
Arina melihatkan gurat-gurat wajah yang bingung serta takut, ada rasa yang mengganjal di hatinya.
“Assalamu’alaikum, Na...” salam laki-laki itu yang tidak lain dari peran dirinya sebagai seorang papah dari Arina, darah dagingnya sendiri.
Arina sampai terlonjak kaget ketika papahnya itu memeluk sambil mengusap punggungnya, menyalurkan rasa kangennya selama ini ya tidak tertahan lantaran orang tua Arina selama ini tinggal di New York dengan berbagai macam pekerjaan alasan yang diberikan. Padahal, bisa satu minggu sekali menjenguk putrinya di tanah kelahiran mereka namun apa daya lah mereka yang dihajar sampai habis dengan pekerjaan yang padat merayap, mempercayai orang tua Arina.
“Wa’alaikumsalam,” ia baru menjawab dan melepaskan pelan-pelan pelukan dari papahnya.
Papahnya mengernyit bingung, kemudian Arina menyeret pelan tangannya untuk masuk ke dalam kost.
Lantas Arina tangannya yang ada di belakang, menutup pintu kost ini.
“Pah,” panggil Arina dengan memeluk erat papahnya, menyalurkan rasa kangennya selama ini yang tidak bisa untuk bersama lagi. Apalagi ia melihat papahnya ini datang seorang diri bukan bersama kakaknya ataupun mamahnya.
Papah tersenyum lebar mengelus-elus punggung si putri, “Kangen ya sama papah?” tanya papah pada anaknya.
Arina mengerucutkan bibirnya lantaran papahnya melepaskan pelukan itu, jalan ke arah dapur seperti bau-bau gosong awalnya sampai ke ruang yang ada TV itu.
Membuat Arina tampak terkejut, kaget. Ia lantas berlari dengan kecepatan melebihi papahnya, membuat papahnya membuka suara.
“Awas jatuh nak! Ya Allah, kamu ini....” papahnya kemudian mendekat menghampiri putrinya yang ngos-ngosan dengan mematikan kompor yang masih menyala apinya, benar saja besok ia tidak jadi berdagang.
Alangkah kecewanya ia kepada dirinya sendiri, yang tidak bisa menggunakan waktu sebaik ini.
Papahnya melihat apa yang ada di atas kompor itu membuat papahnya menghela napas berat.
“Kamu mau apa? Kok buat ini segala? Hm,” tanya papahnya dengan lembut dan mengecek semuanya.
Aman, untung saja. Putrinya ini tidak terjadi kenapa-napa bisa saja ia jadi ondel-ondel jika tahu istrinya, bisa-bisa istrinya itu yang terlalu heboh akan datang dengan caranya sendiri ke Indonesia, nekat biasanya kalau orang kepepet buat ngeliat kondisi putrinya yang tak lain anak kandungnya sendiri.
Salah satunya seperti itu yang ditakutkan oleh papahnya Arina ini.
Papahnya menggiring putrinya untuk duduk di kursi makan letaknya ada tak jauh dari posisi mereka berdiri.
“Duduk, dulu! Papah ambilin minum,” ucap papahnya dengan beranjak pergi dan mengambil gelas beserta isinya.
Dihadapkan di depan Arina, Arina yang merasa gelisah tentunya ia tidak bisa mampu untuk beralasan panjang lebar nantinya, apalagi belum banyak yang ia ketahuilah kedatangan papahnya ini menuju langsung ke sini.
Kok bisa tahu alamat kostnya?
Apakah selama ini papahnya ada orang suruhannya diperintah untuk menguntit seperti jailangkung saja dan bisa-bisanya Arina tidak mengetahui orang yang diturunkan oleh papahnya sendiri.
__ADS_1
“Sudah makan?”
“sudah pah, tadi.” Jawab Arina was-was. Ia menetralkan napasnya sambil melirik, mengintip pergerakan papahnya yang duduk dihadapannya.
“Hm, iya. Papah mau tanya,”
Rasa takut itu seketika menghantuinya sekarang, merasa papahnya ini akan bertanya sampai dicecar.
“Apa kamu sudah MAKAN NAK?” tanya papahnya sambil menekan kata terakhirnya dan membuat Arina merinding sendiri, bulu kuduknya saja sampai berdiri semua lantaran kata meninggi itu dikeluarkan.
Hingga perutnya saja merasa ada pergerakan denyut jantungnya, ikatan batin mungkin.
“JAWAB JUJUR! Papah kali ini tidak bisa kamu bohongi,” ucap papahnya dengan mata elangnya yang tajam itu seperti siluet yang menangkap seseorang.
Brakkk...
Jantungnya serasa akan copot dari organ tubuhnya, meluncur ke usus saking ia terkejut mendengar gebrakan meja dari tangan papahnya sendiri. Selama ini ia hanya melihat papahnya marah hanya pada kakak laki-lakinya saja, dirinya tidak pernah yang namanya diberikan suara nada tinggi ataupun yang membuat Arina takut.
Perempuan itu memilin bajunya sampai kusut mungkin yang ada di tepi baju.
“P—ah,” panggilnya terbata-bata dari suaranya.
Membuat papah Arina akan sadar dengan apa yang dilakukannya membuat putrinya itu ketakutan, Arina tidak terasa air matanya meluncur deras ke pipinya. Ia itu sungguh sensitif untuk hari-hari biasa seperti ini, apalagi dalam kondisi hamil seperti ini.
Dengan terisak dirinya membasahi baju mahal papahnya sendiri.
“P—ahh, ba—sah.” Ucapnya dengan suara yang berat dan terbata-bata lantaran sehabis menangis.
Papahnya menggelengkan kepalanya, ia mengakui jika selama ini putrinya dekat dengannya entah mengapa sejak saat itu putrinya tak lagi ingin berdekatan dengannya.
“Udah belum?” tanyanya lembut dengan mengelus kepalanya yang terbalut hijab berwarna biru navy itu.
Arina menggeleng, “Belum.”
“Iya udah kalau begitu,”
“Hm,”
Arina tetap nyaman di pelukan itu, perempuan itu sudah tidak lagi menangis namun hatinya tetap saja mewaspadai untuk papahnya mengetahui rumah tangganya yang berantakan ini akibat ulah mereka sendiri.
Apalagi cucunya yang tidak lagi tinggal bersamanya, sama-sama membangun sendiri, kehidupan sendiri.
__ADS_1
“Udah?” kemudian beberapa detik Arina mengangguk.
“Pah, maaf mau nanya. Papah kok tahu kost aku di sini?” Tanya Arina yang tiba-tiba mengalihkan pembicaraannya, mata papah memalingkan ke arah lain.
“Hm, iya. Dari suruhan papah, yang selalu ada di mana-mana.” Jawab santai papahnya dengan mengelus kepala perempuan yang tidak lain dari putrinya.
Benar saja, jika papahnya itu seenaknya menguntit kehidupan pribadinya.
Papahnya menatap ke putrinya sekarang.
“Mudah bagi papah untuk mencari kamu, nak.” Ucapnya dengan menangkup kedua pipi putrinya.
Arina pun mencubit lengan papahnya dengan pelan, membuat papahnya tertawa pelan.
“Iya deh yang punya kekuasaan banyak,” cibir Arina.
“Seperti itulah kehidupan papah sama mamah, nak. Bukannya apa-apa, papah sama mamah kan udah mulai dari nol bersama jadinya mau tidak mau merasakan kehidupan yang bersama.” Jelas papahnya dengan mengecup kepala putrinya yang mudah dijangkau.
“Hm, iya.”
“Berarti papah tahu—
Kata itu lantas diangguki oleh papahnya.
“Iya, papah sudah tahu dari dahulu kala kamu sesudah menikah pun papah tetap mengawasi kamu dengan lewat laporan yang selalu diinformasikan dari orang suruhan papah. Yang selalu memakai kamu di mana pun kamu berada,” jawab papahnya dengan panjang dan lebar.
Arina menutupi keterkejutan nya.
Dengan senyuman yang terukir tipis.
Papah menghela napas panjang, “Kamu itu putri papah dan bisa buat papah bahagia ya cuman kamu, nak.” Sambung papah dengan meraih tangan putrinya.
“Iya tapi setidaknya papah nggak usah ngikutin update informasi dari suruhan papah, pah ... aku tidak mau orang lain mengetahui untuk kehidupan pribadi ku selamanya.”
Papah terkekeh pelan, ia menatap iris mata putrinya. Arina sejak tadi sudah membalikkan tubuhnya menatap papahnya.
Biar enak saja posisinya.
—
See you next bye-bye🤜
__ADS_1
Hadir?