
Untuk sekedar bertanya hari ini, lelaki itu lelah bolak-balik ke ruangan dokter yang ia tuju sampai papahnya berkata, ‘jika tidak ada keluhan sakit lagi, kenapa kamu repot-repot ke rumah sakit. Hanya buang-buang duit'.
Laki-laki itu lantas mengangkat kakinya untuk ke ruangan yang dingin itu yang bersuhu dingin. Ia selepas itu, akan pergi dari sini jauh-jauh. Sudah muak rasanya ingin kembali ke rumah namun ia sadar jika di rumah ia tidak bisa diperlakukan baik seperti ini.
“Bagaimana dokter, apakah sudah bisa dibawa pulang?” sayup-sayup ia mendengar sekilas mengenai pembicaraan dua orang yang sedang sama-sama membahas pasien mana.
Mungkin saja pasien yang memang dibutuhkan kondisi dua orang dokter yang menanganinya.
“Selamat pagi, dokter.” Ia menyapa dengan senyum kudanya. Tanpa berdosanya, ia masuk tanpa permisi.
Kedua dokter itu lantas menolehkan kepalanya, terfokus kepada Arshal yang masuk mendadak tanpa memberitahu.
Dokter yang satunya itu tersenyum, “Saya keluar dulu, nanti kita bahas lagi.” Ucap dokter itu dengan beranjak berdiri dari kursi dan dokter yang masih duduk itu hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
“Ya, silakan duduk mas!” suruh dokternya mempersilahkan dengan senyuman khasnya.
Arshal membalas dengan cengiran, “Maaf ya pak, tadi kedengaran dikit.” Dengan memperagakan tangannya dan dokter hanya membalas senyuman tipis.
“Keluhan apa, pak?” to the point langsung dokter itu.
Lalu Arshal mengubah posisi duduknya, “Kata pak dokter disuruh buat ke sini.” Jawab lelaki itu apa adanya, Arshal jika tidak disuruh mana mungkin mau dia.
“Baiklah, mas Arshal ya?” dari tampang-tampangnya ini dokter sedikit lupa mengenai wajah pasiennya, ya mungkin saking banyak pasien yang konsultasi maupun yang dia periksa di sini, lupa.
Arshal menganggukkan kepala pelan, “Ya sudah silakan mas Arshal ambil obat, ini resepnya.” Ucap dokter itu dengan memberikan secarik kertas yang berisikan aksara-aksara huruf yang tidak bisa dibaca oleh orang-orang yang tidak ada sangkut pautnya dengan apoteker.
Arshal lantas beranjak berdiri dari duduknya, dikira ngapa. Soalnya ia juga mau kejutan kali, tidak seperti ini diperintahkan ke sini hanya demi secarik kertas.
Membuang waktunya!
“Malas sebenarnya ke sini, tapi demi bapak saya menghormati anda selama anda menjadi dokter.” Ucapnya serius tanpa memandang bagaimana dokter itu yang sedang mencerna sambil menggenggam tangannya sampai memutih.
Eh malah ngerendahin seolah, jadi ya mau gimana lagi.
Marah kan.
Sudah mencari pendidikan mahal, tapi seenaknya ada orang yang meremehkan dokter.
Padahal pekerjaan yang mulia.
__ADS_1
Jika tidak ada dokter mungkin di dunia ini tidak ada yang sakit.
Lelaki itu memandang datar dan berjalan pergi meninggalkan dokter itu yang menahan gejolak marahnya.
Rasanya ingin mengoperasi mulut pasiennya dengan pisau beserta gunting bedah yang akan menerjang siapapun itu korban dokter tersebut, ruang operasi menunggumu.
Dengan senyuman tipis ia membayangkan.
Namun, hanya sia-sia semua akan terbongkar pada waktunya.
Ia yang akan menjadi tersangkanya nanti.
Sebab tidak ada yang mengetahui hal ini, tidak ada bukti untuk menjelaskan.
Ia memendam rasa itu, ia akan menghindari pasien yang songongnya minta ampun seperti itu.
Seolah tidak membutuhkan karya seorang dokter saja.
Dengan jas kebanggaannya, ia lalu memakainya dan menggulungnya sampai siku, pergi dari ruangannya salah satu cara menghindari kemarahannya yang siap meledak kapan saja.
Arshal dengan mukanya yang dingin plus datar itu berjalan mengarah ke ruang apotek sambil menggumam kata-kata yang entah ngelantur, sebab ia sudah lelah untuk berpikir jadi seolah seperti orang gila yang mengomong sendiri.
“Iya, ada yang bisa dibantu?” Tanya mbaknya yang berjaga di apotek itu. Arshal mencebikkan bibirnya.
“Itu!” tunjuknya.
Melalui kertas karya dokter itu, ia sulit-sulit melangkahkan kaki ke sini tidak dihiraukan sama sekali sama saja ia berjuang bukan demi untuk dirinya melainkan suster yang berjaga.
“Baik ditunggu!”
Setelah itu, lelaki itu lantas duduk di kursi yang sudah disiapkan rumah sakit untuk menunggu antrean obat di apotek dan ia sambil menengok kanan kirinya supaya tidak ada orang yang mengetahui, ia mengeluarkan kotak yang berisi rokok serta korek api yang siap untuk menyalakan apinya.
Siapa tahu kan dilarang!
Sebab bagi larangan itu perintah bukan?
Kalau menurut negeri wakanda ya begitu, +62 nggak ada yang ngalahin juga.
***
__ADS_1
Tepat siang harinya, seseorang perempuan melangkahkan kakinya ke rumah yang tak lain dari kata megah dan besar itu.
Ia sampai terkagum-kagum melihat keindahan rumah papahnya yang baru ini, setelah beberapa tahun proyek rumah ini berjalan pada akhirnya membuahkan hasil dari pekerjaan kuli bangunannya.
Serta uang yang sudah dikeluarkan meski banyak juga.
Saat ini perempuan itu berdiri di depan pintu, ada bodyguard yang siap menyambutnya di depan pintu.
Membuka lebar kedua pintu itu dan merasa Arina sendiri yang diistimewakan di sini.
Papahnya saja biasa-biasa saja dari wajahnya, cuek tanpa ingin membalas.
Ia lalu balik ke dirinya, membalas setiap senyuman yang hadir di sana.
Tiba-tiba ia mendengarkan riuh ricuh akibat dari dua curut yang berlarian itu.
Ia kaget melihat keberadaan dua curut itu yang asing di matanya.
Rumah papah Arina terasa ramai dengan suara teriakan anak kecil dua orang itu yang sedang berebut mainan, dua anak itu sekarang sudah diklaim sebagai cucu dari papah Arina, entah dari mana lelaki tua itu mendapatkan anak kecil itu nanti bisa saja dipukulin orang gara-gara menculik anak orang.
Arina saja sudah pusing mendengarkan teriakannya, ia menghampiri kedua anak itu. Ia akan menasehatinya baik-baik, perempuan itu lalu duduk di antara keduanya lantas keduanya saling memandangi.
Perempuan itu setelah pulang dari rumah sakit memang diajak lelaki tua yang tidak lain dari papahnya itu ke rumah ini, ia juga tidak tahu menahu dan sementara kakaknya juga tidak mengetahui jika sekarang Arina bisa dipulangkan dari rumah sakit.
Bisa-bisa jika tidak dibicarakan oleh kakaknya yang ada ngamuk-ngamuk itu laki-laki yang sudah menuju ke rumah sakit bersama putranya yang tampan itu.
Perempuan itu tidak bisa membayangkan, mengingat kedua wajah comel-comel itu lalu tersenyum lebar.
Kembali ke dua curut yang terduduk di atas karpet dengan wajah babyfacenya itu dan Arina terfokuskan akan hal kakaknya, jadi salah tingkah sendiri melihat tingkah kelucuan mereka berdua.
“Hei...” sapa Arina dengan menepuk keduanya dari belakang dan kedua curut itu langsung berdiri dengan cepat berlari menuju menghampiri kaki panjang papah Arina.
Lelaki itu yang hampir saja lalai, dengan cepat menangkap handphone yang keluaran terbaru itu dengan gesit sebelum terjatuh ke lantai marmer itu.
Mata laki-laki itu lantas menatap tajam ke dua curut anak itu yang tidak henti-hentinya menjahili setiap orang di sini, jika bekerja dengannya mungkin harus memiliki stok kesabaran yang banyak. Jangan kek kesabarannya setipis tisu yang ada lama-lama mengundurkan diri tanpa disuruh.
Lantas lelaki itu menangkap keduanya, merangkul keduanya dengan menyembunyikan handphonenya di balik saku celananya, daripada diketahui kedua curut ini yang ada jadi bahan rebutan.
“Adekkk...” teriak lelaki tua itu sudah beruban putih saja sok sok an mau miara kedua curut yang menyusahkan ini.
__ADS_1
Arina memang mengarungi jempol kepada papahnya, mungkin saja bentar lagi akan balik ke luar negeri lagi.