
Arshal sudah terburu-buru kecewa dan mengharapkan untuk bisa menanyakan hal ini kepada Gibran, justru dirinya yang benar-benar diberikan harapan palsu oleh Gibran sendiri.
Bukan harapan palsu melainkan tak ada perjanjian awal untuk saling bertemu di mana itu tempatnya, sudah ditentukan.
Dan kini Gibran ditatap dingin oleh orang yang ada dihadapannya, ia enggan menatap orang itu lantaran ada dendam untuk orang itu yang mendadak masuk dengan pakaian yang rapi, kemeja yang melekat di tubuh atletis nya itu dengan jas yang melapisi kemeja hitam itu, auranya benar-benar terasa misterius orang ini.
Lagaknya agak kurang cocok jika orangnya itu terlalu dingin dan sok cool mana.
“Pah, assalamu’alaikum ...” ujar ketua BEM tadi yang setia untuk menjaga dirinya agar tidak kabur jika memiliki kesempatan dan ketua BEMnya menyebut seorang laki-laki yang tubuhnya itu dibilang sempurna itu memanggil kata ‘pah'.
Terkejut bukan main, Gibran memiliki masalah dengan orang itu. Ia mendadak tidak bisa napas, menahan napasnya yang sedikit terputus-putus.
“Wa’alaikumsalam, gimana?” tanyanya sambil melirik ke arah Gibran, anak itu lagi!
Ada apa sebenarnya?
Dan laki-laki itu pun duduk di samping Gibran, lelaki yang terpaut jauh tentunya, mungkin bisa dikata seumuran dengan ayahnya dari tampang mukanya.
“Siapa ini?” tanya seorang rektor universitas ini tidak lain dari orang tua ketua BEM yang ada duduk di ruangan ini juga.
Namanya Arfandi, panggilan pendeknya Arfa.
Seorang ketua BEM yang di mana semuanya pekerjaannya dilempar ke semua anggotanya, seenaknya memerintah namun faktanya dirinya saja tidak bekerja.
Ini yang Gibran bingungkan.
Kenapa nggak sekalian jadi dosen saja daripada ketua BEM yang cuman menyuruh dan menyuruh bukannya berkaca diri dari kehidupannya yang selalu menyuruh, tapi Gibran tahu posisi dirinya itu hanya seorang anggota dan mahasiswa yang menuntut ilmu di bangku perkuliahan.
Menurut Gibran, keadilan di Universitas harusnya ditegakkan bukan yang ada jabatan tertinggi semena-mena dengan bawahannya.
“Hm, kamu dengan Gibran?” tanya pak Rektor dan Gibran mengalihkan tatapan itu bertemu dengan bola mata rektor universitas ini.
Masya Allah.
Indah.
Bola mata yang biru, Gibran sampai terpana dan mengucapkan kata menyanjung rektor itu.
Yang ada dihadapannya ini orang istimewa sekali, apakah beliau memiliki darah biru sehingga sampai bola matanya saja berwarna biru.
Namun yang ada mengganjal di hati, kenapa itu bola mata tampak berubah lagi menjadi memerah.
“Gibran Al-farizky?”
“Iya, saya pak.” Jawab Gibran lantang dan ia kicep sendiri melihat tatapan mata dari pak rektornya.
Seingatnya dia menemui terakhir rektor ini tidak ada waktu, dan benar-benar sekarang dirinya dihadapkan dengan rektor universitas ini. Jarang bisa untuk bertemu beliau, namun sebisa mungkin beliau menyempatkan waktu untuk berbincang dan datang satu kali dalam satu tahun.
__ADS_1
Nah, bibit dari papahnya ya begini lah jadinya anaknya. Gibran mendesis pelan, sampai terdengar di telinga mereka dan mereka menajamkan tatapannya.
Gibran seakan merinding sendiri.
Merenungkan apa yang ia lakukan tadi. Itu salah satu kesalahan kecil yang ingin menelantarkan dirinya untuk di ujung perpisahan dan memutuskan untuk tidak melanjutkan lagi di bangku kuliah.
Karena ya ini.
Ia mengeratkan kedua telapak tangannya di baju dililit-lilitkan.
“Kenapa?” tanya mereka dingin kompak.
Gibran termangu.
Ia akhirnya meringis sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya, seraya memberikan cengirannya.
“Tidak, maaf.” Cicit Gibran dengan melilitkan tangannya di sofa dengan meraba-raba tapi mendapatkan perhatian dari rektor yang duduk di sampingnya.
“Ada apa sebenarnya?” langsung ke intinya saja, papahnya itu ingin menanyakan hal ini tentang apa yang terjadi sehingga putra semata wayangnya ini membawa seorang laki-laki yang tak terpaut jauh dari usianya.
Arfa lalu tersenyum tipis sangat tipis, alangkah baiknya itu anak laki disuruh senyum malah memberikan kesan yang kurang baik, memperlihatkan muka juteknya.
“Hm, ya di sini Arfa mau bilang. Selama ini yang papah cari itu ini anak, bukannya apa-apa. Ini anaknya tante Arina kan, ya?” tanya Arfa.
Gibran terlihat kaget, kok bisa tahu? Tapi, apa yang tidak mudah baginya untuk mencari informasi latar belakang seseorang jika sudah di kawasan miliknya sendiri.
“Tante Arina? Maksud kamu, adek papah?” tanya rektor itu dengan mengerutkan keningnya.
Sejak saat itu hilang sudah senyumannya, diregut oleh kesedihan yang ada di dalam keluarganya yaitu mamahnya yang meninggal dengan keadaan ketika ada di kamar, menemukan jejak darah yang berceceran di lantai. Menggenang cairan merah yang mengelilingi tubuh mamahnya beserta mulut yang terbuka.
Itu yang menjadi alasan kenapa Arina ingin pindah dari rumah orang tuanya itu, ia tidak ingin terbebani dengan keberadaan mereka bertiga yang membebani orang tua dari pihak Arina yang merasa ya kehadiran Arina hanya menjadi buah hati pikiran mereka, begitulah Arina menyangkal.
Tapi sekarang entah pihak mana yang memutuskan untuk pertemuan Gibran dengan saudara sepupunya.
“Maksudnya?”
Lelaki itu bingung sekali dengan kata-kata yang bersliweran tapi dirinya mau komentar saja sudah dipotong dengan kata-kata yang dikeluarkan oleh rektor ini.
Dan rektor yang ada di sampingnya itu lantas memeluk tubuhnya, yang kebetulan dekat pun jadi bahan pelukan membuat lelaki itu sedang berkelana pikirannya, entah kemana.
Kosong sepertinya.
Namun Gibran ketika dipeluk kenapa rasanya amat nyaman dan hangat, membuat dirinya di zona nyaman antara kebingungan dan terlihat senang dirinya bisa memiliki seorang kakak sepupu yang di mimpinya, selalu mendampinginya di kala sulit.
Eh ia membutuhkan hanya di saat sulit, tapi dia itu laki-laki yang di kampus kalau ngomong suka nyelekit jika ada orang yang mencoba untuk merundung dirinya.
Katanya patut untuk dicontoh perbuatannya itu. Jika ada yang membully lakukanlah untuk menolak ataupun membalas semuanya dengan perkataan kamu sendiri, bukan hanya diam yang tidak berarti.
__ADS_1
Yang ada kesakiti mental dan fisik, semuanya akan dipandang buruk oleh seseorang yang suka membuat keonaran untuk membully.
“Eh,” reflek Gibran melepaskan pelukan yang nyalur hangat itu dan ia tidak menyangka saja jika dua orang dihadapannya ini benar-benar saudara dari ibunya sendiri.
Gibran menatap kakak tingkatnya.
“Kak Arfa,” panggil dirinya.
Arfa yang sedari tadi dimintai keterangan untuk menjelaskan, ia lalu mengeluarkan satu berkas yaitu amplop yang berlogo rumah sakit itu ia buka dan lantas membuka kertas yang terlipat dari sananya.
“Ya, ini semua bukti yang bisa membuktikan jika kamu adalah anak dari tante Arina.” Dan satu persatu Arfa keluarkan walau itu bukan bukti kuat setidaknya ia bisa membantu Gibran untuk tidak terlalu larut dalam masalah rumah tangga ayahnya bersama ibunya, ia itu harus fokus ke petunjuk masa depannya.
Mencari ilmu dengan setinggi langit, gapailah mimpi itu sebelum pesimis untuk menyerah.
“Kak cubit dulu ya?” untuk memastikan dan Arfa melakukan hal itu justru mendapatkan tatapan yang mematikan dari papahnya sendiri, ia mengundurkan diri dulu sebelum ia dipecat jadi anak dan digantikan posisinya oleh Gibran sendiri ia bisa hidup seperti apa ke depannya tanpa pundi-pundi duit papahnya yang tidak bisa dihabiskan untuk mencari ilmunya saja dengan kehidupan pribadinya.
Ya, tinggal satu beban mau apalagi.
Orang Arfa saja sekali seminggu jika mau belanja, jika tidak ya mungkin bisa dihitung dalam jangka enam bulan untuk belanja keperluan pribadinya.
**
Sementara dengan Arina, dia kaget dengan kedatangan seorang laki-laki yang bertubuh seperti kakaknya sendiri. Membelakangi posisinya dengan mengetuk pintu berkali-kali tapi tidak ada sahutan dari dalam kost.
Ia memang seharusnya memasang bel, biar bisa terdengar dan lagi lagi seorang laki-laki itu harus menunggu lama setelah salamnya terakhir kali, sangat kuat.
Hingga dia yang ada di dapur menyalakan kran air serta mendidihkan air yang ada di panci itu terlempar sebabnya teriakannya membuat dia yang lagi mencuci piring itu terhenti aktivitasnya.
Ia tersenyum lebar tatkala laki-laki itu berbalik badan untuk melihat seorang yang dicarinya.
Selama ini kah?
Ia bertubrukan dengan mata sipit Arina dan dengan senyuman menyambut tamu seperti biasa, ia terlalu manis dan ramah untuk semua orang yang berkunjung menamu di tempat tinggalnya.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya dengan menundukkan kepalanya dan Arina yang tiba-tiba ingin menundukkan kepala eh tangan orang itu gatelll sekali, menyentuh area dagu Arina.
Perempuan itu sampai lupa untuk menjawab salamnya ketika dirinya termangu dengan orang tersebut.
“Waalaikumsalam,” jawab Arina dan lelaki itu tersenyum mengarahkan dirinya, membuat Arina seakan ingin terbang ke mars.
--
**Halo gesyyy
Apa kabar ncinf?
Apa?
__ADS_1
Yok sini ngumpul dan jika nanti februari udah ada kepastian nanti aku umumin masalah giveaway nya untuk khusus pembaca novel Luka Darimu ini!!!❤
Oke see you buat besok, besok paling 2 bab kagak janji ye😭**