
Pagi ini Zelin menuju kampus dengan sedikit berlari karena takut terlambat, tanpa membuka hpnya.
Bukan telat bangun, tapi karena emang dianya saja mau terlambat pergi karena masih merasa tidak enak hati.
Di sisi lain, dia ingin cepat bertemu dengan kak Lio, ingin memeluknya, ingin mengadukan semuanya pada kakaknya itu.
‘Rambut. Susah banget sih di rapiin.' ucapnya dalam hati
Bughh
“Aw.” ringis Zelin melihat kakinya sedikit lecet karena terbentur batu.
“Ya ampun Al, kaki lo.” sambil melihat luka di kaki Zelin.
“Jangan sampai luka.” ucap pria yang menabrak Zelin
Deg
Zelin bangun, menatap pria di depannya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, ingin sekalinya sekarang dia memeluk tubuh kakaknya itu, ingin sekali rasanya dia menceritakan bagaimana susahnya dia selama ini.
Raska yang mengerti suasana, mengajak Dani meninggalkan mereka berdua, berbisik ke telinga Zelin.
“Dosen ga masuk, manfaatin waktu lo sama kakak lo." bisiknya.
Zelin sedikit kaget, kenapa Raska tahu kebenarannya, tapi langsung membuang pikiran yang tidak penting saat itu.
Zelin dan Bayu melihat Raska dan Dani pergi. Zelin menghamburkan dirinya ke pelukkan Bayu.
“Elin kangen sama kak Lio.” ucap Zelin dengan tangisnya.
Bayu kaget mendengar nama itu, sudah lama dia mencari adiknya, ternyata malah berubah menjadi orang yang di sukainya.
Bayu melepaskan pelukkan Zelin. Mengajak adiknya itu ke UKS dan mengobati lukanya.
“Aw, perih kak.” keluh Zelin yang masih setia memandangi muka tampan kakaknya ini.
“Kan di bilang dari dulu, kakak ga mau siapapun ngelukain kaki kecil adiknya kakak ini." kata Bayu lembut.
Zelin menatap Bayu lagi, dan kembali memeluknya.
“Aduh Elin, kamu ga malu yah, meluk kakak terus, nanti dikira orang kita mesum lagi disini." goda Bayu.
Zelin melepaskan pelukanya lagi.
“Elin kangen sama kak Lio, Elin takut kak, Elin kira Elin sendirian, Elin tidak tau harus cari kak Lio, daddy dan mommy kemana.” ucap Zelin.
“Maafin kakak yah sayang, sekarang kakak disini, sama kamu, daddy dan mommy juga ada di Indo sekarang." jelas Bayu sambil mengelus kepala adiknya itu.
Hari ini menjadi hari yang bahagia untuk Zelin dan Bayu. Zelin terus merangkul pergelangan tangan kekar kakaknya itu sepanjang istirahat, semua mata di kantin melihat heran kearahnya.
Zelin terlihat seperti anak-anak SMP yang sedang bermanja-manja dengan abangnya.
__ADS_1
Padahal diakan seharusnya masih SMP, jadi wajar saja dia masih kekanak-kanakan.
Mila dan Dani melihat heran dengan tingkah Zelin dan Bayu hari ini, bahkan makan saja dia meminta Bayu menyuapinya, dan dengan senang hati Bayu membantunya.
Zelin dan Bayu sepakat untuk tidak memberi tahu hal ini kepada yang lain, karena Bayu mau membalaskan dendamnya kepada keluarga ayah Zelin.
Yah, keluarga Albareck, keluarga yang tega menelantarkan Ibu dan adik tersayangnya ini.
Mila dan Dani masih menatap Zelin aneh, banyak pertanyan yang ada di pikirannya, tapi dia menahan dirinya karena tidak ingin merusak suasana.
Selesai makan, mereka hanya duduk di kantin kampus, karena dosen tidak masuk lagi.
“Bayu.” ucap seorang wanita duduk di sebelah Bayu dan memeluknya.
“Apa-apaan sih loh Ris.” ucap Bayu melepaskan pelukan Risya.
Tiba-tiba Zelin cemberut, merasa kakaknya di ambil orang lain.
“Kenapa meluk-meluk sih." bentak Zelin sambil berdiri.
“Heh, emang lo siapa? Cewek miskin, janda aja belagu." ucap Risa kasar dan mendorong pundak Zelin.
Raska spontan menahan badan zelin agar tidak jatuh. Lalu Zelin duduk.
Plakk.
Tamparan itu bukan dari Bayu atau Zelin, tapi dari Raska.
“Aw”, keluh Risya.
“Apa-apaan sih lo, manusia es.” ejek Risya.
“Bayu. Liat Raska nampar aku.” adunya kepada Bayu.
“Gue ingetin sama lo yah Ris, dari awal gue pindah kesini, sedikitpun gue ga tertarik sama lo, jadi jangan harap gue mau jadi pacar lo. Dan satu lagi, jangan pernah tangan sampah lo ini megang secuil aja dari bagian tubuh Al, paham lo." jelas Bayu sambil menarik tangan Zelin pergi.
Hari ini Zelin menunggu Bayu selesai kuliah, karena berencana mau ketemu mommy dan daddynya.
Karena bayu masih ada Jadwal jadilah dia menunggu di lorong sendiri.
Sedangkan Mila pulang, begitu juga Dani. Sedangkan Raska? Ntahlah.
Yang di pikirin langsung datang, duduk di depan Zelin dengan muka datar dan hpnya
“Kok kamu tidak pulang Ras?.” tanya Zelin.
“Gue pulang bareng Bayu.” jawabnya.
“Oh, okedeh, oh iya, kok kamu tau, kak Lio kakak ku?." tanya Zelin sedikit berbisik dan mendekatkan mukanya ketelinga Raska.
Tiba-tiba Sasya datang dan menjambak rambut Zelin.
__ADS_1
“Heh , janda. Habis peluk-pelukkan sama Bayu sekarang lo mau deket-deket sama Raska?." ucapnya.
“Aw sakit, lepaskan, apa-apaan sih kamu." ucap Zelin sambil meninju perut Sasya pelan.
Terlihat Sasya sedikit kesakitan, karena tinjuan dari tangan zelin.
“Aku cuma mau bilang, aku tidak pernah menganggu hidup orang yang tidak mengganggu hidup aku." ucapnya sambil mencengkram raham Sasya.
Raska yang melihat hanya tersenyum, lebih seram dari pada muka dinginnya.
“Urusan kita belum selesai janda.” ucap Sasya dan meninggalkan mereka berdua.
Pertengkaran dengan Sasya tadi mebuat suasana menjadi kikuk, karena pasti akan mengubah pandangan orang lain kepadanya.
Zelin yang biasanya lemah lembut ternyata bisa bermain kasar.
Ah sudahlah.
Raska masih sibuk dengan hpnya, sedangkan sekarang Zelin malah membaca buku biar tidak dikira tak punya kerjaan.
Bayu keluar dari kelas, berjalan menuju Zelin dan Raska.
“Ayok pulang, Elin, kamu ikut kakakkan?.” tanya Bayu.
“Iya kak, Elin mau ketemu mommy dan daddy.” jawabnya sambil bergantung di lengan kekar Bayu.
Mereka bertiga masuk kedalam mobil Bayu, Zelin duduk di belakang sendiri karena Raska yang duduk di sebelak kakanya itu.
Bayu melihat ke belakang, ternyata Zelin tertidur, kebiasaan dari kecil, kalau naik mobil lebih dari 10 menit, pasti tidur.
“Gue tau, lo paham sama keadaan sekarangkan Ras.” ucap Bayu yang masih focus menatap depan.
“Hm.”, jawab Raska.
“Harapan gue buat jadi pacar Elin kandas, karena rasa sayang gue ke dia sebagai adik lebih besar.” tambah Bayu.
“Hm. Jadi?.” tanya Raska.
“Kqalo gue ga bisa jagain Elin dengan baik, gue minta tolong lo yang jagain, gue ga minta buat lo cinta sama adik gue, gue Cuma minta buat jagain dia. Dari kecil, semenjak pindah dari Belanda gua gak tau dia pernah bahagia atau enggak. Meninggalnya ayah dan ibu aja gue ga tau." ucap Bayu dengan nada yang merasa bersalah.
“Iya gue tau semua.” ucap Raska.
Bayu tidak lagi kaget, karena memang Raska yang paling dekat dengannya.
Raska pasti sudah mencari tau tentang bagaimana hubungannya dengan Zelin.
“Gue harus rebut apa yang seharusnya jadi milik Elin Ras, perusahaan Albareck grup harus balik ketangan Elin.” ucap Bayu.
“Iya Bay, gue setuju sama lo." ucap Raska.
"Umur bukan patokan dari pendewasaan. Tapi banyak luka dan cara menutup luka adalah jalan pintas untuk menjadi dewasa"
__ADS_1