Luka Darimu

Luka Darimu
25. Jatuh ke Got


__ADS_3

Lelaki itu pun terlihat kesulitan untuk mengubah posisinya, ia menghentikan mesinnya sebab rasanya tak mungkin untuk melanjutkan perjalanan jika keadaannya tidak memungkinkan.


Separah itu mamahnya?


Apa iya mamahnya tidak percaya lagi dengannya, apalagi dia memiliki sumber penghasilan itu cuman dari duit hasil kerja orang tuanya selama ini. Mengandalkan dari sana, kenapa ia tidak berpikir.


Arshal turun dari kereta dua roda itu dan selonjoran duduk di atas jalan untuk pejalan kaki itu.


Lelaki itu terlihat pucat pasi dan darahnya sampai mengalir meler kemana-mana.


Ia sampai melenguh kesakitan, terpaksa dirinya pingsan di atas trortoar ini jika tidak ia bisa saja menabrak pepohonan atau bahkan membahayakan nyawanya sendiri. Ditabrak oleh pengendara lain jika membawanya dengan keadaan pucat serta pusing yang menderanya.


Parah sekali mamahnya.


Ia bisa mengajukan kasus hal ini ke pihak kepolisian atas kasus kekerasan terhadap anak.


Sebenarnya juga bukan anak kecil lagi, tapi ini sulit untuk diampuni lagi kelakuannya yang melewati batas.


“Eh, eh ada orang yang berhenti itu!” ucap orang-orang yang ada di sekitar perumahan, masih sama dengan wilayah satu daerah dengan rumah Arshal sebenarnya.


Tak jauh dari mengemudikan motornya, ia belum keluar dari perumahan ini makanya banyak orang-orang yang terlihat santai untuk menjamu tiap hari libur kerja.


Dan ini mereka semua berduyun-duyun menghampiri Arshal yang lening nggak karuan, dan brukk.


Benar saja tubuhnya limbung dengan tidak elitnya menggulung, jatuh ke arah parit yang ada airnya, ya air comberan. Biasanya begitu. Dan benar, ini mungkin tidak ditakdirkan oleh yang maha Kuasa jadinya dia pingsan di tempat bau dan kotor ini.


Sampai-sampai orang yang menghampirinya tampak bingung dan memikirkan bagaimana cara menolongnya jika sudah terkena air comberan.


Apalagi darahnya tercampur dengan air comberan, sungguh karma baginya.


Semua orang yang ada di sana hanya melihat tanpa ada niatan untuk membantu atau apa.


Sebab mereka semua ‘kan ya dari kalangan orang yang bekerja nya di gedung-gedung tinggi, mana bisa suruh menceburkan dirinya di got.


“Wesh, mending telepon ambulan!” suruh salah satu orang dengan berteriak menerobos orang-orang yang berkerumun itu.


Cepat-cepat dari salah satunya pun mengeluarkan handphone, ya meski tidak menolong ada wujud untuk dirinya membantu.


Beberapa orang yang ada di sana berteriak-teriak untuk meminta tolong, ya ibu-ibu seperti biasa jika ada kecelakaan bukannya membantu malah meneriaki banyak orang untuk membantu.


“ADA KECELAKAAN WOY, BANTU-BANTU!” salah satu ibu-ibu nggak tahu kronologis ceritanya malah menuduh adanya tragedi ini, mengasal cerita.


Teriakan itu membuat orang-orang di lingkungan sana pada keluar.


Sampai ke rumah orang tua Arshal, membuat banyak pengawal di sana berkumpul dan keluar dari rumah majikannya untuk melihat siapa yang kecelakaan nyebur got.


Pengawal berbadan besar itu semuanya menerobos orang-orang yang mengerumpul layaknya menonton konser fanmeet saja.

__ADS_1


Berdesakan, “Semuanya! Beri jalan,” salah satu pengawal memandu orang-orang untuk memberikan jalan.


***


Sementara dengan Gibran, dirinya tengah melamunkan masalah dirinya bersama si dosen yang ada dihadapannya ini. Ia dilanda perkara tentang IPK semester lalu, yang baru dibahas sekarang.


Ia menghembuskan napas pasrah, mungkin saja dia bisa menawar untuk IPK nya tidak diturunkan kepada dosennya, namun apa boleh buat dosennya itu yang selalu menego-nego tugasnya ketika mau dikumpulkan.


Ya jadi tertunda, terus sekarang hasilnya tak memuaskan jika begini harus dipermasalahkan lewat dosennya secara langsung.


“Kamu mau ngulang semester lagi Gib? Bukannya ini udah mau mendekati KKN ya? Saya saran sih kamu lanjut saja,” salah satu dosen mengasih saran seperti itu ada pula yang menolak atas saran yang diajukan dosen satu.


Dosen dua berkata lain. “Tidak usah, kamu nanti jika mengulang akan hasilnya juga sama.” Timpal dosen keduanya yang memakai kacamata oval itu dan berbadan layaknya orang Korea. Idaman banget, Gibran saja sampai terpana melihat ketampanan dosennya setiap kali mengajar.


“Tapi, menurut saya alangkah baiknya kamu mengulangi saja! Jika nanti mau sidang atau apa, itu IPK lebih penting daripada segala-galanya.” Usul dosen ketiga, ini yang bikin bimbang dari segalanya sebab dosen ketiga itu seorang panutan yang terkenal dengan kecerdasannya dan ketelitiannya, apalagi orangnya ini kepala jika orang pinter sudah bisa digambarkan jika otaknya mendalam bukan jendol ke depan.


Sengaja ini ketiga dosennya memberikan saran dan ususlan yang berbeda-beda. Gibran jadi menarik kursinya untuk duduk yang secara dia dari tadi berdiri tanpa ditawari untuk duduk di samping dosen pertama.


Ia kelamaan jadi pegal sendiri, mengacak rambutnya frustasi.


Tangannya terangkat untuk mengambil dokumen yang berisi nilai-nilai IPK yang sudah terpampang jelas, dan semuanya bisa dirubah asalkan niatkan kepada diri sendiri. Memanajemen diri sendiri itu lebih baik. Biar kesalahan yang masa lalu bisa diperbaiki dan melanjutkan pendidikan yang lebih dalam lagi.


“Pak, bisa saya menanyakan ini kepada orang tua saya?” tawar Gibran penuh hati-hati.


Dosen pertama lantas menjawab, “kenapa? Apa kamu takut untuk memutuskan?” komentar dari dosen pertama, orangnya berbadan langsing itu seperti ngegym orangnya.


Fitnees biasanya dijaga.


Tidak sanggup Gibran sekali kepentok itu omongan dirinya.


Gibran merapatkan mulutnya, “Bukannya begitu pak, tapi ini demi kebaikan Gibran nantinya jika mau memutuskan. Siapa tahu usulan kita ini bisa dipertimbangkan oleh orang tuanya, jika Gibran percayanya sama orang tua juga tidak apa-apa. Mau dipermasalahkan emangnya?” sanggah dosen ketiga yang membela kebaikan dan kebenaran untuk Gibran yang bingung, rautnya saja tidak bersahabat gitu.


Dengan menekuk wajahnya dan memajukan bibirnya, ia itu ingin marah sebenarnya tapi mengingat di depannya semua ini jajarannya para dosen yang sudah dipercayai oleh pihak kampus untuk dicontoh di seluruh fakultas yang ada di kampus.


“Iya betul pak,” bapaknya yang Korea itu sambil menegakkan keadilan dan kalah telak, orangnya diam seribu bahasa sembari meniupkan pulpen yang ia mainkan sedari tadi.


“Ya sudah itu pilihan kamu, apalagi kamu ya itu ya dengan IPK tertinggi sebisa mungkin kamu pertahanin. Bapak yakin hasil mu lebih baik ke depannya,” ucap bapaknya bergerak pergi dari ruangan ini.


“Iya, saya izin keluar dulu pak.” Izin Gibran sungkan dan menundukkan kepala, dua dosen itu menganggukkan kepala.


“Pertimbangkan keputusan kamu!”


“Iya pak,”


Cukup kali ini Gibran dipanggil oleh dosennya dan ia keluar dari ruangan ini.


Ruangan penuh kegelapan yang ada katanya para teman-teman di satu kelasnya, ia menatap teman-temannya tiga orang itu bingung.

__ADS_1


Semuanya menatap khawatir dan risau, ada satu orang sampai dirinya mau pingsan ya satu orang ini disebut-sebut agak berbeda dari yang lain, agak ke perempuan tingkahnya. Melebihi perempuan lagaknya, kalau jalan aja ya lenggok.


Gibran tidak memperdulikan, yang penting dirinya tidak dikatakan seperti itu mau ditaruh mana mukanya jika berubah drastis masuk ke kampus dengan jalan yang biasanya tegap dan seperti laki-laki pada umumnya, eh disuruh gitu yang ada para perempuan memandang dirinya rendah.


“Gimana Gib?”


“Ada masalah kah?”


“Apa kamu di DO dari kampus ini, ih elah kasian sih. Gue turut berduka suka,” ucap salah satu dari mereka yang berbeda lagi ini, ada temennya sedih dianya seneng. Nasib punya temen nggak ada yang berguna sedikit.


Gibran menggelengkan kepalanya, menggaruk tengkuk lehernya. Bingung, rentetan pertanyaan dilontarkan dari setiap mulut teman-temannya ini.


“Hm, masalah IPK.” Jawab dirinya singkat.


Membuat ketiga temannya memebelalakkan matanya dan salah satunya mendekat sambil menggoyangkan pundak Gibran, sehingga semua tubuhnya ikut bergerak.


“Aduh yayangku, kenapa sih sama siapa kamu buat masalah? Kok IPK bisa turun,” ujarnya dramatis penuh dengan ala gaya ya Allah istighfar.


Gibran menggelengkan kepalanya, menghempaskan tangan temannya yang disebut banci tepatnya itu.


Ia bisa mabok kalau digoyang-goyang.


“Udah lah, mending ke kantin aja. Kalian ada kelas lagi nggak nanti?”


“Oh tidak, kan kita sama ambil kelasnya.” Ucap kompak bertiga, walau dengan nada berbeda-beda.


Mereka menganggukan setuju. Akhirnya berempat orang itu melangkah ke kantin untuk membeli makanan mengisi perut mereka yang sudah dikuras habis dengan pelajaran yang banyak dengan hafalan, kuis.


***


**Wkwk 😂...


this i delicious 🙏🤣


oke oke mantau di sini.


Jan lupa buat apa-apa bisa ingetin lewat DM ig atau di ** ya, bisa masuk ke grup juga kalau mau😌


IG @dinndafitriani


** @


Unsur baca oren di tambah qetuopdinda, bisa diikuti buat lihat video video short yang bisa ditonton ☺


izinnya gini...


para pembaca...

__ADS_1


Gitu udah, dua kata itu doang🙏


Iyak sekian dulu**.


__ADS_2