Luka Darimu

Luka Darimu
39. Bimbingan dari ibunya


__ADS_3

**Haiii...


Apa kabar**?


***


Gibran—putranya sekarang ini sedang mengunjunginya termasuk papah dan mamah mertuanya yang masuk ke dalam ruangannya. Ia juga sekarang sudah dipantau ketat lagi sama papahnya yang menemui Arina kabur dari ruangannya.


Ia menatap datar ibunya, ia heran dengan ibunya yang harusnya istirahat di sini seperti biasa malah keluyuran tidak jelas dan berujung terluka begini, terus yang salah siapa apalagi dia menemukan ibunya sedang mengobrol dengan ayahnya dan tangan ibunya yang terbungkus oleh lain, ya begini hasil dari ulah mereka berdua tanpa memikirkan bagaimana nasib calon anak yang dikandung oleh ibunya, kan kasian.


Sudah ia bersyukur untuk mewaspadai agar dari jauh-jauh hari mereka memikirkan bagaimana jika memiliki anak kembali, tapi mereka tetap saja menerjang walau rumah tangga mereka sudah di ujung perceraian.


“Nak, kamu itu kenapa harus pakai acara keluar segala?” tanya kakek—laki-laki beruban putih itu sedang menanyai ibunya yang tidak lain dari papah ibunya itu.


Ia lalu duduk di sebelah kakeknya, papah dari ayahnya dan ia melihat mereka yang fokus dengan satu titik pemandangan yaitu menantu mereka bersama besan mereka.


Jelas mungkin ya malu jika menurut Gibran.


Ekspresi mereka sebenarnya tidak bisa diartikan namun Gibran mencoba untuk memahami, diam bergelut dengan pikirannya masing-masing.


Ia mau keluar dari sini, tapi melihat ibunya yang dalam bahaya bisa saja ibunya melukai diri sendiri dan tepat kakeknya keluar dari ruangan, anak buah kakeknya yang terlena dengan kata-kata ibunya pasti tidak salah lagi ibunya akan lukanya menambah.


“Iya pah, udah lah Arin kan nggak papa....” ucap Arina dengan melepaskan tangan papahnya yang menempel di bahunya, ia itu risih dan dengan tatapan mertuanya yang tidak biasa itu, ia menghempaskan tangan papahnya ya kan nggak enak.


Menghargai tamu yang sudah mengunjunginya memiliki kemauan untuk menjenguk dirinya yang tidak sakit apa-apa, hanya tingkah laku papahnya yang membuat Arina harus dirawat di sini beberapa hari. Perempuan itu tak habis pikir dengan papahnya, masih saja mengkhawatirkan dirinya yang jelas-jelas dokter sudah menjelaskan berkepanjangan sampai ada lanjutannya bisa ditulis melalui cerita, diabadikan pembicaraannya melalui isi novel.


“Nak,” ia mengalihkan supaya tidak terus ditatap lama-lama oleh papahnya dan papahnya lalu berpindah posisi.


“Gih kamu ke ibu,” ucap kakeknya memberi jalan untuknya, walau dirinya sudah tua untuk umur tapi sama-sama masih kuat untuk menjalani bagaimana kerasnya dunia bisnis yang hanya saling menyaingi sementara ia juga dari muda harus belajar banyak tentang bisnis bersama kedua kakeknya ini yang sudah berkecimpung di dunia bisnis selama berpuluhan tahun tentunya.


“Makasih kek,” ia menundukkan kepalanya ke bawah dan ia lalu mendekati ibunya.


Menyalami tangan ibunya, ibunya pun menerima tangan putranya.


“Apa kabar, bu?”

__ADS_1


“Seperti yang kamu lihat,” jawab ibunya dengan singkat.


Ia lalu menyunggingkan senyumnya paksa dan ia menatap datar ke arah perut ibunya yang lama kelamaan bertambah usia di kandungan semakin membuncit.


Arina yang menangkap hal itu sontak mengambil tangan Gibran dan diletakkannya di perutnya.


“Pegang, ini adekmu!” Arina tetap bisa tersenyum walau sakit ia bisa menyempatkan senyumannya untuk tidak memudar bagaimanapun itu.


Gibran hanya memegang tanpa untuk mengelus atau apa, setelah itu ia menarik tangannya ke posisi semula.


“Ya, udah makan kamu?” tanya ibunya mengalihkan, bagaimanapun bukan dunia calon anaknya yang ada di perut. Ia juga harus menjaga perasaan seorang putranya yang tumbuh makin dewasa ini dan bertumbuh dengan baik.


Ia harus membagi rasa kasih sayangnya untuk kedua anaknya termasuk yang ada di dunianya dan di perutnya.


Gibran menganggukkan kepalanya kecil, tidak ada niatan untuk membalas.


“Kamu kenapa nak? Ada yang salah sama ibu, kalau ada ibu minta maaf.” Khawatir ibunya, dari raut wajahnya saja sudah kebingungan melihat putranya sejak tadi tidak ada niatan untuk membalas setiap katanya.


“Bu, nggak kok.” Ia membalas dengan senyuman dan mengelus pipi ibunya, tangannya tergerak memeluk ibunya.


Selama ini sudah dikenal dia itu anak semata wayang, namun setelah beberapa tahun ibunya sama sekali tidak menginginkan anak lagi mengingat Gibran itu sudah akan beranjak dewasa dan remaja di kala itu, tapi seingat dia katanya hamil ini ya kecelakaan antara kecerobohan keduanya.


Yang satu mabuk, satunya lagi perempuan dipaksa untuk menerima apapun itu konsekuensi yang akan terjadi dan inilah yang terjadi di luar dugaan Gibran tenyata ibunya garis merah dua, menandakan ibunya akan berbadan dua dan kemungkinan dia akan menjadi calon kakak.


“Kangen ya, nak?”


“Iya bu, kangen...” cicitnya tanpa merasakan ada kehadiran tiga orang yang hanya memerhatikan mereka berdua.


“Kalian berdua di sini dulu, kakek mau keluar sama kakekmu ini dan nenek.” Kakek dari papahnya Arina itu menggiring mereka berdua untuk keluar agar bisa lebih leluasa itu cucu satu satunya walau bentar lagi memang ia akan menyambut cucu baru lagi.


Dengan sepenuh hati ia akan menerima kehadiran cucunya meski di umurnya yang sudah bau tanah itu.


Gibran dan Arina menunggu sampai benar-benar punggung mereka menghilang dari pandangan mereka berdua, kini Gibran saling menatap ibunya.


“Ada apa kamu? Tiba-tiba ke sini, kok tahu kalau ibu ada di sini?” tanya beruntun ibunya yang tidak satu-satu terlebih dahulu menanyakannya.

__ADS_1


“Ya tahu bu, masa iya tiap kali aku seliweran lewat di depan kakek sama nenek mereka ngobrol aku nggak dengerin, kan yang ada aku pura-pura nggak tahu untuk masalah ini. Hm, bu...,”


“Ya apa?” Arina menampilkan senyumannya meski sakit rasanya itu tangan, tapi lama kelamaan rasa sakit itu terganti dengan cairan yang menetes di tangannya.


Rasanya dingin plus panas, tapi ia bisa menghalau rasa sakit itu.


“Ibu, ini aku menolak untuk melanjutkan pekerjaan kakek gimana menurut ibu?” tanya Gibran ingin meminta pendapat, memang selama ini belum pernah ia menemui ibunya sampai sekarang ia memiliki kesempatan itu, ia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang tidak lama tentunya.


Mungkin bisa saja nanti ada kendala mendadak.


Arina menarik tangan Gibran dan mengajak putranya untuk duduk di tepi hospital bed itu bersamanya. Dengan lembut, mengusap-usap rambut hitam yang lebat itu milik putranya.


Bukan hanya kenyamanan saja namun rasa kangen yang selama ini dia pendam menjadi terkubur dan dirasakan menjadi kebahagiaan.


“Siapa yang bilang kalau kamu tidak boleh menolak, ibu terserah kamu. Kamu yang ngejalanint tapi jika menurut ibu kamu tidak mampu sebaiknya jangan diambil.” Saran ibunya terakhir kata dengan mendukung putranya pula, keputusan yang terbaik apapun itu untuk Gibran adalah hal yang paling utama.


Kini, Gibran tertawa pelan mendengar perkataan ibunya, terkesan ibunya juga mendukung apa yang ia putuskan tapi ia tidak ingin mengecewakan jadinya dia menganggukkan kepala. “Jika kamu mau ya, kamu kerja tapi jangan terlalu diforsir seperti pembisnis macam kakek kamu yang tidak tahu dengan keluarga, baiknya kamu ambil pekerjaan yang ringan tapi tidak terlalu memakan waktu banyak gitu. Yang terpenting anak dan istri kamu itu dicukupi, tapi jika tidak kamu cukupi dengan gampangnya kamu menikahi wanita mending ibu bisa bilang i don't maried! Nooo, pokoknya tidak ada kata pernikahan yang ada hanya janji palsu yang artinya nazar, tetap saja nazar dosanya yang ditanggung sangatlah besar. Oke?” nasihat ibunya melanjutkan pembicaraan tadi, menjelaskan agar menambah wawasan beserta bimbingan bagaimana jadinya seorang suami.


Yang perannya akan semakin berat dan tidak ada yang namanya santai.


-


**Oke?


Gimana dengan kalian?


Ya ini kok tidak ada pembaca yang aktif ya, jadi bingung ini mau memilih yang mana. Ayok ya capaikan sampai target ya biar ramai ini novel Din.


bisa direkomendasikan lewat teman-temannya juga dan bisa mengajaknya...


Yok yok...


siapa tahu dapet apa gitu...


karena ya harusnya mencukupi ya gimana ini ditunda dulu ya🙏❤

__ADS_1


Nggak gitu, tapi nanti emang pada dasarnya ini ya harus mencukupi target supaya bisa diadain gift away❤**


__ADS_2