Luka Darimu

Luka Darimu
38. Berdua


__ADS_3

Arina bertemu dengan tatapan itu, ia lalu membelakangi orang tersebut yang sudah menangkap wajahnya, ia menyeringai.


Pria itu duduk di atas kursi roda sementara Arina ia memegang infus dan mereka sama-sama tidak saling menyapa.


Tapi menurut Arina dirinya yang tidak pantas jika harus menjawab sapaan, mending dia menyapa.


“Mas....”


Ya itu suaminya yang kini duduk sambil termenung, sebenarnya dalam hati Arshal merasa sangat senang bertemu dengan wanita itu tanpa harus mencari mereka bertemu dalam satu kubu yaitu sama-sama sakit, melihat bibir Arina yang pucat itu sudah dapat dipastikan perempuan itu sedang sakit bersama dengan selang infus itu yang menempel di tangannya.


“Ya, kamu di sini?”


“Hm, sama.”


“Oh,”


Mereka dalam keadaan canggung seperti ini, seperti dalam masa pertemuan pertama namun pria itu masih ingin membahas untuk menerima Arina di sisiNya lagi.


Tanpa harus mencari, sekarang ia akan membicarakan persoalan itu.


“Rin,” panggil Arshal menatap manik Arina yang indah itu, walau begitu Arina bukan tempat yang pas untuk dirinya berdampingan saat ini.


Karena dia tidak membutuhkan pendamping hidup untuk selanjutnya hanya membutuhkan uang uang uang yang bisa mencukupi kebutuhan dirinya selama hidup.


“Ya?”


“Boleh minta waktunya sebentar,”


Wanita itu mengangguk tanpa kata, lalu berjalan untuk memegang infus itu lalu ia memindahkan ke tangannya, ia kemudian memegang pegangan kursi roda.


Lelaki itu bingung dengan sikap Arina.


“Mau apa kamu, Rin?”


Arina terhenti, “Y-aa itu dorong kursi roda kamu lah!” jawab Arina yang memegang infus tanpa tiang itu.


Arshal menggeleng, tersenyum tipis.


“Kamu sakit, saya sakit. Sebaiknya kamu pegang saja infus kamu, biar saya yang dorong pakai tangan saya.” Ucap Arshal menolak halus.


“Ya sudah, ini mau ke taman?” tanya Arina yang membenarkan infus itu dan meletakkan ke posisi awalnya.


“Boleh,”


Arshal dan Arina sama-sama menuju ke taman yang akan digunakan untuk mereka mengobrol, agar bisa lebih leluasa untuk pembicaraannya.


Dan tidak terdengar oleh orang lain walau hanya beberapa yang berlalu lalang lewat biasanya tidak akan memfokuskan untuk satu pembicaraan saja, banyak ide yang terlintas tanpa harus dipikirkan ya seperti ghibah.

__ADS_1


Karena Ghibah sarang dosa.


Tibanya di taman mereka memilih untuk di tempatnya, Arina duduk di kursi taman yang sudah disediakan dan Arshal tetap di kursi roda.


“Sakit apa, mas?” tanya Arina memulai pembicaraan, Arshal lalu menatap wanita itu.


“Iya saya belum pulih dari kecelakaan itu, tapi saya nekat buat cari kamu jadinya begini. Pingsan terus nggak tahu jika itu di tanah ada batu tajam yang nggak tahunya malah kena kepala. Ya udah sekarang begini,” iya kepala Arshal diperban hanya beberapa centi saja namun rasanya bikin lelaki itu tetap ada di ruangannya, karena ya tidak betah dengan keadaan ruangannya jadi dirinya mencoba untuk sendiri keluar.


Tidak tahunya malah bertemu dengan seseorang yang ia cari sampai berjuang demi dapetin harta warisan itu.


Tapi bagi Arshal itu tidak masalah yang terpenting wanita itu menyetujui beberapa persen dari harta warisan orang tuanya bisa dibagi rata dengannya.


Kan nggak harus saling ngotot jika emang udah dibuktikan dirinya berhak menerima warisan itu.


Wanita itu kaget, ia terkejut melihat suaminya seperti itu hanya karena dirinya.


Kan ya masuk logika saja, ia percaya.


“Terus kata dokter apa?”


“Nggak ada, cuman itu. Untung saja Gibran saat itu cepat-cepat membantu, ya sudah dokter berkata jika tidak nyawa ku mungkin tidak tertolong lagi.” Beber Arshal.


Arina menganggukkan kepala, ia lantas menghembuskan napas pelan dan tersenyum lebar.


“Ya sudah, mau ngomong apa?” tanya Arina yang to the point, lantaran lelaki itu tidak menanyakan dirinya jadi ia langsung ke inti pembicaraannya saja.


Wanita itu terpaku, ia melamun sambil memahami satu persatu apa yang diucapkan oleh suaminya. Ia dalam hati tertawa sebenarnya mendengar perkataan yang telah dilontarkan tadi, namun lelaki itu tidak memandang apa yang terjadi ke depannya jika Arina benar-benar balik ke dirinya.


Wanita itu menatap suaminya.


“pulang? Bukannya kamu yang ngusir saya duluan?” skakmat sekarang, wajah lelaki itu berubah meredup.


Wanita itu sudah benar-benar terkunci hatinya tapi di jauh lubuk hatinya terdalam masih menyimpan rasa untuk lelaki itu, lantaran ini ia dibimbangkan oleh suatu ucapan makanya ia akan menanyakan dulu.


Apa iya lelaki itu mengharapkan dirinya pulang hanya karena satu persyaratan, dan dia cuman dijadikan alat untuk bisa pulang ke rumah itu.


“Tapi, Rin? Aku beneran nggak ada yang mengurus, Rin. Aku belum pernah mengatakan jika aku minta cerai sama kamu kan Rin?” tanya lelaki itu bergemelatup di hatinya, menahan sesak di dada dan rasanya ingin marah namun ia tahan.


Lelaki itu wajahnya berubah sendu, “Rin... Kasian anak kita Rin, dia butuh orang tua yang lengkap, Rin.” Walau di hatinya tidak sudi untuk mengakui tapi lelaki itu butuh memperjuangkan untuk warisan agar jatuh di tangannya, berpura-pura menjadi dua orang saja.


Dua kepribadian maksudnya.


Wanita itu menggelengkan kepala sambil tertawa pelan, saking tidak kuatnya memegang perutnya yang rasanya geli mendengar ucapan suaminya.


Apa tidak kebalik?


“Nggak percaya!” jawab wanita itu meninggikan suaranya, dengan memainkan selang infus dan sampai darahnya naik ke selang nya membuat Arshal berubah raut wajahnya melihat perempuan itu sama saja mau membunuh dirinya sendiri, panik.

__ADS_1


Lelaki itu segera mendorong rodanya dan mendekati perempuan itu.


“RIN! INGAT ITU ANAK KAMU!” pekik lelaki itu yang mencoba menghentikan aksi wanita itu yang sama saja mengerikan baginya.


Ia khawatir dengan Arina, walau ia tidak ini ya secara pribadi tapi sesama manusia ya ada rasa belas kasih untuk sesama makhluk hidup.


Perempuan itu menatap berapi ke suaminya, “APA? SEMUANYA INI JUGA KARENA KAMU!” tunjuk nya pas di depan wajah lelaki itu dengan menarik satu kali selang yang menyambung ke jarum menancap di tangannya, terlepas juga saking dirinya tidak ingin mendengar kata itu lagi dari mulut suaminya.


Sulit untuk dipercaya! Gagal dalam menjalani rumah tangga, gagal untuk menjadi ibu dan gagal untuk menjadi istri, terutama sudah disakiti berkali-kali namun perempuan itu masih yakin dengan apa yang ia jalani.


Selama delapan belas tahun, hanya kata bualan ataupun yang tidak pernah dijalani oleh suaminya, sebagai peran suami serta ayah bagi anak-anak mereka tidak pernah Arina rasakan bersama Gibran selama delapan belas tahun ini.


Apa ia harus percaya lagi untuk beberapa kali sudah dikhianati?


Ia kecewa kali ini.


“Bukan anak aku saja, tapi anak kamu juga, mas!” lirihnya dengan menatap kosong.


Arshal kicep, ia merapatkan bibirnya. Salah berbicara ternyata dikoreksi oleh perempuan itu. Konsekuensi yang dihadapi ya begini, kadang kurang satu kata saja perempuan itu tetap membenarkan dan untungnya saat itu lelaki itu yang berkuasa jika tidak mungkin sama-sama egoisnya dan keras kepala, rumah tangganya nggak akan berjalan sampai sejauh ini.


“Iya anak kita.”


Wanita itu lalu merenungkan dirinya, jauh dari kata hatinya segenap relung jiwanya tidak akan lagi ada kata untuk pulang ke rumah itu, karena sejuta luka telah dirasakan dan terlewati oleh kehidupannya. Ia tidak mau terulang lagi, wanita itu tetap kekeuh dengan pendirian awalnya.


“Tidak!” jawab lugas wanita itu yang tidak merasakan sakit atau apa lantaran darah yang ada di tangan kirinya sudah melebar ke mana-mana cairan merah itu dan Arshal—pria itu sebenarnya takut dengan darah, tapi ia akan mengusahakan untuk mencegah darah itu tidak keluar.


Dengan pelan-pelan ia beranjak dari kursi roda, ia lalu melepas pakaian yang ada lambang rumah sakitnya itu, tenang dia dibaluti oleh kaos berwarna putih untuk dalemannya dan ia melepaskan semuanya. Menyobek cepat kaos putihnya itu.


Perempuan itu menatap lemah ke Arshal, merubah gurat wajahnya menjadi bingung lantaran suara robekan yang terdengar di telinganya.


“M-as, kamu mau apa?” tanya Arina bingung dan pria itu hanya diam memilih untuk tidak menjawab.


Pria itu lalu mendekati Arina dan membawa kaos yang sudah ia robek itu, dengan meraih tangan kiri Arina yang sudah penuh dengan cairan darah dengan tetesan yang menetes di bawah.


“Kalau mau mati, jangan begini!” hardik lelaki itu dengan mengikat keseluruhan tangan Arina supaya bisa mencegah darah itu untuk tidak menetes lagi, bisa-bisa Arina kehilangan darahnya dan harus mentransferkan darah yang ada.


Kan sayang jika harus donor darah.


Wanita itu hanya memperhatikan tanpa berkomentar lagi.


--


**Hayo?


apa kabar?


iya makasih yang sudah bersedia menjadi pembaca setia Din ya, see you lope❤**

__ADS_1


__ADS_2