Mama 16 Th

Mama 16 Th
Sedih? Senang? Entahlah!


__ADS_3

Zelin sibuk dengan kafenya, karena Melfa sedang keluar bersama Adelia dan Bayu. Semenjak menikah Lia lebih suka di rumah, belajar resep baru untuk keluarga kecilnya. Setidaknya Zelin tenang sekarang. Kedua kakaknya bisa hidup berdamai dengan masa lalu mereka masing masing.


Zelin duduk di kursi, menunggu pesanan lagi, sambil mengingat Raska yang hampir setahunan ini sudah menghilang dari hidupnya.


'Terima kasih Raska, karena cinta mu aku bisa hidup sampai sekarang.' Ucapnya dalam hati sambil memegang kalung pemberian Raska.


"Hai Al." Panggil Mila membuat lamunan Zelin terhenti.


"Hai Mil, Dan." Sapa Mila melihat kearah Dani juga.


"Hai Al, gimana kabar lo?." Tanya Dani.


"Mmm. Kabar baik, sangat baik." Ucap Zelin sambil tersenyum.


"Mau pesan apa kalian?." Tanya Zelin.


"Capcin yang waktu itu aja ya dua." Ucap Mila.


Mila dan Dani duduk di ujung kafe agar tidak terlalu ribut. Tidak lama Zelin datang membawa minuman pesanan Mila dan Dani.


"Temenin kita sebentar kek." Ucap Mila kepada Zelin.


"Kita tu kesini karna kangen sama lo." Ucap Mila.

__ADS_1


"Mmm. Oke. Tapi jangan lama lama yah." Balas Zelin sambil duduk.


"Oke. Jadi gimana lo sekarang Al?." Tanya Mila.


"Bagaimana apanya Mil?." Tanya Zelin.


"Gue tau lo pasti kesepian tanpa abang gue. Gue gak maksa lo buat lupain dia, tapi coba buat liat orang lain, cowok lain yang bakal gantiin dia di hati lo." Ucap Mila.


"Aku tau Mil. Raska mungkin tidak akan balik sama aku. Tapi tetap saja, aku tidak bisa melupakannya. Raska sudah mengisi semua ruang di hati aku Mil." Ucap Zelin menunduk.


"Entah kenapa, aku merasa Raska akan balik sama aku." Tambahnya.


Mendengar ucapan itu, Dani memberi isarat kepada Mila agar menceritakan semua hal yang terjadi di Jepang.


"Oke." Balas Zelin.


"Sebenernya yang di bawa ke Indo dan di makamin itu bukan bang Raska. Setahunan ini, bang Raska sedang menjalani pemulihan di Jepang sama nyokap gue. Gue gak mau ngasih tau lo, karena sebelumnya kondisi bang Raska tu menghawatirkan dan kata dokter di sana hanya kemungkinan kecil dia bisa selamat. Tapi, gue tau. Kekuatan cinta kalian lebih kuat dari segalanya. Bang Raska kuat bertahan sampai sekarang demi lo Al." Ucap Mila.


"Apa?." Ucap Zelin kaget.


Zelin menahan air matanya yang jatuh. Bertahan tegar dalam keadaan entah buruk atau baik seperti sekarang.


Ada rasa bahagia dan sakit di dadanya. Bagaimana mungkin selama ini otaknya bisa percaya kalau Raska benar benar meninggalkannya padahal hatinya tidak.

__ADS_1


"Gue minta sama lo Al. Kalo nantinya kak Raska pulang ke sini dengan keadaan yang buruk. Tolong, jangan benci dia." Ucap Mila lagi.


"Aku tidak mungkin membenci dia meski dia melumakan aku Mil. Aku mencintai Raska bahkan lebih dari mencintai diri ku sendiri. Raska bahkan rela memberikan nyawanya demi aku, lantas apakah pantas aku melupakannya?." Ucap Zelin.


"Terima kasih Al." Ucap Dani.


"Tidak masalah. Aku ke dalam dulu." Ucap Zelin meninggalkan dan di balas anggukkan.


**


Zelin melihat jam karet hitam di tangannya. Menunjukkan jam 21.00. Sebelum menutup kafe, Zelin biasanya membuang sampah terlebih dahulu. Zelin melangkah keluar pintu kafe dan merasa ada yang mengikutinya. Kemampuan bela diri yang tidak banyak sepertinya tidak membuat ia takut untuk melawan orang ini. Zelin membalikkan badannya dan mengarahkan tinju kedepan muka orang itu dan hampir saja mengenai hidungnya.


"Siapa kamu?." Ucap Zelin.


"Apa kafe mu sudah tutup?." Tanya pria itu.


"Kamu?." Tanya Zelin mengingat sesuatu.


"Mas siras kan?." Tanyanya.


Zelin dan pria berhoodie itu masuk ke dalam kafe.


"Sedih atau senang, entahlah. Aku hanya ingin tertawa sambil menangis"

__ADS_1


__ADS_2