
Lelaki delapan belas tahun itu memasuki rumah besar itu dan menyisir datang ke sini lantaran diundang oleh opanya sendiri.
Ia sampai ke rumah ini sudah hapal jadi menyolong masuk baiknya sebab tak akan yang membuka pintu utama kecuali orang yang diperintahkan oleh kakeknya sendiri.
"Assalamu'alaikum, oma..." salam Gibran dengan menampilkan senyuman dan di sana omanya sedang mencabut uban opa yang lagi tiduran di paha oma.
"Wa'alaikumsalam nak," jawab mereka kompak dan opa bangkit dari tidurnya.
Ia berdiri diam, menunggu mereka.
Oma tampak mencari kacamatanya dan Gibran mendekati omanya.
Di sini Gibran memeluk langsung oma (mamah dari Arshal-ayah Gibran).
"Oma, kok--
"Kamu ke sini sama siapa Gibran?" tanya opanya menyingkirkan posisi tubuhnya, memberikan akses buat Gibran.
Gibran memandang opanya dengan tatapan polosnya, opa-suami dari oma dan berarti papah dari Arshal-ayah Gibran sendiri.
Gibran melangkah mendekati opanya dan memeluk opanya, opa memberikan kecupan hangat dan mengacak rambut cucunya penuh sayang.
"Sendiri kan berani opa," Gibran tersenyum manis terdapat dua lesung pipi yang terukir di wajahnya dan opa dengan tangan keriputnya walau tak keriput sekali, masih tetap saja menjawil pipi cucunya.
"Ada aja kamu ini, sendiri biasanya ditemani teman kamu."
"Iya kebetulan emang aku mau ke sini mampir aja nanti sekalian ke kampus bareng temen ku," jelas Gibran menunjukkan cengirannya.
Oma terlihat menyimak dan tersenyum.
Oma menatap kasih kepada cucunya, "kamu ini sudah besar segini tetap saja masih bercandaan begini."
"Iya berarti ada tumbuh buat rasa pedulinya oma," timpal Gibran dan oma menggelengkan kepala.
"Kamu sudah makan nak?" mengalihkan pembicaraan, siapa tahu itu perut belum ke isi jadi rezeki anak sholeh kali ini.
Walah kok sholeh lagi, mana terngiang-ngiang dengan namanya itu lagi.
Sholeh, kucing yang diangkat menjadi pns. Emang itu kucing meresahkan sampai beberapa kali fyp di video yang lewat di smartphone.
"Belum oma,"
"Kok bisanya anak ini belum makan, apa nggak dikasih makan sama ayahmu?" tiba-tiba terlintas dalam ucapan opa terikut terbawa tapi masih ada sedikit jaga-jaga untuk oma supaya tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.
Oma bingung, "kenapa dengan ayah kamu? Buat masalah lagi," spontan Gibran menoleh ke arah opanya dan opa menghela napas dan tersenyum menenangkan ke arah istrinya.
"Nggak ada, cuman itu anak kadang-kadang agak aneh aja. Anak seperti ini disia-siakan." ucap opa, nadanya seperti dibuat menyindir agar oma tahu tentang ini.
Tapi, kasus ini bila diketahui oleh oma sendiri. Jadi buletan ayahnya sendiri.
__ADS_1
Gibran terdiam seraya mencermati dan menatap senyum kepada mereka berdua.
"Udah lah, mending makan yuk!" ajak Gibran untuk mengalihkan mereka agar lupa dengan perkataan tadi, tapi mengingat mereka belum pikun jadi aman saja.
Sebenarnya ada rasa kecewa saja dan kepada ayahnya yang tak pernah menanyakan keberadaan ibunya selama tidak di rumah, kalau dia mah biasa aja soalnya udah dari dulu nggak pernah dianggap kehadirannya oleh ayahnya sendiri.
Mereka pun berdiri dan menggandeng cucu mereka, serasa bahagia kali ini. Sungguh jika Gibran bisa bahagia mendapat orang tua seperti mereka mungkin di titik sejauh ini Gibran selalu mendapatkan kasih sayang dan cinta dari seorang ibu dan ayah.
"Kamu mau makan apa?" tanya oma menempelkan telapak tangan yang halus itu ke tangannya, meraihnya dan mencium setiap inci tangan itu.
"Makan apa aja yang penting dimakan oma," jawab Gibran yang lebih leluasa menebar senyuman kepada mereka.
Setelah beberapa jangkah sampailah mereka di ruang makan dan mereka saling melengkapi sampai menarik satu bangku untuk cucunya.
sayang banget sama mereka. Batin Gibran membantu mereka.
"Kamu duduk ya! Biar oma yang mengambilkan,"
"Nggak usah oma, nanti dikira manja lagi sama orang-orang...." sungkan Gibran menyandarkan tubuhnya di kursi itu dan oma menggeleng.
"Kamu ini sama siapa aja sih! Ini oma kamu sendiri,"
Oma dengan tangannya sendiri mengambil piring warna putih bersih itu dan mengambilkan nasi putih sesuai porsinya.
Selain itu mengambilkan lauknya dan diletakkan rapi sekali, memang omanya ini suka sekali dengan hidangan rapi dan disajikan tepat pada orang yang selalu tepat.
"Ini," piring itu kini sudah dihadapan Gibran dan Gibran mengulum senyum kepada omanya.
Sama dengan opa malah kebalikannya, melainkan cemburu ketika istrinya dicium oleh orang lain, meski cucunya sendiri bakal digempur malam ini juga.
Ini kakek-kakek meski kuat harus berperang tiap malamnya.
"Mau disuapin sama oma?" tawar oma dan Gibran mengangguk, ia kembali ke duduknya.
"Jangan melewati batas ya mah!"
"Iya pah," jawab oma kepada opa dan Gibran tersenyum kecil melihat muka opa yang datar.
Aroma khas menyeruak di hidung mancung bangir Gibran, ia tersenyum kecil ke arah omanya.
"Oma ini yang buat?"
"Tidak, semuanya pembantu." jawab oma yang mencuci tangannya dengan air mengalir, tepat di sana letak ruang makan tidak jauh dengan dapur.
Oma mencuci tangannya, menyuapi anak satu ini harus memakai tangannya sendiri.
Kemudian selesai mencuci tangan, balik ke ruang makan dan mengambil piring yang dihadapkan ke Gibran.
Perlahan mengambil sesuap nasi dan lauknya mencampur, cucunya antusias menerima suapan dari omanya sendiri.
__ADS_1
Jangan lupakan dengan wajah yang amat gembira pastinya amat gemas itu wajah.
***
Sementara Arina yang ada di rumah ia tampak mondar-mandir di luar pintu rumah, bingung. Karena anaknya itu lama nggak pulangnya, sementara dia harus kembali bekerja di siang kali ini.
Menjaga toko dan alasannya bos yang memiliki toko itu ingin melihat toko, mengecek anak buahnya sendiri yaitu Arina dan anaknya sendiri.
Meski anak, tapi anaknya itu dikasih jatah uang perbulan jadi baiknya kalau ada pekerjaan dituangkan kepada anaknya sendiri.
Ia pun memikirkan, kalau ditinggal takutnya nanti itu Gibran pulang dengan keadaan cepat dan ia posisi tidak di rumah. Ia yakin berakhir akan memancing amarah Gibran saja.
"Oke, kita mulai dulu." gumamnya mengambil keputusan dan akhirnya dia memilih untuk bekerja saja daripada di toko nanti akan dipecat lantaran beberapa kali tidak masuk.
"Ya, sekarang tinggal ke terminal." Ia sedikit berlari dan napasnya terengah-engah ketika ada sampai di gerbang.
"Kenapa sih, jangan lelah! Oke," Mengambil napas dan membuangnya, ia pun melanjutkan perjalanan.
Semoga saja anak yang ada di perutnya bisa diajak kolaborasi berdua, maksudnya bekerja sama.
Lebih mudahnya ia akan mengundurkan diri atau dipecat saja, tapi ia ingin mempertahankan pekerjaannya karena sulit sekali sekarang ingin mendapatkan pekerjaan.
Sampai di terminal, ia menunggu di kursi yang ada tersedia di terminal tempat pemberhentian bis.
Dia seakan lupa dengan perjanjian awal tadi, makanya seenaknya ia keluar tanpa izin Gibran yang ada Gibran malah makin marah dengannya.
"Hm, gimana dengan Gibran ya?" Semoga saja Gibran bisa menolong dirinya karena hamil juga tak harus banyak kepikiran dengan keadaan stress pasti berpengaruh dengan calon dedek bayinya.
Ia melihat-lihat bis yang berlalu lalang, namun tidak ada satu pun yang lewat berhenti di terminal itu.
Inisiatif ingin memberhentikan salah satu bis lagi dan lagi tidak bisa, bisa saja membahayakan dirinya dan calon debaynya.
"Gimana ini?" ringisnya kala sinar matahari mengenai wajahnya.
"Udah siang banget belum sih..." Ia menatap jam yang ada di pergelangan tangannya, menunjukkan pukul sebelas dan ia menatap beberapa orang yang berjualan sekitar terminal.
"Beli apa ya enaknya," Ia menatap semuanya dari nasi goreng tapi belum buka dan beberapa penjual yang laris dagangannya.
Beberapa juga masih banyak yang dikeluarkan.
Ia menggeleng, Arina tak punya uang jika ingin jajan sungguh nasib malang ketika sudah disuruh cepat-cepat makanya agak lelah dia.
--
**Halo ncing?
apa kabar, baik dan sehat semuanya 🥰❤
woke makasih yaa uda mampir 😜, see you next time**...
__ADS_1
Bakal ketemu bab selanjutnya ya😭, tungguin besok ala nggak kapan-kapan gesss😇