
Arina, melekatkan tubuhnya ke tubuh Azizah. Namanya sungguh benar-benar A dan A tapi tidak bisa untuk berdekatan lebih lama lagi.
Sementara itu, Arina itu orang baik dan bisa diajak berteman. Lantas orang tuanya kenapa lebih memilih orang lain, daripada Arina sendiri.
Benar, Azizah menyesal jika Arina itu selama ini diperlakukan tidak pantas oleh orang tuanya.
Ia malu, "Zizah minta maaf ya, sebenarnya bukan apa-apa ayah sama ibu nggak pingin kalau aku itu ada temen lebih dari mereka." ungkap Azizah jauh dari mereka, mereka memang sudah masuk ke toko lagi dan
mereka lagi berunding untuk berjumpa lagi.
Karena Azizah tak ikhlas saja orang tuanya memecat Arina tanpa alasan.
"Sabar ya, Arin..."
"Iya udah biasa kok, kamu nggak papa sama orang tua kamu?" tidak enak saja jika dipandangi dari dalam itu dan ia melirik kesempatan sekali buat Arina menjelaskan.
Apa yang diinginkan mereka sehingga tak tercapai, pada akhirnya memilih untuk memecat pegawainya sendiri.
Sangat tak adil bukan?
Untuk kali ini ia memaafkan, tapi jika ia disuruh untuk bekerja di sini.
Noo!
Dia akan menolak karena dilakukan seenaknya dan digaji tidak sesuai dengan pekerjaannya yang berat, melelahkan.
"Aku pulang dulu ya, kamu jaga badan dan jangan capek-capek! Nanti dicari sama Gibran, anak aku." ucap Arina yang tidak pernah menjelaskan tentang rinci seperti apa anaknya itu.
Siapa tahu Azizah bisa kepincut.
Sebab, Arina memang tak mau dipanggil oleh Azizah dengan panggilan tua atau apa. Karena dia itu masih muda dan patut tidak untuk dilakukan diperatukan.
"Azizah, masuk!" teriak mereka bareng-bareng dan Azizah menatap malas ke arah mereka dari kaca-kaca itu.
"Kan sudah aku bilang, kamu ini di sini aja! Kamu mau kerja apa nantinya?" tanya Azizah menyelipkan sebuah tanda perpisahan untuk Arina sendiri.
Bersama calon debaynya ini, Azizah resmi jadi tante buat calon debaynya.
Kasian, Azizah memberikan sebuah kado dan paperbag.
"Ini buat kamu," terkejut dan mata Arina berbinar lantaran ada tulisan i Love G&G.
Pasti Arina sudah memikirkan matang-matang dengan namanya dan meski harus dibantu Azizah, bersama teman-temannya dengan nama panjangnya.
Arina patut bersyukur memang mempunyai Azizah seperti anaknya sendiri.
"Iya makasih Zah, udah sayang sama aku di sini." ucap Arina sungkan dan memeluk Azizah dengan erat.
"See, kapan-kapan aku ke rumah kamu ya Arin... aku belum pernah ke rumah mu Rin," kata Azizah dan Arina sedikit terkejut.
"Nanti aku ngechat kamu kalau seumpamanya mau ke rumah. Karena aku udah nggak sama suami ku lagi, sama anakku di kost."
__ADS_1
Azizah mengerutkan keningnya, ia lantas memegang bahu Arina.
"Sabar, Rin. Ada dibalik hikmah yang tersembunyi buat kamu," Azizah. Anak yang selalu menyemangati Arina untuk bisa lebih baik dan menerima apa yang ditakdirkan Tuhan untuknya.
"Iya Zah, kamu masuk gih nanti dimarah sama ayah dan ibu kamu!" seru Arina menghaluskan nada bicaranya.
Bicaranya saja sudah sendu begini mau berpisah tapi bagaimana lagi dirinya harus ikhlas untuk tidak bekerja lagi.
"Ck, iya ... ceritanya ngusir ini ya?"
Arina masih saja tersenyum lebar dan menatap Azizah sendu.
"Nggak lah, tapi nanti dimarah lho."
"Iya ini aku masuk. Kamu pulang hati-hati ya! Jangan sampai kenapa-kenapa ini calon debaynya ini!" ucap Azizah gemas dan memegang perut Arina yang masih tampak datar perutnya tak menggembung.
Ia rasa mungkin berbeda-beda, lantaran faktanya badan Arina ini lebih kecil dari Azizah jadi lama buat menggembung gitu.
Kayak bola kalah kempes berarti diisi ulang kan, mungkin Arina ini lebih lagi buat menjaga stamina makannya dan vitaminnya untuk bisa gemuk.
"Pola makannya harus dijaga ya mbak, jangan sampai terlambat makan!"
"Iya udah aku pulang dulu ya," balas Arina dengan senyuman dan melepaskan pelukan itu.
Ia ingin lebih dulu pergi dari sini ketimbang nanti Azizah lama-lama di sini menanggapi seorang Arina yang tak ingin berpisah, malah dimarah oleh ibunya atau ayahnya di dalam.
"Pergi dulu ya, assalamu'alaikum." ucap Arina memberikan salam dan dijawab dengan senyum melebarkan.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati ya!" tetap pesan Azizah hanya satu, hati-hati karena berangkat dengan selamat pulang lebih harus selamat lagi.
Arina pulang, hening dan sepi yang dirasakan Azizah selama berhari-hari untuk bisa menemui Arina saja susahnya harus beberapa kali berbicara dengan ayah atau ibunya untuk meminta izin.
Tak akan diizinkan oleh mereka berdua jika lebih dekat dengan Arina, apalagi sampai segala ke rumah Arina.
***
Lelaki berperawakan tinggi itu masuk ke dalam ruangan CEO, tepatnya di ruangan papahnya sendiri.
Ia menetralkan napasnya yang terengah.
Arshal, sekarang dilanda bingung dan heran saja ketika mendengar wara-wiri di televisi dan mendengarkan berita itu reflek panas.
Ia menghampiri papahnya di kantor untuk membahas kepentingan berita tadi, agar bisa merubah keputusan awalnya.
"Emang ini tua bangka, tinggal mati aja apa susahnya!" gumamnya sepanjang perjalanan menuju ke kantor.
Sampai-sampai beberapa pegawai kantor melihatnya aneh dari atas sampai bawah, melihat sinis dan ada pula yang menanggapi 'gantengnya, masyaAllah' begitu hingga muak Arshal mendengarkan.
Tiba saat di ruang depan CEO di saja ada sekretarisnya papahnya yang ingin masuk juga, perempuan lagi. Aduh, ini papahnya matanya nggak bisa dijaga dikit apa.
Susahnya, buat jaga pandangan.
__ADS_1
Sudah butek mana menyakitkan mata lagi.
Wanita butek ini tersenyum manis ke arah Arshal, Arshal lalu membuang mukanya ke arah lain.
Arshal membenci wanita butek itu, memang ini tua bangka tidak bisa kah memilih wanita.
"Ada bapaknya?" tanya Arshal nadanya tinggi dan perempuan itu memberikan jalan terhadap Arshal.
Arshal lantas mendorong pintu ruangan papahnya dan dengan keras hingga menimbulkan suara keras.
Membuat papahnya yang ada di dalam mengalihkan tatapannya kepada Arshal yang menatap berang kepada papahnya.
"Apa maksudnya pah?" tanya keras Arshal membentak tidak terima.
Papah Arshal diam, lantas tersenyum puas dan melihat anaknya tertekan dengan keputusannya lalu bisa membuat Arshal harus memohon kepada dirinya untuk tidak memberikan seluruh hakim aset keluarga kepada Gibran, mengatasnamakan Gibran.
Lebih parah ini papahnya.
"Saya tidak mau itu perusahaan namanya Gibran, Gibran itu bukan anak ku pah..." mohonnya dengan mata memanas dan rahangnya mengetat.
"Lantas Gibran anak siapa? Papah nggak habis pikir sama kamu," tanya papahnya yang menutup laptopnya, sebelumnya masih fokus dengan pekerjaan.
Tapi ada suara dorongan pintu keras membuat papah Arshal teralihkan dunianya ke dunia pribadinya sekarang.
Papah Arshal bangkit dari kursi yang selama ini menemani dirinya dari nol dan sekarang sampai sukses dengan terkenal kemana-mana lagi.
"Iya Gibran itu anak orang lain, pah." Arshal meninggikan suaranya dan papah Arshal mendekati putranya.
"Kamu itu!!!" suara papah Arshal meninggi, kini sama-sama dilanda emosi.
Emosi yang ada di tubuh mereka menguasai.
Lantas tangan itu mengepal dan membukanya, melayangkan sebuah tamparan keras dari papahnya sendiri.
Hingga menimbulkan suara retakan dari giginya, Arshal tertoleh ke samping.
"Pah!!!"
Tamparan keras mendarat di pipi Arshal sampai membekas, membiru dan Arshal tidak menyangka saat papah yang dulu bisa lembut dengannya kini berubah.
Arshal memegang pipinya yang terasa sakit dan ia tertawa pelan, serasa sakit sampai dada.
Tapi, memang faktanya papah Arshal menginginkan untuk Arshal bisa menerima anaknya dengan baik dan tulus menyayangi bukannya membuang Gibran.
Sampai tak mengakuinya, sungguh keterlaluan menurut papah Arshal.
--
**hallo gimana?
pada sehat semuanya ncing?
__ADS_1
Ya mudah-mudahan selalu sehat ya...
Dukung terus pkonya ðŸ˜ðŸ˜Œ**