Luka Darimu

Luka Darimu
48. Ngambek ibunya


__ADS_3

Setelah pembayaran karena sudah selesai makannya.


Jadi sekarang sudah waktunya untuk pulang ke rumah, perempuan berhijab itu menggandeng tangan putranya dengan begitu akan membuat iri para kawan-kawan yang sedang mengunjungi kafe tersebut, sontak membuat para kaum hawa berteriak tidak jelas.


“Weh pacarnya weh, kagak jadi weh...” Ada salah satunya yang mengompori temannya agar tidak mendekati Gibran karena sudah memiliki pacar, padahal jelas-jelas itu ibunya.


Mengapa disebut pacar, apa semuda itu ibunya sampai dibilang pacar tapi tidak apa-apa karena dia memiliki alasan lain jika seperti ini.


Lelaki itu menyunggingkan senyumnya manis sampai bikin para kaum-kaum perempuan di sana salting tidak jelas dan berteriak-teriak sampai melengking, Arina menutup telinganya lantaran mendengarkan bocah-bocah yang mau beranjak dewasa.


Ia paham, soalnya pernah di masa itu.


“Nak, kamu tadi mau ke rumah pak Angga tidak?” tanya Arina kepada Gibran yang menyelempangkan tasnya ke punggung.


Gibran menoleh, “Tidak. Sebab Gibran lagi sibuk sama organisasi di kampus, ada acara bentar lagi.” Jawab Gibran jujur dan Arina menganggukkan kepalanya.


Ia tidak mempermasalahkan soal putranya yang lebih dekat dengan mantannya dulu, tapi ada salah satu yang mengganjal hatinya untuk tidak menanyakan hal ini kepada Angga.


Apalagi Angga juga sudah memiliki istri dan anak perempuan yang pastinya sudah belajar dari sana, bagaimana karakter seseorang perempuan yang tidak bisa dikekang oleh gimana pun keadaannya.


Makanya Arina meminta putus hanya karena dikekang oleh Angga, jika sudah menikah apa yang terjadi bila Angga mengekang dan posesif terhadap istrinya sendiri.


Salah satu perempuan yang menjadi pandangan awal Gibran yang hanya menatap temannya sedang berbicara sampai gaya bicaranya jika presentasi, sangat bisa dinilai dan patut diapresiasi.


Sampai dia bengong sendiri melihat pemandangan yang seharusnya menjadi pelajaran bagi Gibran sendiri.


“Bu, itu perempuan amat wonderwoman. High value, bicaranya langsung ke intinya. Patut diapresiasi sih,” kagumnya dengan mengangkat kedua tangannya untuk memberikan aplouse ketika lewat di depan mereka.


Kebetulan saja mereka berdua lewat dan Arina diam-diam hanya menyunggingkan senyumnya, mungkin putranya bisa memetik dari apa yang ia lihat.


Sontak membuat seluruh orang yang presentasi di meja tersebut menengokkan kepalanya menuju ke orang yang memberikan tepuk tangan meriah.


Seperti konser saja.


Kaget, muka dan wajah mereka sudah campur aduk. Ada juga yang mengelus dada sambil beristighfar.


Ada yang tertawa dan ada pula yang bengong, menjatuhkan rahangnya demi laki-laki yang memberikan tepuk tangan mmeriah.

__ADS_1


Sungguh manis sekali, apalagi bibirnya.


Matep.


“Pak, aduh ngapain pula ke sini?” tanya seseorang perempuan yang tiba-tiba menghampiri Gibran—putranya itu dan Arina menyingkirkan tubuhnya, bergeser.


Mendadak Gibran termenung meratapi nasibnya yang ketahuan memberikan penghargaan kepada mereka yang ada di sini, semuanya perempuan pula tidak ada laki-laki yang mendampingi salah satu dari mereka.


“Eh kebetulan lewat,” gugupnya dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu dan Gibran mencuri pandang Arina yang meminta untuk membantu menjelaskan.


“Oke, maaf ya ganggu nak. Ibu tadi cuman lewat sama putra ibu ini, tidak sengaja melihat kalian semua presentasi jadi terbawa perasaan dan akhirnya memberikan apresiasi pada kalian.” Arina yang menjelaskan kali ini, terbawa suasananya tenang dan adem bawaannya.


Membuat salah satu perempuan yang membuat Gibran kagum itu maju selangkah, “Makasih mas, tapi ya maaf kalau mengganggu tadi.” Ujar perempuan itu lembut tanpa menatap orang yang ada di depannya, tatapannya menghadap ke bawa, lantai putih bersih itu lebih menarik mungkin daripada wajah manis Gibran yang bawaannya tenang dan sekali ngamuk keluar semua macannya.


Dai berbagai jenis macan yang tidur di dalam tubuh Gibran.


Tak disangka membuat Gibran hanya menganggukkan namun tidak bisa memiliki.


“Iya saya mengganggu kalian tadi, maaf sekali lagi.” Dengan menganggukkan kepala sebagai tanda sopannya kepada wanita-wanita yang high value tentunya, sampai Gibran sebagai cowok merasa ada yang menyaingi.


Tentunya ia harus belajar dengan ahlinya, siapa lagi kalau bukan Arfa yang tiap kali harus mengisi acara jika ada kegiatan di kampus.


“Hehh! Dodil!” Arina menghempas kasar tangan putranya dengan begitu menunjuk kepala anaknya, “Gunanya tangan apa buat narik sayangku?” tanya baik-baik Arina lalu tangannya turun menjewer telinga Gibran kuat-kuat hingga lelaki itu tidak kuat dengan tangan ibunya, sampai ringisan kecil keluar di sepanjang perjalanan keluar dari kafe dan sempat menjadi pemandangan yang tidak umum bagi pembeli yang mau memesan di kafe itu.


Arina dan Gibran sampai di depan trotoar, menunggu jemputan tepatnya taksi yang sudah dipesan oleh Gibran dan tangan Arina tak terlepas begitu saja, tetap tangannya menempel di telinga Gibran.


Gibran mengeluh panas namun tidak dipedulikan oleh ibunya.


“Halah, dulu ya ibu itu sudah puas kenyang beberapa tahun hanya karena membuat kesalahan kecil, membalaskan dendamnya pada anak dan ibu diajarkan seperti itu untuk bisa mengulangi kesalahan yang sama, eh salah merenungi kesalahan apa yang dibuat.” Ucap Arina menyorot tajam dan mulutnya berkomat-kamit seperti mbah dukun, Gibran tidak mendengarkan yang ada dia puasing sendiri melihat kelakuan ibunya yang bertambah bikin dirinya pusing berkali-kali lipat.


Mungkin bisa nanti malam Spa di losmen, dipijat pijat sama perempuan terus enak kan?


Ya, yang ada zina dan itu sudah terlewat batas jika sampai semuanya tahu, maka tercoreng lah nama Gibran dan yang ada dia dihengkangkan oleh ibunya dari kartu keluarga.


Ketika menyetop mobil taksi membuat seseorang yang berjualan menggendong jualannya itu menatap Arina dan Arina yang reflek menangkap pemandangan itu lantas berdecak tak suka.


“Apa lo?” ketika ada seseorang yang mengamati malah dimarah oleh ibunya dan membuat Gibran tepuk jidat, kelakuan ibunya sepertinya harus direndam dulu ini.

__ADS_1


“Iya bu, jangan gitu kasian itu orang!” ucap Gibran mengelus pundak ibunya memberikan ketenangan karena ia kasian juga orang lain menjadi korban kemarahan ibunya.


“Dia cari rezeki bu, jangan dimarah lah!” ucap Gibran melanjutkan, memperingati Arina agar tidak galak-galak amat sama orang lain.


Arina masih dengan hati yang dongkol itu menjadi lebih lengan Gibran kecil, sehingga cubitan kecil terasa dan Gibran meringis pelan ketika memasuki mobil taksi yang ia pesan.


Tepatnya go-c*r


Yang tiap saat seperti taksi.


Bisa mengantarkan kemanapun berada asalkan penumpang selamat sampai tujuan, bisa pulang bawa uang banyak.


Dengan pelan-pelan pintu mobil ia tutup karena tidak mungkin pula ia menutupnya sampai keras, kan kasian bapaknya yang punya mobil buat cari rezeki eh Gibran rusakkan.


Jadi, Gibran seperti orang yang tidak memiliki pendirian sama sekali.


“Sudah lah bu, ngambeknya itu jangan lama-lama. Kasian itu dedek yang lagi di perut kegencet sama ibu yang hatinya gundah gulana merana karena nggak tahu, ya...” orang tidak jelas, anggap seperti itu karena memang Gibran tidak paham mengapa ibunya sampai marah seperti ini.


Alasannya apa?


Bisa-bisa nya ibu Gibran yang selalu tersenyum ceria tidak ada yang menampilkan seperti itu, hanya serentetan kumpulan kata yang merujuk ke kata-kata menjatuhkan seseorang.


Mental heart.


Big kesabaran.


--


**Thanks buat kalian yang sudah bersedia mampir❤


See you next part🙏


Jangan lupa buat mampir ke app lain...


Yo yo...


DM IG apa nggak buat tanyain tentang novel lain yang nggak kalah seru.

__ADS_1


@dinndafitriani**


__ADS_2