk, ia bersemangat untuk makan nasi gorengnya dan Arina memandang dengan menyunggingkan senyuman.


"Ibu udah makan?"


"Udah tadi di sana," bohong Arina dan Gibran menganggukkan kepala.


Ia sudah tidak peduli, mau ibunya bohong itu urusan dirinya sendiri.


Wong gimana lagi, ibunya yang bilang sudah makan. Ada penawaran jadi baiknya diterima.


Arina tersenyum melihat Gibran semangat buat menghabiskan, tidak sia-sia pulang membawa keberkahan dengan Gibran yang sudah menerima keadaan Arina yang tidak bilang kepada putranya sendiri untuk pergi keluar.


Gibran memang duduk di sampingnya, mau ngapa-ngapa pun bebas dan Gibran diam saja, toh asalkan tidak berlebihan.


Antara kehidupan putra dan ibunya, bukan mau cabul-cabulan.


Ya nggak mungkin, yang ada akan heboh satu Indonesia.


Nggak punya hati, sama aja hatinya terbuat dari hewan ya anjing yang lagi menggonggong.


Gibran pun disuapan terakhir bersendawa sampai ia tersenyum kepada ibunya.


"Kalau udah kenyang, udah nak!" saran ibunya dan Gibran mengangguk sebagai balasan jawaban kepada ibunya.


Senyum tulus mengarah kepada Gibran, Gibran anak yang sungguh dibanggakan bisa menjadi panutan untuk adeknya nanti.


"Ini tinggal terakhir bu," ia akhirnya bisa menghabiskan satu bungkus nasi goreng dan Arina lalu mengambil bungkus nasi gorengnya, melipatnya kembali.


Membuangnya ke tempat sampah.


Sudah kenyang tinggal tidur enaknya, Gibran mengelus perutnya yang agak begah rasanya.


***


"Sudah berapa kali papah bilang kamu ke sini mau menerima tawaran yang sudah tidak berlaku lagi itu 'kan?" tanya papahnya yang membuka-buka berkas, sekarang mereka ada di ruang kerja rumah orang tuanya Arshal.

__ADS_1


Arshal berdecak sebal, ini papahnya kenapa nggak mengasihi dia saja ketimbang ke orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan papahnya sendiri.


Kan jadi sayang sekali gitu.


Ia itu di sini datang ingin meminta papahnya merubah keputusannya itu, sebelumnya papah kan nggak ngasih waktu sama Arshal sendiri.


Ia jadinya sedikit ada pemikiran buat pekerjaan, Arshal memikirkan matang-matang jika ia menjadi ceo apa yang akan terjadi kantor papahnya.


Bimbang yang ada.


"Papah sudah bicara sejak awal, kamunya ngeyel aja sih."


"Ya nggak ngeyel lho pah, aku kan bilang kalau nanti ... nanti pah, dengerin! Nanti, aku akan siap menggantikan posisi papah sebagai CEO di perusahaan papah." ujar Arshal mengatakan sejujurnya pada kala itu papahnya selalu tidak menggubris pembicaraannya.


Tapi, di saat ini papahnya malah seakan melupakan perjanjian awalnya.


Sudah terlambat, maknanya bagi papahnya ya sudah itu perusahaan akan beralih nama menjadi namanya Gibran dan Gibran itu bukan orang lain, tapi di mata ayahnya sendiri Gibran itu hanya orang asing mengganggu jalan dirinya ingin bisa mengumpulkan niat untuk menjadi orang terkenal.


Eh nggak jadi sekarang, mimpinya ia kubur dalam-dalam.


"Oke, papah kan sudah berkata dari sejak ngomongin perusahaan sama kamu. Jangan lama-lama, jangka kamu bimbang antara memilih keputusan yang salah atau benarnya, papah sudah berkata. Kamu selalu ada pendamping yang akan siap kamu beri pertanyaan dan bisa menjadi partner kamu kerja di sana." ujar papah Arshal membalikkan omongannya yang dulu dianggap angin oleh Arshal... Putranya sendiri yang menganggap remeh kesempatan ini, jadi baiknya ia kasihkan kepada cucunya yang akan berguna di masa depannya.


Permasalahan ini tidak akan selesai jika papahnya tidak membalikkan nama perusahaan itu atas namanya dia sendiri.


"Pah, kalau mau masalah ini akan aku kasuskan kepada pihak yang berwajib dan bisa berkepanjangan akan mengurus masalah ini." Ia tampak mengedipkan matanya dan papah Arshal tidak ingin masalah ini dibawa ke pihak berwajib yang ada akan menambah biaya operasionalnya.


Dan semuanya jika dihitung tidak akan sama dengan apa yang diinginkan oleh pelapor.


"Ar, kamu bisa melaporkan tapi masa tega dengan papah mu sendiri Ar."


"Nggak ada yang tega-tegaan pah, sekarang aja papah udah tega sama aku." balas Arshal yang tidak terima dan ia menangkupkan wajahnya di sela-sela jarinya.


Ia menatap ruang kerja ini, cukup luas dan nyaman. Bisa kali ya, menggantikan posisi papahnya yang sebentar lagi akan pensiun untuk selamanya.


Seperti PNS saja bisa pensiun dalam waktu umur enam puluh tahun karena usia telah berlanjut.


 


oke udah ya?


Gimana dilanjut di sini


, orang bimbang ya kek gini🤣.


oke lah, udah siap diikhlaskan buat kontrak 🙏🤍


iya makasih see you.


nanti lagi ya😭🤣

__ADS_1


__ADS_2