Luka Darimu

Luka Darimu
23. Mati di tangan mamah


__ADS_3

Perempuan itu jadi berpikir-pikir dahulu sebelum meninggalkan kost ini, ia mengecup kening Gibran dengan lembut dan mengelus-elus rambutnya.


“Ibu pergi! Nanti kalau udah sadar, jangan cari ibu sama nangis ya.” Bisiknya dengan mendekati telinga Gibran, agar Gibran terdengar samar dan ia menuliskan surat yang harus dibaca dilihat oleh Gibran.


Biar Gibran nggak nangis semalaman utuh, ujungnya ngambek marah jadi anak kecil. Harus bilang A, jangan dibantah akhirnya lari ke minuman.


Biasanya begitu.


Arina sejenak menghembuskan napas dan meraup rakus udaranya, ia tidak bisa sebenarnya namun dengan berat hati sekarang pula perempuan itu agar angkat kaki dari kost ini.


Di temani tas yang sudah berisi barang berharganya, siapa tahu nanti ketemu rumah ataupun kost yang bisa di tinggali untuk dirinya.


Perempuan itu menatap penuh dengan tetesan air mata, ia mengelap nya sambil menatap jauh mulai berjalan keluar dari area kost Gibran ini.


Sebenarnya kasian tapi mau gimana lagi, ia harus pergi.


Arina tersenyum tipis, ia lalu berhenti tepat di depan gerbang kost yang ada di area dekat kost Gibran.


Perempuan itu sembari melihat-lihat kendaraan yang lewat untuk diberhentikan, ia akan tinggal di area sini namun tak terlalu dekat bisa beberapa kilo ditempuh.


Biar nggak jauh.


“Hm, dengan modal segini. Nekat aja! Penting doa sama niatnya,” ucapnya menunggu kendaraan. Akhirnya beberapa menit menunggu, perempuan itu menemukan kendaraan yang lewat yaitu motor yang biasanya dibuat ngojek sama bapak-bapak kebetulan lewat bapaknya.


“Berhenti, pak!” seru Arina.


Bapak yang menunggangi sepeda motor beroda dua itu berhenti tak jauh Arina berdiri, “Kenapa, mbak?” dengan helmnya yang agak miring ya emang mungkin ciri khasnya bapak-bapak tukang ojek biasanya kalau nerima telepon diselipin terus alhasil miring itu helm.


Arina tertawa pelan, ia lantas mendekati dengan langkah pelan dan ia tidak mau tergesa-gesa untuk cepat dekat dengan bapaknya, nanti takutnya ia terkilir karena kakinya yang nggak hati-hati.


“Itu loh pak, helm bapak miring terus saya mau bapak anterin Arina ke kost yang murah ya pak, rekomendasi dulu! Deket sini,”


Bapaknya termenung sembari memikirkan dan tak lama kemudian mengangguk setuju tanpa lama-lama.


Orangnya keknya ini cerminan sabarnya setipis tisu jadinya tanpa membuang waktu yang lama.


Akhirnya perempuan itu pun menyerahkan tasnya ke bapaknya dan bapak itu menerima, Arina ingin naik dengan pelan-pelan. Eh bapaknya udah nyerocos duluan.


“Lama amat, mbak! Udah cepet! Ini ngejar orderan lagi yang masih ditunggu soalnya.” Bapaknya sewot dan Arina menghembuskan napasnya lelah.


“Nggak tahu lagi hamil apa, pak?” ucapnya dengan menusuk dan membuat bapaknya menengok ke arah perut Arina yang tampak membuncit, bapak tersenyum dengan lebar.


“Maaf mbak, ayok lah!”


“Iya, tapi nanti kasih tahu rekomendasi kost murah ya pak di mana gitu yang penting deket dari sini!” perintah Arina dan bapaknya menyetujui.


Bapaknya akhirnya menjalankan mesin motornya dengan Arina yang sudah naik di atas motor.


Perempuan itu tersenyum melihat semua orang yang terlihat berkumpul di area jalanan, sedang membeli sayur matang biasanya. Memang dekat dari kost Gibran, banyak orang-orang yang berbondong-bondong untuk berjualan sebab di daerah sini memang banyak penduduknya.


“Pak, nanti mampir sekalian ke supermarket ya. Buat beli—


Dan benar saja langsung bapaknya mengerem mendadak, karena tak mendengar apa yang diucapkan oleh penumpangnya sehingga terkejut.


Astagfirullah

__ADS_1


Ia pun menghilangkan rasa takut itu sejenak, lantas mematikan mesin motornya sehingga Arina bingung mendadak ini bapak kok kayaknya aneh.


“Ada apa, pak?”


“Oh tidak, itu saya lagi kaget.” Jawabnya gagap dan Arina menghembuskan napas pelan.


“Ya sudah. Sekarang lanjut aja, pak!”


“Iya, ini mau lanjut.” Segera bapaknya menjalankan lagi motornya menuju kd tempat yang dituju Arina.


Walau sedikit agak nggak denger tapi disambungkan dengan kalimatnya, akan tidak salah jika menyambungkan kata-katanya dengan akhiran Ket.


Jadinya supermarket apa nggak minimarket, biasanya kalau nggak denger awalannya ya disambung. Udah hal tabu jika begitu dikira kita tungarungu lagi.


Memang pendengarannya agak terganggu, mungkin bisa saja disebut tungarungu.


***


“ARSHAL.” Panggil seseorang dengan berteriak keras dan lalu bergerak cepat untuk menangkap anak itu agar tidak lolos dari ceramahnya nanti.


Seseorang perempuan akhirnya berhasil menangkap Arshal, ya tangan itu menarik telinga Arshal hingga anak itu meringis kesakitan.


“Mah, ampun deh. Iya, ini aku di sini. Nggak akan kabur,” Arshal menarik-narik tangan mamahnya agar terlepas dari telinganya yang hampir saja rasanya setengah mati dia menahan agar tidak berteriak seperti perempuan.


Mamah Arshal menatap tajam dan menusuk.


Arshal meneguk ludahnya kasar, melihat itu nyalinya agak menciut. Dimana letaknya anak yang suka semena-mena sama istrinya, tak heran lagi. Mamah berdecak kesal, menampar keras pipi si putra kesayangannya.


Plak.


Krrk.


Emang kagak kira-kira kalau mukul, ini mak-mak jago pula jika mukul.


Maknya itu pun melumpuhkan kakinya sehingga posisi Arshal ada di bawah kungkungan mamahnya yang ada di atasnya, papah hanya melihat dan mengawasi. Jika sudah keterlaluan makan perkelahian dunia ke seratus abadi lagi bakal dimulai.


Papah, lelaki yang telah mengompori mamah disebut-sebut berhasil memasuki ruang pertahanan yang selama ini dijaga oleh istrinya sendiri. Yaitu kamar rahasia istrinya, entah mengapa istrinya itu sering keluar masuk di ruang itu sehingga muncul di benak pikirannya untuk memasuki ruangan itu.


Eh sampai sana malah dianya yang kena dan diintimidasi sampai berkali-kali ia mendapatkan siksaan ya, sedikit info siksaannya beneran kek ini perempuan bukan seorang perempuan melainkan iblis yang menjelma.


Papah memerhatikan dari tangga atas dengan memasukkan putung rokok di mulutnya, lantas asapnya keluar ke mana-mana.


Kok dibolehin?


Orang sama-sama brutal dan nakalnya, mana bisa melarang.


Ada kata larangan, mesti harus dilanggar.


Kini takut-takut putranya itu menatap mamahnya, sang mamah menatap dirinya dengan dingin dan datar.


“Mah, ada apa sih?” tanyanya sambil memajukan mulutnya.


“Ada apa? HAH!!! KAMU JADI SUAMI NDAK BECUS SAMA SEKALI! APA KATAMU KEMARIN? APA? MAMAH TANYA SEKARANG!” Ujarnya dengan suara meninggi dan urat-urat yang ada di lehernya bermunculan, Arshal menutup rapat-rapat matanya.


Lelaki itu mau berbohong, tapi apa dayanya ia jika menjawab dengan jujur takutnya itu mamah mau membunuh anaknya sendiri.

__ADS_1


Ia menutup matanya sambil helaan napas keluar.


Ia tidak berani.


Apa tadi.


Ia menanyai dirinya sendiri, mamahnya bertanya mengenai tentang ini.


Pasti nggak akan lama tersebar, benar saja dugaannya.


Akhirnya memilih jalan pintasnya, dia berbohong kali ini.


“Hm, iya. Dia yang minta itu, aku ya ngabulin kan. Nggak mungkin pula aku yang ngusir dia buat apa coba,” balasnya tanpa ada rasa takut untuk diterkam oleh mamahnya yang ada dihadapannya. Lutut mamahnya saja ada di perutnya, jadi ya dia kagak bisa ngapa-ngapa. Mencoba bergerak saja sudah mendapatkan tatapan membunuh dari perempuan yang sudah melahirkannya itu.


Ia ingin batuk sebenarnya, terlalu kuat itu lutut mamahnya menginjak perutnya. Bagian ini yang nggak paling Arshal sukai.


Mamah lalu menatap tajam berapi-api dan wajahnya saja memerah.


“APA? KAMU ITU BODOH SEKALI YA!” Ejek mamahnya sambil menekan lututnya sehingga Arshal kembang-kempis menahan lutut mamahnya seperti tenaga laki-laki.


Tangan mamah mengarah ke dagu Arshal, leher dan mamah mencekik leher Arshal.


“Punya anak nggak guna banget kamu ini! ITU MENANTU KESAYANGAN MAMAH, BUKANNYA KAMU TAHAN YA! MALAH JADINYA BEGINI, ADUH.” Mamahnya mengeluarkan nada melengkingnya sampai papah Arshal yang ada di atas tangga itu mundur untuk menghindari amukan. Rasanya gendang telinganya mau pecah jika begini.


Gara-gara masalah menantu.


Jadi agak rumit radanya. Padahal, masalah itu sudah lama. Sudah berminggu-minggu telah dijalani oleh mereka bertiga, tapi tidak ada apa-apa selama ini.


Eh kok ya sampai terdengar ke telinga mamahnya.


Arshal tangannya menghempaskan tangan kuat mamahnya yang sama saja mau membunuhnya sekarang juga.


Mamahnya semakin mencekik kuat sehingga Arshal yang tidak bisa meraup oksigen banyak.


Semakin erat dan tidak bisa Arshal bayangkan, dosanya masih banyak alangkah baiknya dilepaskan.


Dengan tetesan air mata yang sudah tidak bisa ia tahan, sebagai anak laki yang kudunya kuat tapi ia benar-benar merasa hidupnya untuk terakhir hari ini.


Ia boleh menangis kali ini, tapi selamanya ia akan tetap dalam satu jiwanya.


Yaitu menjadi orang yang tahan dengan kesedihan, menyembunyikan lukanya.


Eh dia nggak pantas disebut itu.


Arshal seorang putra yang bukan membanggakan, tapi ia bisa menuruti kemauan mamah beserta papahnya untuk menikahi seorang perempuan yang tidak terlalu jelas untuk kekeluargaannya.


Dan laki-laki itu kini lemas di tangan mamahnya sendiri.


Mati di tangan mamahnya.



Iyak makasih🤜😂


see you next bye-bye✋🖐👋

__ADS_1


__ADS_2