
Arina sedang membuat mie untuk ia makan malam ini, setelah berberes mendapatkan kontrakan yang bisa nyaman dan aman pastinya ia memilih kontrakan ini.
Jangka panjang ia sudah membayarnya dengan sebagian, ia akan membayarnya jika nanti sudah mendapatkan pekerjaan yang bisa buat kehidupannya nanti.
Sekarang ini masih mengasah otaknya untuk melamar pekerjaan, apalagi di kondisi dirinya saat hamil empat bulan begini kemungkinan kecil ia diterima kerjanya.
Cepat lelah dengan kondisi yang masih muda, biasanya mengeluh. Namun, ia sebisa mungkin memutar uangnya itu untuk melakukan aktivitas apa yang bisa menghasilkan cuan.
Ia tertarik dengan berjualan, tapi ini uang tabungan hanya pas-pasan. Lantas ia terpikir, bagaimana ia berjualan keliling.
Itu tidak akan merepotkan dirinya, apalagi ia kan dirinya masih bisa berjalan baiknya nggak manja.
Perempuan itu sudah selesai dengan kegiatan membuat mienya, piring itu kini diletakkan di atas meja untuk ia santap.
Membalikkan tubuhnya yang akan mengangkat panci panas itu ke wastafel cuci piring.
Nanti ia akan mencucinya setelah makan, tenaganya akan kembali terisi.
“Hm, udah plong sekarang. Gini aja banyak ya, besok beli yang banyak buat stok sama beras tadi belum kebeli.” Ucap Arina kembali ke meja, ia duduk di atas lantai seperti biasa tidak ada fasilitas yang seperti di rumah yang telah dikasih oleh orang tua Arshal.
“Iya udah lah,”
Ia memulai memasak dan menyiapkan bumbu-bumbu yang harus dikupas dulu sebelum diolah.
***
Dengan Gibran dirinya sekarang menangis tersedu lantaran ia mengusir ibunya sama saja menyakiti mental dan fisiknya untuk selamanya.
Tapi ini demi ibunya bisa menjalani kehidupan sehari-hari, ia tersiksa tidak apa-apa yang penting ia bisa membantu ibunya dengan selamat untuk menghindari teror yang selama ini dilakukan oleh orang misterius.
“Aku harus bisa bangkit, bukan lemah kayak gini.” Ucapnya dengan memukuli ranjang itu, melampiaskan kekesalannya.
“Apa iya gue harus cari cara untuk membalaskan semua teror itu?” tanya Gibran dengan melipat kakinya untuk menyelipkan wajahnya di lututnya.
Lelaki itu frustasi, dengan begitu ia bangkit dari ranjang menuju ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kampus sebab ia harus menjalani kehidupannya biasa.
Ia tidak mau mengecewakan hati ibunya yang sudah menaruh harapan besar untuknya, agar menjadi orang sukses tidak lagi meminta pertolongan kepada orang lain.
Balaslah pak Angga dengan seribu kebaikan, karena beliau lah yang telah menolong kita di kala kita membutuhkan.
Lelaki beranjak dewasa itu menatap tubuhnya dari pantulan cermin, menatap dengan kekehan sinis.
__ADS_1
“Hm, kita mulai kehidupan yang baru!”
“Bukankah gue selama ini diincar itu gadis yang tergila-gila sama gue?” tanyanya sambil memikirkan gadis yang selama ini mengejarnya tapi tidak ada jawaban dari Gibran, Gibran yang cuek dengan keadaan sekitar dan tidak memperdulikan apa yang terjadi jika sudah di area kampus.
Apalagi selama ini ia jarang untuk sekedar mencari ruang pertemanan, hanya tiga orang yang selama ini ia kenal dekat di Fakultas yang ia kejar untuk mencari ilmu.
Selama lima semester berjalan dan sebentar lagi akan KKN dijalankan, meski ia harus memiliki kesempatan emas untuk mendekati perempuan itu. Bisa membalaskan dendamnya selama ini, feeling tidak salah.
Meski harus khusnudzon dulu.
“Oke, gue makin penasaran jadinya sama itu anak. Ikutin aja alurnya, coba aja berpikir dari dulu nggak akan pernah gue diintilin terus diteror segala.” Ujarnya sambil melihat jambang kumisnya yang mulai muncul di area atas bibir.
Ia lupa jika hari ini penuh dengan pekerjaan yang harusnya ia handle, apalagi pekerjaan yang ia kerjakan di rumahnya pak Angga. Disuruh mengawal putrinya untuk ke acara temennya, jadi ia sedikit bisa melupakan kejadian malam tadi.
Bukannya apa-apa, ia mengingat namun jika ia terlalu menambah perkaranya maka orang itu meski nggak segan-segan mengirimkan teror yang membuat GGibran makin terpuruk.
Lelaki itu akhirnya mengeluarkan alat untuk mencukur kumis halusnya dan semuanya ia lakukan dari remaja, ia sudah risih jika kumisnya memenuhi bibirnya yang ada makan aja nggak tenang.
Tangannya terangkat membersihkan dan memulai aktivitasnya.
Setelah beberapa aktivitas ia jalani, ia sekarang selesai berganti baju dan mandi itu berjalan menuju keluar dari kamar.
Ia akan membuat sarapan untuk mengenyangkan perutnya yang dari semalam ia tidak makan, ya begini ulah dirinya sendiri.
Padahal, dirinya itu sudah benar-benar ingin merasa dekat dengan ibunya dan menerima calon adeknya walau berat hati ia nanti akan membalas apa yang akan dipikirkan nanti.
Setelah adeknya lahir di dunia.
“Gue buat sambel tempe kering aja kali ya, udah lama nggak buat.” Ia pun melangkah menuju ke dapur dan mendekati kulkas.
Seingat semalam ketika masih pingsan, ia melihat ibunya yang siang tampak mengisi barang yang ada di kulkas. Ia jadi sedih jika begini, merenungkan apa yang ia perbuat.
“Maaf,” satu kata mencelos di hati Gibran.
Gibran menatap satu telur yang tersisa di kulkas, ia membayangkan jika itu ada ibunya sudah pasti diolah dan menjadi hidangan utama yang dihadapkan ke Gibran sendiri.
Sebabnya Gibran menyukai barang bercangkang itu, setiap kali tidak ada telur ia tidak jadi makan sampai ia saja jika sudah tertidur. Alam mimpinya sudah pasti dipenuhi dengan telur-telur yang bertebaran.
Ada-ada saja.
***
__ADS_1
Sekarang dengan keadaan Arshal yang sudah terbaring lemah, terkulai dibiarkan begitu saja di depan pintu rumah. Remang-remang penglihatannya melihat keadaan rumah orang tuanya, pintu depan tampak tertutup.
Ia meringis pelan, lama kelamaan ringisan itu menjadi kuat suaranya.
“SAKIT!!! AISH, NGGAK ADA YANG NOLONG APA?” Teriak dirinya sambil bergulung-gulung, badannya seperti diremukkan berkali-kali sampai ia melihat banyaknya cap yang diberikan oleh mamahnya sendiri.
Orang yang telah melahirkan ke dunia tapi ya begini lah nasib anak yang sudah melanggar aturan.
Tubuhnya serasa ingin berdiri saja sulit.
Namun, ia berusaha apalagi dirinya itu seorang laki-laki dan ia menatap pintu utama rumah ini.
“Sudahlah, mungkin kali ini mamah membiarkan aku selamat hari ini dengan dosaku yang banyak ini. Takutnya, mereka yang membunuh meski harus nanggung dosaku yang menggunung ini.” Gumamnya sambil mendorong kakinya seperti layaknya anak kepingin beli lato-lato tapi nggak dibolehin.
Ya udah, sekarang sikapnya seperti kekanakan jadinya.
Ia pun bangkit berdiri dengan rasa sakit yang menghantam seluruh tubuhnya, walau ia bisa berjalan pelan-pelan menuju ke motor maticnya yang masih terparkir di depan rumah. Tidak ada niatan untuk memindahkan motor kesayangannya ini.
Ia menghela napas pelan, “Tidak ada yang mau nolong aku buat bawa ke rumah sakit. Diobati gitu,” ia menatap miris kepada seluruh orang yang berjaga seperti patung itu di depan rumah orang tuanya.
Seperti biasa para orang-orang ini jika tidak disuruh melalui apa yang dikatakan oleh tuannya beserta nyonyanya tidak akan berangkat.
Kasian sekali.
Mending dirinya mati dibunuh mamahnya daripada tersiksa begini.
Ia pun merogoh kantung celananya mencari keberadaan kunci motornya dan akhirnya menemukan kunci motornya tepat di kantung bajunya.
Menatap harap kepada semua orang, dasar!
Cih. Jika kalau mamah sama papah itu menyayangi kamu, seharusnya diobati eh begini jadinya babak belur. Dengan pelan-pelan ia menstater motornya dan mencegah motornya, sudah menggunakan helm. Benda bulat itu menempel di kepalanya, rasa sakit menghantam kepalanya.
Tak terasa ada cairan mengental warna merah merembes keluar dari hidungnya. Apa separah itu sampai ia mimisan pakai segala, ia pun mengarahkan kaca spion di wajahnya. Dan benar darah itu semakin lama deras keluarnya.
—
**Yak gimana?
Oke apa kabar?
Baik semua?
__ADS_1
absen sini, komen!
Yak salam dari din yang lagi mantau duduk 🙏😂**