
Andai waktu itu ku ulang kembali, jatuh di pelukan mantan biar bisa nikah terus buat anak.
Eh tak semudah itu fergosa.
Arina melangkah berjalan menuju kafe yang ia tuju sekarang, memang perempuan itu sudah tiba di lokasi yang di sherlock sama putranya itu.
Langkahnya terhenti ketika ia menatap seseorang yang tidak asing menurutnya dari kejauhan dan Arina lantas melangkah kembali, masuk ke dalam kafe.
“Apa iya putranya sudah memiliki pujaan hatinya, siapa dia yang bisa menambatkan hatinya untuk berlabuh ke hati si Gibran?” Ia penasaran, perempuan berhijab berwarna hitam itu berjalan menghampiri putranya yang terlihat cuek namun sedikit tatapannya mengarah ke gadis itu.
Bisa ditangkap jika Gibran menahan untuk tidak menatap, tapi apalah dayanya.
Lantas Arina tersenyum tipis, ia sudah dekat di meja Gibran tempati.
“Gibran,” perempuan itu memanggil dan keduanya menoleh secara bersamaan.
Arina pura-pura tidak tahu saja daripada nanti putranya salah tingkah sendiri ketika sudah tertangkap basah begini.
Gibran membuka mulutnya sedikit karena kaget dengan kedatangan ibunya yang mendadak ia juga lupa dengan janjinya bersama ibunya—Arina.
“Eh lanjut aja! Ibu mau ke toilet dulu,” ucap ibunya dengan meletakkan dompet di atas meja samping Gibran dan ketika perempuan itu—Arina memperhatikan tidak ada sapaan hangat atau sambutan kali ya.
Ia heran dengan Gibran.
“Y-aa,” jawab Gibran singkat dan menahan rasa gugupnya, nada bicaranya saja sudah bergetar tandanya emang pasokan udaranya menipis di dada.
Ia menghirup udara rakus seketika membuat perempuan gadis itu sukses tertawa.
Karena sedari tadi melihat wajah tertekan calon suaminya itu, eh salah temen karibnya.
Temen atau yang lain ini?
Karena beda ini.
“Pffftt, anak yang selalu dibilang itu kesayangan ibunya. Oh ini dia?” ia lantas tertawa kuat sampai-sampai pengunjung lain ikut melihat dirinya, pandangannya teralihkan oleh siapa yang tertawa.
Ya, perempuan.
Ck, perempuan kuat amat ketawanya?
Apa mau ngelebihi mbak-mbak yang lewat itu.
Udah lah jangan diceritakan.
Gibran mendengus pasrah.
Ia jadinya begini, namanya mengumbar aib di depan teman.
__ADS_1
Ya, perempuan itu lalu menepuk pelan mejanya saking lucu karena nggak kuat dia.
“Apa?” tanya Gibran datar, mode serius sudahan.
Lelaki itu menenteng tas yang berisi laptop beserta kertas-kertas yang isinya entah apa, yang terpenting perempuan itu tidak mencampuri urusan Gibran. Lelaki itu bersyukur.
Sebab ini pekerjaan sangat amat sulit untuk dikerjakan di rumah, butuh suasana yang nyaman dan terpenting harus mepet kejar deadline.
Sistem kebut malam yang ada harus diterapkan.
“Nggak jadi,” perempuan itu membalas ketus dan teman karib Gibran itu lalu berdiri dari tempat duduknya.
Ia akan segera pergi sebelum mengganggu acara ibu dan anak ini.
“Gue pulang, kalau nanti masalah tugas barengnya bisa dikerjain besok. Kan masih ada waktu, kasian kamu aku.” Ucap perempuan itu dengan memasukkan handphonenya ke dalam tote bag seperti biasa perempuan itu tidak suka aneh-aneh, penampilannya yang sederhana bisa dibilang perempuan itu istimewa jika di mata lelaki yang tepat.
Salah satunya Gibran yang sejak tadi cuek tanpa ada minat untuk menatap perempuan itu, walau sahabat.
Namun kemungkinan besarnya salah satu ya jatuh ke perasaan.
“Ya untung kamu ngerti, jadi nggak perlu jelasin panjang lebar.”
Dahi perempuan itu mengerut mendengarkan ucapan Gibran yang tidak sengaja menggores hatinya, walau itu hanya candaan tapi setidaknya hargai dia yang sudah datang sesuai waktu.
Apalagi Gibran jika tidak pas waktunya, dia bisa saja menghardik siapa saja itu yang kena omelannya.
Karena baginya waktu tidak akan terulang lagi, percuma jika waktu tidak di disiplinkan dan hanya dianggap angin lewat begitu saja.
“Ya udah, aku pergi.” Kata perpisahan yang singkat dan padat itu membuat lelaki itu mendongakkan kepala melihat tubuh perempuan itu yang sudah pergi dari mejanya.
Ia menggelengkan kepala, apakah dirinya yang terlalu kaku dengan berdekatan sama perempuan?
Tapi, ia tidak pernah yang namanya seperti ini.
Mungkin memang efek getaran bumi yang siap buat berjuang.
Lamunan Gibran terhenti lantaran kedatangan ibunya dari toilet dengan senyum yang mengembang, seolah mau menggoda putranya.
“Gimana tadi?” ia keceplosan, memang perempuan itu sebenarnya tidak ke toilet melainkan mengintip dari balik tembok alhasil nggak denger terus nggak lihat momen apa-apa sebab ia lagi ribut dengan karyawan yang ada di kafe ini.
Mereka menganggap Arina orang gila karena mengintip sambil tertawa dan tersenyum sendiri, pada akhirnya lelah untuk menghadapi Arina jadilah karyawan kafe tidak ingin terus-terusan dihadapkan seorang Arina.
Bisa-bisa masuk ke psikolog buat nyembuhin mentalnya.
Gibran berdeham, “Hm, ibu nguping tadi? Ngeliat sekilas?” tanya putranya ke mode datar serta melihat wajahnya yang fokus ke layar laptop membuat Arina menyunggingkan senyumnya.
Namun dengan cepat senyuman itu memudar karena tidak dipedulikan oleh Gibran sendiri.
__ADS_1
Perempuan itu mengerucutkan bibirnya kesal lantaran tidak diberi tanggapan sama sekali.
Apinya nggak bisa dipadamkan, kecuali es krim yang bisa melelehkan hati yang berapi.
Lagi dan lagi tidak dihiraukan kehadirannya.
“Nak, ibu kamu dihadapan kamu. Tapi, apa?” perempuan itu cemburu layaknya seorang apapun bentuknya itu, ada yang seharusnya menghargai.
Gibran cepat-cepat menghapus idenya, buyar sudah idenya yang sudah dituangkan dalam bentuk file itu. Karena ia benar-benar buntu ide, bisa ia pusing sendiri melihat ibunya yang nyerocos memprotes dirinya agar melihat perempuan itu.
Tapi, mau bagaimana lagi.
Dia dilahirkan dari perut perempuan itu, maka dari itu Gibran berpura-pura memberikan senyuman setegar mungkin.
“Iya ini,” senyumnya dan ibunya membalas senyum kecut.
“Kalau nggak ikhlas ya sudah,”
Arina duduk di tempatnya dan ia melihat dari samping memang benar jika putranya itu terlihat sibuk memerhatikan file-fiel yang menumpuk, sudah berjam-jam ia dihadapan layar tapi tidak dapat-dapat.
“Sedang apa?” tanya ibunya yang beranjak berdiri, berpindah tempat dengan di samping Gibran dan membaca setiap kalimat huruf-huruf yang sudah tertulis.
“Sedang buat laporan buat di organisasi.” Jawab apa adanya Gibran tanpa berbohong, Arina menilik setiap sudut mata Gibran yang terlihat sudah memerah.
Tangannya terangkat menyentuh kacamata yang dipakai oleh putranya itu.
Melepaskan kacamata dari hidung mancung Gibran.
“Jika lelah nanti lagi!” saran ibunya dengan membereskan dan Gibran menghembuskan napas kasar, ia sudah lelah juga ternyata memang ibunya ke sini butuh sandaran, cakep pisan emang!
Dibutuhkan di kondisi yang beneran capek, pingin berhenti sampai sini saja.
“Kalau memang deadline, coba kamu bagi waktu nak!” nasihat ibunya yang sudah tidak peduli lagi di sini umum atau di rumah, sudah menjadi kebiasaan Arina jika di mana-mana itu demi kebaikan bukan untuk keburukan.
Gibran mengangkat sudut mulutnya, “Bu, jika emang deadline mau kemana hasilnya tetap saja jerih payah akan membuahkan hasil,” ucap Gibran dengan menjelaskan.
“Tapi kamu sendiri?” tanya Arina yang dilihat nampak seperti meledek putranya.
Gibran meneguk ludahnya kasar, sungguh Arina tidak bisa dibohongi.
Bodoh memang.
“Ya sudah, sekarang makan dulu lah setidaknya!” sambung ibunya.
Menyingkirkan barang-barang yang ada di meja, membereskan memasukkan ke dalam tas yang dibawa oleh Gibran sebagai tempat meletakkan barang-barangnya yang ia bawa dari rumah, seenggaknya tidak berantakan di atas meja.
__ADS_1
Makasih see you tommorrow🙏☺