Luka Darimu

Luka Darimu
20. Posisi Gibran


__ADS_3

Arshal menggusak rambutnya kasar, ia mencoba untuk menghubungi papahnya namun tidak ada jawaban dari pria tua itu. Entah mengapa ia jadi kepingin bakar perusahaan papahnya itu, sebab tak ada tawaran yang halus lagi untuknya.


Apakah mungkin perusahaan itu akan dikasihkan sia-sia oleh Gibran yang menyandang sebagai cucu.


Ia meraung marah yang ada, laki-laki itu segera memakai bajunya yang ada di atas ranjang dan merapikan rambutnya yang awalnya acak-acakan.


“Oke, aku harus ke rumah saja daripada ke kantor ujung-ujungnya papah nggak akan mengasihkan itu.” Putusan dia ingin ke rumah supaya lebih tahu lagi dengan papahnya jika ada mamah kan jadi lebih leluasa lagi untuk musyawarah kali ini.


Lelaki itu berjalan keluar dari kamar dan akan mengambil kunci motor di meja makan, ketinggalan di meja makan setelah ia membeli nasi padang tadi untuk sarapan pagi hari ini.


“Apa aku nyari aja ke rumah Gibran sama Arina ya? Orang dua itu meski nggak jauh-jauh dari sini tinggalnya,” ia masih ragu untuk mencari mereka berdua awalnya tapi makin ke sini papahnya saja sudah mempercayakan perusahaan kepada cucunya, bukan salahnya dia mencari walau tidak peduli apa itu keluarganya.


Sudah ia duga dari awal jika Gibran itu akan menjadi ahli waris yang akan meneruskan garis keturunan selanjutnya, tapi setidaknya Arshal kan masih bisa. Dia masih hidup, sehat dan bugar.


Bukankah begitu, jika Gibran itu cuman calon dari bibit ahli waris untuk melanjutkan keturunan selanjutnya setelah Arshal.


Lantaran Arshal, laki-laki itu belum mempercayai makanya ia akan membuat penjelasan mengenai hal ini ke papahnya sendiri.


Jika tidak, ia akan bertindak nekat untuk menanyai ke Gibran sendiri. Menemui ke kampus itu akan menjadi hal mudah untuknya.


Akses yang terbuka lebar untuknya.


“Tapi nggak mungkin bisa buat merebut itu,” ia tampak berdiam diri sebelum berangkat kerumah orang tuanya sebelum ditanyai nantinya dan diintrogasi itu aktivitas yang nggak boleh dilewati setiap kali di sana.


Dengan begitu Arshal merasa terpojokkan jika ada disana.


“Iya gimana lagi, udahlah mending berangkat daripada nggak samaa sekali, dan yang penting membuahkan hasil.” Ia pun melangkah keluar dengan mencabut kunci rumah dulu, ia lantas menutupnya dengan kunci.


Arshal mengeluarkan kunci motornya dari saku bajunya, ia pun mengeluarkan mootor mtaicnya yang selalu dia bawa untuk kehidupannya selama ini. Memang ia selalu meminta untuk di fasilitasi mobil mewah atau motor yang biasanya buat ajang bergengsi itu. Kan agaknya mending, daripada ini motor udah butut pula.


Padahal sebenarnya ia sudah menghabiskan uangnya demi motornya yang biasanya dibuat jalan-jalan eh dia malah menamainya motor butut.


Memang kurang bersyukur apa coba.


Ia pun mencolokkan kunci motor itu di tempatnya dan menghidupkan mesin motornya.


Lantas ia menjalankannya keluar dari rumahnya menuju ke rumah orang tuanya.


***


Sementara dengan Arina, perempuan itu tidak menggunakan hijab dan memegang spatula penggorengan. Ia menyemplungkan nugget itu yang ia goreng dan nugget itu berenang dengan minyak panas.


“Jam lima sore udahan, mending habis ini langsung mandi terus sholat.”


Matanya mengarah ke jam dinding yang ada di dapur dan ia menyiapkan beberapa makanan yang sudah matang untuk diletakkan di meja, siap dinikmati untuk makan malam nanti.

__ADS_1


“Belum pulang ya Gibran?”


Ia menanyai dirinya sendiri, melihat angka jam lima sore katanya pulang telat tapi emang sebegitunya terlambat hingga ibunya benar-benar ditinggal sendirian di kostnya.


Tapi itu tidak masalah sebab Arina memakluminya, Arina mengerti posisi Gibran yang seperti itu karena menjabat di posisi anggota BEM kampus jadinya ia selalu mendapatkan tugas mendadak dari setiap kegiatan yang ada di kampus.


“Hm, gimana ya keadaan papah sama mamahnya mas Arshal. Udah lama nggak ngabarin mereka lagi, apalagi mereka sudah tahu masalah yang dialami menantunya sama putranya sendiri. Mereka meski sudah mandang sebelah mata dengan keberadaan ku ini.” Ujarnya dengan melamun sampai tidak tahu itu yang ia goreng, nugget nya agak kecoklatan warnanya.


Sesaat ia pun tersadar karena aroma yang dikeluarkan dari penggorengan menembus indra penciuman nya.


“Eh,” ia reflek menyadari dan segera membalikkan nugget pesanan putra sulungnya itu.


“Ck, gara-gara mikir ke sana jadinya ini agak kecoklatan. Alah nggak ngerti lagi lah, kamu ini kebanyakan ngelamun jadinya begini.” Ia merutuki dirinya sendiri lantas mengecilkan api kompornya.


Perempuan itu lantas menuangkan sayur sop yang ada di panci di mangkuk.


Kemudian perempuan itu meletakkan mangkuknya di atas meja makan dan meletakkan piring yang berisi sayur kol bersama teman-temannya.


Satunya lagi ada tempe goreng krispi dan tahu yang digoreng matang.


Lalu perempuan itu mencicipi, menyomot satu tempe goreng dan menganggukkan kepala sebagai jawaban ternyata nggak buruk juga masakan dirinya.


Lantas kenapa suaminya itu yang selalu makan di luar rumah dan membawa makanan dari luar ke rumah. Pasti sakit hati, cemburu ya?


Pinginnya minta ditampol seperti anak zaman sekarang kalau sudah bosan sama masakan itu meski mintanya lebih, makan di luar saja ya bu. Dengan air mata buayanya yang selalu meraung-raung untuk meminta permintaannya dipenuhi.


Setelah mengerjakan semuanya, ia mengerjapkan matanya pelan. Sulit ya jadi ibu, jadinya begini sambil hamil jalannya hati-hati masya allah bener!


Kudu sabar.


Ia pun duduk di kursi makan sebelum lanjut untuk ke kamar mandi dan melakukan rutinitas setiap muslim, mengerjakan sholat ashar.


“Huft, iya ini belum lahirannya.”


Sedikit mengeluh jika begini, belum lagi nanti melahirkan pasti lebih riweuh lagi dan ia selama ini tidak menyadari jika sudah terlewati, dengan putra sulungnya yang makin tumbuh dewasa untuk mencari calon pasangan seumur hidupnya yang pasti.


Bisa mewujudkannya begitu cepat, tidak terasa. Ia tersenyum lebar, ia bisa menjadi ibu yang bisa belajar dari masa lalu yang tiap mengeluh tak ada pundak yang selalu memberikan kesempatannya untuk mengeluh, makanya itu ia bisa mengambil keputusan untuk kali ini.


Bisa menjadi ibu untuk selamanya seumur hidupnya, ibu yang selalu menemani kedua anaknya yang bisa bertumbuh kembang baik walau ia harus meyakinkan kepada putra sulungnya untuk menjaga adeknya jika ia benar-benar dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.


Umurnya sudah tidak muda lagi, yang pasti jika sudah tak muda mungkin jika benar-benar sudah waktunya ia akan dipanggil oleh Allah.


Ia pun setelah membuang rasa capeknya, berangsur berdiri untuk melaksanakan kegiatan lainnya lagi.


***

__ADS_1


Arina kini tengah menunggu putra sulungnya pulang ke rumah, hingga jam setengah sembilan malam pun putranya tidak pulang ke kost ini. Di sini yang milik kost biasanya lebih ketat lagi untuk tidak mengizinkan orang yang pulang lewat dari jam sepuluh malam mau laki atau perempuan. Makanya Arina mengkhawatirkan itu, jika putranya tak pulang dan terlambat akan menjadi permasalahan untuk pagi harinya nanti.


Akan diintimidasi dan diminta keterangan jika lebih dari jam sepuluh, seperti anak strict parents lebih tepatnya. Mereka itu menyayangi para anak-anak muda khususnya para muda-mudi yang mau menginjak dewasa dan membuat peraturan ketat untuk menjaga mereka dari marabahaya di malam hari.


Mereka menganggap semua anak muda di sini adalah anaknya dan pastinya tidak akan mudah bagi mereka yang sudah mendapatkan izin yang pulang lewat jam sepuluh lebih.


Apalagi ini masalah akan dibawa-bawa kemana-mana.


Ia menggigit bibir bawahnya hingga luka kecil timbul di area bibirnya.


“Kenapa perasaan ku nggak enak begini,” jadi ibu memang agak sensitif apalagi Arina ini hamil meski sudah tahu apa yang akan terjadi dengan putranya dan Arina akan lebih mewaspadai untuk hal ini, semoga tidak terjadi! Tetap tenang?


Tidak.


Ia rasanya ingin jungkir balik, Gibran—putranya sejak tadi sudah ia telepon tapi tidak dijawab oleh yang ditelepon dan seorang ibu mengkhawatirkan boleh saja, toh.


Tok.


Tok.


Suara ketukan itu berhasil membuat Arina yang gundah, cemas dan rasanya ingin memeluk erat putranya jika sudah pulang.


Arina melangkah lebih cepat untuk menuju ke pintu kost dan di sana menampilkan seorang pemuda dengan tampilan acak-acakan membawa tubuh seorang laki-laki yang beranjak dewasa itu, ya itu Gibran yang sudah lemah dan tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk berjalan dengan meracau kata-kata yang tidak jelas.


Membuat Arina sebagai ibu tersentil oleh Gibran yang seperti itu.


“Maaf Bu, ini Gibran.” Ucap seorang pemuda itu dengan membantu Gibran masuk ke dalam kost dan meletakkan tubuh Gibran pelan-pelan di atas kasur.


Pemuda itu sepertinya sudah mengetahui tata letak kost Gibran makanya tidak banyak nanya langsung bawa ke kamar.


“Hm, makasih.” Ujar ibu Gibran dengan singkat.


Tatapannya dingin dan tajam, seolah ingin menerkam habis pemuda yang sudah baik-baik mengantarkan Gibran tanpa imbalan sama sekali. Bukannya begitu, tapi itu seolah membuat pemuda itu kapok lagi buat bertemu lagi ke sini.


Pemuda itu tercekat dan lalu menghilangkan rasa itu dengan menganggukkan kepala, tersenyum tipis sebagai seorang teman dari putranya meski harus menghormati layaknya seorang putranya sendiri. Tapi, pemuda itu menepis hal itu.


“Ya sudah, saya izin pamit pulang dulu bu.” Dengan tangan ingin meraih tangan Arina, tapi Arina menolak dengan tatapan yang memanas dan pemuda itu segera beralih untuk keluar dari kost Gibran ini.


Rasanya sungguh mengerikan tatapannya bertubrukan itu akan menjadi kenangan buruk untuk malam ini.


Tidak ada hal itu lagi untuk malam ini.


--


**Oke, satu ini aja ya😭

__ADS_1


ramein🙏🙂


Oke sipp🤍**


__ADS_2