Luka Darimu

Luka Darimu
19. Gimana? udah siap.


__ADS_3

Arina menggelengkan kepalanya, walau dia tidak kangen tapi yang ada di pikirannya berkecamuk membuatnya akhir-akhir waktu ini sering dirinya termenung.


Mungkin karena efek ya keterlaluan bapaknya jadi ya agak gimana.


“Nggak kok, emangnya siapa coba? Yang kangen sama kamu, itu kak Nina bukan aku.” Alibinya walau terlihat sorot matanya beralih ke lamunannya.


Kak Nina itu terkekeh pelan, “Biasa lagi kangen sama suaminya mungkin, dok.” gurau Nina dengan menertawakan temannya ini.


Arina hanya menggeleng atas apa yang diucapkan oleh temannya.


"Enak banget lo bilang! gue nggak seperti itu ya!" balasnya tak terima dan Arina merajuk kesal.


Lantas dokter muda itu tersenyum tipis.


“Ini udah pada izin belum sama suami? Takutnya nanti zina lagi, gue ini cuman jadi dokter ya nggak ini apa pebinor. Doyan gadis yang mulus gue daripada yang udah di itu-ini sama suaminya sendiri.” Ujar dokter itu sembari mengalihkan dan terang-terangan menjelaskan tanpa melihat bagaimana muka dua orang itu.


Menertawakan dokternya salah satu bin ajaib biasanya, responnya memang mereka di sini nggak canggung dan bisa lebih dekat untuk berteman lagi.


“Iya udah,” jawab Nina, dokter itu lantas berdalih ke Arina yang tengah meratapi nasib.


“Nggak tahu lagi lah, suami kagak peduli.” ujar Arina dengan menatap dokter itu.


“Ya sudah kamu dilarang periksa kali ini, namanya gue melebihi batas apa ya namanya lupa gue.” Ucapnya sambil memikirkan dan tersenyum palsu ke arah Arina.


“Gimana?” tambah dokter itu.


Arina sesekali sudah tersenyum lebar dan ia sudah hatinya dongkol, jika begini ditolak maka selanjutnya dokter ini makin ngelunjak.


“Gue bayar dah! Lo tuh masa nggak pernah tahu masalah gue?”


Nina di dalam hati rasanya mau gulung-gulung melihat raut kesal wajah Arina.


Perutnya rasanya sudah keram dan tawa itu lalu menggelegar kemana-mana, pecah juga.


Tidak kuat menahan semuanya.


“Ahahahaha,”


Arina lantas menoleh ke arah Nina dengan menyipitkan mata tidak suka, ini yang ia tidak suka.


Nina yang terlalu menjerumuskan temannya kali ini, melihat Arina yang selalu dipojokan ada rasa bangganya mungkin di dalam hatinya.


“Ya, ya kasian itu Arina udah sebel amat mukanya.” Dokter itu hanya tertawa kecil dan melangkah ke kursinya untuk duduk.


Ia jika sudah duduk meski udah serius bawaannya.


“Gimana?” tanyanya menggunakan nada serius dan formal.


“Iya, kak Nina dulu yang diperiksa sana!” perintah Arina, walau umur mereka tak terpaut jauh Nina tetaplah di atas Arina makanya ia sedikit sopan menggunakan panggilan ‘kak'.


Nina mengerutkan keningnya dan ia menunjuk ke arah tubuhnya menggunakan kedua tangannya.


“Iya,” balas Arina yang tampak menunggu.


Nina akhirnya mengangguk dan ia naik ke brankar rumah sakit, dokter spesialis itu lantas berdiri.


Tangan itu bergerak lentik sibuk mengabari kepada seseorang dan mulutnya bergerak untuk menyuruh seseorang masuk, membantu dirinya yang ada di sini.


Supaya tidak ada yang mencurigai.


Jika sudah dicurigai maka ia harus siap menerima konsekuensi yang di peraturan rumah sakit.


Apapun itu, hanya pasien kamu!


Bukan pasangan kamu!

__ADS_1


Arina menyipitkan matanya lantaran dokter itu berjalan mengarah kepada Nina yang sudah berbaring terlentang di atas brankar rumah sakit dan ia menatap tidak percaya sebab dokter itu menutup tirai yang menutup semuanya.


Iya mungkin akan dilakukannya USG, melihat perkembangan bayinya dan memang waktunya untuk melihat perkembangan janin mereka, apalagi Nina sudah terlambat untuk chek-up mengenai janinnya.


Seharusnya dia melakukan menginjak usia enam bulan dan malah jadinya sekarang yang sudah menginjak tujuh bulan.


Sementara Arina, dirinya dari perkembangan janin kini sudah menginjak waktu empat bulan dan ketika ingin USG malah dokter muda itu cuti jadinya ketunda.


Sebenarnya dokter muda itu sudah merujuk ke ibunya tapi mereka tidak percaya untuk hal pemeriksaan, soalnya sudah lengket sama dokter muda ini yang berwibawa di setiap pekerjaannya.


Supaya anak mereka menurun nantinya, jika sudah deket apalagi ngidamnya keturutan kan lambat laun meski mirip sama dokter itu.


Jadi nggak perlu jauh-jauh buat terbang ke Korea segala.


Buang duit.


Arina, perempuan itu menatap ragu punggung dokter muda itu yang masuk bersamaan dengan suster perempuan yang sedang membawa troli yang sudah ada peralatan untuk memeriksa nantinya.


Arina hening, ia diam.


“Apa nggak dosa ya?”


Ia pernah terpikir satu yang ingin ia tanggung jawabkan.


Jika itu berdosa, terus siapa yang kena dosanya. Apalagi dokter itu sudah lulusan spesialis makanya harus nerima apapun itu termasuk peraturan yang di dalam hidupnya.


Ia pun membuang jauh-jauh rasa was-was yang menyelimuti.


Lantas ia membuka tas, ia mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


Ia menatap ponselnya yang hidup layarnya, ada notifikasi dari putra sulungnya.


Arina pun membukanya, lewat pesan whatsapp itu.


Jangan ditungguin


Takutnya berharap nungguin lagi kasian nanti sama ibu


^^^Iya hati-hati tapi nanti jika di jalan


^^^


^^^Jangan ugal-ugalan


^^^


^^^Ibu mau ke toko buah nanti


^^^


^^^Sekalian mampir kemana gitu


^^^


^^^Mau titip apa


^^^


Setelah beberapa menit putra sulungnya itu terakhir dilihat dan ia sambil menunggu balasan putranya.


Akhirnya putranya kembali Online lagi dan putranya tampak sedang mengetik statusnya.


Arina menunggu.


Ia sambil menarik ke bawah dan di sana ada pesan dari mertuanya tepat namanya Papah Arshal.

__ADS_1


Kenapa?


Ia tampak berpikir dulu sebelum membuka pesannya dan ia lalu melihat ke atas lagi di sana ada dua pesan yang terkirim.


Titip nugget aja


Nanti sekalian di masak ya bu


^^^Iya


^^^


^^^Nggak ada lagi selain nugget yang mau dibeli?


^^^


Nggak


Udah itu aja


Setelah membaca pesan itu lantas ia ingin membuka pesan dari mertuanya sebelum dua orang yang tengah menatapnya datar.


Sudah selesai, Nina dan dokter itu saling pandang.


“Ada apa?”


“Nggak tahu,” dokter muda itu sambil menggedikkan bahunya dan Nina menatap malas.


Ia pun menghampiri temannya dan menepuk pelan pundak temannya yang lagi fokus ke ponsel.


“Rin, udah?”


Arina lantas mendongakkan kepalanya dan menatap Nina yang tengah malas menatapnya.


Rasanya sudah menunggu terlalu lama jadinya mengamati pergerakan Arina yang tengah menatap ponsel.


“Iya, kamu udah selesai?”


“Hm, sana giliran kamu!” suruhnya dengan menatap brankar yang kosong.


Arina pun berangsur berdiri dan meletakkan tasnya di kursi yang ia tempati, setelah itu ia meletakkan ponselnya di meja.


Berjalan melewati Nina yang ada dihadapannya, Nina menghela napas pendek.


Jika saja bukan teman dari hamil mungkin sudah ia tonjok itu muka nggak berdosanya melewati dirinya.


Sudah ia duga dari awal, ini temannya kayak nggak punya sopan sama sekali.


Dirinya yang belum tua-tua amat itu merasa tersingkir.


Balik ke Arina yang meneletangkan tubuhnya di atas brankar, rasanya seperti biasa tidak ada masalah.


“Gimana? Udah siap?” tanya dokter muda itu sambil memakai sarung tangannya yang baru dan Arina berasa meremang bulu kuduknya.


Apa sakit?


Seperti ini tidak mungkin sakit.


Ia berpikir positif, mengangguk-angguk kepala sebagai jawaban.


---


**Oke, udah ya?


besok lagi🤜😃**

__ADS_1


__ADS_2