
Setelah hari bertemu dengan putranya, ia tadi sempat berpesan kepada putranya untuk tidak mengambil pusing mengenai pekerjaannya yang menumpuk itu sebab pekerjaan yang menumpuk lama kelamaan akan selesai jika dikerjakan dengan baik tanpa tergesa-gesa.
Namun ada yang salah dalam hidup Arina, mungkin kebanyakan orang jika sudah mepet deadline itu tidak bisa diganggu gugat dan yang namanya tugas harus dikerjakan.
Oke, setelah putranya mengantarkan dirinya pergi ke perusahaan papahnya. Ia menginginkan untuk putranya menenangkan pikiran dan jiwanya.
Setelah itu hanya diangguki oleh Gibran tapi tidak tahu mengenai dilakukannya.
Tapi seingat Arina, jika ia memerintah bukan berarti harus dilakukan ta?
Ingat Gibran itu anak berbakti.
Setelah itu Arina pergi ke ruangan papahnya, ia melihat banyak karyawan karyawati yang memandangnya rendah dan seolah dirinya itu merasa paling kotor sendiri, memang kantor ini tempatnya orang ajang mereview orang kali ya?
Ia akan bertanya kepada papahnya nanti.
Dan ia melangkah menuju ke lift, untuk menuju ke ruangan papahnya harus menggunakan lift jika tidak yang ada naik tangga sampai ke atas napasnya sudah tidak tertolong lagi.
Yang ada sudah di ambang keujian dan kesadaran jika memang itu salah.
“Hm, ini tunggunya harus lama begini ya?” pertanyaan yang ada di benaknya ingin ia tanyakan kepada orang yang sama-sama menunggu lift turun kembali dan setelah ia lihat-lihat seragamnya hampir sama dengan orang yang ada di lobby mengamatinya dari bawah hingga atas.
Ia menggelengkan kepalanya, ia harus berpikir jika tidak semua orang akan berperilaku yang sama.
Pada akhirnya lift turun dan Arina bersama orang itu naik bersama.
Arina hanya tersenyum, ia bisa saja marah kepada orang itu yang tidak memperdulikan keberadaannya, mungkin dari sini lah sisi positif yang ia dapatkan.
Tidak banyak bicara cukup diam dan tahu!
Oke, sekali dua kali ia memahami bagaimana karakter seseorang.
Perempuan itu lantas memainkan tasnya dan menatap orang yang ada dihadapannya sambil tersenyum-senyum tidak jelas.
“Anda ini, kenapa?” tanyanya mengeluarkan suara dingin serta datar dan Arina terkejut bukan main ketika dirinya tertangkap basah mengamati orang yang satu lift dengannya ini, sama-sama perempuan memang tapi ini perempuan kek tidak bisa dideskripsikan lagi.
Kayaknya orangnya galak.
Arina menggelengkan kepalanya, membayangkan saja sudah ngeri.
“Tidak apa-apa,” jawabnya terbata-bata. Karena campur panas dingin dan setelah itu perempuan itu kembali ke dunianya tanpa mengidahkan kegugupan dan ketakutan Arina yang meradang di dalam tubuh.
Sontak saat lift terbuka, Arina cepat-cepat keluar dengan langkah tergesa sampai perempuan tadi hanya menatapnya datar.
Perempuan itu dengan sengaja menjauh segera karena ia sudah tidak biasa menatap orang-orang yang dinginnya luar biasa seperti kutub es utara.
Tidak ada yang bisa mengalahkan dinginnya AC 9 AC yang terpasang di satu ruangan dengan derajat minimal 9 derajat, bagaimana itu?
Sudah tidak kalah dinginnya sama dengan ia harus mati kaku berdiri.
***
Selesai mencuci mukanya dari bayangan perempuan tadi, ia kembali ke ruangan papahnya.
__ADS_1
Menunggu terlalu lama tidak baik menurutnya, alangkah baiknya menghampiri papahnya di ruang meeting yang ada di lantai bawah setelah lantai ruang papahnya ini.
Ia lalu melangkah keluar membawa tas serta handphone yang ia bawa di telapak tangannya itu.
“Tapi apa boleh? Ah, nggak ngerti juga. Papah palingan nggak akan komen banyak mungkin hanya bernasihat,” ucap Arina dengan menutup pintu ruangan papahnya.
Ia tidak mau disangka maling ataupun perempuan yang menuruti nafsu papahnya sendiri, padahal dia sendiri itu adalah putri dari seorang CEO yang layaknya dihormati oleh mereka tapi seperti perempuan rendahan.
Astagfirullahalazim.
Bertekad untuk nekat dan pada akhirnya berujung masuk ke dalam ruangan meeting papahnya menjadi bahan sorotan orang-orang yang sedang duduk mengamati papahnya yang sama-sama masuk ke dalam ruangan.
Ternyata ia sama papahnya waktu datang sungguh berbarengan, ia tidak menyangka. Tapi ada rasa ketakutan yang melanda di hatinya, siapa tahu papahnya akan mengusir namun dari sorot wajahnya yang tegas di balik itu ada kelembutan di hatinya yang dalam untuk dirinya, sebagai putri dari papahnya harusnya disayang sstelah mamahnya yang pasti.
Ia perempuan kedua yang dicintai dalam kehidupan papahnya.
Emang the best papahnya.
***
Sudah sejak beberapa lama, ia menghidupi seorang anak pertama dan suaminya di kala itu ia memiliki pekerjaan di saat seperti ini ia hanya memandang orang-orang yang sedang memandang laptop.
Mungkin menjadi hal tabu bagi zaman generasi z sekarang, sudah tidak lagi ada yang bersusah payah untuk memulai dari awal kalang kabut mencari informasi mengenai pekerjaan yang harus dikerjakan sesuai deadline.
Arina kini tengah menatap papahnya yang sedang mempresentasikan memimpin jalannya rapat, karena ia juga penasaran pada akhirnya ia meminta izin memohon untuk masuk ke ruang rapat walau tidak dikenal oleh siapapun itu.
Perempuan itu tetap percaya jika orang-orang teman maupun pesaing bisnis papahnya tidak akan berani menginjak harga dirinya.
Terutama dirinya ini sebagai anak pemilik dari perusahaan ini, namun tidak siapa sangka malah mendapatkan sorotan kurang lebih di sana dan perempuan itu menjadi risih sendiri ketika ditatap tidak jelas oleh rekan kerja papahnya.
Melihat bagaimana seorang papahnya sukses di atas usahanya dengan perintisan di mulai dari nol tentunya tidak main-main dari perjuangan papahnya yang membuat kembang pesat antara perusahaan beserta ekonomi yang sudah memang tidak diragukan lagi.
“Oke, terima kasih yang sudah hadir. Kita tutup rapat hari ini, buat teman-teman dari pak direktur bisa keluar sekarang.” Ucap sekretaris dari papahnya yang mewakili dan papahnya menatap dirinya sekarang dengan anteng dan adem hawanya.
Tidak ada raut-raut marah atau kesal dituntut bisa sempurna rapatnya.
Lelaki tua itu tetap tersenyum kembali ke mode awal, “Makasih buat putri cantik papah, udah nemenin papah sampai rela memperhatikan.” Goda lelaki itu menghampiri putrinya yang sedang duduk manis terpisah oleh orang-orang yang rapat tadi, lelaki itu yang meminta dan pada akhirnya orang kantor nyerah, jika direktur perusahaan sudah berkata maka jangan sekali-kali mengucap tidak.
Bersyukur untuk tidak dipecat juga karena menolak.
“Gimana?” tanya papahnya dengan menaikkan sudut alisnya dan Arina merasa ada yang aneh dengan papahnya ini, ia hanya mengerutkan keningnya serta menggelengkan kepala.
“Apanya? Papah itu udah tua seharusnya inget umur, buat cari uang banyak itu buat apa coba? Siapa yang mau meneruskan bisnis papah ini kalau bukan papah sendiri yang kelola, kakak juga sudah memiliki universitas dan perusahaan pastinya tidak bisa mengurus ini perusahaan.” Omel Arina yang tak henti-hentinya menasehati papahnya agar bisa lebih leluasa untuk istirahat daripada kerja-kerja yang ujung-ujungnya pewarisnya siapa nanti.
“Ya kamu nak,”
Walau mereka menikah di usia muda, tapi tetap saja mereka sudah tua sudah memasuki umuran enam puluh lima yang seharusnya beristirahat di rumah menikmati masa tuanya dengan baik sebelum ajal menjemput.
Ia juga heran sama papahnya sendiri, yang tidak memiliki wajah tua-tuanya, entah itu apa yang digunakan supaya tidak terlihat tua.
“Aku?” tanya Arina sambil menunjuk dirinya.
Ia tersenyum kecut sambil menunjukkan cengirannya.
__ADS_1
“Emang berbakat, pah?” sambung perempuan itu yang mau mengajak ribut papahnya sendiri, orang tua itu menghela napas lantas membereskan berkas-berkas setelah rapat tadi.
“Ya kalau masalah itu tanyakan saja pada dirimu,” skakmat ia menelan salivanya sendiri.
Rahangnya kendap-kendup.
“Terus?”
“Astagfirullahalazim nak, kamu dari tadi nanya terus bikin papah pusing aja.” Jawab papahnya yang bangkit berdiri dari kursi yang ia duduki.
Arina hanya tersenyum lebar, “Iya deh. Maaf,” lalu Arina mendekat dan memeluk tubuh gagah papahnya itu.
Ia sedikit kesulitan karena memang tingginya tidak bisa menyamai tinggi papahnya, tinggi papahnya saja di luar kapasitas otaknya, nggak ngotak.
Papahnya entah olahraga apa dari sampai dulu ke sekarang tetap sehat, “Pah nunduk dikit lah, Arina capek pah.” Ucap Arina.
Lelaki tua itu pada akhirnya menyeret tangan Arina untuk berjalan mengikutinya.
Arina yang terpontang-panting jelas tidak bisa menyamai langkah papahnya yang panjang itu, sekali melangkah dua langkah kalau kaki Arina.
Jadi ya mau gimana ia terseret, terombang-ambing layaknya kapal yang ada di laut dibawa oleh arah angin.
Tiba-tiba tidak terasa sampai lobby bawah perusahaan, ia ketar-ketir sendiri melihat banyaknya karyawan yang sedang berkumpul melihat dirinya sampai ia menjadi bahan perbincangan hangat untuk mereka.
“Eh ada si j*lang kali ya itu? Sampai-sampai gitu, apa pak bos p*dofil kali ya?” tanya salah satu orang yang menusuk hati Arina mendengarkannya namun papahnya tidak berhenti dan tetap menyeretnya sampai keluar perusahaan.
Arina mengepalkan tangannya sampai buku-buku tangannya memutih. Rasanya hampir emosi ingin mengucapkan umpatan kasar, tapi mengingat dirinya sedang mengandung yang pasti ia lebih bijak untuk berbicara.
Di mana sekarang yang dituju adalah parkiran, baseman mobil papahnya.
Ia kaget, sontak melihat mobil papahnya.
Ganti lagi?
“Pah,” panggil Arina yang ada di belakang tubuh papahnya dan lelaki tua itu lalu membalikkan tubuhnya.
Tidak lama dari perempuan itu memanggil lelaki tua itu lantas lelaki itu memeluk tubuh kecil putrinya yang sudah sama-sama berumur, sebagai orang tua juga.
“Maaf tadi, masalah karyawati yang ngomongin anak papah ini. Maaf, nanti papah akan mengurus mereka semua.” Ucap papahnya tiba-tiba dengan begitu Arina kaget melihat perubahan drastis papahnya yang memeluk dirinya dan menangis.
Memang tangisan itu tidak bersuara tapi sakit di hati, rasanya ditusuk belati tajam.
Dada berasa paling sakit di antara seluruh tubuh. Karena setiap orang di dunia mesti ada yang merasakan seperti itu.
“Pah, nggak kok Arina nggak mempermasalahkan itu tapi papah Arina mau tahu itu mobil, kenapa baru lagi?” tanya Arina heran mengalihkan pembicaraan tanpa ingin membawa persoalan yang papahnya bicarakan sekarang ini.
Papahnya lalu melepaskan pelukan itu, merasa harga dirinya turun, lelaki itu mengusap bekas air matanya kasar tanpa mengidahkan tatapan putrinya yang memandang lucu dirinya.
“Udah tua sering nangis ya? Apa keinget dosa yang udah menggunung?” tanya Arina yang menggoda papahnya dan lelaki tua itu menatap tidak suka ke Arina.
**Oke?
Ya malas see you besok lagi ya:)
__ADS_1
Maaf kemarin nggak sempet up❤**