Luka Darimu

Luka Darimu
31. Aib Arina


__ADS_3

Hayo?


***


Arina mendengus pasrah lantaran tatapan mengintimidasi yang dikeluarkan oleh papahnya sendiri, ia sudah tidak bisa ber kata-kata lagi dengan papahnya yang ada di sini seenaknya untuk melakukan pembicaraan penawaran yang lebih ketat lagi dengan yang punya kost.


Iya, sekarang ibu kost sudah ada di ruangan ini yang terdapat dirinya bersama papahnya menghadap ke ibu kost.


Arina rasanya sumpek melihat papahnya yang datar tanpa ekspresi jika berbicara apalagi ibu kost nya senyum-senyum tanpa digoda padahal. Perempuan itu terlihat memandang najis ke arah ibu kostnya yang terlihat nafsuan menatap papahnya.


“Gimana bu?” Tanya papahnya datar dan dingin dari nada suaranya saja.


Perempuan itu bangkit daripada ia di sini mendengarkan pembicaraan yang tidak jelas yang membuatnya kesal sendiri. Ia pun melangkah pergi dari sini, sudah malam memang kondisinya mau bagaimanapun kost ini selalu dihuni jadinya keadaannya pun ramai banyak yang berkumpul untuk melakukan rutinitas setiap harinya yaitu mengobrol sampai malam, entah apa yang dibahas.


Mungkin jika Arina di posisi itu sudah dicibir sama temennya, kok nggak punya bahan topik atau gimana. Soalnya setiap orang memiliki topik yang menarik dibahas dan keren pastinya.


Arina berjalan sendirian tanpa adanya persetujuan papahnya, ia menuju ke taman yang letaknya tidak jauh dari kost. Jalanan raya mungkin kali ini lenggang tak seperti biasanya jika mau menyebrang saja sulit untuk melangkah ke taman ini.


Perempuan itu tersenyum tatkala ada banyak orang di taman semuanya berkumpul, dari segi keluarga, bukan mahram mungkin juga bisa jadi orang belok ada di sini. Bermacam-macam jenis mereka keluar dan melipir ke tempat nyaman ini.


Yang tiap malam memancarkan panaroma indah, seperti biasa jika malam banyaknya bintang yang berkerlip bagaikan lapangan luas yang tidak ada pepohonan bisa melihat bulan mengelilingi.


“Wih banyak juga ini penghuni,” kagumnya sambil menyelempangkan hijabnya yang berantakan terbawa angin yang berhembus semilir itu.


Pas sekali jika hari ini tidak mendung atau hujan, meski angin berhembus semilir dingin membuat bulu kuduknya Arina berdiri diterpa angin ini.


“Hm, ya. Lupa aku mau bawa uang,” karena dirinya merogoh saku yang ada di celananya tidak ada barang atau apapun yang ia andalkan hanya membawa dirinya sendiri.


Mau kembali lagi, ia menolehkan kepalanya ke arah belakang. Sudah tidak bisa untuk dijangkau lagi jalannya, saking ramainya orang-orang yang berkumpul di hari malam minggu ini. Sungguh kebetulan cuaca cerah, berhembus semilir dan melihat banyaknya bintang yang berkerlip.

__ADS_1


Ia menatap perutnya yang rata itu, seperti biasa dirinya hamil itu bisa dikatakan dia tidak hamil sebab perutnya belum terlihat membuncit layaknya orang hamil seperti biasanya, namun kali ini emang dia bisa melihat perutnya lama kelamaan membuncit dari bulan pertama yang masih rata tapi kini sudah menginjak usia empat bulan bisa dikatakan agak buncit.


Terdapat banyak orang yang berjualan.


“Ayo, mbak! Mampir!” seru pedangang yang menarik satu persatu pelanggannya untuk beli dengan menyeret-nyeret tangannya.


Padahal, orang itu tidak mau beli jika ya tertarik dengan kemauannya bisa beli kalau dipaksa bisa saja hal itu mengandung aksi percekcokan ataupun pertengkaran yang bisa saja berdampak parah di lokasi taman ini.


Arina menggeleng pelan melihat aksi ada yang menolak halus ada yang kasar pula, meludahi pedagangnya.


Benar miris!


Ini lah bentuk yang disaksikan, Arina menoleh ke arah lain. Banyak orang yang berdagang demi memenuhi kebutuhan keluarga, terutama banyak orang tua yang berjualan mainan beserta kawan-kawannya dan banyak lagi orang yang membeli untuk anak-anaknya supaya bisa membantu perekonomian bapaknya.


Kasian kadang, tapi ini Arina posisinya nggak megang duit. Ia tadi sempat terpikir, untuk kembali lagi ke kost meminta uang kepada papahnya lantaran dia sudah tidak memiliki tabungan sama sekali dan tabungannya sudah ia belikan barang-barang yang ingin ia jual menjadi bahan matang esok hari, tapi entah apes dari mana dirinya mendapatkan musibah.


Yaitu bahannya gosong dan tidak layak untuk dikonsumsi kau pun dijual untuk dikasihkan ke pembeli.


Gara-gara kedatangan papahnya, lama kelamaan drama yang dia jalani itu membuahkan musibah untuk nya.


Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menghampiri dirinya dengan memindik-mindik seperti maling tatapannya tapi ia tidak bisa menebak, positif thinking dulu nanti takutnya ia semakin jauh malah dibuntuti sampai ke kost.


Hawa merinding membuatnya agak takut, tangannya terangkat untuk memegang tengkuknya yang merinding dan meremang itu. Dan benar saja orang tadi tidak membawa satu orang saja, melainkan dua orang yang berjaga dari depan beserta dari belakang.


“Bubar kalian semua, sebelum saya akan membunuh salah satu di antara kalian di depan sini!” interupsi dari seseorang dengan lantang.


Lagi lagi Dor! Suara tembakan itu menguar di udara, membuat semua orang berhamburan keluar dari zona taman ini dan bersama-sama saling bertubrukan akibat tembakan yang saling beradu di udara. Karena tidak ada yang mengidahkan suara itu lalu salah satu di antara mereka mungkin mengikuti perintah dari bosnya jadi melaksanakan dengan sengaja, ya menyuarakan tembakan yang beradu ke udara.


Perempuan itu yang mendengar tembakan itu tidak takut sebab ada laki-laki yang dihadapannya ini sudah pasti ia akan adu mulut terlebih dahulu, ia memandang remeh lawan jenisnya kali ini.

__ADS_1


Arina merasa ada yang janggal itu lantas menengokan kepalanya dan ternyata benar, beberapa orang berdiri dengan angkuh di depan mobil dan orang laki-laki tadi sekarang ada dihadapannya tanpa pembicaraan.


Ia menghela napas pelan, “Siapa kalian?”


“Sudah menghancurkan acara ini, kalian sadar tidak? Banyak orang yang berduyun-duyun untuk melarikan diri agar selamat dari tembakan yang kalian lakukan tadi,” oceh Arina dengan matanya membulat.


Arina menatap mereka bulat-bulat namun tidak ada pergerakan dari mereka sehingga Arina ingin sekali memiliki niat untuk merobek mulut mereka dengan cara jahanamnya biar sekalian punya mulut itu kan bisa digunakan berbicara terus dia ini ngomong panjang lebar apa kagak denger apa pura-pura nggak jawab pulak!


Tangannya sudah gatal, perempuan itu kemudian maju beberapa langkah dan berhasil menarik seorang laki-laki yang berpakaian hitam formal seperti biasa, pengawal-pengawal yang berbadan jakun serta tinggi pas buat bahan halu, topiknya kali ini.


Mereview orang. Biar makin tambah pahala.


“Apa? Jawab lah! Apa bis—


“Ekhem,” suara itu menyadarkan Arina kepada seseorang dan Arina menengokan kepalanya ke orang yang berdehem tadi, ia terkejut serta kaget.


Kok bisa-bisanya itu orang ke sini, tak lain lagi seorang laki-laki yang berinisial sebagai papah untuk Arina dan Arina menghembuskan napas pasrah. Ia tidak lagi ingin berkomentar, ternyata ini semua perintah dari papahnya sendiri.


Ia tidak habis pikir terkadang sama papahnya yang suka buang-buang duit dengan sesuatu yang tidak berguna, sementara dirinya saja hidupnya penuh dengan irit dan asalkan tercukupi sudah. Enaknya hidup ngapain terlalu buang-buang uang, tujuan untuk hidupnya.


Papahnya cemberut dan kesal, “Mau ngomong apa tadi?” Dengan mukanya yang tertekan Arina seperti mau jantungan rasanya lantaran pertanyaan yang ditanyakan oleh papahnya sendiri, papahnya ini selalu begitu.


“Apa? Bisu? Iya kah?” tanya beruntun papahnya dengan melangkah dekat ke Arina posisinya yang tidak jauh dengan dirinya ke luar dari mobil.


Ia menundukkan kepalanya untuk ke luar dari mobil dan melangkah dengan kaki jenjangnya untuk mendekati putrinya yang terlihat bingung, garuk-garuk mau jawab apa.


“Jawab saja lah, jujur tapi! Kamu ini kebanyakan bohong kalau sudah diberikan kesempatan buat jawab.” Ujar papahnya membongkar aib keburukan Arina—putrinya.


__ADS_1


Hai?


Apa kabar?


__ADS_2