
Perempuan itu melangkah berjalan menuju ke taman rumah sakit, dia tidak suka di dalam ruangan itu demi apapun dia dibayarkan pun tidak akan pernah mengulangi hal yang sama lagi seperti kemarin. Banyak hal yang sudah ia lewati terutama melihat putranya yang kini entah kabarnya bagaimana. Ia tidak bisa melihatnya dari jauh ataupun sekedar bertanya.
Perempuan itu menatap lurus ke depan, bayangannya mendapatkan sosok seseorang yang sama dengan yang menghantuinya beberapa hari ini di dalam pikirannya hanya seorang putranya.
Gibran alfarizky.
Putranya yang ia rindukan dan ingin ia dekap sedekap kehangatan kerinduan yang bergejolak di hatinya, hatinya berdesir tatkala putranya itu mendorong kursi roda dengan seorang laki-laki yang tidak asing lagi bagi Arina.
Ya, menangkap sosok itu ia pun mengalihkan tatapannya ke arah air mancur yang memuntahkan airnya sangat deras dan tidak terasa air bening itu jatuh dari pelupuk nya, ada rasa sedikit cemburu dengan putranya yang sekarang fokus dengan ayahnya bukan dirinya.
Iya kan dia tadinya udah nggak mau lagi tinggal sama Gibran, itu juga salahnya sendiri.
Arina memaklumi nya tapi kata hati lain berkata.
Sulit untuk diartikan dalam perasaannya ini.
“Ada apa dengan kamu Arina?” tanya seseorang dari belakang menepuk pundaknya dan perempuan itu sedikit berjengkit kaget lantaran ia tidak mau didekati siapapun kali ini, tapi pandangannya mengarah dia menengok ke belakang tenyata papahnya yang membuyarkan lamunannya dan perempuan itu tidak bisa berkata lagi.
Papahnya sudah melihat beberapa reaksinya tapi lelaki itu tidak memaksa untuk bercerita, ia pun menganggukkan kepala singkat.
“T-tidak, pah....” ucap Arina terbata-bata walau begitu papahnya paham kondisi Arina yang bagaimana dan lelaki itu lalu menggiring putrinya untuk duduk tak jauh dari air mancur di taman letaknya di tengah-tengah itu.
Dan lelaki itu sejak tadi sudah khawatir dengan keadaan Arina putrinya ditinggal di kantin untuk sarapan sebentar, kok malah balik tidak ada di ruangan katanya anak buah yang sudah menjaga di depan pintu. Sekarang lelaki itu kebetulan lewat di area taman, melihat beberapa orang di sana nestapa melihat pemandangan yang sangat cantik dan indah.
Tapi, ia melihat sosok perempuan yang tidak lain dari putrinya sendiri yang sedang membelakangi dirinya posisinya dan dia menatap sekitarnya, tidak ada siapa-siapa kenapa itu bahu bergetar. Karena itu lelaki itu tidak percaya akhirnya mendekati perempuan itu dan menepuk pundaknya agar bisa memastikan.
“Pah,”
__ADS_1
“Hm iya, kenapa nak?”
“Kok papah tahu kalau Arina di sini?” tatapnya intens dengan mengarah ke bola mata papahnya.
Papahnya lalu menghela napas, “Kenapa memangnya? Jika putri papah ketahuan keberadaannya di sini. Nak, baik-baik ya! Papah ingin kamu itu istirahat terlebih dahulu sehingga benar-benar pulih tapi kamunya ngeyel terus sekarang itu infus dibawa kemana-mana. Gimana kalau itu infus salah, kamunya goyang-goyang nanti darahnya naik gimana?” papahnya menakut-nakuti dan perempuan itu dari raut wajahnya menjadi berubah padam.
Perempuan itu lantas memberikan pukulan kecil menggunakan tangan kanannya, karena tangan kirinya terpasang jarum infus ia tidak bisa bergerak untuk memukul. Papahnya menggelengkan kepalanya sembari tertawa.
“Papah ini, jangan gitu lah!”
“Iya kan papah ngomongin lho, nak!” seru papahnya dengan mencubit pipi putrinya itu.
Lalu Arina merajuk, dia seperti anak kecil bayangkan saja sekarang tengah menatap papahnya berkaca-kaca tanpa melihat kanan-kiri nya banyak orang yang berlalu lalang lewat namun tidak memusatkan pada dua orang lawan jenis itu namun memiliki satu ikatan darah yaitu anak dan ayah.
“Iya-iya,” rajuknya sambil menggerucutkan bibirnya lucu, ingin papahnya menjawil bibir itu tapi ia mengerti batasannya sebagai papah dan anak itu seperti apa.
Nah, salah satunya yang ditakutkan papah Arina.
Lelaki itu mengelus-elus pelan kepala putrinya yang terbalut panjang hijabnya menutupi ekor beserta dadanya.
Ia selalu mengingatkan untuk menjaga aurat kamu ya, karena nggak mau kan nanti cerminan anak darimu ceriminan dirimu sendiri. Kan jadi repot suami kamu apa nggak kamu yang akan keteteran sendiri.
Sementara dengan Gibran Al-farizky dia sedang mendorong pelan kursi rodanya dengan langkah kakinya yang lebar itu dan ia membawa kursi roda yang berisi ayahnya sedang masa pemulihan saja, kata dokter jika nanti dirawat di rumah saja, rawat jalan biar enak karena orang tua dari Arshal tidak membiayai lagi untuk kehidupan Arshal setelah menandatangani surat-surat perjanjian kuasa sepenuhnya atas perusahaan kakeknya Gibran telah sah diberikan seluruhnya kepada Gibran untuk dikelola.
Maka dari itu Arshal–lelaki itu syok mendengarnya di dalam ruangan dirinya ketika papah beserta mamahnya sedang beradu argumen mementingkan atas usahanya ketimbang putranya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dan ketika Gibran masuk ke dalam ruangan, barulah diketahui oleh lelaki itu yang tidak lain dari seorang putranya maupun cucu dari mereka.
“Nek, kek. Jika mau bahas jaga hati ayah, nek. Kek, nggak kalian seenaknya mengomong tanpa di filter dulu, apalagi ayah sudah sadar.” Ia sambil melirik ke ranjang dan matanya fokus kepada tatapannya kakeknya yang sedang menertawakannya.
__ADS_1
Apanya yang lucu coba, ia tidak habis pikir.
“Ya sudah lah, kalian berembung saja daripada gue pening mending ajak jalan-jalan ayah ke taman buat cari angin, biar nggak bosen terus di sini.” Ia itu butuh pengalihan saja, ia muak sebenarnya mendengar perdebatan argumen dari kedua orang itu yang tidak berhenti sampai dia diam tidak menghiraukan pun tetap saja diajak mengobrol dan ia sampai sulit untuk fokus dengan chatnya bersama Syifa.
Akhirnya dia sekarang menuju ke area taman rumah sakit dengan ayahnya yang tampilannya pucat putih begitu, kasian jika dilihat.
Tapi, apa boleh buat ayahnya tidak boleh mendengarkan umbaran yang asyik diobrolkan oleh kedua orang tua itu yang tidak melihat keadannya itu bagaimana nasibnya, sialnya ayahnya sudah mendengar dari awal jika tidak saja Gibran sudah menyuruh mereka paksa untuk tidak ke sini lagi tanpa disuruh ataupun ditelepon.
“Yah...” panggil lelaki itu dengan berlutut sambil melihat ayahnya yang terlihat lelah dan kisut tampilannya, kayak orang nggak dikasih makan.
Melihat itu lelaki itu tangannya bergerak untuk memegang wajah ayahnya yang anget rasanya, ia menghela napas pelan.
“Yah, kalau masih sakit ayah mau kan di sini sampai sembuh?” tanya Gibran, namun tidak ada jawaban dari lelaki itu yang ditanya tidak dari kata ayah yang harusnya berjuang untuk mencari pundi-pundi rupiah namun ini berbalik.
Gibran terlihat mengeluarkan beberapa uang lembaran itu dan mengasihkan kepada ayahnya, ia menatap dengan senyumannya.
“Yah, ayah harus sehat! Jangan loyo begini, kan kapan ayah bisa gantiin posisi aku yang harusnya belum menjadi pewaris.” Jujur Gibran yang belum siap untuk menghadapi dunia perbisnisan yang dijalani oleh kakeknya, karena bisnis yang selama ini berjalan ya hanya bisnis madu dan beberapa barang yang harus diekspor di luar negeri dan lelaki itu belum berbakat dengan bidang ke bisnis.
Tapi, ia jika melihat perkembangan ayahnya yang sudah pesat ataupun mengerti dengan adanya bisnis itu ia percaya jika ayahnya bisa mengembangkan tapi lagi dan lagi restu dari kedua orang tua itu tidak menyetujui dan adanya pertengkaran antara satu dengan yang lainnya.
--
**Hai?
apa kabar?
yak makasih sekian dulu sampai sini❤**
__ADS_1