
Terlalu sibuk dengan pemikirannya, sampai dirinya sekarang diseret oleh kakak tingkatnya ini alias ketua BEM.
“Kamu ikut kakak!” ajak dirinya tanpa basa-basi terlebih dahulu, ia melototkan matanya dan rahangnya seakan jatuh dari tempat melihat perubahan dari kakak tingkatnya ini.
Apa-apaan.
Ia pun memberontak untuk dilepaskan namun yang ada ia malah mendapatkan tatapan tajam dari kakak tingkatnya itu dan kakak tingkatnya itu membawanya entah kemana, sampai jalannya saja tidak bisa menyamai langkah kakak tingkatnya itu.
“Maaf, gue belum ngomong apaan lo narik gitu aja.” Gibran memaksa untuk dilepas namun di kala kakak tingkatnya itu memasuki ruangan rektor, membuatnya sport jantung menatap ruangan ini yang tidak sembarangan orang masuk ke sini terutama harus izin terlebih dahulu.
“Heh! Dengerin!” dia tetap memaksa kakak tingkatnya itu yang semena-mena terhadapnya, sayang sekali tadi kesempatannya mau menahan bicaranya eh malah keceplosan langsung nyebut jika ketua BEM ini tidak ada kerjaan selain untuk memerintah.
Nah, sekarang kena getahnya kan.
Ia menggelengkan kepalanya ribut, mata tajam itu reflek melirik ke arah Gibran yang lantas membuang wajahnya ke arah lain supaya tidak bertemu dengan tatapan itu.
“Apa?” tanyanya menantang tapi tidak menatap orangnya.
Kakak tingkatnya itu lantas mendorong tubuh Gibran untuk duduk dipaksa dan melepaskan tangan itu dengan kasar, membuat Gibran yang tak siap itu terhuyung kejedot kursi yang ia akan tempati.
Ia meringis. Lalu menatap kakak tingkatnya, “Kejam tak berperasaan. Nggak punya perilaku terpuji,” cibir Gibran dengan memajukan bibirnya minta dicipok itu anak. Geram sekali, kakak tingkatnya pun menghela napas, merotasikan bola matanya.
“Siapa yang di sini kejam? Bukannya kamu sendiri yang bilang, berarti yang bicara mengakui ini.” Kilah kakak tingkatnya duduk di kursi single itu dan menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sambil berdecak kesal.
Lelah menunggu, pada akhirnya ini umpan tertangkap pula di kandangnya. Sementara Gibran tak fokus ia salah tingkah jadinya mau mengambil pulpen yang ada di bawah itu eh kepalanya terkantuk meja dan membuat kakak tingkatnya menatap tajam seraya ingin memarahi dirinya, justru Gibran mengaduh sakit dan memukul kecil meja yang terlapis kaca itu.
Kakak tingkatnya menggeleng.
“Sakit kali, aduh salah meja di sini. Mau ngambil ini, kok ya agak beda nasib.” Marahnya kecil dan sungguh membuat kakak tingkatnya itu menyunggingkan senyumannya tanpa terlihat di mata Gibran sendiri.
__ADS_1
Ini juga ulahnya sendiri kan.
Bukan ulah orang lain.
“Bukan salah meja, itu salah kamu sendiri!” kalimat itu reflek membuat Gibran tak terima, ia pun beranjak berdiri dan mendekati kakak tingkatnya, tidak memandang bulu yang ada dihadapannya itu siapa ia itu ingin kebenaran bukan menyalahkan dirinya.
“Lo, mau bela itu meja! Mending hidup sama meja itu!!” katanya yang ingin menonjok ketua BEM jabatannya, namun ia masih ingat ketika beberapa melangkah ke depan justru membuatnya tidak jadi untuk melakukan hal aksi tonjok menonjok.
“APAA?”
Gibran yang memandang permusuhan, sisi gelap dari Gibran.
“Hm, iya sayang mejanya kok.” Jawab kakak tingkatnya itu dengan santai tanpa memikirkan perasaan yang terluka berat karena gegara ucapan Gibran sendiri.
“Oh iya?” Gibran benar-benar merasakan kesal seolah dipermainkan, dengan mudah ia sebenarnya keluar tapi harus dengan bujukan yang halus sehingga orang itu akan memiliki daya pikat untuknya dan akhirnya menuruti kemauan Arshal.
Dan sementara dengan Arshal, laki-laki sampai frustasi niat hati ingin mencari Gibran tapi fakta yang ada Arshal menemukan bahwa satpam sudah berkeliling untuk mengunci satu persatu ruangan yang ada di kampus, sudah tidak lagi digunakan.
“Oh iya, ada apa pak?” tanya bapaknya yang tersenyum lebar.
Bapaknya sepertinya suka tersenyum.
“Maaf mau tanya, Gibran nya udah pulang belum ya, pak?” tanya Arshal dan bapak satpamnya lantas tertawa kecil, ia lupa jika tadi ingin memberitahu kepada laki-laki yang mencari Gibran ini. Saking banyak wajah jadinya mungkin agak pikun.
Raut wajah Arshal berubah melihat bapaknya seperti tertawa, jangan-jangan ini!
Ia mencurigai, “Pak, Gibran itu sudah pulang dari jam-jam awal. Mas Gibran itu sudah tidak ada lagi pelajaran yang akan dilakukan di sore hari, masa Gibran nggak ada jadwal buat sore, maaf ya pak. Lupa soalnya tadi mau bicarakan ini...” dan benar saja jawaban yang ada di benak kepalanya dan luntur sudah raut wajah Arshal yang ingin bertemu namun naasnya Gibran sudah pulang, jadi ia mau membahas ini kepada siapa.
Sudah satu hari utuh dirinya menunggu Gibran di sini, bukan berarti masih ada tersisa waktu untuk membutuhkan pencarian atas Arina dan ia bisa menanyakan tentang ibunya, bagaimana. Senang atau bahagia di kala dia tinggal bersama Gibran, yang memperlakukan ibunya seperti apa? Tapi, semuanya buat itu berubah menjadi tanda kutip pertanyaan.
__ADS_1
Kakinya ia seret beberapa meter menuju keluar dari area kampus, ia sudah tidak tahu lagi dan ber kata-kata untuk berpamitan saja sudah tak ia ungkapkan untuk bapaknya yang secara bengong menatap orang yang mencari Gibran.
Ia besok akan buat laporan jika bertemu dengan Gibran atau bisa jadi ini kan rapat para BEM universitas jadinya Gibran tidak pulang.
Oke salah lagi, ia mau memanggil keburu orang yang mencari Gibran itu keluar dan ia mengurungkan niatnya untuk tidak memanggil, kan ya agak ini irit sama omongan bukan lagi tidak tahu menahu.
Arshal dengan malas dia menaiki motornya dan menyalakan mesinnya, ia sudah tidak sabaran bahkan ia kesabarannya itu setipis tisu alangkah baiknya dari sejak tadi ia malah menunggu sampai pulang Gibran.
Emang nggak punya akhlak itu anak, bukannya apa-apa ditunggu itu mbok ya dihargai.
Nah, tapi salah juga dengan Arshal yang tidak memberikan informasi terlebih dahulu lebih tepatnya berkomunikasi untuk saling tukar cek-cok saja. Bukan yang lainnya.
“Kasian,” miris bapak satpamnya mengunci salah satu ruangan, namun tatapannya tak lepas ke Arshal yang lama kelamaan menghilang punggungnya yang terbalut jaket itu.
Tapi, salah satu alasan orang itu bertemu Gibran itu mengapa.
***
Dengan Arina sekarang dirinya yang sedang menunggu seseorang yang ingin menemuinya untuk membahas mengenai kehidupannya siapa tahu bisa membantu berguna untuk calon adeknya yg ada di perut. Tapi bagi Arina itu tidak masalah, sebab suatu masalah itu di akhir dengan saling membenci bukan untuk menyapa.
Sekedar menyapa mungkin hanya saling memandang.
“Gue jadi gimana ya, di sini. Mungkin emang agak banyak, tamunya.” Positif thinking saja, mungkin teman yang akan percayai mengunjungi Gibran itu ini seraya menganggukkan kepalanya paham.
--
**Halo siapa?
Sini absen dulu?
__ADS_1
Komen❤**