Luka Darimu

Luka Darimu
21. Gibran pewaris utama


__ADS_3

Arina sebagai ibu mengelus dada, ia pun melepaskan apa yang menempel di tubuh sang putra agar lebih enak untuk tidur malam ini.


Kasian sekali, rasanya dirinya ingin bisa menggantikan di posisi Gibran sebagai anak yang tidak tahu apa-apa. Mungkin ya efek sana-sini kena omongan, ya dia selalu kepincut dengan omongan yang menyakitkan dan salah satunya.


Anak broken home nggak usah ditemenin, dapet apa lho? Nggak dapet hikmah kan jika sudah temenan sama anak depresot gara-gara orang tuanya cerai itu.


Selalu kata-kata yang dilemparkan dan sangat menyakiti, jika Arina di posisi Gibran ya mungkin sama. Larinya ke minum dan Gibran sampai sebegininya. Teler segala, Arina sebagai ibu membantu putranya untuk bangun.


Sangat berat! Efek mabuk, jadi kembung.


Arina membukakan kantong plastik untuk pembuangan kotoran yang keluar dari mulutnya itu.


“Jangan gini lagi ya, nak! Ibu bener-bener pingin nangis, tapi ibu pingin nahan itu tapi nggak bisa.” Dengan nadanya yang terbawa lama kelamaan Arina jadi merembeskan air mata yang tak sengaja keluar itu dan ia tidak bisa membendung air matanya yang sudah panas menggerumpul.


Gibran sampai muntah beberapa kali, Arina mengelus-elus punggung Gibran dan mengusap bulir-bulir keringat yang keluar di dahinya, menetes di setiap perjuangan Gibran mengeluarkan hal itu.


Gibran, laki-laki yang kuat tapi tidak dengan batinnya yang merasa tersiksa atas hal kejadian menimpa oleh orang tuanya membuat dirinya selalu mendapatkan penolakan sana-sini dan itu semua berpengaruh oleh kegiatan di kampusnya.


“Nak,” panggil Arina dan Gibran menoleh dengan matanya yang memberat, Arina menghela napas sejenak.


Walau sudah di ujung dirinya menahan agar tidak sama-sama muntah sebab area penciumannya itu sulit untuk dikondisikan.


Apalagi putranya ini sejak masuk ke kost, penuh itu bau bekas minuman yang ia minum dan membuat Arina sebagai ibu hamil seketika pingin keluar. Meminta tolong kepada pemilik kost.


“Hm,” dehemnya lemah.


Arina menatap putranya dari tatapan dekat, mata itu mirip dengan matanya tapi lebih agak kesipitan di area kelopak matanya.


Sebenarnya di hati pingin marah, apalagi rasanya berat sekali. Arina menghela napas berat, ia pun akhirnya melepas apa yang seharusnya dilepas sebelum benar-benar tidur pulas.


Walau ingin marah, tapi anaknya ini di posisi seperti ini maka ia akan lebih memaklumi dan menasehatinya di pagi harinya nanti.


Rasanya kesel campur marah, tapi ia tahan supaya tidak kesana kemari takutnya Gibran marah dan ia akan terkena sasaran empuknya Gibran yang terpengaruhi oleh minuman keras yang ia minum.


Ia mengurungkan diri.


Wajahnya yang lelah itu menunggu putranya berjam-jam dan akhir dari kata ia melihat putranya dengan kondisi yang tidak terarah sama sekali hidupnya.


Seperti tidak memiliki orang tua.


***

__ADS_1


Arshal, laki-laki beranjak dari duduknya yang duduk berjam-jam menatap papahnya yang hanya santai menanggapi.


Sambil meminum kopinya dan menatap laptop yang ada dihadapannya menunjukkan beberapa data yang harus dikerjakan malam ini.


“Pah, tahu nggak?”


Papah menggeleng pelan sambil menatap laptop, fokusnya ke pekerjaannya bukan putranya yang ada dihadapannya.


Padahal, di sini yang memiliki inisial anak semata wayang itu dibuang begitu saja.


Gelarnya kemana.


Ia heran.


“Apa to, Shal? Kamu itu mbok mending bantuin, siapa tahu hati papah tergerak buat mengalihkan nama lagi.” Tatapnya dengan serius dan Arshal berdecak pelan.


Sejak tadi di sini papahnya tak ada mulutnya yang berbicara mengenai meminta bantuan kepadanya, jika sejak tadi dibilang begitu ya Arshal sebagai anak akan membantu.


Bukannya begini.


Didiemin sampai berjam-jam.


Kepingin nangis dah, Arshal dengan muka kumelnya itu pun beranjak berjalan menjauhu meja kerja papahnya.


Anak meski harus nurun dari bapaknya.


Arshal mendongakkan matanya ke arah langit-langit ruang kerja papahnya ini, mewah kelasnya dari seorang pengusaha ya begini. Seenaknya berdiam diri dengan menjadi sosok terkenal, ia menganggukkan kepalanya.


“Jika begitu, aku akan menggantikan hal itu! Jadi, papah tinggal tanda tangan dibalik lagi namanya. Udah kan?” tanya dirinya sembari menghadap berbicara kepada papahnya yang kini matanya beralih ke tatapan matanya.


Papah tersenyum smirk dan mengusap ujung laptop, tepinya lantas menutup pelan laptopnya dan berdalih ke Arshal.


“Apa kamu sanggup mempertahankan perusahaan untuk tetap maju dan tidak terlibat permasalahan?” tanya papah Arshal serius dan menjorok ini Arshal seolah dipojokkan oleh papahnya sendiri.


“Lah emang salah gitu membalikkan nama itu?” Arshal kembali bertanya dan dia tak menjawab apa yang dipertanyakan oleh papahnya sendiri.


Papah menghela napas kasar, “Sanggup?” napasnya kembang-kempis dan Arshal menatap papahnya.


Tatapan ragu yang dia berikan oleh papahnya sendiri, membuat papah Arshal bisa saja memutuskan untuk perusahaan bisa menjadi lebih baik dari yang ia pegang, makanya dirinya ingin Gibran yang akan menjadi pewaris utamanya.


Dan Arshal yang akan membantu Gibran untuk mengurus perusahaan yang dibangunnya sejak nol.

__ADS_1


Walaupun begitu, Arshal masih ada kesempatan untuknya menjadi pembantu ataupun pemegang direktur dari perusahaan ini meski pemilik aslinya yaitu Gibran sendiri.


Papahnya menggelengkan kepala. Melihat sikap keras kepala Arshal harus membuatnya untuk mengelus dada.


“Tidak! Nah, selanjutnya papah akan mengasih kamu kepercayaan untuk menggantikan posisi papah tapi tidak dengan pemilik perusahaan ini yang akan dilanjutkan ke Gibran sendiri.” Putus papahnya membuat Arshal melebarkan tatapannya ke arah papahnya.


“Pah, kenapa nggak aku gitu?” tanya Arshal dengan tatapan memohonnya, mengemis demi memiliki seutuhnya harta yang nggak akan habis untuk keturunannya pula.


Kenapa perhitungannya bikin istighfar ini orang tua yang bau tanah ini.


Nah kalau papah Arshal berbanding balik.


Dikasih hati mintanya pelok lagi.


Pelok maksudnya di sini, itu ulek-ulekan kalau bahasanya papah Arshal.


Biasa rada aneh, memang sebab palah Arshal tak pernah menjumpai barang itu namun bisa menyebutkan asal tapi benar adanya.


“Hm, tidak!” tolakan itu membuat Arshal tidak terima, lelaki itu mendekati papahnya.


“Kalau begitu ya sudah, biarkan Gibran yang akan melanjutkan daripada kamu yang tidak mampu nantinya.” Sindir papahnya itu dengan menyilangkan tangannya di atas dadanya.


Sontak saja hal itu menjadi Arshal menatap tajam ke arah papahnya.


“Tinggal pilih penawarannya aja sih!” sambung papah Arshal menatap santai dan maju beberapa langkah keluar dari zona nyamannya dan Arshal memikirkan hal ini.


Yang pasti ini bukan jebakan ya untuk dirinya melangkah buat menjadi orang terkenal seperti papahnya, meski harus mulai dari nol melewati beberapa wartawan yang menerobos buat wawancara serta client-client yang projek kerjanya belum direalisasikan sama sekali. Harus minta bantuan ke papahnya untuk mempelajari masalah ini, apalagi penurunan dan peningkatan, biasanya statistik yang diberikan oleh orang bagian manejemen keuangan.


Tok


Tok


Tok


Suara itu seperti kenal, mereka berdua akhirnya keluar beriringan dan Arshal dengan langkahnya yang biasa itu hampir tersandung oleh kaki papahnya yang ada di sampingnya.


Kagak kira-kira.


---


**Oke sipp?

__ADS_1


Nanti lagi apa nggak besok 🗿🤜


Yak**.


__ADS_2