
...Halo...
...Apa kabar?...
...***...
Arina sedang berjalan menuju ke rumah sakit untuk menemui dokter kandungan jadwalnya chek-up hari ini.
Semoga harinya menyenangkan untuk ke depannya.
Arina menemui seseorang yang ada di resepsionis rumah sakit.
Akhirnya ia mendekati perempuan itu yang tengah duduk sambil menatap ponselnya.
"Assalamu'alaikum, kak."
"Wa'alaikumsalam," Perempuan itu lantas menegakkan tubuhnya dan mendongakkan kepalanya.
Perempuan itu tersenyum lebar, "Kamu dek? Ini kamu, kok makin gembul aja dari biasanya." sambung perempuan itu yang beranjak berdiri.
"Masa iya mau kurus aja kak," Arina mengerucut kesal.
Perempuan itu lantas terkekeh pelan, mereka pada akhirnya melangkah bersama untuk menuju ke ruangan dokter kandungan yang berada di lantai tiga.
Awalnya memang mereka berdua sudah ada janji untuk bertemu kembali, walau mereka sudah bertemu di awalan.
Memang mereka hanya saling mengenal dan hanya sebatas teman saja untuk mengobrol ketika chek-up seperti ini bareng, biar ada kawannya dan nggak ragu buat sama-sama pejuang hamil.
Apalagi perempuan itu jika chek-up selalu ditemani oleh suaminya dan suaminya setia buat nemenin sampai ke ruangan, masuk.
Sementara dirinya?
Ia membawa anak ini yang ada di perut serta badannya sendiri saja, miris jika melihat dirinya sendiri.
"Oh iya suami kamu lagi di mana? Kok nggak bareng," tanya Arina bingung sebab tak ada laki-laki yang selalu menemani mereka ketika ingin periksa.
"Hm, lagi nyusul katanya. Ada pekerjaan dari bosnya, terus nanti nyusul sampai-sampai suami ku lupa kalau hari ini chek-up buat anaknya ini." jelas perempuan itu dengan tatapan kosongnya, seperti tak ada gairah dan Arina mengerutkan keningnya.
Ia meski melihat gerak-gerik perempuan itu seperti kurang mampu untuk menjelaskan kejadian rumahnya.
"Ya sudah, tapi semoga saja kamu tidak ada masalah sama suami kamu." senyumnya nanar dan perempuan itu lantas menengok, menelisik raut wajah Arina yang suka su'udzon terlebih dahulu.
__ADS_1
"Iya, semoga."
"Oke, ini sudah kamu hubungin dokternya?" tanya Miranda sembari mengalihkan pembicaraan, ia tahu lantaran wanita itu tak berhentinya menatapnya curiga.
"Iya sudah, semoga dateng ya."
"Hm, iya sudah lama nggak ketemu." timpal Arina menggandeng tangan perempuan itu tak sengaja.
Iya beberapa kali dalam dua bulan ini memang dokternya sudah menyarankan untuk rujukannya langsung ke dokter spesialis kandungan saja, tepatnya ibunya sendiri yang memegang jabatan di dokter spesialis.
Tapi, mereka lebih enaknya ke anaknya entah mengapa jadi ragu ke ibunya.
Padahal, sama-sama memiliki jabatan spesialis yang akan menangani khusus kandungan saja.
Sebab dokter itu katanya ada urusan yang meski harus diselesaikan dalam jarak dua bulan ini di Inggris tepatnya di kota London.
"Gimana dengan anak kamu, apa sudah menerima kehadiran adeknya yang sebentar lagi mau launching itu anak?" tanya perempuan itu yang sudah tahu bagaimana keadaan rumah tangga temannya ini.
"Iya kak, nggak tahu aku harus gimana lagi. Mau menyakinkan itu sulit," senyumnya getir dan temannya itu mengusap punggungnya lembut.
"Sabar, karena itu cobaan dari Tuhan Rin. Kamu nggak bisa nyalahin gitu saja sama suami kamu dan putra mu yang kepingin jadi anak semata wayang, eh adeknya malah udah hadir di sini." Perempuan itu menunjuk ke perut Arina yang makin membuncit.
Arina tersenyum tipis, "Mau gimana lagi. Hidup sudah ditakdirkan seperti ini," ucapnya putus asa dan perempuan itu menggeleng pelan.
Sudah belasan tahun bisa mempertahankan pernikahannya, masa nggak mau di langkah terakhir ia memiliki calon anak ini malah ingin memiliki niat untuk menyerah.
Namun pada kenyataannya akan berakhir sampai di sini 'kan?
"Iya, tapi jika Allah nggak mengizinkan untuk kami berjodoh bagaimana?" tanya Arina kepada perempuan itu yang mendorong pintu ruang dokter spesialis, tepatnya di depan pintu ada label namanya yang menunjukkan mereka akan mengunjungi dokter itu.
"Hm, ya mungkin. Tidak, bukan begitu konsepnya Rin." sanggah perempuan itu menggaruk-garuk dagunya, bingung mau menjelaskan apa.
Soalnya sudah menjelaskan banyak, panjang lebar buktinya Arina yang sungguh keras kepala jika dinasehati. Keluar lagi itu yang dinasehati.
Dokter yang duduk di tempatnya sambil memfokuskan pandangannya ke laptop itu menoleh sekilas ke arah dua orang yang sudah ribut saja ketika masuk ke ruangannya.
Dokter spesialis itu masih muda kawan, jadi ya jangan harap lagi mau ngapa-ngapain. Belum punya gandengan, jadinya aman kalau sudah gandengan ya mana bisa jadi dokter seperti ini.
Yang ada dikurung sama istrinya, tapi kebanyakan jika dokter seperti ini sudah memiliki istri yang rela dengan setuju apapun keputusan si suami.
Balik ke dokter itu menatap lama pasien-pasiennya, eh ternyata sudah lma tidak bertemu.
__ADS_1
"Lah, mbak Arin dan mbak Nina kok udah sampai?" tanya dokter itu mendadak tanpa mengingatkan mereka untuk menyapa atau apa.
Tapi yang terpenting dia bertanya dulu.
Ya, yang dipanggil terlontar dari mulut jenius dokter itu keluar mbak Nina, Nina—perempuan itu yang dianggap teman ataupun saudara oleh Arina sendiri.
Bayangkan saja tiap kali pemeriksaan kehamilannya selama kurang lebih sekarang mungkin sudah memasuki pasca 4 bulan.
Makanya itu ya walau belum kenal dekat, sebisanya Arina tetap mengenal.
Agar bisa bercerita mengenai kehidupan bagaimana di rumah tangga masing-masing.
Ya, agak plong meski nggak begitu plong. Ada sandaran buat cerita, masa iya mau cerita ke putra sulungnya itu apalagi putranya sudah ke kampus untuk mencari ilmu buat masa depannya.
Eh di rumah ditambahi beban ibunya yang tak kunjung kelar-kelar kayak hajatan tujuh hari tujuh malam.
"Halo dok," sapa Nina ramah.
Dokter itu lantas berdiri untuk menyambut mereka.
Mata dokter itu tersenyum, ya sipit.
Seperti chindo, bau-bau pengen jadi anak chindo.
"Hai, gimana ini? Kalian apa kabar?" Bayangkan sama temannya kali ini, bagaikan di mana dokter itu selalu menempatkan mereka tak jauh dari pasien yang lain.
Dokter muda ini patut diacungi jempol, keramahannya dan kebaikannya sungguh harus dicontoh.
Beginilah type idaman Arina.
"Walah udah lama nggak ketemu ya," gurau Nina, sementara Arina hanya menyimak.
"Ya sudah lah, jangan banyak basa-basi! Kamu masih ada banyak pekerjaan 'kan? Jadinya periksa dulu lebihnya pulang," putus Arina yang tidak mau lama di sini dan Nina mengernyitkan dahinya, sama dengan perlakuan dokter muda yang menyandang gelar spesialis kandungan itu.
Ia menatap bawah hingga atas, tidak ada keanehan.
Mungkin perasaannya.
"Kamu, kenapa Rin? Aku lagi ngobrol juga ini, kamu nggak butuh kangen apalagi itu ya?" tanya dokter itu heran.
--
__ADS_1
Jangan lupa dukung terus ya🤣🙏
Oke see bab 19😌