
Ketika mereka sudah berkumpul, ujung-ujungnya anak perempuannya heran dengan papahnya sendiri.
Akhirnya ini kesempatan ia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang berharganya.
“Pah, papah sanggup buat ngurus itu dua anak?” Tanya Arina yang tidak habis pikir dengan otak papahnya itu dimana?
Masih sempat-sempatnya lelaki itu dititipkan kedua curut itu oleh rekan sahabatnya, katanya sekalian belajar nimang cucu!
Ya memang papah Arina ini saat Gibran masih kecil, usia kecilnya tidak pernah namanya memegang Gibran. Nah, Arfa?
Sudah tidak bisa ditanya lagi, Arfa sedari kecil tinggalnya di negara orang mana bisa lelaki itu berkunjung untuk menimang cucu keduanya sendiri ataupun sekedar menjenguk saja tidak pernah, di saat mamah dari Arfa meninggal dunia.
Takut jatuh atau apa katanya. Alasan klise saja yang dikeluarkan dari mulutnya, dan sekarang apa?
Jilat lidah sendiri kan?
Kan jadi lah dia nyesel sampai saat ini sudah saatnya nimang cucu ketiga yang sebentar lagi mau hadir.
“Nak, papah itu maunya bertanggung jawab. Semuanya itu berawal dari papah yang menabrak kedua orang tua mereka,” ceplos papahnya—tua tua masih bisa ya jujur.
Arina sungguh terkejut bukan main, ia merubah rait wajahnya demi kedua anak itu yang memandangnya polos di bawah, dengan alasan karpet di atas marmer dingin itu.
Arina menatap miris kepada papahnya, sungguh kejam papahnya.
“Pah...” perempuan itu tercekat tenggorokannya, terasa kering dan haus sekali.
Melihat mereka berdua yang sudah ditinggalkan kedua orang tuanya, Arina menggelengkan kepala kecewa kepada papahnya sendiri.
“Ceritanya, gimana pah?” tanya Arina penasaran dan ia sebenarnya pingin marah, tapi ia tunda dulu.
Karena mengingat usia papahnya sudah tak lagi muda, mana bisa ia marah-marah kepada orang yang sudah lansia umurnya.
Waktunya untuk rehat namun ini apa? Ia ditanggung jawabkan besar untuk membesarkan kedua anak curut ini yang lucu serta berpipi berisi itu.
Lelaki itu menghela napas panjang, “Papah tahu-tahu anak buah papah yang menabrak mereka berdua dan akibatnya ya terjadi lah dorong mendorong antara kendaraan anak buah papah bersama orang tua mereka, papah hanya ingin bertanggungjawab soalnya anak buah papah juga sudah tiada, maka dari itu papah yang bertanggung jawab atas mereka.” Jelas lelaki itu dengan mengusap wajahnya kasar.
Sehingga Arina yang duduk dekat dengan lelaki itu merengkuh tubuh yang sudah tidak muda lagi, ia menyalurkan rasa kehangatannya untuk papahnya.
Apalagi ini mamahnya belum mengetahui persoalan ini?
Perempuan itu lalu mengucap kata, “Pah, mamah tahu soal ini?” tanya Arina dan papahnya menolehkan kepalanya, tatapannya menggeleng dan tak terasa air matanya mengalir deras di pipinya.
Walau mau disebut laki tapi bagaimanapun jika ada masalah mesti harus ada adegan tangis menangis.
Itu hal yang tabu, tidak pernah terjadi namun sekali dua kali akan terulang yang sama.
Menangis.
__ADS_1
Papahnya menelusupkan kepalanya di area pundak putrinya, mau malu ia tanggung sendiri. Soalnya ia butuh pundak buat sandaran.
Rasanya ingin bermanja dengan orang terdekatnya.
“Nak, jangan ngomong sama mamah kamu!” Larang lelaki itu dengan mengelap tangisannya yang tidak sengaja keluar begitu saja.
Arina menggeleng, “Mau itu papah larang, aku tetap melakukan hal itu supaya mamah tahu jika nanti mamah ke sini. Apa yang terjadi, pah? Yang ada papah kena masalah sendiri ‘kan, ditanggung berat kalau sendiri.”
Pasalnya perempuan itu merasakan bagaimana di posisi papahnya yang tidak membicarakan hal ini.
Yang ada kena getahnya sendiri, rahasia yang disembunyikan akan tercium bangkainya.
Lelaki tua itu menggeleng, “Nak, jangan! Papah nggak mau jika masalah ini terdengar di telinga mamah kamu sendiri...” tetap kekeuh laki-laki itu, papah Arina menjauh dan beranjak pergi, mengajak kedua curut itu untuk pergi dari sini.
Arina yang merasakan dijauhi tidak apa-apa, ia kuat kok. Mau cemburu atau apa, ia juga bisa.
Apalagi kakaknya belum tahu mengenai hal ini, apakah kakaknya akan marah besar sama papahnya?
Ia ragu untuk permasalahan ini.
Perempuan itu lalu menatap punggung papahnya yang semakin jauh menghilang dari pandangannya, ia menghela napas sejenak dan mengusap seluruh wajahnya.
Prustasi yang ada, mau menjelaskan dari A sampai Z tidak akan membuat kakaknya mengerti akan posisi papahnya yang harus menanggung beban itu semua, walau usianya sudah renta kemungkinan kecilnya anak kedua itu jauh dari kata kesengsaraan.
Yang ada pundi-pundi rupiah tidak perlu ia dapatkan dengan cara mencari lowongan pekerjaan, karena sudah kaya dari lahir.
Ia berpikir, lantaran dirinya?
Memang sedari kecil kakak Arina berserta Arina tidak pernah yang namanya terlambat dengan uang, uang selalu ada.
Tidak ada yang namanya orang tua yang memarahi anaknya, bapak itu nggak punya uang mau kayak gitu ya harus kerja dulu!
Tidak ada kamus seperti itu, yang ada orang tua mereka hanya mengiyakan dan yang pasti akan terjadi apa yang diinginkan.
Permintaan suatu kecil, namun besar untuk arti dari mereka.
Karena permintaan tak jauh dari kata berjuang.
“Iya, pah. Tapi, maaf Arina nggak bisa kalau bohong sama mamah. Orang mamah yang melahirkan untuk Arina, jika nggak ada mamah mungkin Arina nggak lahir di dunia ini, pah.” Gumamnya sambil tersenyum palsu.
“Mau bagaimana lagi, ini semua takdir yang sudah menentukan.” Ucap Arina melanjutkan, ia teringat dengan hal pembicaraan tadi dengan putranya.
Lantas, cepat-cepat perempuan itu mengeluarkan benda persegi panjang pipih itu dan mengecek pesan yang dikirimkan oleh putranya.
Ia lupa, Arina lalu ke room chat. Melihat pesan yang dikirim oleh Gibran-putranya.
Bu nanti mampir
__ADS_1
10.00
Ke kafe deket kampus
11.00
Jam 1 siang
11.01
Itulah chat yang disampaikan oleh putranya, memang rada sedih dia melihat pesan Gibran.
Soalnya disingkat-singkat tanpa harus to the point langsung, ia lalu menutup benda pipih itu.
“Maaf nak, ibu lupa.”
Segera perempuan itu meletakkan handphonenya di dalam tas, beranjak untuk pergi dari rumah ini tanpa izin terlebih dahulu kepada papahnya yang entah pergi kemana tadi.
“Pah, pergi dulu. Assalamu’alaikum, nanti pulang lagi kok.” Ucapnya dengan menggumamkan kata sambil memindik-mindik tatapannya, seperti maling saja yang mau tertangkap basah sementara laki-laki tua itu menatap putrinya dari atas tepatnya di lantai dua dengan menepuk-nepuk pantat salah satu bocahnya.
Menimang seperti bayi.
Lelaki itu tidak mencegah, namun setahu dia putrinya tidak lama untuk berurusan.
Apalagi mengenai rumah tangganya, ia tidak akan mencampuri urusan masalah mereka. Jika memang dia dibutuhkan, ia akan menjadi tempat curhat untuk putrinya.
Meski ia harus menahan putrinya agar tidak mengeluarkan air mata hanya demi laki-laki yang sia-sia untuk dipilih, kecewa.
“Tidur ya, nak.” Ucapnya dengan mencium anak yang ada di gendongannya itu.
Dengan kasih sayang ia mengelus kepala botak clingnya itu, tanpa mengidahkan tatapan seseorang yang sejak tadi mengawasi pergerakan lelaki tua itu, dan melaporkannya kepada seseorang yang sudah lama sejak pulang ke Indonesia.
Memang tak lepas dari kedudukan seorang istri yang harus memantau walau dari jauh sekalipun, keadaannya harus baik-baik saja.
Apalagi dari jauh sudah terlihat jika selama ini main di belakang ternyata.
Dan Arina yang keluar dengan tatapan mengintimidasinya, menatap semua arah di halaman papahnya.
“Ini luas amat ya? Kok dari tadi, jauh banget. Kalau dikejar zombie mungkin tidak akan pernah gue lari sampai segitunya, ini yang ada aku capek sendiri.” Dan benar saat dirinya ingin lari sudah tertangkap dikurung oleh para zombienya.
Aduh, Arina Arina. Lucu sekali kamu!
Perempuan itu menghembuskan napas kasar, melihat pos satpam ramai dengan pengalaman papahnya yang sedang mengobrol ria tanpa mengidahkan matanya kepada catur yang ada di tengah-tengah meja.
--
**Oke oke
__ADS_1
jangan panik, akan terus up kok☺
Ya maaf🙏**