Mama 16 Th

Mama 16 Th
Raska 5


__ADS_3

Setelah berbincang dengan Bayu dan Lia, Raska mengajak Zelin untuk mengambil cincin pernikahan mereka. Raska membawa Melfa juga untuk melepas rimdu dan mengajak anaknya ini jalan jalan.


Di dalam mobil, hal yang tidak lupa adalah, Zelin akan di pegang tangannya oleh Melfa dan Raska akam memegang tangan Melfa.


Seperti sidah menjadi kebiasaan, walaupun sekarang Zelin sudah meninggalkan kebiasaan buruknya itu.


"Melfa. Apa yang kamu lakukan selama papa pergi?." Tanya Raska.


"Aku hanya melihat mama menangis." Ucap Melfa polos.


"Benarkah?." Tanya Raska.


"Tentu saja. Setiap hari mama hanya melamun. Dulu mama sampai menangis setiap malam, terkadang juga tersenyum sendiri. Aku saja kadang takut." Ucap Melfa lagi.


"Kamu ini jujur sekali." Ucap Zelin pada Melfa.


"Tentu dong ma. Bohong itu berdosa tahu." Ucap Melfa dengan nada sok tahunya.


"Papa. Aku ingin membeli es krim nanti ya." Minta Melfa.


"Kamu mau es krim berapa?." Tanya Raska.


"Yang banyak sekali." Ucap Melfa melebarkan tangannya.


"Sepertinya tidak boleh." Ucap Raska.


"Kenapa tidal boleh?." Tanya Melfa dengan nada kesal.

__ADS_1


"Nanti gigimu sakit." Balas Raska.


"Tidak akan. Ayolah papa. Aku ingin yang banyak." Rengek Melfa.


"Tau tidak, orang yang rakus itu, temannya setan lo. Emang kamu mau di masukan ke dalam api neraka yang besar.?" Ucap Raska.


"Ti.. Tidak jadi pah, satu es krim saja cukup." Ucap Melfa mengalah.


Zelin dan Raska tertawa melihat wajah menggemaskan Melfa. Wajah polos anak kecil yang takut kebakar api.


Mobil terus membelah jalan. Zelin masih betah tersenyum melihat keluarga kecilnya yanh sebentar lagi akan utuh.


'Terima kasih. Melfa datang seperti bulan, dan Raska hadir seperti matahari, hidup ku tidak lagi gelap sekarang.' Batin Zelin.


"Raska. Aku sepertinya lapar." Ucap Zelin.


"Iya. Aku saja lupa." Ucap Zelin.


"Apa kamu lapar princess papa?." Tanya Raska pada Melfa.


"Tidak juga, tadi sudah sarapan sama bubun sama yayah." Ucap Melfa.


"Kalai di ajak makan lagi mau?." Tanya Raska.


"Tentu saja dong pah. Masih sangat muat." Ucap Melfa tersenyum.


Raska tertawa melihat calon anaknya itu. Begitu cepat waktu berjalan sampai di titik mereka di pertemukan lagi.

__ADS_1


'Terima kasih Zelin. Sudah menunggu ku dengan sangat sabar. Aku berjanji akan membuat mu selalu bahagia.' Ucap Raska di dalam hati.


Mobil sport Raska berhenti di depan sebuah resto.


"Ayo kita makan dulu." Ucap Raska.


Melfa dan Zelin mengangguk dan keluar dari mobil. Mereka bertiga berjalan ke arah kafe seperti sebuah keluarga sesungguhnya.


Raska memesan makanan dan kembali duduk di tempat Zelin dan Melfa.


"Kamu makan yang banyak ya." Ucap Raska pada Melfa.


"Tidak. Nanti aku tidak langsing lagi papa." Ucap Melfa.


"Tidak apa. Papa akan selalu ada buat kamu walaupun kamu tidak langsing." Ucap Raska.


"Seperti mama kan pa?." Ucap Melfa.


"Iya dong." Ucap Raska mengedipkan matanya.


Tidak menunggu waktu lama, makanan datang. Cumi cumi saos asam pedas, udang balado, sayur asem, ikan bakar dan menu menu lainnya sudah memenuhi meja makan Raska.


"Jangan lupa berdoa." Ucap Raska mengingatkan.


Zelin tersenyum melihat kelakuan Raska yang begitu manis baginya.


"Bagaimanapun kamu, gendut atau kurus, hitam atau putih, mancung atau pesek, tinggi atau pendek, aku akan tetap bersama mu."

__ADS_1


__ADS_2