Luka Darimu

Luka Darimu
26. Menyiapkan


__ADS_3

Di pasar tradisional itu penuh dengan orang-orang yang berburu barang diskon termasuk Arina yang mau masuk ke pasar untuk berbelanja memenuhi kulkas yang ada di kontrakan itu memilih untuk melewati jalan pintas saja.


Karena ia takut jika berdesak-desakan jadinya. Alhasil dirinya sekarang melewati dari pasar kain sampai ke tengah-tengah letaknya, para ibu-ibu lebih tepatnya yang berjualan di sekitar pasar pagi dan para pedagang ikan yang biasanya sudah memulai jualan ikan segar di pagi harinya.


Ia berjalan-jalan menuju ke pedagang ayam, seperti biasa dirinya akan memulai berdagang untuk besok dan menyiapkan barang-barang perdagangan mulai hari ini. Dengan modal nekat dan beberapa uang yang ada di dompetnya, menjadi target dirinya untuk menghidupi calon anaknya yang ada di kandungannya.


“Bu, ini berapa ya sekilo?” tanya Arina tiba-tiba tanpa ada penawaran dari penjualnya.


Biasa penjual ayam ini meski kalau nggak sepi mana mau dia nyolek apa nggak manggil pelanggannya buat membeli ayamnya, kebetulan juga ada dua orang ibu-ibu yang ikutan berbelanja ayam di sini.


“Tiga puluh ribu, bu.”


“Tiga puluh ya? Hm, dua kilo dulu ya bu.” Seru Arina dengan mengeluarkan dompetnya dari tas belanjanya yang terbuat dari rotan, ini saja dia meminjam dengan bude yang pemilik kontrakannya.


Dan kebetulan emang orangnya nggak pelit, bukan ciri khasnya kalau pelit. Mendingan nggak usah jadi ibu kontrakan dan pasti nggak laku kalau orang galak apa nggak pelit, masa bodo sama pelanggannya yang menyewa kontrakannya.


“Ya, ditunggu! Ini ada antrean dua soalnya. Agak lama,” jawab ibunya sambil memotong kecil ayamnya menjadi beberapa bagian dan menimbangnya.


“Ini jadi berapa?”


“Seratus bagian ya? Soalnya, mau dibuat sate.” Jawab di samping Arina, ibu-ibu yang cuek dan mengamati handphonenya sedari tadi.


“Yang bener ini bu?” tanya penjualnya yang tampak semangat tadinya, eh ini ibu-ibu mau beli ayam atau apa. Ayam dua kilo dijadikan seratus bagian, jadinya kecil-kecil.


Ya Allah, membutuhkan waktu yang lama mesti harus ditinggal buat beli apa dulu. Melipir ke sayuran yang ada tak jauh dari penjual ayam.


“Saya ke sayur dulu, ya bu. Ditinggal bentar, biar nggak kelamaan.” Ucap Arina mulai jengah melihat ibunya seenak diri mendorong tubuhnya untuk tidak memenuhi jalannya, ia saja sampai sesak melihat ibunya yang harusnya berbadan dua untuknya eh dia jadi satu gitu.


Bongsor dan memakan jalan.


Arina menggelengkan kepalanya, ia mengangkat tangannya, jari-jari tangannya menepuk pelan bibirnya agar tidak body shaming di sini.


“Iya, sana daripada nanti emosi nungguin ini ibu jadinya seratus.” Ibu penjualnya saja sudah nadanya nggak enak gitu, berarti ya kurang lebih ibunya bad.


Emang soft nggak ada di sini, semuanya penjualnya rata-rata galak dan suaranya seperti biasa, melengking tanpa batas.


“Beli apa ya? Buat stok di kulkas,” ia pun memilih milih seraya memikirkan apa yang akan ia beli dan akhirnya ia mampir ke penjual sayur mayur segar ini.


“Bu, itu cabe merah sama cabe biasa, satu lagi cabe mercon.” Arina menjelaskan apa yang ia beli, malah penjualnya mengasihkan dirinya kantung plastik.


“Ambilah sendiri!” seru penjualnya yang lagi sibuk menimbang, melayani pembeli yang lain.


Arina mengambil plastiknya dan ia berjalan menuju ke tempat di mana perletakkan cabai-cabai berkumpul.


“Mahal nggak ini bu, cabe?”


“Engga, udah pilih aja tinggal totalnya nanti!” jawab penjualnya dengan membungkus plastik yang sudah berisi barang.


***


Deretan kata-kata yang telah diucapkan oleh mamahnya membuat dirinya terlihat merenungi kesalahannya, walau memang niat awal sudah ia jalani untuk menegosiasikan harta warisan papahnya untuk jatuh ke tangannya. Namun, nasib enggan untuk berpihak kepadanya.

__ADS_1


Sekarang pria itu merenungi apa yang akan direncanakan untuk bisa merebut harta warisan itu kembali ke tangannya. Ia tidak kapok, asalkan belum lebih dari batas kewajarannya saja menjadi anak.


Mamahnya kemarin sempat menjenguk dirinya setelah diberikan informasi oleh pengawal papahnya, sehingga di sana mamahnya bercerita panjang lebar untuk menasehati si putranya yang tidak mendengarkannya.


Seolah menjadi kata-kata indah itu yang mengalun di telinganya, menjadi dongeng asyik bercerita.


Kini dirinya sudah pulang dari rumah sakit, untungnya mamahnya memiliki hatinya untuk membayarkan biaya rumah sakit kalau tidak mana mungkin dia bisa pulang, yang ada ditangkap sama polisi gegara dirinya tidak bisa membayar biaya rumah sakit.


“Apa iya gue harus nemuin itu anak biar bisa bertemu dengan ibunya terus kembali lagi?” tanya dirinya sendiri menatap kosong ke arah televisi yang ada di depannya menayangkan bocah botak dua kembar itu, salah satunya memiliki rambut di tengah.


Ia pun mengangguk, ia hari ini akan menemui itu anak daripada mati kelaparan di rumah ini dan kegelapan, kekeringan semuanya akan dirasakan bila dirinya sudah tidak lagi dijatah oleh papahnya.


Sebab papahnya sudah membuat peraturan.


Dirinya harus menjadi laki-laki yang bijak dan bertanggung jawab!


Pria itu lantas meraih remotnya untuk mematikan televisi yang ada di depannya, walaupun badan remuk ia akan menerjang seolah badai menerjang perahu pelayan di laut.


Meski tidak sesakit hari kemarin, tapi ia bisa atur ini badan kalau nggak remuk nanti pulangnya.


Sampai dapat baru bisa pulang!


Prinsipnya.


“Oke, ambil jaket sama kunci motor!” titah dirinya, melangkah lebih cepat menuju ke kamar untuk mengambil dua benda itu.


Dia ingin menjelaskan apa kesalahannya untuk menutupi topengnya dari ingin merebut warisan.


Setelah itu Arshal kembali ke ruang tamu, menuju keluar rumah. Ia berhenti sejenak, tampak melamun dulu.


Yaitu benda satu ini yang selalu dia bawa, handphone. Lantas ia meraih handphone dari atas meja dan tas yang ada di sampingnya.


Sambil menyandang tasnya itu ia keluar dari rumah ini, menuju ke garasi tempat motornya diparkirkan.


Pria itu memakai helmnya yang sudah ada di spion letaknya dan setelah itu dirinya menaiki motor maticnya itu, menyalakan mesin dua roda itu.


Lantas menjalankannya keluar dari rumah yang ia tinggali sendiri sekarang.


Sedangkan Gibran, pria itu terlihat lelah sekali akibat pelajaran yang dijelaskan di depan tadi. Ia mati-matian bisa presentasi untuk tidak tertawa lantaran dosennya itu menyenggol itu anunya kena meja yang lancip. Saking nggak bisa fokus dia malah fokus ke dosennya, jadilah dia lelah sekarang.


Pria itu memasuki wilayah kawasan BEM ditempatkan, yang biasanya memiliki wilayah ya ketuanya yang jarang sekali menampakkan wajahnya ke anggota ataupun anak-anak yang lainnya termasuk pula para dosen yang jarang sekali menanyai tentang ketua BEM itu.


Sebab ketuanya adalah anak dari Rektorat kampus ini. Makanya, jika membahas anak itu siap-siap untuk dipecat ataupun tidak akan diterima dimana pun ia bekerja. Dengan tudingan mencemarkan nama baik putranya sendiri. Sebab itu lah anak-anak juga tidak berani untuk mengulik ataupun mencari informasi. Tapi, membuat Gibran penasaran dengan wajah itu anak. Kok bisa-bisanya dia seenaknya menyuruh anggotanya atau bawahannya untuk bekerja sementara dirinya enak duduk manis.


Ia itu bergabung di sini dengan alasan yang membuat dirinya tertarik akan ke organisasi kampus, karena organisasi kampus tak hanya BEM saja. Tapi, entah mengapa dirinya ada yang memikat untuk bergabung di organisasi BEM ini.


“Hm, hallo...” sapanya sambil mendudukkan di tempatnya, seperti biasa ruangan ini dibuat melingkar seperti ruang rapat dan di sana ada tatapan semua orang yang beralih ke dirinya.


Ia tidak peduli, biasanya juga ia jika ada apa-apa akan diajak mengobrol tapi kali ini ia hanya jadi tontonan para anggota lain.


“Iya, Gibran. Lo udah ke sini aja, gimana ada masalah nggak?” salah satu orang memang sudah bersikap seperti biasa, menyapa dan saling mengobrol. Namun, satu orang saja di sini yang Gibran anggap sebagai teman ya sekarang orangnya yang menyapa dirinya.

__ADS_1


Ia hanya tersenyum tipis, “Nggak. Iya ini, aku di sini.” Jawabnya lugas.


Orang itu tertawa pelan, “Sabar lah! Jadi anak jangan dingin banget napa, nggak cocok itu muka kalau dingin!” goda temannya itu dan Gibran hanya cuek, ia menatap datar semua orang.


Temannya hanya diam langsungan. Tidak berani berkomentar lagi, karena aba-aba dari seorang yang memandu rapat untuk menyuruh mereka semua diam.


“Baik-baik, dengarkan!” perintah dari salah satu pemandu acara rapat kali ini.


Semua orang di sini pun antusias untuk menerima laporan atau apa, sebab dari tatapan mereka saja sudah bisa ditebak. Jika Gibran berbanding balik dirinya, setiap kali rapat di sini semua orang bisanya menyingkirkan posisi dirinya hanya sebagai anggota.


Tapi, Gibran itu diam-diam cuek itu otaknya berkapasitas maksimum loh jadi jangan heran jika ada susah pasti Gibran yang akan dihampiri oleh anak-anak itu yang menyingkirkan dan di kala senang Gibran tidak diajak.


Kawan yang nggak bersyukur!


Padahal, di sini BEM itu memiliki tujuan yang jelas.


Sama-sama dijalani bersama dan tidak ada saling permusuhan di antara anggota.


Kan setiap anggota organisasi juga memiliki tujuan yang sama.


Makanya nggak heran lagi, ada saling bersaing dan permusuhan antar tiap anggota.


Entah masalahnya apa.


---


**Hayo?


Gimana?


Sudah kangen belum?


Sini kumpul, absen dulu ya!


Komen!


siapa tahu beruntung, dapet hadiah.


Iya, soalnya Din beberapa dekat waktu ini akan mengadakan spesial buat pembaca yang sering komen dan like. Nah, maka dari itu siap-siap suruh ke sini. Pepet terus, siapa tahu rezekinya ya💙❤


Iya entah nanti apa.


Tapi, diusahakan dalam waktu dekat ini:)


Din tepati kok!


Kalau nggak bisa DM ke IG bertanya.


Ya?


Ya?

__ADS_1


Kan berbagi itu indah, tahu aja gitu loh😌


Dikit yang penting happy kawan-kawan**.


__ADS_2