
Arina memandang kesal ke papahnya yang tengah menunggu dirinya sedang mencari jawaban sampai diseret ke mobil pun perempuan itu tidak mau diajak masuk sebab perempuan itu tidak betah dengan bau wangi mobil, seharusnya itu baunya stela jeruk ada sepuluh dicantolkan di setiap sisi.
Biar enaknya semerbak daripada vanila begini lebih kayak white gitu, Arina saja mau muntah rasanya.
Ia diam saja tanpa melihat papahnya yang terlihat menerbitkan senyumnya dengan cara diimut-imutin.
“Pah!” Kesal Arina dengan memukul pelan tangan papahnya yang nakal mulai genit itu.
“Apa nak?” tanya papahnya dengan menatap smartphone yang masih menyala itu dengan telinganya yang mendengar, membuat Arina ingin sekali menarik mulut papahnya itu yang tidak bisa mengerti keadaan putrinya.
Tertekan sudah pasti, perutnya dirasa mual-mual dan benar saja dia diam.
Perempuan itu memegang mulutnya dan semua cairan pada akhirnya keluar dari dalam mulutnya.
Perempuan itu mengeluarkan cairan bening beserta makanan yang ia makan tadi, ia merasa ada kok kuning-kuning. Ia mengernyitkan dahinya bingung lantaran memikirkan apa yang ia makan tadi.
Ia dengan dileleri air mata yang artinya benar-benar dirinya sudah tidak kuat lagi dengan bau aroma yang menguar di mobil ini sehingga ia memuntahkan semuanya tidak kira-kira sampai papahnya saja memegang tengkuknya agar lancar untuk memuntahkan apa yang ia tahan.
Lelaki itu baru menyadari ketika putrinya sudah mual dan instingnya benar jika Arina mau muntah dan sekarang cairan yang bersamaan dengan makanan yang dimakan tadi keluar semua, mengakibatkan alas mobil kotor lantaran cairan bening itu secara langsung mengenai alas mobil.
Papah hanya bisa memerintah anak buahnya saja tidak bisa menolong untuk masalah ini yang bersangkutan dengan harga dirinya, di mana seorang tiran pebisnis handal di New York memunguti bekas cairan muntah putrinya kan tidak lucu namun sebagai darah daging yang mengalir di tubuh putrinya itu setidaknya dia bisa bertanggung jawab atas apa yang diperintahkan oleh ratu.
“Ke rumah sakit!” interupsi tegas yang keluar dari mulut bos mereka, sopir itu lantas menambah kecepatan geraknya agar cepat sampai jika tidak ini lelaki tidak segan-segan untuk memecatnya dan tidak bisa memberikan pekerjaan untuk seseorang yang berkhianat dalam bekerja atau lalai.
Sementara Arina yang memegang perutnya dan dadanya yang sesak itu lalu menggelengkan kepala tidak setuju, ia itu cuman mabok ini vanila bukannya apa-apa.
“Nggak!” ucapnya dengan gelengan ribut.
Papahnya menatap lekat Arina, “kenapa? Bukannya papah ada tawaran begini harusnya diterima?” tanya papahnya baik-baik.
Papahnya sedikit demi sedikit tangannya tergerak untuk memijat pangkal tengkuk Arina.
__ADS_1
“Sudah di rumah sakit saja!” keputusan yang tidak bisa digugat dan tergugat akhirnya mengalah untuk diam karena tidak ada yang berani membantah jadinya mau tidak mau harus nurut.
Arina pandangannya mengabur, dirinya akhirnya tertidur setelah memuntahkan itu semua.
“Nak, minum dulu!”
Papahnya menyodorkan botol minum yang berisi air yang sudah ada di dalam mobil.
Untuk berjaga-jaga.
“Ambilkan tisu!” salah satu tangannya menerima tisu yang ada di kotak yang diberikan oleh pengawal yang ada di depan duduk samping sopir.
“Ini tuan,”
Akhirnya lelaki itu bisa menurunkan harga dirinya untuk seorang putrinya, digaris bawahi ia begini juga kasian sama putrinya dan cucunya yang ada di kandungan. Apalagi putrinya ini sudah berumur, yang pasti sedikit ada rasa khawatir dengan umur.
“Nak,” Panggil lelaki itu dengan menggoyangkan tubuh Arina pelan-pelan, tapi tidak membuahkan hasil sama sekali dan seketika raut wajah papahnya Arina berubah menjadi risau, merah padam.
“Cepat! Lelet sekali,” perintah papahnya Arina menyuruh untuk menambah kecepatan, pada akhirnya sopir itu dengan cepat tangannya menambah kecepatan.
Mendadak ia menjadi diam beserta datar.
Jika sudah tahu begini ujungnya ia tidak akan membawa Arina untuk pergi naik mobil, naik motor saja aman. Memang selama ini Arina tidak pernah yang namanya naik mobil jalan-jalan atau apa. Keperluannya ya hanya naik bus sama angkot, ataupun taksi itu saja jika perlu.
Jika tidak ia sudah malas untuk naik mobil, apalagi dengan bau vanila, membuatnya mabuk seketika menjadi semuanya ia keluarkan.
**
Berbeda dengan Arshal sekarang, dirinya tengah memakan lontong tahu yang ia beli di pertigaan jalan tadi. Ia sedari pagi menyadari bahwa dirinya belum makan sama sekali, mengisi perutnya yang kosong itu pun bersama lontong. Meski tidak kenyang dalam besok pagi, setidaknya ia masih bisa berharap untuk papahnya mengerti dan merubah pola pikirnya.
Ia sendiri di sini merasakan kesepian walau dirinya bahagia di luar, tapi batinnya menolak akan hal kesepian.
__ADS_1
Sebab istrinya itu sudah tidak lagi tinggal bersamanya, nanti ketika sudah dilahirkan calon bayi yang dia kandung. Katanya Arshal akan menggugat cerai kepada Arina, tapi dipikir-pikir bukan tidak beruntung malah yang ada dirinya miskin semuanya.
“Hm, gue maunya harta papah bisa jatuh ke tangan gue bukan ke tangan Gibran maupun Arina, secara kan gue anak tunggal mereka masa iya mereka tega nggak berikan gue sedikitpun harta mereka.” Ujarnya di sela-sela mengambil gelas yang ada di rak sebelah wastafel pencucian.
“HAH!” ia mengacak seluruh rambutnya dan meletakkan gelas yang berisi air putih itu di atas meja tempat di mana piring yang berisi lontong tadi.
Ia bisa menjadi gila, apa-apa kok tempat sampah dikirain dipungut terus dipakai, apa kata dunia jika Arshal itu memungut dari bekas yang sebenarnya.
Kan nggak guna sekali, tapi ia harus menegakkan keadilan untuk dirinya yang berhak untuk memegang atas pewaris dari orang tuanya. Tidak mungkin kan jika pewaris itu akan jatuh ke tangan menantu dan cucu, secara hukum yang berjalan jika di persidangan maka ada yang menyatakan bila anak itu masih hidup berhak untuk menjadi pemegang pewaris bukan siapa-siapa kecuali jika anak itu meninggal berhak pula cucu yang akan menerima kenyataan untuk menjadi pewaris.
Ini kok menyalah artikan saja papahnya bersama mamahnya.
“Apa gue gugat aja ya? Masa iya gue harus cari pengacara terus sulit lagi buat ngeluarin duit banyak, nyewa pengacara mengurus di persidangan nantinya. Ealah kok hidup gue gini amat ya, blesek sekalian lagi. Ini semua gara-gara orang tua gue, mungkin saja kalau gue nggak nerima itu akan gue buktikan jika dunia saja biasanya berbicara, gue akan kaya nggak perlu buat ngemis-ngemis lagi ke orang tua.” Ucapnya berhalusinasi semakin menjadi jika itu warisan tidak ada sekalipun dia mendapatkan itu.
Iya dirinya perlu mengaca diri agar tidak terlalu membuat harapan lebih kepada orang tuanya, tapi ia bisa memperjuangkan itu untuk keadilan dirinya sebagai putra mereka.
Ia lantas mendudukkan kembali di kursi sambil menikmati lontong yang belum habis ia makan dan ia sudah ingin menyuarakan hatinya, namun itu tidak bisa diwujudkan secara cepat butuh waktu bahkan terkadang waktu saja tidak cukup untuk bulanan bisa bertahun-tahun untuk memenangkan hakim warisan orang tuanya.
Bisa bongko (mati) gara-gara bayar pengacara yang tidak seberapa eh malah kalah di persidangan yang ada dirinya yang menggugat jadi tergugat.
Kan ya yang jelas dia mempermainkan keadilan itu yang jelas dipidana ataupun dikenakan pasal-pasal yang bersangkutan dengan dirinya yang selama ini mengada-ngada.
Ia akan membutuhkan waktu untuk mempersiapkan mendekati Arina, butuh perjuangan yang tidak main-main tentunya.
—
**Yak gimana?
Hm, udah?
sini saja! jangan ada yang menebak nanti yang ada Din malah menebak kalian itu selalu ngada-ngada😭🦶
__ADS_1
Iya hohoho. maafkan jika itu apa memfitnah kalian, tidak sebenarnya! tolong lah ngerti ya:)
hm❤**