Luka Darimu

Luka Darimu
8. Hilang perempuan itu


__ADS_3

Februari 2022, Bandara Soekarno-hatta.


Ada seseorang lelaki yang beruban putih itu menyeret kopernya dan melangkah lebih jauh dari titik jatuhnya pesawat.


Di sana sudah ada perempuan yang berjilbab hitam menunggu sambil melihat isi handphonenya.


Adakah pesan atau telepon, yang pasti ia akan sigap untuk menerimanya.


"Bapak ini gimana?" ucapnya tidak tenang karena sudah tahu perempuan itu introvert banget eh disuruh jemput ayahanda tercinta jadilah pakaiannya nggak karuan dan serasa dilihatin satu kabupaten.


Merasa risih dan malu, ia sampai melihat adakah hal yang aneh.


Ia mengusap seluruh badannya dan bergidik.


Lelaki yang tadinya sudah berjalan dengan langkah tegap dan tegas, banyak orang yang berlalu lalang menyapa lelaki itu karena emang sudah terkenal mau gimana lagi.


Ia mencari keberadaan putrinya, entah hilang kemana kata si pengawalnya yang sudah menunggu di depan lobi bandara.


Menyusahkan saja.


Ada rasa khawatir, lelaki itu adalah Angga Putra Mahendra. Seorang lelaki yang menjabat di perusahaan bidang tekstil dan pertambangan, Angga sebagai orang yang penting pasti kemana-mana tanpa kenal rumah sepertinya.


Berhasil menjadi seseorang yang sukses saja sudah lebih menguntungkan baginya dan Angga menganggap semua orang sama saja, nggak ada perbedaannya antara kaya dan nggak mampu.


"Ini anak mana lagi?"


"Kayak bukan anak ku ini, tukang kelayapan mana. Kek kelelawar aja," ucap Angga membuka pintu keluar dan di sana sudah ditunggu beberapa wartawan.


Angga menghela napas kasar, "Kenapa nggak ada yang lain aja sih." ia lagi malas bertemu sebenarnya apalagi kalau itu anak menunggu yang pasti membuat dirinya semakin dijauhi.


"Pak.... Maaf boleh kita wawancara?"


"Nggak saya lagi cari anak saya, bentar! Karena saya tidak punya waktu, besok kalian bisa tanyakan ke kantor langsung. Jangan ke rumah!" ucapnya menanti kepada beberapa orang yang mengerumuni Angga.


Angga pun menghubungi beberapa orang yang menjemput dirinya untuk ke sini segera.


Menolong bahaya dari maut soalnya.


Kadang-kadang juga aneh si wartawannya, nggak aneh ya nggak nyambung pertanyaannya. Jika tidak dijawab maka akan membuat berita tersendiri bagi khusus Angga saking nggak bisa ditebak harus bayar.


Jadi untung buat mereka.


"Gimana ini?"


Angga segera pergi dari kerumunan itu, ia tak sanggup melihat orang-orang yang berlomba untuk pergi ke kantor dan meminta foto serta tandatangan.


Ia pun sedikit berlari menuju keluar dan melihat bahwa pengawalnya sudah menunggu di luar.


Angga merubah mimik bibirnya yang sedikit ketakutan tadi, karena ia tadi melipir hampir saja ketemu sama fansnya dan ia memilih memotong jalan.


Ia pun menghembuskan napasnya yang sedikit tersengal.


"Gimana sih kalian ini bukannya nunggu di sana kok di sini!" marah Angga yang tampak pias wajahnya, ia meninggalkan kopernya untuk dibawa oleh pengawalnya.


"Gimana dengan anak saya?" suaranya ia rendahkan dan melihat pengawalnya saling diam, artinya tidak menemukan suatu apapun kali ini.


"Apa kalian itu tidak dibayar? Ini kerjaan kalian 'kan yang mengizinkan Adela buat menjemput saya?" berang Angga, wajahnya tampak pias melihat para pengawalnya yang tak becus menjaga anak darinya.


...***...


Lelaki itu kini kelimpungan mendapatkan kabar jika perempuan yang pernah kabarnya mendekati dirinya itu hilang.


Gibran.


Dia memasuki ruangan ibunya dan melihat di sana ibunya sedang tertawa menatap televisi yang menggantung di sana.


Ia menerbitkan senyumnya, "Bu..." panggil Gibran mendekati ibunya yang ada di ranjang dan infus yang menempel di tangan kirinya.

__ADS_1


Ibunya merespon, Arina merentangkan tangannya lebar untuk meminta anak sulungnya bisa memeluk ibunya sendiri.


"Iya, nak." jawab ibu sembari mengelus punggung Gibran.


Memberikan kehangatan, seharusnya Gibran bisa menerima lapang dada calon bayi yang ada di perut ibunya.


Tapi, mengingat itu Gibran memilih untuk melepaskan pelan pelukan hangat itu dan bergeser di samping ranjang yang di tempati oleh ibunya.


Arina mengernyit, ia tahu jika Gibran tidak akan pernah seperti dulu lagi.


Gibran sekarang ya berubah.


Arina tetap tersenyum, tidak merubah sorot matanya untuk marah dan harus memaksa Gibran untuk menerima adeknya sendiri.


Tidak.


Pernyataan itu memang di jauh lubuk hatinya tak pernah hadir.


Tapi, entah mengapa ia ingin sekali merubah hati anak sulungnya ini untuk berubah.


"Bu, aku keluar dulu ya. Boleh nggak?" tanya Gibran tanpa memerhatikan ekspresi kekhawatirannya terhadap ibunya.


Takut jika ibunya mencurigai dirinya.


Ibunya tetap tersenyum, reflek tangan ibunya meraih tangan anak sulungnya itu.


Kedua mata perempuan itu tampak sedikit memiring, "Mau keluar, kenapa?" tanya ibunya sambil mengelus jari-jari Gibran.


"Anu, urusan bentar bu." balas Gibran menggaruk tengkuknya.


"Kamu nanti bohong, kalau bentar ya bentar nggak lama. Ibu izinin kalau bentar!" ucap Arina pada anaknya itu dengan satu syarat kalau lama berarti nggak tahu lagi nanti ke depannya.


Bakal dicurigain banyak.


"Suer bakal bentar kok." yakin jika putranya ini bakal bentar dan perempuan itu menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.


"Makasih bu," katanya sambil mencium pipi ibunya, beralih kini lelaki itu melangkah keluar dari ruangan ibunya.


Selamat.


Ia bisa bernapas lega sekarang.


Dalam perjalanannya, sepanjang jalan banyak orang yang berlalu lalang mereport rumah sakit ini.


Ia semakin tidak memperdulikan yang terpenting sekarang si perempuan itu nggak bakal hilang kalau udah dicari.


"Maaf," ucapnya sambil berjalan menerobos banyaknya reporter yang membawa kamera serta beberapa alat lagi.


Setelah melewati orang-orang tersebut, Gibran mencari taksi yang dia pesan lewat aplikasi tadi.


Benar saja ada di sekitar luar kawasan rumah sakit, baru saja sampai mobil taksi itu.


Ia menarik pintu taksi dan menumpangi nya.


"Pak segera ke bandara ya!"


"Baik mas," jawab sang sopir menjalankan mobilnya.


Taksi itu berjalan hingga membelah kota Jakarta dan Gibran menghubungi papahnya, orang yang menolongnya selama ini.


Apakah sudah ketemu belum.


"Siapa mas yang hilang?" tanya sopir taksinya dengan menatap jalanan yang begitu lengang jadi perjalanan kali ini lancar tanpa ada kendala.


Selama perjalanan memang Gibran tak membuka suaranya, maka dari itu biar nggak canggung amat beberapa menit lagi tiba di bandara alangkah baiknya sopir taksi itu menanyakan tentang ini karena sejak tadi Gibran menelepon seseorang, bertanya tentang 'sudah ketemu belum?'.


Mana itu agak suaranya meninggi pula.

__ADS_1


"Maaf Pak, kalau mengganggu bapak jika suara saya sedikit marah tadi."


"Oh iya, saya agak penasaran tadinya. Tapi, baiknya saya menanyakan." jawab sopirnya memutar stir mobilnya.


Gibran mengangguk, "Seseorang perempuan yang membantu saya. Tapi, ini benar-benar berharga bagi saya karena orang tuanya sudah saya anggap sebagai orang tua saya sendiri." jelas Gibran menatap jalanan dan bangunan yang menjulang tinggi itu.


Di Jakarta hal biasa yang menjadi pemandangan yaitu bangunan menjulang tinggi dan ratusan kendaraan yang melintasi jalanan tiap harinya.


"Oke mas, ya saya tahu itu. Pastinya tahu perasaannya,"


"Iya Pak, bapak kerja beneran di sini apa cuman kerja sampingan doang?" Ia mengalihkan supaya tak menjadi dingin dan datar di sepanjang jalanan.


"Hm, awalnya saya maunya sampingan tapi entah kenapa sekarang jadi utamanya. Nyaman aja sekalian cari udara tiap hari nggak di kamar aja," Bapak itu memandang senyum dan Gibran mengangguk.


Saat ini sudah tiba di bandara dengan berbagai taksi berlalu lalang menjemput ataupun mengantarkan beberapa orang yang akan pulang dan berangkat.


Gibran memilih untuk fokus ke pandangannya sepanjang jalan melihat siapa tahu anak itu menjemput di bagian mana, kan juga nggak tahu.


"Lah, bukannya itu--


"Pak, berhenti!" suruhnya sambil menggumamkan kata-kata dan sopir itu memberhentikan kendaraan roda empat itu di depan suatu tempat yang berada di kawasan bandara.


"Ya, mas kalau mau pesan saya lagi ya... Saya bakal siap jemput kapan pun."


"Baik pak," jawabnya cepat membuka pintu taksi sebelum perempuan itu menghilang dari matanya.


Setelah itu tergesa dia melangkah cepat menuju perempuan itu sedang duduk menunggu seseorang.


Sungguh benar jika orang itu menunggu orang yang berada di depan sana, kok ya sempat nya menunggu di sini.


"Haiii..." sapa Gibran dengan menunjukkan senyum manisnya dan melunturkan rasa kekhawatirannya yang masih berputar-putar sejak saat ini.


"Eh," kagetnya sambil memegang handphonenya dan menatap dari bawah ke atas.


"Lah, Gibran..." sapanya dan tersenyum lebar.


"Kamu kok di sini?" sambungnya sambil bertanya, Gibran memutar bola matanya malas.


"Kok lupa sih, kamu itu mau jemput papah 'kan? Kok di sini," tutur Gibran menggunakan nada lembut dilembutkan.


Saking sabarnya mendidih di kepala serasa pecah, karena was-was dengan perempuan ini jika diculik 'kan nggak lucu bakal kebakaran itu lelaki paruh baya.


"Heh, kok tahu sih." elak perempuan itu yang sudah berpendidikan belum tentu pintar juga ya, sampai segitunya lupa dan masih keras kepala lagi kalau diberitahu.


"Iye." malas Gibran mencebikkan bibirnya.


Perempuan itu gemas, mencubit tangan Gibran dan Gibran melebarkan matanya.


"Udah mau ditolong kok malah menjadi," cibir Gibran dan perempuan itu tertawa kecil.


"Iya... iya,"


Dan mereka berdua akhirnya tak sadar bergandengan tangan dan menjemput papah dari perempuan itu.


---


Gimana ncing?


Sehat semuanya?


wkwk salam sehat semua😌❤


yok lah baca sampe selesai ceritanya 😭


Hehehe ikutin terus jangan lupa follow @dindafitriani0911


IG Bintang-Din

__ADS_1


🙏 makasih buat yang udah mampir 😂


__ADS_2