Luka Darimu

Luka Darimu
27. Siapa kamu?


__ADS_3

Arshal menunggu seseorang di halte, sambil mengelap keringatnya yang lolos merembes keluar dengan deras. Ia menggigil bawaannya, sampai wajahnya saja pucat pasi melihat semua di lingkungannya menjadi berkunang-kunang penglihatannya.


Ya ini ulah orang nekat tanpa merasakan hawanya yang masih sakit beruntung dirinya yang akan masuk rumah sakit lagi nantinya.


Apalagi orang tuanya tak mau tahu untuk kehidupan rumah tangganya lagi, mamahnya cuman berkata ‘jika kamu mau, pulangin Arina ke orang tuanya!’


Ia mengingat kembali di mana mamahnya perlu waktu untuk menjodohkan dirinya dengan Arina, lantaran kenapa kok putranya sendiri tidak menyukai itu perempuan jawabannya ya sama Arshal butuh waktu untuk menyukai lain jenis.


Apalagi dirinya seorang yang menuntut ilmu dari kecil di pondok, namun ia tidak seperti yang kalian baca jika Arshal itu alim.


Tak, semuanya itu tidak ada melekat pada dirinya yang ada cuman mantan bekas pejuang ilmu.


“Lama sekali, Gibran ini.” Ucapnya cemas-cemas melihat kanan kiri, aman tidak ada orang yang memperdulikannya. Ia terlalu malas jika nanti ditatap, terus orangnya peduli membantu dan membawanya ke rumah sakit.


Jadinya dia yang babak belur nantinya, tidak bisa bayar rumah sakit dan ini semua ulahnya sendiri. Bukankah orang tuanya sudah membiarkan, faktanya Arshal itu tetap diawasi gerak-geriknya dengan pemantau orang-orang yang ada di sekitarnya diperintahkan oleh majikannya sendiri. Agar tidak terlalu ngelunjak itu anak, bandel sekali jika sudah dinasehati dari sejak kecil Arshal sudah biasa dengan lingkungan yang ada di pondok. Namun, ketika suatu saat dia sudah lulus dari pondok itu keluar dari dunia agamanya eh jadinya begini sekarang.


Nggak tahu larangan ataupun ajaran agama yang sudah dibekali dari pondok.


Setiap kali papahnya ngomong panjang lebar, kamu itu udah tahu lulusan pondok. Ya, papah tanya kamu mau tidak meneruskan perjuangan kakek kamu itu? Yang sudah terkenal ke mana-mana, kamu masih bertelur di sini terus tanpa ada kemajuan yang ada cuman kejelekan dan keburukan yang kamu lakukan tiap waktu.


Papah sendiri saja tidak mengerti ajaran agama atau larangan agama, kok menyuruh anaknya begitu.


Balik ke Arshal, dia merenung sambil menatap jalanan aspal yang hitam itu.


Kenapa aspal tidak silver, kok hitam tiap kali dia sepanjang jalan menemui aspal itu.


“Alah, mungkin emang dimodifikasi begitu dari sananya. Kagak bakal nemu jawabannya,”


“Ehm, gimana ini?” ia lalu menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Sudah sore, menandakan emang benar-benar kampusnya ini pulang sampai sore? Perasaan nggak ya, aneh.” Ia menatap sekeliling area universitas, beberapa mahasiswa maupun mahasiswi pun melakukan aktivitas sorenya seperti makan istirahat di luar.


Ia dari dulu selalu menghapal Gibran itu pulang jam berapa, tapi entah mengapa sekarang tidak keluar-keluar padahal ia sudah bertanya ke pos satpam, pos satpam juga mengatakan jika Gibran itu belum pulang sebab satpam di kampus hapal sekali dengan tabiat Gibran seperti apa, suka nongkrong di pos satpam ketika akan pulang dan menyapanya.

__ADS_1


Maka dari itu mudah bagi seorang satpam mengenali anak mahasiswa yang ada di sini, walau kadang lupa juga.


Seharusnya jam-jam sekarang itu sudah pulang, tapi Arshal yakin jika Gibran itu belum pulang.


Sementara dengan putranya sekarang, pria itu mengamati ruangan ini yang terlalu mewah dan berkelas. Entah kesasar kemana dia sekarang, tapi ia tahu jika ini bukan ruangan seorang dosen atau mahasiswa-i.


Tapi, entah keberanian mana dia melewati ruangan ini dan membuka pintunya yang sudah diberikan tralis besi itu namun menandakan ruangan ini mewah.


Ya dia penasaran.


Ia awalnya memiliki niatan untuk ke kamar mandi dari arah ruangan BEM tadi berkumpul, satu yang bikin penasaran. Ada yang memikat dirinya dari lewat di sini, sudah menjadi daftar jika dirinya itu suka penasaran.


Makanya melipir ke sini sebelum ke kamar mandi, setelah memasuki ruangan ini merasa hawa yang adem, dingin menusuk di kulitnya dan terpukau dengan tatanan masyarakat yang ada di dalam ruangan.


Dari segi kayu sampai benar-benar mewah.


Tak sadar dengan mulutnya yang asyik terpana dan tangannya terangkat untuk memegang barang-barang itu, entah pemiliknya siapa yang penting dia nggak nyolong.


“Ekhem...” seorang memandangi dirinya sambil mengetuk mejanya dengan pulpen sedari tadi dan tidak ada niatan untuk menemuinya, tapi kelamaan Gibran di sini makin ngawur. Jadi, ia tidak ingin barang-barang di sini dengan orang asing atau orang yang dia kenal, termasuk temannya.


Ia sampai membuka mulutnya, lagi dan lagi memalukan tindakan seperti itu sementara seorang laki-laki itu menatap aneh ke arah dirinya dan menahan rasa kesalnya untuk tidak meledak sekarang juga.


“Siapa, kamu?” tanyanya dengan tatapan menusuk dan tajam.


Gibran menegak ludahnya kasar, ini orang tanpa diduga nggak asing dari tatapannya dan Gibran menghela napas pelan.


“Masa nggak tahu sama gue, gue terkenal loh orangnya.” Ia mencoba mencairkan suasana agar tidak sama-sama dingin di sini, Gibran itu terkenal dengan cuek ketemu orang dingin dia merasa tertarik untuk menyapa ataupun sekedar menanyai.


Ia menetralkan rasa takutnya agar tidak bertemu tatapan mematikan itu.


Orangnya pun berdecak kesal, “Gue kagak tahu lo. Dan lo kagak tahu gue,” orangnya masih fokus menatap Gibran sementara Gibran menundukkan kepalanya enggan menatap mata orang itu.


Orang itu tak lain dari kakak tingkatnya yang ada di atasnya, Gibran pernah bertemu namun sekali di kantin berpas-pasan saja kakak tingkatnya itu seperti mau menerimanya sampai kantin entah apa yang dia pikirkan malah menabrak perempuan-perempuan queen of bully.

__ADS_1


Seperti biasa kampus ini macam anak SMA saja, namun ada yang sudah berpikiran layaknya orang dewasa dan ada yang sudah menjadi orang tua pun ada yang kekanak-kanakan sikapnya.


Nah, saat itu kakak tingkatnya itu malah memandang tajam ke dirinya saat menabrak geng perempuan bully itu jadinya ia trauma sedikit, untung sekali itu bertemunya kalau nggak ya mana ada keberanian dia ke kantin.


“Hm, ya kenalin gue ketua BEM universitas ini. Lo yang buat masalah di sini, jadinya lo harus siap bertanggung jawab. Atas keberanian apa lo bisa masuk tanpa izin terlebih dahulu masuk ke sini?” tanya panjang yang mengakui dirinya sebagai ketua BEM itu.


Gibran lalu mendongakkan kepalanya lantas tatapan mereka menubruk satu sama lain, Gibran menatap sinis.


“Oh jadi ini ketua BEM yang terkenal dengan tampannya, mana?” ia malah mendekati orang itu dan seketika ketua BEM itu menggeleng, tertawa geli. Merubah raut mukanya dengan cepat.


Hah?


Apa? Tadi, ia tidak salah dengar sampai dirinya menghentikan jalannya.


Tertawa.


Oke, mungkin itu dia agak budeg ya agak gimana dan ketua BEM itu pun menghentikan tawanya. Menatap datar lagi ke arah Gibran yang mencoba untuk mencerna apa yang dilakukan oleh ketua BEM nya.


--


**Halo?


Apa kabar?


diawal pagi ini💙


salam dari Din yang lagi mantau di sini.


Sini absen dulu yang mau ikutan hadiah.


Nanti bulan depan insyaallah akan diberikan informasi untuk giveaway.


Sekian dulu!

__ADS_1


Ajak kawan-kawannya buat baca ini novel Din.


di Luka Dirimu persembahan buat giftaway❤**


__ADS_2