
Gibran mengangguk, ia memikirkan untuk nantinya tapi jika ingin melanjutkan pendidikannya dia akan membicarakan hal ini kepada ibunya nanti jika sudah wisuda nanti, ia akan mewujudkan mimpinya kepada ibunya sebagai kejutan dari dirinya.
Karena ya dia menghormati sebagai putra mau bagaimana itu keadaan orang tua dia optimis untuk membahagiakan kedua orang tuanya dengan menyebarkan namanya di dunia bahwa memang dia itu patut selayaknya mewujudkan mimpinya, biar tidak menggantungkan niat untuk mimpinya. Karena tanpa doa dari ibunya mungkin sampai di sini ia belum bisa menjadi seorang mahasiswa yang mengejar ilmu untuk mimpinya.
“Bu, maaf banget kalau aku nggak bisa lama-lama di sini ya itu apa jam siang kelasnya jadi ya gimana.” Walau berat hati ia rela untuk masuk hari ini lantaran katanya ketua BEM mau mengadakan pertemuan, seluruh ketua BEM fakultas akan mengadakan rapat dadakan dan ia izin dengan ibunya.
“Iya tidak apa-apa.”
Meski berat hati perempuan itu mengizinkan pergi tapi ia percayakan jika itu memang terbaik untuk anaknya tidak apa-apa, biar menunjang keputusannya untuk menjadi seorang yang sukses tidak menggantungkan mimpinya untuk hal sepele.
“Bu, kalau ada apa-apa telpon pakai nomer biasanya ya?” titah Gibran dengan mengusap jari jemari tangan ibunya, terasa hangat dan nyaman sekali dia mengusel-ngusel tangan ibunya.
“Iya,” sambil memanggutkan kepala.
Arina lalu mengusap surai hitam lebat putranya itu, “Pangkas rambutnya ya, nak? Biar tambah ganteng putra ibu ini,”
“Ya kalau sempat,” dengan kekehan kecil dan mengalami tangan ibunya untuk pamit keluar dari ruangan ibunya ini.
__ADS_1
Ia lalu melangkah keluar dari ruangan ibunya dan membuka pintu, menarik handle pintu dan menutupnya kembali.
Lelaki itu lantas terkejut ketika penglihatannya mengarah ke semua orang yang sedang mengobrol itu dan ia kaget lantaran ada seseorang yang tidak asing menurutnya, tapi ia bisa mencari informasi mengenai kedua orang itu yang memiliki peran penting dari segalanya di Universitas.
“Kek, nek.” Panggil Gibran tanpa basa-basi melihat dahulu, kaget atau tidak dan semua orang menoleh yang ada di sana.
Seseorang yang tidak asing itu adalah Rektor Universitas dan ketua BEM, ia tidak kaget lagi mungkin ia memiliki pikirannya yang positif thinking tidak berlebihan untuk su’udzon terlebih dulu.
“Kok ada pak Rektor sama ketua—
“Ya kami di sini cuman lewat saja,” serobot pak Rektor dengan mendelikkan matanya untuk mengode putranya agar tidak mendadak membongkar semuanya.
Meski umurnya sudah tua tapi jiwanya seperti muda, ya begini lah kalau rajin melakukan olahraga beserta makannya terjaga, apalagi perawatannya nambah tua yang ada wajah tetap fresh seperti orang-orang yang muda usianya.
Lelaki itu menatap harap ke Gibran, dengan deheman dan Gibran lantas mendudukkan diri di sebelah kakeknya.
Tidak salah lagi ini rapat ditunda sebab si ketua seenaknya mengadakan rapat pertemuan namun orangnya ada di sini, kan nggak lucu. Berarti benar dugaannya jika pak Rektor bersama Ketua BEM itu saudaranya dirinya.
__ADS_1
Ya, ia mengira bahwa tidak mungkin ia memiliki saudara yang memiliki peran penting dari Universitas. Ia baru tahu mengenai ini, ya ia akan menanyakan ke bundanya karena perempuan itu yang ia percayai.
Oke ia akan memulai pembicaraan dari mana dulu.
“Oh iya, maaf—
“Panggil Papa saja!” potong kakeknya singkat dan sementara kedua orang tua yang tidak jauh usianya itu lagi menyimak tanpa memberikan komentar. Kalau begini kan terlihat bahagia kompak tanpa berantem adu mulut.
"Ya, makasih."
"Papa sama siapa namanya, lupa aku." padahal sebenarnya basa-basi biar nggak keliatan adem anyep gitu, tapi mendapatkan tatapan tidak ramah bintang satu buat itu anak menurut Gibran memang patut selayaknya menghargai jabatan dia tapi di luar kendali jika sudah berada di luar, maka harus siap untuk tidak membawa namanya.
"Masa lupa, Gib?" tanya kakek dari ayahnya yang tersenyum dengan menunjukkan mulutnya yang banyak dengan gigi palsunya yang harganya tidak main-main dengan satu gigi, sampai terkadang Gibran memikirkan, bagaimana bisa beli tanpa memikirkan nantinya jika rusak atau apa.
--
**Oke?
__ADS_1
Ya**?